Beautiful Stranger – Chapter 1

Image

Tittle    : Beautiful Stranger – Cayden, another soul (CHAPTER 1)

Author: JJyoung

Cast   : Sooyoung, Seohyun (SNSD), Kyuhyun (Super Junior), Shim Changmin (TVXQ), Lee Sungjong (Infinite), Jung Eun Ji (A Pink), Profesor Ji Hyun – Profesor Jin Young (OC)

Genre  : Action, Friendship, Romance

 

PS : Readers ini karya author baru. Chapter 2 akan fast publish. Happy reading dan tinggalkan banyak jejak yaa ^^

 

***

 “Noona!!!”

“Ya! Sung Jong-ah! Apa kau mau membuat kakakmu ini tuli??!!” Teriak Sooyoung tak kalah sengit dari suara dongsaengnya. Sungjong agak ngeri mendengarnya, dahinya berkerut. Ia memandangi wajah kakaknya tajam.

Sooyoung menatap adiknya intens. Sekelebat pikiran muncul dibenaknya. “Sungjong-ah, gwaenchana?” Sooyoung menempelkan punggung tangannya di dahi Sungjong.

Sungjong menepisnya cepat. “Wae??!!” Gerutu Sungjong.

“Ah, kupikir kau kerasukan.” Ujar Sooyoung tersenyum geli. Ia melanjutkan pekerjaannya. Sejak terakhir kali ia mengisi perutnya dengan makan siang beberapa waktu lalu, ia terus berkutat dengan berlembar-lembar kertas putih berukuran cukup lebar yang sudah ia pandangi dari tadi. Tak kunjung menemukan inspirasi. Membosankan.

“Noona-ya,” Ujar Sungjong lemah, kali ini ia lebih mendekatkan wajahnya.

“hmmm,” Ujar Sooyoung tetap fokus pada goresan-goresan pensil di lembar kerjanya. “Aissh!!! Gara-gara kau tugasku berantakan!” Sooyoung meremas salah satu kertasnya lalu membuangnya sembarangan bersama puluhan kertas lainnya yang tentu saja sudah ia remas duluan.

“Noona,”

“Mwo??!! Mwo!!”  Ujar Sooyoung kesal. “Kau ini kenapa? Dari tadi memanggilku hah?! Kau tahu, telingaku sangat sakit mendengar panggilan asingmu itu. Kenapa kau memanggilku noona?”

Sungjong bernapas lega. “Ah, syukurlah.” Sooyoung memandang adiknya ngeri. Ada yang aneh pada Sungjong, tidak biasanya ia bernapas lega seperti –bebas dari kejaran perampok– itu.

“Eonni, bisakah kau membelikanku sepasang sepatu basket?” Tanya Sungjong ceria. Ekspresi wajah yang selalu ia tampakkan, yah, kecuali jika noonanya berubah ngamuk-ngamuk.

“Ah, kurasa dunia ini benar2 terbalik. Kenapa aku begitu lega saat mendengarmu memanggilku eonni.” Sooyoung menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Eonni, bolehkah? Kau tahu kan aku sangat menyukai basket. Jadi,..”

“Ne, arasso arasso. Tunggu sampai gajiku turun.” Potong Sooyoung merapikan seluruh perlengkapannya yang berserakan diatas meja kayu tuanya.

“Aku bersyukur kau masih memiliki sedikit kenormalan yang dimiliki namja lainnya.Kau masih suka basket, bukannya memasak.” Ujar Sooyoung mengejek dongsaenngnya. Sooyoung berlalu pergi meninggalkan Sungjong yang agak marah rupanya.

“Ya!! Eonni!!” Teriak Sungjong.

“Tutup pintunya dan tidur! Kau harus ke sekolah pagi-pagi.” Balas Sooyoung dari dalam kamarnya. Sungjong mendengus kesal dan menggerutu tidak jelas, tapi ada sedikit kelegaan yang melingkupi dadanya.

“Sedikit kenormalan katamu? Memangnya kau normal?” Ujar Sungjong beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati pintu untuk memastikan siapapun tidak bisa menerobos masuk, meskipun melalui celah sekecil lubang kunci.

***

“Ya!!! Lepaskan dia atau kau mau masuk rumah sakit!!”

“Haha, apa yang bisa dilakukan gadis sepertimu??” Seorang pria berambut hitam pekat tak terawat mulai mendekati gadis itu.Yeoja berambut sebahu itu membuang ludah.

“Ya!! Lepaskan yeoja itu sekarang juga. Kau tidak berhak meminta uang padanya!”

“Kalau kau tidak mau uangmu juga hilang, segera pergi!”Pria itu berjalan lurus menantang ke arah yeoja yang boleh disebut pemberani ataukah bodoh yang tanpa pikir panjang mencoba menantang preman yang sedang memalak uang siswi SMA yang kebetulan lewat.

“Ah, kau!!”Umpat preman itu disertai layangan tinjunya kearah yeoja itu.Sial.Pukulan preman itu tidak dapat ditangkis yeoja itu dengan baik. Darah segar mengucur dari sudut bibirnya.

“Mau pergi sekarang?” Tanya preman itu menawarkan pilihan yang jelas tidak akan dipilih oleh yeoja yang bibirnya terlanjur terluka itu.

“Tidak.Tentu saja tidak.” Yeoja itu mengusap sudut bibirnya cepat lalu menghantamkam tinjunya yang lumayan kecil kearah preman itu. Entah keberuntungan ataukah kepalan tangan mungilnya yang setajam jarum, preman itu dapat dipukul mundur karena tinjunya.

Yeoja itu kemudian menyiku perut preman itu, tak lupa memukul kepalanya.Tak mau kalah tanpa perlawanan, namja itu melakukan perlawanan mengarahkan tinjunya lagi, tapi yeoja itu malah menangkap kepalan tangan jumbo itu dan segera memelintir lalu menghajarnya sekuat yang ia bisa. Baiklah, kali ini yeoja itu yang menang.

“Pergi!”Yeoja itu berteriak sambil menginjak pipi preman yang tersungkur di bawah kakinya. Sebelum preman itu pergi, ia mengambil uang yang telah didapatkannya hasil memalak. Siswi SMA yang yang ketakutan itu perlahan mendekati gadis penyelamatnya dan membungkuk sangat rendah, beberapa bulir air matanya menetes jatuh ke sepatunya.

“Gomawo, eonni.”Ujar siswi SMA itu takut-takut.

“Ambil itu.”Yeoja itu melemparkan uang yang tadi berhasil direbutnya, ke kaki siswa SMA yang sejak tadi hanya menangis.

“Uljima!!!! Gadis cengeng, apa hanya dengan menangis kau bisa mengusir preman tadi??! Berhenti! Jangan membuatku jengah melihatmu menangis!!!”Teriak yeoja itu.

Bugg!!!

Yeoja berambut sebahu itu menoleh.Namja yang dikenalinya sebagai preman tadi jatuh tersungkur di belakang kakinya.“Ka!”Teriak seorang namja berbaju biru tua.

“Kyuhyun oppa!”Teriak siswi SMA itu girang.Tangisnya lenyap saat melihat seorang namja yang amat dikenalnya berdiri di belakang yeoja yang tadi menyelamatkannya.

“Seo hyun-ah!Berhati-hatilah pada namja seperti dia.”Balas namja yang dipanggil Kyuhyun itu.Preman itu bangkit dan segera pergi.“Oppa,” Gadis itu berlari menghampiri oppanya dan memeluknya erat.Lega rasanya ada yang bisa dipeluk.

“Oppa, yeoja ini membantuku tadi.”Ujar siswi SMA yang dipanggil Seo Hyun dengan wajah polosnya yang bisa membuat siapa saja luluh kalau dia sedang memohon.

“Gomaw…”

“Adikmu ini sangat cengeng. Ajari dia untuk melindungi dirinya sendiri. Aku pergi.” Potong yeoja itu tanpa memberi kesempatan Kyuhyun hanya untuk sekedar mengucapkan satu kata.

“Ahgassi,” Panggil Kyuhyun sambil menahan lengan gadis itu.

“Namaku Cayden. Kau hanya ingin tahu namaku kan? Sudah, aku pergi.” Gadis yang mengaku Cayden itu membuang  tangan Kyuhyun sekuat tenaga.

Kyuhyun tetap menahan lengan gadis itu. “Bibirmu..”Kyuhyun mengarahkan pandangannya ke bibir Cayden.Cayden tidak menanggapi, hanya menyeringai. Dengan keras ia membuang tangan Kyuhyun.

“Urusi saja adikmu!Aku sangat benci melihatnya menangis.”Ujar Cayden mengarahkan pandangan muaknya ke Seohyun yang langsung menunduk.“Kalau aku bertemu denganmu saat kau menangis lagi, mungkin kau yang kuhajar.Arra??!!!”Teriak yeojalalu berjalan pergi meninggalkan kakak adik yang sangat memuakkan baginya.

“Seohyun-ah, bagaimana kau bisa..”

“Sudahlah oppa kita pulang, aku sangat lelah. Ditambah lagi dengan sikap yeoja angkuh tadi, rasanya aku mau muntah saat melihat wajahnya.”

“Ya! Seharusnya kau berterima kasih, bukan menggerutu seperti ini.” Kyuhyun mendorong dahi adiknya.

“Kajja, kita pulang.” Kyuhyun menyeret lengan adiknya hingga langkah Seohyun terseok-seok mengikuti langkah kaki oppanya.

***

“Eun Ji-ah, dari mana saja kau? Kuliah sudah berakhir sejak satu jam yang lalu, dan lihatlah dirimu. Kau baru datang tanpa rasa khawatir.”

“Changmin-ah, bagaimana tugasnya?”Tanya Eun Ji menggoyang-goyangkan lengan Changmin.Changmin menarik napas sejenak lalu membuangnya perlahan, mencoba memahami yeoja dihadapannya yang kadang sulit untuk dipahami.

“Ya!”Changmin menepis tangan Eun Ji.“Tugas kita ditolak.”

“Mwo??!!” Ujar Eun Ji menengadah, memandang wajah Changmin yang lebih tinggi darinya.“Apa kau bilang?”

“Tugas kita semua ditolak, hanya karena salah seorang dari kita melakukan kesalahan.”

“Lalu?” Tanya Eun Ji penasaran. Sebenarnya ada semburat bahagia di wajahnya.

“Kumpulkan dua hari lagi, tanpa kesalahan!” Teriak Changmin di telinga Eun Ji. Eun Ji menutup telinganya cepat-cepat menghindari kerusakan telinga yang diakibatkan akumulasi teriakan Sungjong dan Changmin yang bahkan bisa mencapai nada sangat tinggi.

“Ya! Tutup mulutmu! Telingaku bisa tuli!” Balas Eun Ji yang juga berteriak.

“Eun Ji-ya,” Sapa seorang namja paruh baya yang dikenali sebagai salah seorang dosen. Eun Ji menoleh dan segera menyunggingkan senyumnya disertai membungkuk hormat.

“Ikut aku.” Ujar namja itu dengan nada memerintah. Garis wajahnya yang tegas menampakkan kepribadiannya yang keras.Tanpa pikir panjang, Eun Ji mengikuti langkah namja itu menuju ruangannya.

“Mau kemana?” Changmin menahan lengan Eun Ji.

“Tunggu saja.”Jawab Eun Ji segera melangkahkan kaki menyusuri koridor kampus.Ia tidak menyejajarkan langkahnya dengan dosen itu.Kesopanan.Itu alasannya, klasik, tapi tidak ada salahnya dipatuhi.Eun Ji berjalan dengan langkah diam sampai berbelok menuju salah satu ruang dosen. Di pintu yang terbuat dari kayu bercat coklat tua itu tertulis jelas nama ‘Jung Jin Young’.

“Duduk.”Eun Ji mematuhi perintah pria itu.Ia menyeret kursi didepannya, lalu dengan segera duduk menyandarkan punggungnya.

“Sooyoung-ah,” Namja yang dipanggil Jin Young itu menyilangkan kedua tangannya diatas meja. “Aku sangat berterima kasih padamu, karena kau bersedia hidup sebagai Jung Eun Ji.” Tambah Jin Young sambil membenarkan letak kacamatanya yang melorot sampai ujung hidungnya.

Sooyoung mengamati wajah Jin Young lekat-lekat.Sudah banyak guratan-guratan halus di dahi dan pipinya. Mata pandanya pun tidak bisa ia sembunyikan dengan baik. ‘Wajah lelah’ setidaknya begitulah yang dipikirkan Sooyoung.

“Tapi, aku mohon usahakan yang terbaik untuk putriku.” Ujar Jin Young.

“Jin Young-ssi, aku benar-benar minta maaf karena keterlambatanku tadi. Aku tidak bermaksud merusak apa yang selama tiga tahun ini kuusahakan dan kau menjaganya dengan baik. Aku minta maaf.Tapi kumohon,” Sooyoung mengambil jeda untuk sekedar menarik satu napas.

“Kumohon pahamilah diriku. Aku juga membutuhkan hidupku sebagai Sooyoung. Aku juga harus walau hanya sekedar menyapa orang-orang yang mengenalku sebagai Sooyoung. Aku juga minta maaf karena mengatakan hal seperti ini kepadamu. Aku hanya berpikir kau terlalu sering mengatakan hal yang seperti ini kepadaku.”

Pria bermarga Jung itu menatap Sooyoung lekat-lekat, ia terdiam, bergulat dengan pikirannya sendiri. Sekelebat bayangan putrinya –Eun Ji– melintas dipikirannya.

Ia menyunggingkan senyum, lalu mengambil tangan Sooyoung yang dia letakkan diatas meja –sejak beberapa saat yang lalu– dan menggenggamnya erat-erat. “Mianhae.Aku hanya khawatir pada putriku.Gomawo, jeongmal gomawo.” Kata Jin Young. Raut wajah itu, raut wajah yang amat disukai Sooyoung, terlalu teduh untuk dipandang.

“Aku tidak tahu kata apalagi yang harus kuucapkan padamu Sooyoung-ah.”

Sooyoung menggengam tangan Jin Young dengan tangannya yang lain. “Kau sudah berbuat banyak Jin Young-ssi.Aku sangat berterima kasih padamu.”Ucapnya menepuk punggung tangan Jin Young.

“Ah, aku akan mengunjungi Eun Ji nanti.” Tambah Sooyoung melepaskan genggaman tangan Jin Young dan bangkit dari duduknya untuk pamit.

“Chakkaman,” Jin Young ikut berdiri dan mencari-cari sesuatu di laci meja kerjanya.

“Ini,” Jin Young menyodorkan amplop coklat yang amat dikenali Sooyong selama tiga tahun ini.“Kau sudah bekerja keras.” Tambah Jin Young sebelum Sooyoung mengambilnya.

Sooyoung memasukkan amplop coklat itu kedalam tasnya dan memastikan tasnya tertutup rapat. Ia tersenyum sebentar lalu membungkukkan badannya yang dibalas hal yang sama oleh Jin Young. Sooyoung memutar gagang pintu dan keluar dari ruangan itu.

“Eun Ji-ah,”

“Omo!” Sooyoung memegang dadanya sendiri, mencoba menstabilkan napasnya.

“Kau membuatku terkejut.” Soo Young melangkahkan kakinya mendahului Changmin.

“Kau baik-baik saja kan? Kenapa kau dipanggil dosen tua itu? Apa kau diskors? Atau kau diberi hukuman lebih?” Changmin nyerocos tanpa henti mengikuti langkah Sooyoung.Sooyoung mengedarkan kepalanya ke seluruh gedung kampusnya yang amat besar itu. Matanya lurus memandang pintu keluar.

“Changmin-ah, santai saja. Nan Gwaenchana. Dia kan dosen jurusan lain. Jadi tidak mungkin dia memberikan hukuman padaku.Arra??” Changmin manggut-manggut.

“Lalu, untuk apa kau..”

“Ayo, kutraktir makan.” Potong Sooyoung cepat-cepat.

“Ide yang bagus.” Jawab Changmin dengan matanya yang berbinar-binar mendengar kata makanan hingga melupakan pertanyaannya tentang urusan Sooyoung.

“Tapi, ikut aku kesuatu tempat dulu, ne?” Ujar Sooyoung membalikkan badannya lalu berjalan mundur didepan Changmin.

“Eodi?”

“Ikuti saja, kutunjukkan jalannya.” Jawab Sooyoung kembali membalikkan badannya.

Bruukk

“Auww!” Teriak Sooyoung tiba-tiba. Beberapa buku jatuh berserakan dibawah kakinya.

“Ah mianhae, mianhae…” Ujar Sooyoung cepat-cepat membantu namja yang ditabraknya untuk membereskan buku-bukunya.“Maafkan aku. Aku tidak hati-hati. Aku benar-benar minta maaf.” Sooyoung berkali-kali menundukkan kepalanya meminta maaf.

“Ah, tidak masalah. Selama bukunya tidak rusak.” Jawab namja itu berdiri sambil merapikan tumpukan buku ditangannya. Sooyoung menambahkan beberapa buku lagi diatasnya.

“Ahgassi,” Panggil namja itu.Alisnya bertautan.

“Ne?” Sooyoung mengangkat wajahnya lalu tersenyum. “Maafkan aku, aku kurang hati-hati.” Sooyoung membungkukkan badannya lagi.

“Eun Ji-ah,” Panggil Changmin yang ada dibelakang Sooyoung.Sooyoung dan namja itu menoleh.“Ah Changmin, tunggu sebentar.”

“Ahjussi, aku benar-benar minta maaf.” Namja itu mengerutkan keningnya. Bingung. Benar-benar bingung. Apa yang telah terjadi pada dunia ini? Apa semuanya terbalik dalam waktu sesingkat itu. Ah, membingungkan.

“Ahgassi, kau kuliah disini?” Tanya namja itu.

“Ah, ye. Aku kuliah disini.Jurusan teknik arsitektur.” Jawab Sooyong bangga.

“Namamu?”

“Eun Ji, Jung Eun Ji.” Jawab Sooyoung membungkukkan badannya lagi.

“Dan kau?”Tanya Eun Ji menatap wajah namja yang cukup untuk membuat yeoja seumurannya rela mengantri untuk berkenalan dengannya.

“Kyuhyun, Cho Kyuhyun imnida.” Jawab Kyuhyun menyipitkan matanya. Sooyoung melirik sejenak kearah Changmin, sepertinya ia akan melahap kulkas kalau ia tidak bergegas.

“Kau tidak mengenalku?” Tanya Kyuhyun lebih lanjut. Sooyoung merubah air mukanya, memikirkan sesuatu dan mencari-cari dalam memori seluruh otaknya –kalau memang ada– identitas namja tersebut.

Sooyoung menggelengkan kepalanya.“Maaf, sepertinya tidak.Apa kita pernah bertemu disuatu tempat?”

“Ah, ani. Aku hanya berpikir aku cukup terkenal di kampus ini. Aku putra dari salah satu dosenmu.” Kyuhyun menambahkan senyumnya di akhir kalimatnya. Demi apapun, Sooyoung rela Changmin melahap kulkas demi berada didepan namja ini selama mungkin.

“Aku tidak tahu kalau..”

“Eun Ji-ah,” Sooyoung terlonjak saat Changmin menepuk bahunya.

“Omo!Kau selalu mengagetkanku.”Ujar Sooyoung mengelus dadanya.“Ah, Kyuhyun-ssi aku harus pergi.Aku harap bisa bertemu dengannmu lagi.Annyeong.”Sooyoung membungkukkan badannya saat berpamitan, Kyuhyun membalasnya dengan sopan.

“Eun Ji-ssi,” Kyuhyun menahan lengan Sooyoung. Ia menatap lekat-lekat wajah Sooyoung. Meneliti tiap jengkal wajah putihnya.Sooyoung mengedikkan kepalanya, barangkali ada yang ingin ditanyakan Kyuhyun.

“Ah ani.” Ujar Kyuhyun akhirnya melepaskan Sooyoung. Sooyoung dan Changmin pergi.

‘Aku yakin,’ Batin Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju ruang kerja ibunya.

***

Bayangan tubuh Sooyoung kian memanjang kearah timur.Menandakan matahari disebelah barat enggan menyinari bumi lebih lama. Sooyoung melepas helm dikepalanya yang cukup membuatnya gerah.

“Disini?” Tanya Changmin memarkir motornya didepan sebuah rumah kaca yang berbentuk pyramid dengan dua lantai dan taman yang hijau disekelilingnya. Terpatri dengan megah sebuah air mancur di halaman depannya.

“Ne. Kajja.” Sooyoung mendekati bangunan itu kemudian perlahan masuk kedalamnya.Dia disambut beberapa pembantu yang selama empat tahun terakhir setia berkerja di rumah itu.Sooyoung sekedar menyapanya sebentar juga mengenalkan Changmin sebagai temannya, temannya sebagai Eun Ji tentunya.

Sooyoung menapaki setiap tangga yang tesusun melingkar hingga ke lantai dua.Changmin dengan wajahnya yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya mengikuti Sooyoung naik ke lantai dua.

“Annyeong,” Sooyoung menyapa seorang yeoja yang duduk memandangi air mancur di halaman depannya.Sooyoung yakin yeoja itu melihatnya saat dia dan Changmin datang.

“Kau datang lagi?” tanyanya membalikkan tubuh menatap sooyoung dan Changmin.

“Tentu saja,” Jawab Sooyoung memandangi satu persatu kertas putih yang dipajang dibeberapa tempat itu. Tanpa berniat memandang yeoja itu, ia meneliti seluruh desain bangunan yang sering kali membuatnya kagum.

“Eun Ji-ah, siapa dia?” Tanya Changmin menyenggol lengan  Sooyoung.

“Eun Ji, aku membawa teman baru.” Sooyoung menarik lengan Changmin mendekat kearah yeoja yang Sooyoung panggil Eun Ji.Changmin membelalakkan matanya, terpaksa mengikuti langkah Sooyoung.

“Changmin, ini Eun Ji.”Ujar Sooyoung mengenalkan Changmin pada Eun Ji. Changmin mengerutkan keningnya, sama sekali tidak paham.

“Ya, ini Eun Ji,” Sooyoung menunjuk dirinya sendiri.“Dan ini Eun Ji.”Dia mengarahkan telunjuknya ke arah Eun Ji yang duduk disebuah kursi putih yang telah dihias beberapa lukisan di sandarannya.

“Aaah, aku mengerti. Nama kalian sama, bukan begitu?”

‘Ani, aku Sooyoung Changmin-ah, bukan Eun Ji. Gadis inilah pemilik nama Jung Eun Ji. Gadis berbakat ini yang harusnya kau kenal.’Sooyoung hanya berani berucap dalam hatinya.

“Ne, kau pintar.”Sooyoung mengacak-acak rambut Changmin.

“Aisssh!”Changmin membuang tangan Sooyoung begitu saja.Sooyoung tertawa geli.Changmin kemudian mengulurkan tangannya ke arah Jung Eun Ji yang sebenarnya.Eun Ji menatap lama tangan Changmin yang terulur didepannya. Tak berniat menyambut tangan itu, Eun Ji berdiri dari duduknya lalu berpindah ketempat duduknya yang lain menghadap sebuah kertas putih yang telah terisi dengan sebuah goresan-goresan pensil berseni. Hampir membentuk sebuah bangunan.

“Teknik yang luar biasa.”Ujar Changmin mendekati Eun Ji.Sooyoung menyunggingkan senyumnya menatap punggung Changmin yang mendekati Eun Ji. Sooyoung pergi memeriksa beberapa sketsa design bangunan yang telah digambar oleh Eun Ji, mengamatinya lekat-lekat.

“Kau yang menggambar ini semua?”Tanya Changmin menatap setiap gerakan pensil yang dibuat oleh Eun Ji.Sederhana, tapi menghasilkan sebuah gambar yang artistic.

“Apa mungkin gadis sepertiku melakukan semuanya?”

“Kenapa tidak?”Tanya Changmin mengamati wajah Eun Ji yang amat santai.Seakan tanpa berpikir setiap memberikan goresan pensil ke kertasnya.

“Aku hanya mencoba.Tapi, aku tidak tahu malah jadi gambar seperti itu.”

“Maksudmu?Semua gambar yang bernilai seni tinggi itu?”

Klekk.Ujung pensil Eun Ji patah.Hingga membuat beberapa coretan tidak penting mengotori gambar sebuah gedung pencakar langit yang sudah setengah jadi.

Eun Ji menyeringai menatap pensilnya.

“Dia terobsesi membuat desain sebuah apartemen bawah tanah lengkap dengan mall, kantor, tempat parkir, dan lainnya.” Ujar Sooyoung dari kejauhan.

Sooyoung masih berkutat dengan pengamatannya, saat menemukan gambar yang sesuai dengan maunya,ia melepaskan kertas itu ­dari papan penyangga –yang biasa digunakan pelukis untuk meletakkan kanvasny­a– lalu menggulungnya dan memasukkannya ke dalam tabung panjang yang telah ia persiapkan.Ia mengalihkan pandangannya ke arah Eun Ji.

Eun Ji mematahkan pensil dibagian tengahnya lalu membuang ke sudut ruangan bersama beberapa pensil lainyang juga patah-patah. Kemudian ia mengambil cat warna di bawah tempat duduknya dan mencelupkan kuas kedalam beberapa warna.

“Eun Ji-ah,” Eun Ji menghentikan tangannya saat Sooyoung memanggilnya.

“Apa yang akan dia lakukan?”Tanya Changmin pada Sooyoung.

“Sebaiknya kita pergi.”Sooyoung menarik lengan Changmin keluar dari ruangaan itu.“Tapi,” Changmin menahan langkahnya.Sooyoung menarik lengan Changmin kuat-kuat.

“Mwo??!”Ujar Changmin tepat saat ia menuruni tangga, Changmin melihat Eun Ji menyiram gambarnya dengan seluruh cat warna yang ada dalam wadah tersebut. Changmin terbelalak.

“Sebenarnya,,”Tanya Changmin saat mereka sudah sampai dihalaman depan tempat motor Changmin diparkir.Ia masih penasaran dengan apa yang terjadi.

“Dia kurang waras.”Jawab Eun Ji cepat, lalu naik keatas motor Changmin.Ia berpegang erat melingkarkan tangannya ke perut Changmin.“Dia akan mengamuk jika ada orang asing melihatnya melakukan kesalahan pada gambar-gambarnya.Jadi kupikir sebaiknya kita pergi.”

“Ah, apa dia depresi?”Tanya Changmin menghidupkan mesin motornya.

“Ayo makan.” Ujar Sooyoung yang membuat Changmin menjalankan motornya menjauhi rumah pyramid itu. Hari mulai gelap, Changmin mempercepat laju motornya menyusuri jalan beraspal yang cukup sepi.

***

Kyuhyun mengerjapkan matanya perlahan, mencoba beradaptasi dengan sedikit cahaya yang berhasil menerobos masuk kamarnya lewat celah kecil gordennya.

“Oppa,” Seohyun melebarkan tirai abu-abu yang menutupi jendelanya.

Kyuhyun mengerang kecil.”Ya!”Kyuhyun menutup wajahnya dengan bantal.

“Oppa, ini sudah siang. Bangun! Palli!”Teriak Seo Hyun ditelinga Kyuhyun.

“Kyuhyun, bangun dan cepat turun!” teriak eomma Kyuhyun dari bawah.

“Aissh!!!”Kyuhyun membanting bantalnya ke lantai, mengacak-acak selimutnya juga.

“10 menit lagi kau harus sudah mandi dan berada di meja makan.Kalau tidak, mati kau!” ujar Seohyun yang dihadiahi guling dikepalanya oleh Kyuhyun.

Seo Hyun mendengus kesal dan menutup pintu kamar oppanya keras.Seo Hyun menggerutu tidak jelas sambil menapaki tangganya ke lantai 1 ruang makan.Di meja makan tertata rapi beberapa macam makanan yang disukai Seohyun dan Kyuhyun.Eomma Kyuhyun –yang lebih senang dipanggil Hyun eomma– meletakkan satu piring ddeokbokki disebelah sandwich kesukaan Kyuhyun.“Kemana oppamu?”Tanya Hyun eomma.

“Sedang mandi.” Jawab Seo Hyun duduk dikursinya, ia merapikan seragamnya lalu memulai sarapannya dengan segelas susu stroberi.

10 menit kemudian. “Itu oppa,” Seo Hyun berdiri dari kursinya membawa sepotong sandwich di tangan kirinya dan merangkul tas di tangan kanannya. “Eomma, kita berangkat!”

“Ya!Aku belum sarapan!!!” teriak Kyuhyun memberontak dari kaitan lengan Seohyun.“Ini sarapanmu.” Seo Hyun mengacungkan sandwich yang sempat ia bawa.

“Seo Hyun-ah, biarkan oppamu sarapan.”Teriak Hyun eomma dari ruang makan.

“Tidak usah, aku bisa telat!Eomma, kajja!” teriak Seo Hyun menyeret lengan Kyuhyun hingga mendekati mobil Audi hitam milik Kyuhyun.

“Ya!jahat sekali kau pada oppamu.”Ujar Kyuhyun memasang seat beltnya. “Seo Hyun, lain kali jangan begitu pada oppamu.” Tambah Hyun eomma yang sudah duduk di sebelah Kyuhyun.

“Sudahlah, ayo berangkat!Oppa, ini sarapanmu!”Seo Hyun menyodorkan sandwich.

“Makan saja sendiri.” Kyuhyun menginjak pedal gasnya dan mulai meninggalkan rumah.

“Eomma, apa ada mahasiswamu yang bernama Eun Ji?” Tanya Kyuhyun.

“Eun Ji? Mm, Eun Ji jurusan arsitektur atau jurusan psikologi?”

“Arsitektur.”Jawab Kyuhyun singkat, tetap berkonsentrasi menyetir.

“Ah, tentu saja ada.Dia mahasiswa yang rajin dan berbakat.Dia juga cantik.”Ujar eommanya sambil membayangkan perawakan tubuh Sooyoung yang dikenalinya sebagai Eun Ji.“Waeyo???”Tanya Hyun eomma lebih lanjut, kalau mungkin putranya sedang jatuh cinta.

“Ah ani.Aku sempat menyapanya.”Kyuhyun memutar kendali setirnya kekanan saat melihat pertigaan didepannya.Jalanan menuju SMA Mogyo dipenuhi siswa berseragam seperti Seo Hyun.Kyuhyun mengurang kecepatannya, berjaga-jaga kalau mungkin ada siswa yang kurang hati-hati.Maklum masih siswa.

“Oppa, kau sedang jatuh cinta ya??” Goda Seohyun, kepalanya nongoldari belakang, sejajar dengan Kyuhyun dan eommanya yang ada di jok depan.

“Ya! Bicara apa kau ini??!!” Kyuhyun menjitak kepala Seo Hyun, hingga Seohyun terpental dan terduduk kembali.Seohyun mengumpat saking kesalnya.

“Ah, mian mian.”Kyuhyun memandang muka masam dongsaengnya dari kaca spion.“Hanya saja aku merasa Eun Ji mirip dengan Cayden.”Ujar Kyuhyun yang membuat Seohyun menegakkan punggungnya.

“Cayden?Maksudmu gadis angkuh itu??!!”

“Seohyun-ah, bagaimanapun dia yang menyelamatkanmu!”Eommanya menegur putrinya yang kelewat manja itu.

“Aku bertemu dengan Eun Ji di kampus eomma.”Ujar Kyuhyun mengamati adiknya melalui spion.“Dia mengaku Eun Ji, dan kau tahu dia sangat ramah dan sopan.Dia banyak tersenyum.”

“Lalu, kau mau bilang kau menyukainya?”Tanya Seo Hyun spontan.

“Ya!Dengarkan dulu!”Kyuhyun setengah berteriak.“Aku berpikir mereka hanya mirip atau bahkan kembar.Karena Cayden dan Eun Ji sangat mirip.Tapi, kau tahu?Setelah mengamatinya benar-benar, aku jadi ragu kalau mereka kembar.”

“Maksudmu?”Tanya Eun Ji mulai fokus dengan arah pembicaraan Kyuhyun.

“Kau ingat luka disudut bibirnya?”Tanya Kyuhyun yang dibalas anggukan dari Seohyun.“Luka itu persis dimiliki Eun Ji.”Mata Seo Hyun terbelalak, benar-benar mencerna semua yang dikatakan Kyuhyun.Dahinya berkerut, alisnya bertautan.

“Eun Ji-ya,” Kyuhyun menahan lengan Sooyoung. Ia menatap lekat-lekat wajah Sooyoung. Meneliti tiap jengkal wajah putihnya.Ia berhenti di sudut bibir Eun Ji. ‘Luka itu,’ Batin Kyuhyun.Kyuhyun membelalakkan matanya, menatap mata Sooyoung.Sooyoung mengedikkan kepalanya, barangkali ada yang ingin ditanyakan Kyuhyun.“Ah ani.”Ujar Kyuhyun akhirnya melepaskan Sooyoung.

“Aku yakin.”Ujar Kyuhyun menghentikan mobilnya.

“Kita bicarakan nanti.Seohyun, cepat masuk atau kau akan terlambat.”Ujar eomma Kyuhyun dituruti oleh Seo Hyun.Kyuhyun melambaikan tangannya kearah Seohyun lalu memutar balik mobilnya menuju Universitas Kyunghee, tempat eommanya mengajar.

“Kyuhyun-ah, kapan sebenarnya kau bertemu Eun Ji?” Tanya eommanya tetap menatap jalan lurus didepannya, jalan beraspal dengan tiga lajur itu cukup ramai –tapi tidak macet juga­– untuk ukurankota besar seperti Seoul. Selagi masih pagi, banyak orang mulai beraktivitas.

“Saat eomma menyuruhku membawakan bukumu yang ketinggalan.”Jawab Kyuhyun menginjak remnya saat melihat lampu merah –diantara dua lampu lain– menyala diujung tiang yang menyangganya disisi jalan. Kyuhyun mengedarkan pandangannya kekanan dan kirinya.

“Dia berjalan mundur dan saat membalikkan badannya di menabrakku hingga buku-bukumu jatuh.”Kyuhyun menatap eommanya yang juga mendengarkannya berbicara.“Aku yakin itu Cayden, tapi mereka dua orang yang benar-benar berbeda.”Ujar Kyuhyun mulai menjalankan Audinya saat lampu merah berganti dengan nyala lampu hijau.Kyuhyun melanjutkan konsentrasinya menyetir.

“Jangan pikirkan gadis itu.Fokus saja pada tokomu dan juga proyek perusahaan yang ingin kau dirikan.Tapi kau harus ingat, kalau kau juga harus mencari jodohmu.Aku tidak mau menjadi nenek tanpa cucu.”Ujar Hyun eomma tepat saat Kyuhyun menghentikan mobilnya diparkiran kampus Kyunghee.

“Eomma! Apa yang..”

“Aku pergi.” Kata eommanya lalu membuka pintu mobil dan menutupnya saat ia sudah berada diluar mobil. Kyuhyun mencibir eommanya.Ia memperhatikan eommanya hingga siluetnya menghilang memasuki gedung salah satu fakultas Kyunghee.

Kyuhyun mengubah persneling mobilnya dan memutar beberapa derajat roda setirnya. Entah kenapa ia masih menatap ketempat bayangan eommanya menghilang. Bayangan itukemudian digantikan tubuh Sooyoung yang cukup tinggi ­–yah setidaknya hanya selisih beberapa senti darinya.Kyuhyun menghentikan mobilnya mendadak, hampir saja wajahnya menghantam setir kalau saja dia tidak meyelempangkan seat belt ke bahunya tadi.

Kyuhyun melirik arloji hitam dilengannya.“Masih pagi, apa ada kuliah yang selesai sepagi ini?”Tanya Kyuhyun pada dirinya sendiri.Matanya mengikuti tubuh Sooyoung yang kian menjauhi kampus Kyunghee.“Mau kemana dia?”Kyuhyun menurunkan kaca mobilnya, membiarkan sinar matahari menyentuh permukaan kulitnya

“Ah, Kyuhyun-ssi…”Teriak Sooyoung melambaikan tangannya.

Kyuhyun memutar kepalanya kekiri dan kekanan.Memastikan tidak ada seorang pun didekatnya.Benar, tidak ada.

Kyuhyun menunjuk wajahnya sendiri dan dibalas anggukan dari Sooyoung.Sooyoung tersenyum menghampiri Audi Kyuhyun.“Annyeong.”Sapa Sooyoung lewat kaca mobil yang sudah diturunkan oleh Kyuhyun. “Ah,” Kyuhyun nyengir, melepas seat bealtnya lalu keluar dari mobil. Alasan klasik, kesopanan.

“Eun Ji-ssi,” Sapa Kyuhyun. “Kau selesai kuliah?”Tanya Kyuhyun. Sooyoung mengamati gedung disampingnya.Ia menggeleng pelan, menggemaskan. Tulang pipinya saat tersenyum, menambah kesan ‘manis’ diwajahnya.

“Hari ini aku free.”Kata Sooyoung. “Oh iya, kau mengantarkan eommamu, kalau memang tebakanku benar.”Ia menaikkan kedua alisnya.

“Ah, ne. Siapapun juga akan menebak seperti itu kurasa.” Ujar Kyuhyun dengan gerakan tangan menyapu udara didepan wajahnya sendiri.

“Issh, kau membuatku tidak terlihat jenius.”Ujar Sooyoung memanyunkan bibirnya.Kyuhyun tiba-tiba menunjuk sudut bibirnya sendiri, memberi isyarat pada Sooyoung.

Sooyoung menyentuh bibirnya. “Oh,” Katanya. “Aku lupa, tiba-tiba saja seperti ini.”

“Lukanya seperti kau ditinju seseorang.“Kyuhyun mengepalkan tangan lalu mengarahkan pada wajahnya sendiri. Memperagakan gaya Mike Tyson saat bertinju.Kyuhyun menyipitkan matanya, pandangan menyelidik.

“Aigooo, mana mungkin Kyuhyun-ssi.”Sooyoung tertawa mendengar Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi, aku harus pergi.” Kata Sooyoung, air mukanya berubah serius. “Sampai ketemu lagi. “Annyeong.”Sooyoung membungkuk pada Kyuhyun dan pergi meninggalkan Kyuhyun hanya berdua dengan mobilnya.Sooyoung menghentikan taksi.Ia masuk lalu melambaikan tangan–melalui kaca mobil yang ia turunkan setengahnya saja– pada Kyuhyun.

Kyuhyun memastikan melihat taksi Sooyoung sampai benar-benar menghilang dari pandangannya.Ia kemudian masuk kemobilnya sendiri dan kali ini benar-benar meninggalkan kampus Kyunghee. Kyuhyun memacu mobilnya menuju toko miliknya sendiri. Miliknya sendiri?Oke, sebenarnya ada sedikit campur tangan appanya yang sekarang ini sedang berada di Choong Nam.

***

Pukul 2 siang.

Kyuhyun memarkir mobilnya tepat didepan toko buku yang sedang ramai pelanggan. Toko itu berjajar dengan pusat belanja keperluan olahraga yang boleh dibilang miliknya juga ­–meskipun itu milik appanya, tapi tetap ada hak kan?

Kyuhyun menyejajarkan mobilnya dengan mobil-mobil lain yang juga mematuhi aturan untuk parkir dengan rapi.Kyuhyun tersenyum saat keluar dari dalam mobilnya.Ia melangkahkan kakinya memasuki bangunan yang setiap hari ia gunakan menghabiskan hampir setengah harinya.

“Annyeong,” Beberapa karyawannya menyapa sambil tesenyum.

“Kyuhyun-ssi!”Teriak seorang yeoja dibelakangnya.Kyuhyun membalikkan badannya dan bingung menemukan salah seorang karyawannya cemas.“Wae?” Tanya Kyuhyun.

“Ada keributan ditoko sebelah.Palli.”Yeoja itu mengisyaratkan Kyuhyun untuk mengikuti langkahnya yang setengah berlari.Saat memasuki pintu, Kyuhyun melihat kerumunan pelanggan memandangi suatu keributan.Kyuhyun menerobos kerumumunan itu dan menemukan tiga yeoja sedang berseteru dan ada seorang anak kecil sedang menangis.Ia hanya mengenali Min Ri salah satu yeoja itu sebagai karayawannya.

“Ada apa ini?”Tanya Kyuhyun lirih pada karyawan yang tadi memanggilnya.

“Anak itu,” Kata karyawannya.“Dia menjatuhkan salah satu alat olahraga hingga rusak. Min Ri menyuruh menggantinya. Ibu anak itu memarahinya karena ulah nakal putranya.Tapi, tiba-tiba saja nona ini marah-marah pada ibu anak itu karena memarahinya.”

Kyuhyun mengerti sekarang.Yeoja yang berperawakan agak pendek adalah ibu anak itu. Dan yeoja satunya, yeoja yang berperwakan langsing dan tinggi itu, itu,…tunggu, tinggi?

“Eun Ji-ssi,” Kata Kyuhyun mengenali yeoja bertubuh tinggi yang masih berpakaian sama seperti terakhir kali ia menyapanya. Ia mendekati Sooyoung, tapi langkahnya terhenti tiba-tiba.

“Ya!Apa kau tidak tahu betapa sedihnya anakmu kau marahi seperti itu??! Lihat saja, dia sampai menangis!!!Aku muak melihatnya menangis.”Kata Sooyoung yang dikenali Kyuhyun seperti kata-kata Cayden terakhir kali.Kyuhyun mengerutkan alisnya.

“Ahgassi, aku memarahinya agar dia tidak mengulanginya lagi.”Kata ahjumma sembari memeluk putranya yang ketakutan.

“Eun Ji-ssi.” Kyuhyun memegang lengan Sooyoung.Sooyoung menoleh, tapi tidak ditanggapi sedikitpun.Ia kembali menatap ahjumma tadi dan lagi-lagi memarahinya.

“Kau tidak boleh memarahinya hanya karena kesalahan yang tidak sengaja dilakukannya!” teriak Sooyoung.“Dia bisa membencimu, kau tahu!!Seharusnya kau menjaganya, mendengarkan inginnya, bukanmemarahinya seperti ini!” Kyuhyun memutar kepalanya, mengamati sekitar,  kerumunan itu mulai berbisik satu sama lain. Kyuhyun memegang lengan Sooyoung lalu membalikkan tubuhnya kasar.

“Cayden-ssi!”Bentak Kyuhyun. Kali ini mata yeoja itu merespon.‘Jadi, dia Cayden?’Batin Kyuhyun. Cayden menatap mata Kyuhyun tajam,ia  benar-benar ingin memukul tepat di hidung namja itu.

“Mwo??!!” Teriak Cayden. “Kyuhyun-ssi, aku sudah bilang urusi saja adikmu!!”Bentaknya.

“Ahjumma, lain kali jangan memarahi anakmu seperti itu….” Cayden kembali mengalihkan pandangannya kepada anak dan ibu yang sama-sama ketakutan itu.

“Cukup!” Teriak Kyuhyun yang sama sekali tidak didengarkan Cayden. Kyuhyun mengacak rambutnya sendiri, frustasi.Ia menghembuskan napasnya kuat-kuat.

Kyuhyun melihat ponsel Cayden di saku belakangnya, dan segera saja menyambarnya tanpa diketahui Cayden. Kyuhyun menyalakan ponsel itu, sebenarnya dia bingung siapa yang akan diteleponnya. Semua kontak diponselnya bisa siapa saja, bisa ayah ibu ataupun namjachingunya.

Drrrt drrrt

Kyuhyun bersyukur, ponsel digenggamannya bergetar.Panggilan masuk.

“Yeoboseo….”

“Ya!! Eonni, kubilang tunggu aku biar aku sendiri yang memilih modelnya! Aku sudah dekat!”Teriak seseorang disambungan telepon.

“Ini ponsel eonnimu?Syukurlah, cepat datang dia membuat kekacauan!” Kata Kyuhyun.

“Mwo??!” Seseorang dibalik sana balik bertanya. Kyuhyun mematikan sambungan.

“Cayden-ssi, kumohon berhentilah. Kita bicarakan baik-baik.” Kata Kyuhyun memohon.

“Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan ibu seperti dia menjahati anaknya.”

“Dia tidak menjahati siapapun.” Kyuhyun berusaha mengalihkan perhatian Cayden. Ia mengisyaratkan pada ibu dan anak itu untuk pergi diam-diam. Takut membuat kondisi psikologi anak itu memburuk, yah, dia tahu karena ibunya seorang psikolog.

“Ya! Apa kau pernah merasakan dimarahi ibu? Kau tahu bagaimana rasanya??!!”

“Iya, tapi Cayden-ssi, kau justru mempermalukan dirimu sendiri.” Ujar Kyuhyun.

“Masa bodoh,”

“Kau tidak malu?” Tanya Kyuhyun.

“Tidak peduli, yang penting anak itu,” Cayden membalikkan tubuhnya menunjuk anak yang daritadi  menangis. Tidak ada. Ia membelalakkan matanya.

“Kemana anak dan ibu itu??!!” Jerit Cayden pada seluruh pengunjung yang berkerumun meyaksikan kemarahan Cayden. Semua orang menutup mulut.

“Dimana??!!” Cayden mendekati Min Ri, kemudian beralih ke pengunjung lain.

“Dimana??!” Cayden berteriak pada seluruh pengunjung yang datang dan akhirnya menarik kaos salah satu pengunjung. Pengunjung itu ketakutan.

Kyuhyun menghampiri Cayden dan menarik tubuhnya dari belakang. “Berhenti!” Ujar Kyuhyun merangkul tubuh Cayden ­–dari belakang­– yang mulai memberontak.

“Lepaskan!” Cayden menusukkan sikutnya ke rusuk Kyuhyun hingga Kyuhyun terjatuh dilantai. Kyuhyun meringis kesakitan merasakan lancipnya tulang siku yeoja yang menurutnya agak sinting itu. Seluruh pengunjung memundurkan langkahnya. Menghindari Cayden.

Cayden melihat Kyuhyun, ia menyeringai puas. Cayden menghampiri Kyuhyun dan berjongkok didepannya. Ia menangkup dagu Kyuhyun dengan tangan kanannya. Kyuhyun berharap dia bisa membunuh yeoja itu sekarang juga. “Kau,” Kata Cayden.

“Noona!!!”

Cayden menoleh ke arah suara yang amat dikenalnya. Seluruh pengunjung ikut menoleh, penasaran dengan suara yang bisa mengalihkan perhatian gadis sinting itu. Kyuhyun ikut memandang kearah yang dituju Cayden. Para pengunjung memberi jalan yang cukup lebar agar Cayden bisa meloloskan pandangannya tanpa penghalang apapun.

“Sungjong-ah,”

“Seohyun-ah,” Ujar Kyuhyun saat mendapati adiknya berdiri disamping namja berseragam –yang sama dengan Seohyun– yang dipanggil Cayden sebagai Sungjong. Kyuhyun memanfaatkan kesempatan itu untuk berdiri. Cayden ikut berdiri.

“Noona!” Sungjong mendekati Cayden diikuti oleh Seohyun yang sebenarnya masih takut saat melihat Cayden. Cayden menyeringai kearah Seohyun.“Kau tidak menangis??” Ujar Cayden menatap Seohyun. Sungjong tidak mengerti sebenarnya, bagaimana eonninya bisa tahu Seohyun.

“Kajja, kita pulang.” Sungjong menarik lengan Cayden. Cayden menepis tangan Sungjong. Sungjong mendecak. “Ck!”

Sungjong kembali menarik lengan Cayden, kali ini memaksa. Tapi Cayden tetap bertahan, tidak bergeming sedikitpun. Ia melawan tarikan lengan Sungjong. Cukup sulit kelihatannya. Begitulah yang dilihat para pengunjung.

“Noona!” Teriak Sungjong tetap menarik Cayden.

Gerah melihatnya, Kyuhyun mendorong tubuh Cayden mengikuti Sungjong. Kyuhyun membantu Sungjong untuk membawa Cayden keluar dari toko. Semua pengunjung bernapas lega melihatnya.

Setelah diluar, Cayden menepis tangan Sungjong dan mendorong tubuh Kyuhyun. Seohyun –meskipun ia tidak diorong Cayden– ikut mundur karena takut.

“Noona,” Kata Sungjong. “Kenapa kau begitu lagi, kau senang menyusahkanku?”

“Ani, maafkan aku Sungjong…” Ujar Cayden menatap adiknya. Kyuhyun dan Seohyun, –kakak beradik ini– hanya memandangi Sungjong dan Cayden bergantian.

“Tapi, tadi ada anak yang dimarahi….”

“Kau tidak boleh seperti itu noona!” Teriak Sungjong. “Itu urusan mereka!”

“Tidak Sungjong, kau tidak merasakannya. Aku benci melihat orang menangis! Aku tidak suka… kau tahu?? Aku benar-benar muak melihat….” Cayden mulai ngamuk-ngamuk lagi. Sungjong putus asa. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Sungjong-ah, apa yang kau lakukan?” Tanya Seohyun melihat Sungjong mengeluarkan selembar sapu tangan merah jambu dari tasnya.

“Ini akan efektif. Pegangi dia!” Ujar Sungjong yang dituruti Kyuhyun dan Seohyun memegangi lengan Cayden, hingga Cayden memberontak.

“Ya! Apa yang…” Teriak Cayden.

“Tenaganya kuat sekali untuk ukuran yeoja.” Gerutu Seohyun yang kewalahan.

Sungjong membekap mulut dan hidung Cayden cukup lama, hingga tubuh Cayden melemah dan jatuh merosot perlahan. Kyuhyun  ikut merosot dan akhirnya Cayden pingsan dipangkuannya.

“Maafkan aku, merepotkan kalian.” Ujar Sungjong memasukkan sapu tangannya. “Begini lebih baik.” Kata Sungjong menyambar tas Cayden dan menyampirkan dibahunya.

“Bagaimana kau membawanya pulang?” Tanya Kyuhyun agak cemas saat melihat tubuh Sungjong yang teramat kurus dan kurang gizi. Ia yakin namja ini tidak akan kuat membawa eonninya pulang. Siapa saja akan berpikir jika namja kurus itu tetap bersikeras membawa Cayden pulang dalam beberapa detik semua tulangnya akan runtuh dan terlepas dari persendiannya.

“Cukup panggil taksi.” Jawab Sungjong.

“Kau yakin?” Tanya Kyuhyun.

“Tidak perlu. Naik mobil oppa saja.” Seohyun bersuara dan segera mencari keberadaan mobil audi hitam milik Kyuhyun. Kyuhyun menganggukkan kepalanya menyetujui. Ia mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya dan memberikan kunci itu ke Seohyun. Seohyun segera berlari menghampiri mobil Kyuhyun yang diparkir diantara mobil pink dan taksi putih.

“Masuk mobil.” Ujar Kyuhyun pada Sungjong. Kyuhyun menyelipkan lengan kirinya di punggung Cayden dan lengan kanannya melingkari paha Cayden. Ia menegakkan badannya dan dengan segenap tenaganya yang tersisa ia membopong Cayden menuju mobilnya.

Sungjong duduk di jok belakang. Kyuhyun meletakkan kepala Cayden di pangkuan Sungjong, lalu terpaksa menekuk lutut Cayden yang kelewat panjang agar pintu mobilnya bisa ditutup. Seohyun duduk didepan, sedangkan Kyuhyun duduk dibelakang kendali setir mobil.

“Sungjong-ah, tunjukkan jalannya.” Ujar Seohyun melirik kebelakang. Kyuhyun menatap Cayden dan Sungjong bergantian melalui kaca spionnya. Ia masih belum mengerti apa yang terjadi pada gadis yang ia kenali sebagai Eun Ji yang baik dan ramah itu.

“Nanti kujelaskan.” Ujar Sungjong yang mengerti arti pandangan Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk dan segera melesatkan mobilnya sebelum Eun Ji ataukah Cayden sadar dan mengacau lagi.

 

To be continued . . .

11 thoughts on “Beautiful Stranger – Chapter 1

  1. Annyeong author…

    Ini straight ya?? Snsd ny soo sma seo aja apa laen ny bkal mncul..

    Buat author paparazi ayo donk ff itu d lnjut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s