Express 999 (SNSD Fanfiction)

Image

PS : Ini adalah karya author baru. Beri semangat dan dukungan (kritik dan saran). Happy reading dan silahkan tinggalkan jejak😀

 

Tittle     : Express 999 (one shot)

Author  : Chrisae

Cast       : Jessica SNSD and other

Genre   : Romance

 

Isanghae maeumi bokjaphae (All night long)
Deo ganghan keopiga pillyeohae (Black and strong)
Sasil isanghage nega jakku saenggagna (Why?)
B
yeolgeo anin nominde mariya

(It is weird, my mind is complicated. (All night long)
I need stronger coffee (Black and strong)
In fact, as weird it is, I keep thinking about you (Why?)
Even though you are not a special guy)

23 Desember 2012

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Jessica dari lalu-lalang kota Seoul yang masih ramai walau waktu sudah hampir tengah malam. “Masuk.”

Seorang pria dengan seragam pelayannya membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Jessica. Di tangannya ada nampan, dan di atasnya ada secangkir kopi. Diletakkannya kopi itu di meja Jessica. “Ada lagi yang perlu saya bawakan, Miss?” tanyanya sopan.

Jessica menggeleng. Tidak seperti dulu, kali ini dia menghias wajahnya dengan sebuah senyuman. Senyuman yang membuat wajah dinginnya terlihat hangat. Pelayan itu ikut tersenyum melihat perubahan majikannya itu. “Kenapa? Ada yang aneh?” tanya Jessica.

“Tidak. Tidak ada, Miss,” jawab pelayan itu. Dia membungkukkan badannya dan meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Jessica sendirian lagi.

Jessica mengambil cangkir di mejanya, dan membawanya ke dekat jendela lagi. Dipandanginya lagi keramaian kota Seoul dari kamarnya. Dihirupnya aroma kopi itu, lalu diteguknya pelan. Pahit. Tapi setidaknya kopi itu bisa membuatnya terjaga lebih lama.

Lagi-lagi bayangan laki-laki itu menghampirinya. Ya, laki-laki yang sudah mengganggu pikirannya sejak.. delapan bulan yang lalu? Ternyata sudah hampir satu tahun sejak dia pertama kali bertemu laki-laki itu. Sampai sekarang Jessica masih bertanya-tanya, kenapa laki-laki itu terus mengusik pikirannya, walau mereka sudah lama tidak bertemu? Padahal dia hanya fotografer. Tidak kaya. Tidak terlalu tampan. Sikapnya pada Jessica juga dingin. Lalu apa?

Wae wae meonghage inneun geoya

Seolma neol johahana

Da da da da nal moreugesseo

(Why why am I dazing
No way, do I like you
D
a da da da I don’t get myself)

 

Sempat terlintas di pikirannya kalau dia menyukai laki-laki itu. Tapi sekali lagi : KENAPA? Sejak awal bertemu saja, laki-laki itu sudah sinis setengah mati padanya. Tapi kenapa dia bisa menyukai laki-laki itu? Apa ada yang salah pada dirinya?

Melihat sebuah kereta yang berjalan di kejauhan membuat Jessica teringat bagaimana mereka bertemu dulu.

(Flashback)

 

 

18 April 2012

Kereta Express 999 akan segera tiba di jalur satu. Mohon kepada seluruh penumpang agar bersiap-siap.

Jessica menenteng tasnya dan berdiri, berbaris menanti kereta yang akan membawanya pulang ke Seoul. Ini keputusan yang gila! Biasanya dia lebih suka naik mobil pribadinya daripada berdesakan naik kereta api. Tapi dia memang merasa gila sekarang.

Bahkan saat dia sudah ada di atas kereta, duduk berdesakan di antara penumpang lain, pikirannya masih dipenuhi oleh laki-laki itu. Ya, laki-laki yang selama ini sudah bersamanya. Yang selalu menimbuninya dengan janji-janji manis. Ternyata semuanya tidak lebih dari janji palsu. Dia memutuskan hubungan mereka, tepat hari ini, saat ulang tahun Jessica yang ke-24.

Dan dia melakukan itu semua hanya karena Jessica tidak mau menikah dengannya? Bukan tidak, belum. Jessica sudah menegaskannya berkali-kali, dia BELUM SIAP menikah, bukan TIDAK MAU menikah. Dia masih 24 tahun, baru 24 tahun tepatnya, dan laki-laki itu juga masih 26 tahun. Kenapa harus buru-buru sekali menikah? Apalagi Jessica sedang berada di puncak karirnya sebagai model.

Bahkan sekarang laki-laki itu sudah punya penggantinya. Perempuan yang tidak lebih baik dari Jessica. Kelebihannya hanya satu, dia mau diajak menikah. Kenapa sih, laki-laki itu ingin cepat-cepat menikah? Bahkan sampai memutuskan Jessica. Semudah itukah? Memangnya dia pikir apa arti hubungan mereka selama lima tahun?

“Nona, bolehkah saya duduk?”

Jessica mengangkat kepalanya. Dilihatnya seorang laki-laki yang sudah tua, berdiri di depannya dengan wajah memelas. Jessica menoleh ke kanan-kiri, memastikan laki-laki itu bicara dengannya. “Memang tidak ada kursi lain?” tanya Jessica dingin. Perasaannya sedang kacau, dan dia tidak ingin berinteraksi dengan siapapun, apalagi seorang kakek yang tidak dia kenal.

“Semuanya sudah penuh, Nona,” jawab kakek itu.

“Ya sudah, berdiri saja, sana,” jawab Jessica dingin. Tangannya meraba-raba, mencari iPod di tasnya. Tidak dipedulikannya cibiran orang-orang di sekitar. Huh, bisanya mencibir saja. Kalau mereka memang cukup baik hati untuk menghinaku, kenapa tidak mereka saja yang mengalah pada kakek ini? gerutu Jessica dalam hati. Dipasangnya earphone ke telinganya.

“Nona, tolonglah,” iba kakek itu berulang kali. Awalnya Jessica mengabaikannya. Tapi makin lama dia makin kesal mendengar suara serak kakek itu.

“Kau tidak lihat, aku sedang tidak mau diganggu!” bentaknya. “Aku tidak peduli apa kau orang tua atau apa, tapi biarkan aku sendiri! Okay?” Setelah puas membentak kakek itu, dia kembali memasang earphone dan mendengarkan lagu.

Laki-laki di sebelah kakek itu menatapnya tajam. “Nona.”

Jessica pura-pura tidak mendengarnya. Dia malah menggoyangkan kepalanya pelan, mengikuti irama lagu yang dia dengarkan. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk tasnya pelan.

“Nona.”

Kali ini Jessica mengetukkan kakinya pelan, untuk menunjukkan bahwa dia tidak mempedulikan laki-laki itu.

“Hei, Nona! Apa kau tuli?!”

Bentakan laki-laki itu berhasil membuat Jessica mendongak. Ditatapnya laki-laki itu dengan tatapan menantang. Tidak tampak ketakutan sedikit pun di wajahnya. “Tidak. Tapi aku punya nama. Dan namaku bukan ‘Nona’.”

“Aku tidak peduli siapa namamu, tapi bisakah kamu memberikan tempat duduk untuk kakek ini?” tanya laki-laki itu. Tangan kanannya memegang lengan kakek itu. Matanya masih menatap Jessica tajam.

“Dia laki-laki, aku perempuan! Apa kalian tidak tahu istilah ladies first?” tanya Jessica, setengah mengejek.

“Tidak. Yang aku tahu, dalam budaya kita, kita harus mendahulukan orang tua!” seru laki-laki itu tidak kalah keras. Sekarang seisi gerbong menatap pertengkaran mereka dengan wajah penasaran.

Jessica melengos dan memakai earphone lagi. Wajah laki-laki itu mengeras melihat tanggapan Jessica. Dengan cepat, ditariknya earphone dari telinga Jessica. “Hei! Itu tidak sopan!” seru Jessica kaget.

“Oh ya? Lalu apa menurutmu membentak orang tua itu sopan?”

“Membentak perempuan juga tidak sopan!” balas Jessica. Sebelum laki-laki itu menyahut, Jessica sudah melanjutkan, “Dengar, ya! Ini tempatku dan aku tidak mau memberikannya! Titik!”

“Kau..”

“Sudah. Kakek duduk di sini saja.” Suara lembut seorang gadis menghentikan pertengkaran mereka. Jessica mencibir gadis itu, yang masih memakai seragam SMU. Jessica mencibir gadis itu dalam hati. Sementara itu laki-laki tadi membantu kakek itu duduk.

Saat kembali berdiri di depan Jessica, dia mulai mengejek Jessica lagi. “Wajahnya saja cantik. Hatinya tidak.”

Jessica yang merasa tersindir membentak laki-laki itu. “Apa kau bilang?!”

“Aku bilang, kau jangan hanya mementingkan dirimu sendiri walaupun kau kaya dan cantik!” seru laki-laki itu, tepat di depan Jessica. “Ini bukan keretamu, Nona. Ini tempat umum!”

“Kalau begitu, kenapa kau membentak-bentakku seperti orang gila begitu, ha?!”

“Sudah, sudah,” lerai gadis tadi, yang sekarang berdiri di sebelah laki-laki menyebalkan itu. Jessica dan laki-laki itu sama-sama melengos lalu mengalihkan pandangannya, sementara semua orang kembali ke kesibukannya masing-masing.

20 April 2012

“Aku tahu perasaanmu masih tidak enak tapi..”

Jessica mengibaskan tangannya, mengisyaratkan manajernya–Park Kyungsoo–agar tidak membahas masalah yang sama lagi. Gara-gara patah hatinya, seharian kemarin Jessica mengurung dirinya di kamar. Tapi sekarang dia sudah memutuskan, patah hatinya itu tidak akan menghalanginya dari rutinitasnya. Dia akan tunjukkan pada laki-laki itu, akan membuatnya menyesal sudah memutuskan Jessica.

Saat Jessica masuk ke ruang studio, orang-orang di sana langsung menyambutnya. Beberapa sibuk merapikan riasan dan gaun Jessica, ada yang memberikannya arahan, dan banyak pula yang mempersiapkan set untuk pemotretan nanti. Jessica mendengarkan penjelasan dan sesekali mengangguk kecil. Ya, dia adalah model Cherise, yang terkenal karena produksinya–tas, perhiasan, sepatu–yang berkualitas bagus dan harganya selangit.

Saat makeup-nya sedang dibetulkan, tidak sengaja Jessica melihat seorang laki-laki. Laki-laki yang sama dengan yang dia temui di kereta dua hari yang lalu. Di tangan laki-laki itu ada sebuah kamera. Wajahnya juga sama terkejutnya saat dia melihat Jessica. Kenapa aku harus bertemu dengannya? batin Jessica saat laki-laki itu mendekat.

“Oh, jadi kau model baru Cherise?” tanya laki-laki itu saat sudah berdiri di depan Jessica.

“Ya, kenapa? Keberatan?” Jessica balas bertanya. “Ternyata benar ramalan bintangku, hari ini aku akan sial.”

“Ramalan bintangku juga mengatakan aku akan menjadi orang tersial pada hari ini. Ternyata benar,” balas laki-laki itu cuek.

“Kau menyindirku?!” tanya Jessica berang.

“Kau yang mulai,” laki-laki itu membela dirinya. “Oh iya, aku Choi Junki,” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Aku tidak tanya siapa namamu,” balas Jessica.

“Aku tidak menjawab. Aku memberitahu.”

Obrolan mereka terhenti saat salah seorang kru berteriak mengingatkan mereka agar segera bersiap-siap. Untungnya, walaupun Jessica sedang bad mood, dia tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Buktinya, orang-orang memujinya saat pemotretan sudah berakhir.

Kecuali Junki. Daritadi dia hanya sibuk mengutak-atik kameranya. Dia sama sekali tidak meminta maaf pada Jessica karena kejadian dua hari yang lalu. Jangankan meminta maaf atau membahasnya, melihat ke arah Jessica saja tidak. Ya, dia memang banyak memotret Jessica, tapi selain itu dia seperti menganggap Jessica tidak ada.

Sombong. Itu kesan yang Jessica dapatkan, selain suka membentak. Padahal pekerjaannya hanya sebagai fotografer, tapi dia berani mengabaikan Jessica. Tidak memberi salam, tidak menunjukkan rasa hormat.

Huh, mana mau aku pacaran dengan laki-laki seperti itu? batin Jessica dalam hati. Kemudian dia sadar. Kenapa dia menghubung-hubungkan Junki–yang bukan siapa-siapanya–dengan kata ‘pacar’? Jessica langsung menepis kemungkinan dia menyukai Junki. Tidak mungkin, ini baru kedua kalinya mereka bertemu. Lagipula, mereka selalu bertemu dalam keadaan tidak menyenangkan. Tiba-tiba saja laki-laki itu menoleh ke arah Jessica, membuat Jessica gelagapan karena merasa ketahuan mengamatinya.

“Jessica!”

Seruan manajer Park mengalihkan pandangan Jessica. Wajah manajernya terlihat heran. “Setelah ini kau masih ada jadwal. Ayo, kita pergi.”

Jessica hanya mengangguk dan mengikuti manajernya menuju mobil. Sepanjang jalan dia terus memikirkan Junki. Bagaimana kalau dia salah paham? Jangan-jangan nanti dia mengira Jessica menaruh hati padanya.

31 Mei 2012

Rapuh. Itulah Jessica, paling tidak saat ini. Tidak ada Jessica yang terkenal dengan wajah dinginnya. Tidak ada Jessica yang tinggi hati itu. Tidak ada Jessica yang keras kepala. Tidak ada Jessica dengan tekadnya untuk melupakan laki-laki yang sudah mencampakkannya.

Jessica benar-benar merasa menjadi orang lain. Karena Jessica yang biasanya tidak akan duduk di tempat remang-remang seperti ini, yang hanya dihiasi kelap-kelip lampu warna-warni. Jessica yang biasanya tidak mungkin meneguk segelas, dua gelas, bahkan bergelas-gelas bir dengan wajah putus asa. Lebih tidak mungkin lagi dia melakukan itu karena patah hati.

Ya, patah hati. Hanya karena selembar kertas yang sampai di depan pintu apartemennya tadi. Undangan pernikahan. Undangan pernikahan pacarnya–tidak, MANTAN pacarnya–dan gadis yang dia pilih. Ada secarik kertas putih kecil yang berisi tulisan yang familier untuknya. Tulisan tangan mantannya yang berkata sangat mengharapkan kehadirannya. Memang dia pikir dia siapa? Mencampakkan hati Jessica, lalu meminta Jessica datang ke pesta pernikahannya?

Memikirkan itu membuat perasaannya sesak lagi. Ditenggaknya lagi segelas bir sampai habis. Diletakkannya gelas itu dengan kasar. “Satu lagi,” katanya pada bartender.

Saat menerima gelas yang sudah terisi penuh itu, tiba-tiba saja Jessica ingin menangis. Selama ini dia berpikir dia adalah gadis yang kuat. Gadis yang tegar. Gadis yang angkuh. Tapi hanya karena seorang laki-laki dia menjadi seperti ini? Ternyata dia tidak sehebat perkiraannya.

“Ternyata ini benar-benar kau, Noona.”

Suara itu membuat Jessica menoleh. Si fotografer. Choi Junki. Sejak tahu dia lebih muda dari Jessica, dia dengan seenaknya memutuskan untuk memanggil Jessica dengan sebutan ‘Jessica-noona’, bukan ‘Jessica-ssi’ atau ‘Jung-ssi’.

Perasaan Jessica yang sedih berubah menjadi kesal. Kenapa laki-laki itu datang saat dia sedang ingin sendiri? Tanpa mempedulikan laki-laki di sebelahnya, Jessica meminum birnya sampai habis. “Satu lagi,” katanya setelah gelasnya kosong.

“Maaf, Nona. Nona sudah terlalu banyak minum bir,” tolak bartender itu.

“Aku yang minum, kenapa kau yang repot?!” bentak Jessica. “Sudah, lakukan saja apa yang kusuruh! Kau kan sudah kubayar, bodoh!”

Suara tawa kecil membuat Jessica menoleh. Ditatapnya Junki dengan pandangan ingin membunuh. “Apa?! Apa yang lucu?!” tanya Jessica marah.

“Noona.” Junki menunjuk Jessica. “Idola itu harus menjaga sikap. Tapi kau? Selalu membentak orang sesukamu.”

“Lalu? Ada masalah?” tanya Jessica. “Ini hidupku.”

“Tapi bukan berarti kau bisa membentak orang lain,” balas Junki. “Hidupmu hanya sebatas dirimu. Orang lain bukan hidupmu yang bisa kau perlakukan sesukamu.”

Kenapa laki-laki itu bisa mengalahkan kata-kata Jessica dengan mudah? Dengan santai? Kenapa laki-laki itu selalu membuat perasaannya yang sudah kacau makin kacau? Akhirnya Jessica hanya menatapnya tajam, berusaha mengirimkan makian melalui pandangan matanya.

“Sudah, jangan tatap aku seperti itu,” kata Junki sambil menepuk kepala Jessica. Wajah kesal Jessica berubah menjadi wajah kaget. Dia pikir Junki akan memarahinya lagi, atau menyindirnya, seperti saat mereka bertemu pertama kali di kereta.

Perkiraannya salah. Ternyata Junki sangat ramah padanya. Entah ke mana sikap tidak pedulinya yang pernah ditunjukkannya pada Jessica. Entah ke mana cibiran-cibirannya. Malah, malam ini Junki memancarkan aura yang membuat Jessica merasa nyaman. Merasa diperhatikan. Perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan.

“Kenapa Noona ke sini?”

Pertanyaan itu kembali mengingatkan Jessica pada wajah yang paling tidak ingin diingatnya. Jessica menarik nafas panjang. “Alasan yang bodoh. Sangat bodoh.” Dan ceritanya mengalir begitu saja. Aneh, kenapa dia bisa bercerita sebanyak itu pada orang yang hanya beberapa kali ditemuinya, tidak akrab dengannya? Terlebih lagi, dia menceritakan masalah pribadinya?

Saat Jessica selesai bercerita, dia pikir akan melihat wajah bosan Junki. Tapi malah wajah serius yang dia lihat. “Dramatis,” tanggapnya pendek.

Apa? Dramatis? Apa maksudnya? Dia ingin meledek Jessica yang patah hati atau apa?

“Lalu apa yang akan kau lakukan tentang undangan darinya?” tanya Junki.

Jessica mengangkat bahunya. “Mengabaikannya, apalagi?” Daripada dia datang dan merasakan sakit yang lebih lagi dengan melihat laki-laki yang MASIH dicintainya, tapi tidak mencintainya lagi, menikah dengan gadis lain?

“Datang,” jawab Junki, membuat Jessica mengangkat sebelah alisnya heran. “Tidak datang membuatmu terlihat lemah.”

“Lebih baik terlihat lemah daripada berpura-pura kuat,” bantah Jessica, mengingat hari-hari saat dia bersikap sok kuat, sok tegar.

“Lebih baik lagi jika benar-benar kuat.” Jessica menatap Junki makin tidak mengerti. Bagaimana bisa dia menghadapinya dengan kuat? Benar-benar kuat? “Aku akan datang ke sana bersama Noona. Bagaimana?”

Mata Jessica membulat mendengarnya. Apa?

10 Juni 2012

Tidak ada yang salah dalam ruangan ini. Dekorasinya yang didominasi warna merah marun terlihat indah dan glamor. Makanan-makanan yang berjejer di meja pun hasil karya chef ternama. Minuman berwarna-warni pun siap menghilangkan haus para tamu yang hadir. Sedangkan di depan sana, seorang pria dengan kemeja putih, jas dan celana kain merah marun tersenyum cerah. Di sebelahnya ada seorang wanita dengan gaun merah marun juga, lengkap dengan makeupnya, yang agak tebal, sebenarnya.

Tapi Jessica sama sekali tidak terkesan. Dia merutuki, betapa bodohnya dia, mau datang ke acara ini. Buktinya, walaupun sudah ditemani dia tetap tidak bisa menghilangkan pandangan penuh dendam pada perempuan, yang sudah merebut tempatnya. Pada laki-laki di sebelahnya juga.

Padahal kalau diperhatikan, apa lebihnya perempuan itu? Pasti dia jelek. Atau setidaknya tidak lebih cantik dari Jessica. Buktinya saja, wajahnya ditutupi entah berapa lapis bedak sehingga tampak seputih boneka. Lipstiknya yang sangat merah bukan mempercantik penampilannya malah membuatnya terlihat makin tidak natural.

Saat memberi selamat pada mereka, Jessica melakukannya dengan ogah-ogahan. Awalnya dia ingin tersenyum lebar, seperti tamu-tamu lain. Agar menunjukkan kalau dia tidak patah hati. Apalagi dia punya backing yang.. yang.. tidak terlalu tampan, sih. Tapi paling tidak Jessica bisa menunjukkan walau tanpa mantannya, masih banyak laki-laki yang mengejarnya.

Tapi meniatkan memang jauh lebih mudah daripada melakukan. Saat lewat di depan mantannya, dia sama sekali tidak tersenyum, meski tidak cemberut juga. Datar. Begitu juga yang dilakukan oleh mantannya. Apalagi saat melihat perempuan di sebelah mantannya itu. Sepertinya dia tahu siapa Jessica dan memasang wajah kemenangan. Jessica juga hanya menatapnya datar. Padahal jauh di dalam hatinya dia sudah merencanakan penyiksaan yang paling menyiksa untuk perempuan itu.

Seandainya dia bisa melakukannya.

“Aku pikir kau tidak akan datang.”

Jessica yang sedang sibuk memperbaiki mood-nya, menoleh. Seketika semua usahanya untuk memperbaiki mood-nya tidak berguna. Di sebelahnya, berdiri sang mempelai pria. Laki-laki yang pernah dan masih dicintainya, meski sudah berkurang. Laki-laki yang sempat mengacaukan hidupnya. Mantannya. Moon Junho.

“Sendiri?” tanya Junho dengan senyum menyeringai. Jessica benci mengakuinya, tapi senyum itu terlihat sangat tampan.

“Tidak,” jawab Jessica setelah sadar dia sudah memandangi Junho cukup lama.

“Oh, kau datang dengan laki-laki?” tanya Junho lagi.

“Apa itu urusanmu, Moon-ssi?” Jessica balas bertanya. Dingin.

Junho hanya tertawa kecil mendengar Jessica memanggilnya ‘Moon-ssi’. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Aku ingin tahu bagaimana pria yang kau bawa itu. Apa lebih baik dari aku atau tidak.”

“Tentu saja!” jawab Jessica cepat. Refleks. Kemudian Jessica menyesal mengatakannya. Junki kan bukan siapa-siapaku, Jessica mengulangnya terus dalam hatinya.

“Noona kau tidak..”

Jessica dan Junho menoleh ke arah suara. Junki. Junho mengamati penampilan Junki, dari atas sampai bawah, menilai. “Jadi ini pria yang kau bawa? Dia lebih muda darimu?”

Jessica terlihat panik dan berusaha menjelaskan. “D-dia hanya teman-“

“Memang kenapa? Ada yang salah kalau aku lebih muda dari Jessica-noona?” potong Junki. Yang membuat Jessica makin kaget adalah Junki mengatakan hal itu sambil merangkul Jessica. Membuat jantung Jessica berdetak di luar kendali. Kenapa aku begini? “Setidaknya aku lebih baik dari seorang laki-laki yang meninggalkan Jessica-noona hanya karena dia belum mau menikah,” lanjut Junki.

Seisi ruangan senyap, melihat mempelai laki-laki bertengkar dengan seseorang. Bahkan lagu-lagu romantis yang diputar sepanjang acara berhenti, seakan ingin mendramatisir suasana. Jessica yang merasa tidak nyaman mencoba melepaskan diri dari Junki, tapi ternyata dia tidak sekuat itu.

“Jadi kau pacar baru Jessica?” tanya Junho dengan nada mengejek. “Tidak lebih baik dariku. Seleramu benar-benar payah,” lanjutnya, kali ini pada Jessica.

“Aku tidak peduli apa aku lebih baik darimu atau tidak. Tapi aku lebih menghargai Jessica-noona daripada kau,” jawab Junki tegas. Wajahnya benar-benar terlihat serius. “Ayo, Noona. Kita pergi saja.”

Tanpa menunggu jawaban Jessica atau Junho, Junki langsung menarik tangan Jessica keluar dari ruangan. Tapi tidak lama kemudian, suara musik kembali terdengar.

Masih 10 Juni 2012

Jessica hanya memain-mainkan ramen di depannya dengan wajah lesu. Dia yang biasanya tidak berselera makan, sekarang makin tidak berselera lagi. Setelah melihat kenyataan bahwa Junho baik-baik saja tanpanya. Padahal Jessica ingin, ingin sekali Junho merangkak ke kakinya, memohon, menyembah, apa saja agar Jessica kembali. Jessica tersenyum kecut. Ini kan bukan drama.

“Mmmh! Ramen yang enak!”

Jessica menoleh, dan melihat Junki sedang makan ramen dengan sangat bersemangat. Terlalu bersemangat. Padahal Jessica tahu kalau Junki sudah banyak makan di acara Junho tadi. Jessica mengernyitkan dahinya melihat cara makan Junki yang jauh dari table manner.

“Cobalah, Noona! Enak sekali!”

Jessica malah menggeser mangkoknya. “Kau mau? Kelihatannya kau sangat lapar.”

Junki menghentikan makannya yang bar-bar itu. Dia menatap Jessica heran. “Noona tidak mau? Noona kan belum makan apa-apa.” Melihat Jessica diam saja, Junki bertanya, “Apa Noona ingin makan di restoran? Restoran apa? Restoran Amerika, mungkin?”

Jessica menggeleng dan berusaha tersenyum. “Tidak. Aku hanya tidak lapar.”

“Ah!” Junki menjentikkan jarinya, seperti baru mendapat pemikiran brilian. “Noona sedang diet, kan? Aku tahu Noona itu model, tapi tidak perlu menyiksa diri dengan diet! Noona sudah kurus, kok. Sungguh!”

“Siapa yang diet?!” tanya Jessica, jengkel karena ke-sok tahu-an Junki. Jessica mengalihkan pandangannya ke depan. “Aku hanya.. tidak ingin makan.”

“Kenapa? Karena Junho tadi?” tanya Junki.

Jessica tidak menjawab pertanyaan Junki. Dia menundukkan kepalanya, melihat lantai yang putih membosankan. Ya, dia melihat Junho baik-baik saja tanpa dirinya. Padahal Jessica merana setengah mati dibuatnya. Jessica tersenyum kecut. Ini benar-benar bukan drama, Jessica, ulangnya dalam hati.

“Noona. Kau tidak perlu sedih karena kehilangan laki-laki sombong seperti dia,” hibur Junki. Dia yakin selama ini Junho yang mengganggu pikiran Jessica. “Noona masih punya aku.”

Jessica menoleh kaget. “Apa?” tanya Jessica, sementara kepalanya menebak-nebak maksud kata-kata Junki.

“Maksudku, kita kan teman. Noona bisa cerita apa saja padaku,” jelas Junki, membuat angan-angan Jessica yang sempat melambung terbanting keras ke bumi.

“Oh,” gumam Jessica pelan.

“’Oh’ kenapa?” tanya Junki. Jessica hanya menggeleng.

Kruyuk~

Jessica dan Junki terdiam bersamaan. Wajah Jessica memucat dan terlihat tegang. Junki tertawa keras melihat ekspresi Jessica. “Sudahlah, kalau lapar bilang saja!” sindirnya. Digesernya lagi mangkok milik Jessica yang masih penuh ke depan Jessica, sedangkan Jessica hanya tersenyum kecut, malu.

Dengan ragu, dimakannya ramen itu menggunakan sumpit. Makin lama, Jessica memakannya makin lahap, membuat Junki tersenyum puas sambil menganggukkan kepalanya. “Oh iya. Bagaimana aktingku tadi? Keren, kan?”

“Akting?” tanya Jessica setelah menelan ramen di mulutnya.

“Iya. Maksudku saat aku berpura-pura jadi pacarmu.”

Jessica yang sudah akan menyuapkan ramen ke dalam mulutnya menghentikan gerakannya. Akting? Jadi tadi hanya akting?

“Aku hanya tidak suka melihat wajah sombongnya itu,” lanjut Junki tanpa melihat perubahan wajah Jessica. “Kenapa kau bisa pacaran dengannya, sih?”

“Ah, akting, ya?” gumam Jessica.

Junki menatap Jessica bingung. “Tentu saja. Jangan-jangan.. Noona mengira aku benar-benar menyukai Noona?” tebak Junki.

Jessica menoleh kaget. “Eh? Tentu saja tidak!” bantah Jessica sambil mencoba tertawa. Sumbang. “Aktingmu, ya? Mmm.. Masih jelek,” jawab Jessica setelah berpikir beberapa lama.

Junki mengeluh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuat Jessica tertawa lagi. Tawa yang sangat dipaksakan.

“Nah, begitu lebih baik,” kata Junki, membuat Jessica menghentikan tawanya. “Aku lebih suka melihat perempuan tertawa daripada marah-marah. Noona juga kelihatan lebih cantik kalau tertawa.”

Lagi-lagi Junki berhasil membuat Jessica terdiam.

14 Juni 2012

Jessica menatap Junki dari kejauhan. Kebiasaannya akhir-akhir ini. Bukannya dia sedang mengagumi Junki atau apa. Dia masih tidak habis pikir, kenapa dia merasa kecewa saat tahu Junki pura-pura menjadi pacarnya hanya karena ingin menyelamatkan Jessica. Bukan karena menyukainya.

Saat itu Jessica sudah khawatir kalau Junki tahu apa yang Jessica pikirkan. Tapi sepertinya tidak. Malah sepertinya dia tidak sadar saat itu Jessica tidak benar-benar tertawa. Dia bilang, Jessica terlihat cantik kalau tertawa. Lagi-lagi, kata-katanya bagaikan listrik yang menyetrum. Membuat seluruh organ-organ Jessica berhenti bekerja. Jantungnya, paru-parunya, otaknya..

Dan akhir-akhir ini Jessica mulai bertanya pada dirinya sendiri : Apa dia menyukai Junki? Apa bisa perasaan yang selama ini dia rasakan disebut suka? Atau hanya kagum? Atau dia hanya ingin menjadikan Junki pelarian saja?

Karena, pertama, Junki tidak tampan seperti Junho. Atau mantan-mantan Jessica sebelumnya. Kedua, Junki juga tidak terlalu pintar. Hanya lulusan SMU, itu yang dia tahu dari salah satu kru. Tidak humoris, dewasa juga tidak. Apalagi dia lebih muda tiga tahun dari Jessica. Mungkin satu-satunya hal yang menarik dari Junki adalah dia seakan mengerti Jessica.

“Jessica! Ini penata riasmu untuk sementara!”

Jessica menoleh dengan malas. Ya, penata riasnya–Nami–minta cuti, karena orang tuanya di Jepang sedang sakit. Sebenarnya Jessica menyayangkannya, karena pekerjaannya yang bagus. Tapi, ya sudahlah. Dia tidak bisa melarangnya pergi.

Mata Jessica menyipit saat melihat seorang gadis di sebelah manajer Park membungkukkan badannya. Rambut hitamnya yang panjang dikepang dua. Kedua sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman manis. Suaranya yang lembut mengingatkan Jessica pada kejadian saat dia bertemu Junki.

Dia gadis yang memberikan tempat duduknya pada kakek!

“Kau kan yang di kereta waktu itu?” tanya Jessica, tanpa mempedulikan manajernya yang sedang memperkenalkan Jessica pada gadis itu. “Siapa namamu?”

“Kim Sooyeon,” jawab gadis itu pelan. Tanpa sadar, Jessica mengernyitkan dahinya mendengar nama gadis itu, yang sama dengan nama Koreanya. Jung Sooyeon. Meski nama marga mereka berbeda. “Eh, ada apa, Jung-ssi?” tanya gadis itu, sepertinya jengah ditatap Jessica dengan dahi berkerut.

Jessica yang tersadar langsung memasang senyumnya dan menggeleng. “Tidak. Tidak apa-apa.”

“Ya sudah. Sebentar lagi pemotretan akan mulai. Lakukan tugasmu dengan baik,” perintah manajer Park pada Sooyeon.

Sooyeon mengangguk dan mengeluarkan berbagai macam peralatan makeup dari tas kecilnya. Selama dirias, Jessica banyak bertanya pada gadis itu. Dia kelas 3 SMU, sudah hampir lulus. Tapi karena ibunya sedang sakit, dia kadang bolos sekolah, mencari pekerjaan, seperti hari ini. Jessica menjadi iba padanya.

“Hai! Kau gadis manis di kereta itu, kan?”

Saat Jessica mendongak, Junki sudah ada di sebelahnya. Begitu tahu Junki menyapa Sooyeon dengan sebutan ‘gadis manis’, Jessica langsung memasang wajah kesal. Berharap Junki akan menyadarinya. Dia tidak pernah memanggilku gadis manis.

“Aku Choi Junki. Wah, namamu sangat bagus.”

Dia tidak pernah memuji namaku.

“Wah, Jessica-noona memang terlihat makin cantik.”

Jessica menengok sambil tersenyum senang. Akhirnya satu pujian untuk diri-

“Kau memang penata rias yang hebat!”

Senyum di wajah Jessica menghilang saat melihat gadis di depannya tersenyum senang, bahkan tertawa kecil, mendengar pujian dari Junki. Kenapa Junki begitu memuji gadis yang baru ditemuinya dua kali? Kenapa dia tidak pernah memuji Jessica yang lebih sering ditemuinya?

“Kau benar-benar baik hati.” Sekali lagi pujian untuk penata rias. “Aku kagum pada sikapmu yang mau mengalah pada seorang kakek. Sekarang sudah jarang perempuan seperti itu. Banyak perempuan yang egois, sok.”

“Menyindirku?” gumam Jessica, tidak bisa menahan rasa kesalnya.

“Apa?” tanya Junki. “Noona bilang apa? Aku tidak dengar.”

Jessica memaksakan dirinya untuk tersenyum. “Bukan. Bukan apa-apa.”

Dan selama sehari penuh, dia harus melihat Junki dan Sooyeon yang entah kenapa sudah sangat akrab. Sudah saling bercanda, bercakap-cakap entah apa. Jessica tidak tahu dan tidak mau tahu. Dia tidak pernah sedekat itu padaku.

1 Juli 2012

Laki-laki tua itu–supir pribadi Jessica–menggosok-gosok matanya heran. Tidak percaya. Takjub. Kagum. Apa yang membuat majikannya, yang selalu minta dibukakan pintu baik saat naik maupun turun dari mobil, sekarang membuka pintu sendiri? Membawa tasnya sendiri? Tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya?

Tidak hanya supirnya. Manajernya, semua pelayan di rumahnya, kru pemotretan, semua yang mengenal Jessica kaget melihat perubahan sikap Jessica. Sang Ice Princess dengan hatinya yang beku kini menebarkan senyum manisnya ke mana saja.

Alasan Jessica untuk berubah menjadi ramah hanya satu. Choi Junki. Ya, sejak tahu Junki suka pada gadis yang ramah, Jessica sempat menggerung-gerung berhari-hari di kamarnya. Karena baginya menjadi gadis manis dan baik seperti Kim Sooyeon adalah hal yang mustahil. Tapi, setiap hari dia melihat Junki dan Sooyeon semakin akrab, membuat Jessica panas juga.

Akhirnya dia memutuskan. Memutuskan untuk berubah. Memang sangat sulit, karena seharian dia melihat banyak kesalahan pada pelayan-pelayannya. Misalnya, pelayannya memasakkan kimchi pedas, padahal Jessica tidak suka masakan pedas. Pakaian supirnya juga berantakan belum disetrika. Dan Jessica harus tersenyum dan mengatakan’tidak apa-apa’ saat hatinya dongkol ingin memarahi pelayan-pelayannya.

Tapi selama itu bisa membuat Junki lebih akrab dengannya, Jessica akan melakukannya. Meski dalam hati dia bertanya-tanya, apakah tujuan sebenarnya adalah agar Junki menyukainya? Sepertinya iya. Tapi kalau begitu, apa Jessica menyukai Junki atau–seperti yang pernah dia pikirkan–hanya menjadikan Junki pelarian? Jessica sama sekali tidak tahu jawabannya. Belum, kalau dia mau mencari jawabannya.

“Wah, apa semalam Noona tertimpa lemari?” tanya Junki.

“Ha? Maksudnya?” tanya Jessica tidak mengerti.

“Sikap Noona, berubah sama sekali,” jelas Junki. “Murah senyum, suka menyapa orang. Ini jelas bukan Jessica-noona yang aku kenal.”

Jessica tertawa kecil mendengarnya. “Memangnya ada masalah kalau aku bukan aku yang kau kenal?” tanya Jessica. Jantungnya berdegup makin kencang saat menunggu jawaban Junki.

“Tidak. Noona lebih bagus begini,” jawab Junki, membuat Jessica melompat senang–kalau saja Junki tidak ada di depannya. “Mungkin inilah sebenarnya Jessica-noona.”

Jessica tersenyum senang. Sangat senang. Semua pengorbanannya tidak sia-sia. Junki senang dengan perubahannya. Satu-satunya yang tidak senang–atau setidaknya terlihat tidak senang–adalah gadis penata rias, Kim Sooyeon. Seharian dia memandang Jessica tajam.

16 Juli 2012

BRAKK!!

Bantingan pintu itu mengagetkan manajer Park yang sedang menunggu di ruang tamu Jessica.  Dilihatnya Jessica keluar dari kamarnya dengan wajah kacau. Dahinya berkerut, matanya basah, bahkan bagian bawah matanya juga agak menghitam.

“Ya ampun, Jessica! What’s wrong with you?!” tanyanya heran, sekaligus kesal. “Setelah ini kita ada pemotretan, lho!”

“Apa Nami-ssi sudah pulang dari Jepang?” tanya Jessica, tidak menggubris pertanyaan manajernya. “Apa Nami-ssi sudah pulang?”

Manajer Park memandang Jessica tidak mengerti.

“Aku ingin kau memecat gadis bernama Kim Sooyeon itu, sekarang juga!” bentaknya, makin mengagetkan manajer Park. Padahal kemarin Jessica masih mengobrol dengan Sooyeon. Masih bercanda. Masih akrab. Kenapa sekarang..

Sebelum manajer Park sempat bertanya, Jessica sudah melangkah keluar dari apartemennya. Dengan terpaksa, diikutinya langkah Jessica, diiringi dengan tatapan penuh tanda tanya dari pelayan Jessica.

Di dalam mobil pun, mereka diam. Manajer Jessica itu masih penasaran tapi tidak berani bertanya lebih jauh, sedang Jessica sendiri kelihatan tidak ingin membahas apa yang membuat dia begini. Dia memandang keluar mobilnya, berusaha melupakan apa yang tadi malam dia baca.

Ya, kemarin Kim Sooyeon langsung pulang begitu pemotretan selesai. Jessica mengijinkan saja. Dia juga tidak menyadari kalau Junki buru-buru pulang, beberapa menit setelah Sooyeon pulang. Saat itu Jessica menyadari Junki menjatuhkan selembar amplop. Jessica hendak mengembalikannya, tapi Junki sudah menghilang dari pandangannya. Akhirnya dia membawa amplop itu pulang.

Iseng-iseng, dibukanya amplop pink itu. Di dalamnya ada selembar kertas dengan warna sama yang penuh berisi tulisan. Jessica kaget saat membacanya, karena di situ tertulis namanya. Sooyeon. Jessica meneruskan membaca meski tidak percaya. Ini dari Junki? Untukku? Dia melanjutkan membaca surat sampai habis.

Isinya adalah ungkapan perasaan Junki untuknya. Ternyata Junki menyukainya. Junki menceritakan pertemuan pertama mereka. Di kereta. Betapa dia kagum pada Jessica. Dia ingin menanyakan nama Jessica waktu itu, tapi tidak berani. Kedua kali mereka bertemu, di tempat pemotretan. Jessica terlihat lebih cantik, tulisnya. Membuat Jessica tersenyum sepanjang membaca surat itu. Sampai bagian bawah.

Mungkin kau kaget, tapi aku sungguh-sungguh. Aku menyukaimu, Kim Sooyeon.

Kim? Kim Sooyeon? Jadi yang dimaksud Sooyeon di surat itu bukan dia–Jung Sooyeon–tapi Kim Sooyeon? Penata rias itu? Jessica meremas kuat-kuat kertas itu hingga berbentuk bola. Kusut. Air matanya jatuh satu tetes, lalu disusul teman-temannya. Baru dia ingat, Junki selalu memanggilnya ‘Jessica’, bukan ‘Sooyeon’.

Hatinya terasa sakit. Sama seperti saat Junho mengucapkan kata-kata perpisahan padanya. Apa salahku? Apa aku kurang baik? Apa aku kurang ramah? Apa aku masih sombong? Apa?

“Jessica!”

Jessica menoleh, menyadari dia sudah sampai di tempat pemotretan. Manajer Park memandangnya cemas. “Kau yakin bisa pemotretan? Kalau tidak, aku akan-“

“Aku yakin!” potong Jessica, agak keras. Dibukanya pintu mobilnya, lalu turun dan berjalan cepat.

“Annyeonghaseyo, Jung-ssi!”

Entah kenapa, sapaan lembut yang biasanya terdengar menyenangkan di telinga Jessica sekarang terdengar menyebalkan. Dilihatnya Sooyeon tersenyum ke arahnya. Seperti biasa, di tangannya sudah ada alat-alat rias.

Jessica melengos dan melewatinya begitu saja. Membuat Sooyeon kebingungan. Tapi diikutinya Jessica tanpa bertanya-tanya. “Euh.. Kenapa mata Jung-ssi bengkak?” tanya Sooyeon hati-hati.

“Bukan urusanmu,” jawab Jessica cepat. Dingin. Dia terus memandangi Sooyeon tajam, membuat Sooyeon merasa tidak enak. Apa aku belum sebaik dia? Apa aku belum seramah dia? Apa aku masih kurang dibandingkan dia? “Cepat selesaikan pekerjaanmu! Aku tidak punya banyak waktu!” omel Jessica, lagi-lagi membuat Sooyeon kaget.

Sooyeon melanjutkan pekerjaannya dengan buru-buru. Mungkin karena terlalu terburu-buru, saat dia sedang mengoleskan maskara ke bulu mata Jessica, maskara itu malah hampir menusuk mata Jessica. Membuat Jessica berteriak.

“Hei! Aku menyuruhmu melakukannya dengan cepat, bukan dengan sembarangan seperti itu!” bentak Jessica. “Kau dengar, tidak?!”

“I-iya, Jung-ssi. Maafkan a-“

“Aku tahu kau lebih baik dariku! Tapi kau tidak perlu bersikap sok baik padaku!”

“Maaf, Jung-“

“Kau tahu, sejak aku melihatmu dulu, di kereta, aku sudah muak melihatmu! Kau mungkin bisa menipu orang lain, tapi aku tidak!”

“Jessica! Apa sih, yang kau lakukan?!”

Seruan Junki menghentikan semua teriakan Jessica. Baru Jessica sadari semua orang sedang melihat ke arahnya dan Sooyeon. Dilepaskannya tangannya yang digenggam oleh Junki. “Tidak apa-apa.”

“Tidak apa-apa bagaimana?” tanya Junki. “Kenapa kau membentak Sooyeon?”

“Dia..” Ucapan Jessica terputus saat dia sadar, dia tidak punya alasan untuk membentak Sooyeon. Iya, dia kesal karena Junki menyukai Sooyeon, tapi jelas itu bukan alasan yang bagus untuk membenarkan tindakannya.

Junki mengangkat sebelah alisnya. “Dia apa?”

Jessica menggeleng. “Tidak apa-apa.”

“Katakan saja,” desak Junki, mulai tidak sabar.

“Tidak apa-ap-“

“Kalau begitu kenapa kau me-“

“Sudah kubilang, tidak ada apa-apa!” Kali ini Jessica membentak Junki. Matanya menatap mata Junki tajam, seperti saat pertama kali dia bertemu Junki. Hanya saja kali ini, matanya sudah berkaca-kaca. Tidak, ini tidak benar! Kenapa aku harus membentak Junki juga?!

Junki menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan intonasi lebih rendah, dia berkata, “Aku pikir kau sudah berubah. Ternyata kau masih sama saja dengan Jessica yang aku kenal dulu. Egois.” Tanpa berkata apa-apa lagi, Junki menarik tangan Sooyeon menjauh. Meninggalkan Jessica yang terjatuh ke tempat paling gelap.

Jajonsim ganghan naega byeonhaetdago nolliji marayo

Machi Expresscheoreom dallyeoga igeon wiheomhajanhayo

Gunggeumhaejyeo nega, nae apui i sarami

Jigeumui i neukkimeul kkyeoaneun chae dallyeogabolge No excuse!

Oh Oh Ah geuphaengeul tago!

(Don’t tease me that I, a self-respecting person, have changed.
I am running like express. It’s dangerous
I getting curious about you, the person in front of me
I will run holding this feeling right now. No excuse!
Oh
oh ah riding on an express!)

Jessica berbalik. Dan dengan sisa kekuatannya dia berteriak, “Baiklah! Aku pergi!” Tanpa menunggu balasan dari siapapun, Jessica berbalik pergi.

 

(Flashback end)

23 Desember 2012

Jessica masih berdiri di tepi jendela. Tangannya masih menggenggam cangkir kopi. Dan kepalanya masih dipenuhi oleh sosok Choi Junki. Diletakkannya cangkir ke mejanya. Diambilnya jaket tebal miliknya lalu berjalan keluar dari kamarnya.

Entah apa yang membawanya ke taman kecil di sebelah apartemennya. Jessica juga tidak tahu. Dimasukkannya kedua tangannya yang kedinginan ke dalam saku jaketnya. Pikirannya masih tertuju pada Choi Junki. Terakhir dia menemui Junki.. tanggal 16 Juli itu.

Jessica ingat sekali, waktu itu pemotretannya ditunda. Keesokan harinya, saat Jessica berniat meminta maaf pada Junki, Junki tidak datang. Fotografer lain yang menggantikan Junki, seterusnya sampai jadwalnya habis.

Jessica sudah berkali-kali mencoba menghubungi Junki, tapi tidak diangkat. SMS juga tidak pernah dibalas. Saat Jessica ke apartemen Junki–yang alamatnya dia dapat dari salah satu kru–apartemen itu sudah berganti penghuni. Apa Junki menghindarinya?

“Noona!”

Jessica menoleh bersemangat. Dilihatnya sesosok laki-laki dari kejauhan. Junki. Itu pasti Junki. Jessica malambaikan tangannya. “Junki!”

Tapi sosok itu terus melewatinya, sambil menatapnya heran. Tidak lama, seorang perempuan yang terlihat lebih tua datang. Dipeluknya laki-laki itu, yang ternyata bukan Junki. “Kenapa baru datang sekarang? Aku tadi menunggu di stasiun dua jam, tahu!” gerutu perempuan itu. Diliriknya Jessica lalu berbisik pada laki-laki itu, “Dia siapa? Pacarmu?”

Laki-laki itu menggeleng, menandakan dia tidak tahu. Dia langsung menarik tangan perempuan itu. “Ayo, Noona! Appa dan Eomma sudah menunggu di rumah!”

Isanghae maeumi bokjaphae (All night long)

Deo ganghan keopiga pillyohae (Black and strong)

Biseutan nugungareul bomyeon nega saenggangna (Why?)

Byeolgeo anin nominde mariya

(It is weird, my mind is complicated. (All night long)
I need stronger coffee (Black and strong)
When I look someone who looks similar, I think about you (Why?)
Even though you are not a special guy
)

Unmyeongiramyeon jom useuwo

Seolleimeun injeonghae

Da Da Da Da nal moreugesseo

(It is a bit funny if it’s destiny
I admit the tingle
Da da da da I don’t get myself)

Jessica terduduk lemas begitu kedua orang itu pergi. Ternyata bukan Junki. Jessica menengadahkan kepalanya, menyadari salju mulai turun. Jessica merapatkan jaketnya dan memutuskan kembali ke dalam apartemennya.

Saat dia masuk, diliriknya jam digital kecil di meja. 00.52. Sudah tanggal 24. Ternyata dia sudah pergi hampir satu jam.

Jessica tertegun sejenak. Kali ini dia melihat kalendernya. Tanggal 24 sudah dilingkarinya dengan spidol pink dengan catatan di bawahnya.

Christmas Eve. Junki’s Birthday.

Jessica menepuk dahinya keras-keras, hingga meninggalkan bekas memerah. “Aduh! Ini ulang tahun Junki! Bagaimana aku bisa lupa?!” Dengan cepat, dicarinya HP di antara tumpukan barang-barang di mejanya. Setelah menemukannya, dicarinya nama Junki.

Saat akan menekan tombol telepon hijau, Jessica berhenti. Bagaimana kalau Junki tidak mau menerimanya lagi? Bagaimana kalau Junki tidak bisa menerimanya? Jessica menarik nafas panjang berkali-kali, mencoba menyugesti dirinya. Ya. Telepon. Sekarang.

Tanpa pikir panjang, ditekannya tombol telepon hijau. Menunggu. Telepon diangkat pada dering kelima.

“Halo?”

Jessica menahan nafas. Itu suara Junki. Suara yang sudah lima bulan tidak didengarnya. Suara yang sangat dia rindukan. Apa yang harus dia katakan?

“Halo? Jessica-noona?”

Dia masih memanggil Jessica dengan sebutan ‘noona’. Tanpa sadar Jessica mencengkeram celananya kuat-kuat. Apa yang harus dia lakukan?

“Halooo? Jessica-noona? Noona ada di sana?”

“Ah, i-iya! Aku di sini!” jawab Jessica cepat. Saat itu, rasanya seperti ada beban yang terangkat dari hatinya. Membuat perasaannya lebih ringan. Meski dia belum tahu apa yang akan dia katakan, mendengar suara Junki saja sudah cukup membuatnya lega.

“Ada apa?”

“Euh.. Itu..” Jessica berputar-putar di kamarnya, sampai matanya tertuju pada kalender. “Ah! Selamat ulang tahun,” ucap Jessica, terbata-bata.

Hening. Tidak ada jawaban. “Junki?” tanya Jessica, memastikan.

“Ah, iya. Euh.. Aku kira Noona tidak tahu ulang tahunku,” jawab Junki dari seberang.

Bodoh. Mana mungkin aku tidak tahu ulang tahun orang yang aku suka?

Eh?

Suka?

 

Maeumi geuphaejyeo sesangi dallajyeo o

Modeun ge neoro inhaeseo

Gijeogeun ullyeosseo eoseo gayo

Nan deo ppalli gagil wonhaneungeol

(I am getting anxious, the world becomes different oh
All because of you

The train has whistled. Let’s go.

I want to go faster)

Jessica baru menemukan jawaban dari pertanyaannya. Ya. Dia menyukai Junki. Junki yang sudah membuatnya menjadi lebih baik. Junki yang sudah mengubah hidupnya. Ya. Dia menyukai Junki. Tanpa alasan lebih. Hanya suka. Hanya ingin bersama. Kenapa dia baru menyadarinya?

“Terima kasih, Noona. Aku-“

“Junki! Apa nanti kau ada waktu?” potong Jessica.

“Sepertinya ada. Kenapa?”

Jessica menarik nafas lagi. “Aku ingin bertemu denganmu.”

24 Desember 2012

Aku mencintaimu, Junki.

Tidak. Terlalu agresif.

Aku menyukaimu, Junki.

Tidak. Terlalu umum.

Aku hanya ingin kau tahu perasaanku.

Tidak juga.

Aku ingin menjadi kekasihmu.

Tidak. Tidak! Salah semua!

Aku ingin-

“Noona!”

Jessica menegakkan posisi duduknya. Dilihatnya Junki melambaikan tangan ke arahnya. Dengan ragu, Jessica juga balas melambaikan tangannya. Junki langsung duduk di depan Jessica. Sesekali tangannya menepuk-nepuk jaketnya. “Hai,” sapa Junki kikuk. “Maaf agak telat.”

“Hai juga,” jawab Jessica, tidak kalah kikuk.

Sunyi beberapa saat.

Jessica berbasa-basi menanyakan apa pesanan Junki, dan berkeras akan membayar apapun yang Junki makan malam itu, sebagai ganti hadiah ulang tahun untuk Junki. Junki awalnya menolak, tapi karena Jessica terus memaksanya, dia juga menyetujuinya dengan terpaksa.

“Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu,” ucap Jessica pelan sambil memainkan jari-jarinya. Wajahnya tertunduk, tidak menatap Junki.

“Apa?”

Jessica menelan ludah. Ayo, Jessica! Kau bisa! Jessica mengangguk yakin dan mengangkat kepalanya. “Sebenarnya-“

“Eh, tahan dulu, Noona!” potong Junki. Wajahnya terlihat meringis. “A-aku perlu ke toilet sebentar saja,” katanya. Tanpa basa-basi, dia langsung berlari, meninggalkan Jessica yang melongo. Jessica hanya bisa menunggu dengan pasrah, karena tidak mungkin dia menyusul Junki ke toilet.

Drrt! Drrt!

Saat sedang menyusun kalimat yang dia ungkapkan begitu Junki kembali, Jessica melihat HP Junki yang ditinggalkan di meja bergetar beberapa lama. Lalu berhenti. Bergetar lagi. Berhenti lagi. Dan Junki belum juga kembali. Saat HP itu bergetar untuk ketiga kalinya, Jessica mengambil HP Junki.

Two missed call. One message received.

Dengan ragu, Jessica membuka SMS masuk. Jantung Jessica seakan berhenti saat tahu SMS yang baru masuk berasal dari Kim Sooyeon. Yang membuatnya makin shock adalah tanda hati di belakang nama Sooyeon. Jangan-jangan..

Dibukanya SMS dari Sooyeon.

Kenapa teleponku tidak diangkat? L Maaf ya, karena aku Oppa, jadi terlambat ke tempat perjanjian. Pacarmu ini memang menyebalkan L Tapi aku sangat menikmati hari ini. Selamat ulang tahun, Oppa! I love you❤

Apa? Pacarmu? I love you? Mereka pacaran? Sejak kapan? Saat itu Jessica baru menyadari wallpaper HP Junki adalah foto mereka berdua. Jadi, mereka sudah pacaran, ya?

“Ini pesanannya.” Seorang pelayan meletakkan pesanan Jessica dan Junki ke atas meja. Jessica langsung berdiri dan menuju ke kasir, membayar semua yang sudah dia dan Junki pesan, lalu keluar dari restoran itu.

Masih 24 Desember 2012

Maaf aku pulang lebih dulu. Ada urusan mendadak.

Jessica memasukkan HP-nya ke dalam tas setelah mengirim SMS untuk Junki. Dia berdiri di stasiun yang sama, seperti saat Junho mematahkan hatinya, memutuskannya. Sekarang dia patah hati lagi, meski kasusnya berbeda.

Kereta Express 999 akan segera tiba di jalur satu. Mohon kepada seluruh penumpang agar bersiap-siap.

Jessica masuk ke dalam kereta, begitu kereta tiba. Seperti dulu juga, kereta penuh sesak. Untung saja dia masih mendapat tempat duduk. Dikeluarkannya iPod dan earphone dari tasnya. Dipejamkannya matanya, menghayati lagu yang dia dengarkan.

Mata Jessica kembali terbuka saat seseorang menepuk bahunya. Dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya, sepertinya bicara padanya. Dilepasnya earphone dari telinganya. “Maaf, saya tidak dengar. Ada apa?”

“Bisakah Anda memberi tempat duduk untuk nenek ini?” tanya laki-laki itu. Di sebelahnya ada seorang nenek yang tampak lelah.

Jessica terdiam beberapa saat. Lalu mengangguk sambil tersenyum. “Tentu saja,” jawabnya. Dia segera berdiri dan membantu nenek itu duduk. Nenek itu mengucapkan terima kasih berulang kali pada Jessica.

“Kau baik sekali.”

Jessica menoleh. “Maaf?”

“Aku bilang, kau baik sekali,” ulang laki-laki di sebelahnya. “Sekarang sudah jarang perempuan seperti itu. Banyak perempuan yang egois, sok.”

Jessica tertawa kecil. “Percaya atau tidak, aku dulu seperti itu.”

“Oh ya?” tanya laki-laki itu, yang dibalas anggukan Jessica. “Tapi yang penting adalah sekarang, bukan masa lalu.”

Jessica mengangguk. Matanya menerawang. “Kau benar.”

Laki-laki itu mengulurkan tangannya. “Boleh aku tahu namamu?”

Jessica tersenyum. “Kau dulu.”

“Oh, apa kau tidak tahu istilah ladies first?” Melihat Jessica tidak menyahut, laki-laki itu memutuskan untuk mengalah. “Baiklah. Namaku Lee Donghae. Jadi, siapa namamu?”

Jessica menjabat tangan laki-laki itu–Lee Donghae. “Jessica. Jessica Jung.”

THE END

8 thoughts on “Express 999 (SNSD Fanfiction)

  1. Jadi.. Junki beneran nih pacaran ma Kim Sooyeon?? HH,, bener bener kasihan ma Sica nya + sedih dah 2 kali jatuh cinta harus 2 kali patah hati😥 .. Hmm,, semoga sama Lee Donghae jadi hehe .. Ng ditunggu thor ff yang Genie nya hehe

  2. INI SUMPAH BAGUS PLOTNYA MAN!!
    Aku suka penggambaranmu tentang perasaannya Jessica, dan tentang ke-tsundere-annya dia.
    Ceritanya menyedihkan lo. Mataku sempet berkaca-kaca. Sumpah sumpah sumpah aku seneng ide ceritanya. Aku bukan anak kpopers, dan bukan pencinta pairing straight, tapi…tapi….baru kali ini aku kuat baca cerita straight. ^w^
    Jessica nya tsundere banget sih. Eman banget ga sama Junki. Kasian juga sih sudah patah hati 2 kali gitu. :’)
    Dan aku suka banget endingnya soalnya….kayak dejavu gitu tapi akhirnya dia berubah. Syukurlah >w<
    Udaah, Jessica sama Donghae ajaaaaaa~ 8D
    Klo aku boleh saran, post di fanfiction.net juga donk 8D
    Thank you!
    -Merumeru

    • dan ini sumpah komen nya panjang banget!!!
      wah, author baru pasti seneng dpt komen sepanjang ini ne?
      terus lanjut baca nya yaa readers
      kalo bs komen panjang disetiap FF juga
      stop sillent reading, hehehee
      ini komen ku jg ikutan panjang -___-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s