Beautiful Stranger – Chapter 3

Image

Tittle    : Beautiful Stranger – Cayden, another soul (CHAPTER 2)

Author: JJyoung

Cast     : Sooyoung, Seohyun (SNSD), Kyuhyun (Super Junior), Shim Changmin (TVXQ), Lee Sungjong (Infinite), Jung Eun Ji (A Pink), Profesor Ji Hyun – Profesor Jin Young (OC)

Genre  : Action, Friendship, Romance

 

***

Sooyoung memandangi rumah yang begitu tinggi itu lewat kaca mobil Audi milik Kyuhyun. Bibirnya tidak berhenti menggumamkan kata kagum saat menatap setiap inchi bangunan dengan desain tidak biasa itu. Tiba-tiba Kyuhyun menariknya keluar dari mobil.

Kyuhyun benar-benar beruntung hari ini. Cayden bisa tenang saat ia membawanya pulang kerumahnya sendiri. Tapi tetap saja, harus ada pemaksaan dalam hal ini. Kali ini saja, Kyuhyun menyeret paksa Cayden untuk masuk rumahnya.

“Dimana ini?” Tanya Sooyoung yang baru saja melewati pintu.

“Rumahku.” Jawab Kyuhyun singkat. Ia menarik lengan Cayden menaiki tangga. Disana, diatas sana eommanya memperhatikan baik-baik. Setelah diingat-ingat, baru kali ini Kyuhyun membawa seorang yeoja masuk ke rumahnya.

“Eomma,” Sapa Kyuhyun didepan Ji Hyun, eommanya. “Kenalkan, ini Cayden.”

Ji Hyun bukanlah orang yang idiot yang kurang baik dalam daya responnya. Ji Hyun mengerti, kepalanya dianggukkan. Ia tersenyum pada Cayden yang tentu saja tidak ditanggapi. Eommanya menarik kesimpulan, kepribadian Cayden berbeda dengan Eun Ji yang dikenalnya.

“Kyuhyun, apa maksudmu? Eomma sudah bilang tidak Kyu,”

“Eomma,” Kyhyun menarik lengan eommanya menjauhi Cayden.

“Eomma, aku mohon bantu Eun Ji.” Ujar Kyuhyun agak berbisik.

“Tidak Kyu, eomma tidak bisa.” Ji Hyun menjauh. Kyuhyun menahannya.

“Jebal eomma.” Kyuhyun memohon. “Eomma sebenarnya ingin menjadi praktisi kan? Bukan dosen. Akui itu eomma. Ini saatnya. Eomma sebenarnya memiliki keahlian yang luar biasa. Hanya saja, tidak ada yg mempercayaimu. Kali ini eomma,” Kyuhyun menggenggam tangan eommanya.

“Aku mempercayaimu. Putramu mempercayaimu, untuk pertama kalinya.”

Ji Hyun tersenyum, mengelus kepala putra satu-satunya itu, lalu melepas genggaman Kyuhyun. “Maaf, eomma tidak bisa.” Ji Hyun pergi menjauhi Kyuhyun.

“Aku menyukainya.” Langkah eommanya terhenti. “Kali ini, aku mohon bantulah dia sebagai yeoja yang disukai putramu ini. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.”

“Keras kepala.” Ujar Ji Hyun tersenyum. “Bawa dia ke ruang kerjaku.”

Kyuhyun juga tersenyum memandang punggung eommanya yang menghilang dibalik pintu bercat putih tulang disebelah kamarnya sendiri. Kyuhyun segera berbalik dan menggandeng lengan Sooyoung menuju ruang kerja eommanya yang juga didesain sendiri.

“Cayden-ah,” Sapa eomma Kyuhyun yang duduk berhadapan dengan Cayden dan Kyuhyun.

“Mwo?”

“Apa kau mengenal Eun Ji??” Tanya eomma Kyuhyun.

“Eun Ji?” Kata Cayden. Ia berhenti sejenak. “Ya aku mengenalnya.”

Kyuhyun dan eommanya saling berpandangan. Meragukan apa dia mengidap DID atau tidak.

“Kau mengenal Eun Ji?” Ulang eomma Kyuhyun. Kyuhyun memperhatikan. Kyuhyun berharap Sooyoung ataukah Cayden ini benar-benar menderita DID, kalau sampai tidak, Kyuhyun akan pergi kerumah Sungjong dan meremukkan tulangnya karena berani membohonginya.

“Ya.” Jawab Sooyoung mengalihkan pandangannya ke Kyuhyun. “Namja ini pernah memanggilku dengan nama itu saat ditoko. Jadi, tanyakan saja padanya. Dia lebih tahu kurasa.”

Eomma Kyuhyun menganggukkan kepalanya pada Kyuhyun. Positif DID.

“Apa kau mengenal Sooyoung?” Tanya Kyuhyun membuat eommanya heran. Siapa lagi itu?

“Mmmm, Sungjong sering menyebut nama itu. Jadi, kupikir memang ada yang bernama Sooyoung.” Jawab Cayden sekenanya. “Kalian kenapa menyanyakan nama-nama yang sama sekali tidak ku kenal? Apa kalian sinting??” Cayden berdiri dari duduknya, jengah melihat orang-orang yang aneh bertingkah aneh didekatnya.

Kyuhyun memaksa Cayden duduk lagi. “Cayden, apa ada hal-hal yang aneh yang sering terjadi padamu?” Tanya Ji Hyun.

“Kalian yang aneh.”

“Jawab saja.” Ujar Kyuhyun setengah memaksa. Entah kenapa Cayden agak menurut kalau yang memaksanya adalah Cho Kyuhyun. Namja yang hanya beberapa kali ditemuinya.

“Arasso arasso.” Ujar Cayden pasrah. “Ada banyak orang yang memanggilku dengan nama yang kalian sebutkan tadi. Lalu, aku sering memakai baju yang bukan gayaku. Dan ada Sungjong yang sering memanggilku eonni, padahal dia selalu memanggilku nuna. Puas?”

Ji Hyun menganggukkan kepalanya. “Lalu apa yang paling kau inginkan?”

“Aku ingin membunuh Lee Kyu Jong.” Ujar Cayden cepat. Kyuhyun dan eommanya tersentak, mereka saling pandang. Ji Hyun tidak menyangka jika Cayden menginginkan tindakan kriminal seberat pembunuhan. Demi apapun, Ji Hyun rela mundur dari kasus Cayden.

“Tapi, lebih dari itu semua aku ingin bertemu eommaku.” Tambah Cayden.

Kyuhyun dan Ji Hyun bernapas lega.

“Kemana eommamu?” Tanya Ji Hyun.

“Molla.” Cayden mengangkat bahu. “Aku tidak pernah melihatnya.”

“Lalu, kenapa kau tiba-tiba ingin bertemu?”

“Molla. Hanya saja aku ingin.” Jawab Cayden bangkit dari duduknya. Lelah dengan pertanyaan yang menurutnya aneh dan dia sendiri tidak tahu kenapa dia menjawab seperti itu.

“Baiklah,” Kata Ji Hyun mengutak-atik benda yang dari tadi dipegangnya secara konstan. Sama sekali ia tidak merubah posisi tangan kanan itu. “Sekarang dengarkan suaraku. Anggap saja aku eommamu. Arra?”

Cayden tertawa mengeje. “Ottohke? Kau? Eommaku?”

“Lakukan saja.” Ujar Kyuhyun menahan lengan Cayden agar berhenti tertawa.

Cayden diam. Ia mencoba menuruti saran Ji Hyun. Mungkin saja ia bisa bertemu eommanya tiba-tiba kalau dia menurut, oke, itu tidak mungkin. Tapi menurut saja tidak ada salahnya.

“Eun Ji-ah,” Ujar Ji Hyun. Nadanya seperti menghipnotis.

“Panggil dia Sooyoung.” Potong Kyuhyun cepat. Eommanya ragu yang memuat Kyuhyun mengedipkan kedua kelopak matanya untuk meyakinkan eommanya.

“Cayden, kau adalah Sooyoung, eommamu juga ingin bertemu dengan Sooyoung. Kau putri kebanggaan eommamu. Hal yang paling berharga didunia ini, hanya Sooyoung. Hanya Sooyoung perhiasan eomma yang paling indah. Eomma ingin Sooyoung dilihat seluruh orang didunia ini seindah mutiara. Demi apapun, Sooyoung lebih indah dari mutiara. Demi apapun, eomma rela menyimpan mutiara seindah itu jauh di dalam hati eomma.”

Cayden terdiam. Matanya menerawang. Lalu, ia berkedip beberapa kali dan berkata, “Eomma,” Katanya lirih. Ji Hyun tersenyum pada Kyuhyun yang kemudian bingung dengan eommanya sendiri. Apa maksud eommanya?

“Eun Ji-ah,” Panggil Ji Hyun menatap yeoja disamping Kyuhyun.

“Eomma…” Katanya lagi.

“Eun Ji, kau merindukan eommamu?”

Cayden yang berubah menjadi Sooyoung yang asli, tidak menjawab. Bola matanya berputar menjelajah seluruh ruangan yang asing baginya.

“Beberapa saat yang lalu, kau adalah Cayden.” Ujar Ji Hyun mengutak-atik laptop dimeja kerjanya, ia mengeluarkan sesuatu yan amat kecil dari genggamannya dan segera mencari alat agar benda itu tersambung ke laptopnya.

“Ini rumahku.” Kata Kyuhyun.

“Oh,” Ujar Sooyoung mengalihkan pandangannya ke Ji Hyun, dosennya. Sooyoung belum paham apa hubungan Ji Hyun dan Kyuhyun, kenapa mereka dalam satu rumah. Bukankah ini rumah Kyuhyun, lalu, sedang apa Ji Hyun di rumah ini?

“Lihat ini.” Ji Hyun mengarahkan layar laptopnya ke Sooyoung. Sooyoung memandang Ji Hyun sesaat kemudian pandangannya turun ke laptop yang dikenalinya sebagai produk dalam negeri.

Sooyoung tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menutup mulutnya karena tidak percaya. Ini, video ini. Pertama kalinya dia menyadari bahwa ia menjadi orang lain yang begitu kasar dan tak punya sopan santun. Ia melihat dirinya sendiri dalam bingkai kepribadian yang lain. Dia menggelengkan kepalanya, tidak ingin menyadari bahwa ini kenyataan, bahwa ini benar-benar dirinya. Tidak, itu bukan dirinya.

“Ini Cayden.” Ujar Ji Hyun. “Cayden ingin bertemu eommanya. Lalu aku berusaha mengusai pikiranmu dengan menghipnotismu. Agar kau kembali ke kepribadian utamamu.”

“Otohke? Apa yg harus kulakukan? Aku harus bagaimana?” Mata Sooyoung begitu khawatir.

“Apa yang kau katakan??!” Sergah Kyuhyun. “Tentu saja kau harus sembuh.”

Ji Hyun menatap Sooyoung. “Proses penyembuhan ini sulit, tapi bukan berarti mustahil.” Ji Hyun mengambil laptopnya kembali lalu menutup layarnya tiba-tiba.

“Kau masih beruntung, kepribadianmu hanya terpecah menjadi dua. Pada banyak kasus, kepribadian utama terpecah hingga 16 banyaknya.” Ujar Ji Hyun melepas kacamatanya.

Kyuhyun memperhatikan eommanya baik-baik. Mata dan bibir Ji Hyun sinkron dalam berkata-kata. Kyuhyun merasa kalau eommanya bukan hanya seorang dosen, tapi benar-benar psikolog yang ahli dalam berbagai kasus yang sama.

“Kita berusaha untuk menyatukan kepribadian Cayden dan Eun Ji. Sampai pada akhirnya, dalam tubuhmu itu hanya akan ada Eun Ji seutuhnya.” Kata Ji Hyun diikuti senyumnya.

Sooyoung tersenyum, walau ia paksakan. Ia sangat berterimakasih, pada Ji Hyun dan juga pada Kyuhyun, namja disampingnya yang juga tersenyum saat ia tersenyum. Mereka berdua mempercayai dirinya, dua orang yang belum ia ketahui hubungannya. Siapa mereka?

Ji Hyun berdiri dari tempat duduknya. “Sebaiknya kau pulang dan istirahat.”

“Profesor,” Kata Sooyoung. “Ada yang ingin kukatakan dan juga kutanyakan padamu.”

Ji Hyun menatap arloji keemasan dilengan kirinya. Tidak ada waktu.

“Sebentar saja.”

“Baiklah, waktumu hanya tiga menit.” Ji Hyun memberi kesempatan.

“Yang ingin kukatakan, aku bukan putri Jung Jin Young.” Kata Sooyoung. Jantungnya berdebar melebihi kecepatan rata-rata. Ia menunggu tanggapan Kyuhyun dan Ji Hyun.

“Aku tahu.” Kata Ji Hyun singkat. Ia melirik arlojinya lagi, berharap 3 menit segera berlalu.

“Aku Sooyoung, bukan Eun Ji.”

“Aku tahu.” Kata Ji Hyun lagi, lebih lembut kali ini. “Sejak pertama kali kau di Kyung Hee, aku tahu. Karena aku mengenal Eun Ji yang sebenarnya.”

“Waktumu tinggal dua menit.” Kata Ji Hyun menurunkan lengannya.

***

“Sungjong-ah,”

“Astaga! Kau mengagetkanku.” Ujar Sungjong memegang dadanya sendiri.

“Ya! Sungjong-ah.” Seohyun menyejajarkan langkahnya dengan Sungjong. “Ya! Kau tahu, eonnimu berusaha untuk sembuh.”

“Mwo??!” Teriak Sungjong menghentikan langkahnya.

“Ne.” Seohyun menganggukkan kepalanya. “Kemarin Oppa membawa Sooyoung eonni ke rumah saat ia berubah menjadi Cayden. Dan eomma berjanji membantunya sembuh.”

“Jinjja??!!” Ujar Sungjong yang tahu benar kalau eomma Seohyun adalah dosen psikologi.

“Ne. Seharusnya kau berterima kasih padaku.” Kata Seohyun menaikkan tas dipunggungnya.

“Aku akan berterimakasih padamu, jika Sooyoung sudah sembuh.” Sungjong melanjutkan langkahnya lagi, menyusuri trotoar yang membawanya ke terminal bus terdekat bersama siswa lain.

“Tapi aku tetap khawatir.” Seohyun mendengarkan Sungjong baik-baik.

“Ujian skripsi hanya beberapa bulan lagi.” Kata Sungjong menatap lurus jalan didepannya. “Saat dalam tekanan, aku khawatir eonni kambuh dan menggagalkan semuanya.”

Seohyun menepuk bahu Sungjong. “Kita lihat saja nanti.”

***

“Apa? Kau mau bertemu Eun Ji lagi?” Ujar Kyuhyun dalam sambungan telepon.

“Ne. Sepertinya aku harus minta maaf karena kejadian waktu itu.” Sooyoung melangkah keluar kelas tetap memegangi ponsel ditelinganya. Ia melangkah menapaki koridor kampusnya yang cukup sepi, hanya tiga sampai lima orang yang duduk mengitari sebuah laptop yang menampakkan tayangan live concert TVXQ, idol grup terkenal seantero Korea Selatan. Bukan Beast, Sooyoung tidak tertarik.

“Sudahlah, aku akan tetap kesana.” Sooyoung mematikan sambungannya tepat sebelum Kyuhyun menceramahinya lagi karena khawatir.

“Eun Ji,”

Sooyoung menoleh, Changmin berlari-lari kecil dibelakangnya. Ia hampir lupa kalau dia memiliki Changmin sebagai sahabatnya. Minggu-minggu ini, ia sibuk bersam Kyuhyun untuk menyembuhkan keabnormalannya yang hampir saja benar-benar membuatnya sinting.

Changmin menghentikan kaki panjangnya tepat didepan Sooyoung, ia menarik sudut bibirnya membentuk lengkung senyuman. “Apa kau mulai melupakanku?” Kata Changmin.

“Ah, mian Changmin-ah. Aku akhir-akhir ini banyak pekerjaan.”

“Pekerjaan? Maksudmu kencan bersama putra Profesor Ji Hyun?” Changmin melangkah mendahului Sooyoung. Sooyoung terbelalak.

“Bagaimana kau tahu?” Sooyoung berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah panjang Changmin yang memang memiliki kaki sepanjang tiang listrik (????)

Changmin tiba-tiba berhenti lalu memutar tubuhnya. “Jadi kau benar-benar kencan?”

“Ah, tidak-tidak.” Sooyoung membantah. “Bukan begitu maksudku.”

“Apa kau menyukai Kyuhyun?” Tanya Changmin menatap mata Sooyoung.

“Wae?” Tanya Sooyoung menyelidik.

“Jangan menyukai namja itu.” Changmin melangkah lagi, tidak memandang Sooyoung.

“Kau cemburu??”

“Mwoo??! Kau ini bicara apa??” Changmin membuang wajahnya. “Mau kemana kau? Ayo kuantar.” Ujar Changmin mendahului Sooyoung yang menerka-nerka apa Changmin menyukainya.

 

“Kau kesini lagi? Apa kau sudah gila mau bertemu dengan yeoja depresi itu??”

“Sudahah Changmin-ah, dia tidak memiliki teman lagi selain kita.” Kata Sooyoung, ia menapaki tangga terakhir untuk menuju lantai dua. Seperti biasa, Eun Ji hanya duduk sambil menggambar piramidnya yang sungguh aneh dimata Sooyoung. Baru kali ini Eun Ji menggambar desain yang aneh dan tak enak jika dipandang.

“Omo, kau disini juga Kyuhyun-ah?” Kata Sooyoung saat melihat Kyuhyun yg baru muncul.

Changmin mendesis, sepertinya tidak senang dengan kehadiran Kyuhyun. Changmin menatap Kyuhyun sebentar lalu beralih menghampiri Eun Ji.

“Seharusnya kau tidak disini.” Bisik Kyuhyun pada Sooyoung. “Profesor Ji Hyun bilang, kau tidak seharusnya berada pada lingkungan yang membuatmu tertekan.”

“Jangan terlalu khawatir.” Sooyoung tersenyum sebentar lalu menyusul Changmin.

“Eun Ji, apa yang akan kau gambar? Aneh sekali, pyramid terbalik.” Ujar Changmin yang menekuk lututnya di sebelah Eun Ji yang hanya menyeringai, gayanya seperti biasa.

“Apartemen, 10 lantai paling bawah, pertokoan 10 lantai diatasnya, museum 10 lantai diatas pertokoan, dan 35 lantai sampai permukaan untuk perkantoran. Aku rasa akan ada icon peradaban baru.” Ujar Eun Ji penuh kebanggaan namun tersenyum kecut saat menyadari desain teratasnya belum ia rampungkan. Sooyoung dan Kyuhyun menganggap Eun Ji melampaui batas depresi normal.

“Oh, baiklah semoga berhasil dengan desainmu.” Ujar Changmin tersenyum.

“Mau apa kau kemari?” Wajah Eun Ji memandang Sooyoung tajam.

“Ah, aku minta maaf untuk yang terakhir kali kita bertemu.” Sooyoung ikut berjongkok disebelah Changmin.

“Sebaiknya kau pergi.” Balas Eun Ji merapikan gambar pyramid terbaliknya. Ia menjauhi Sooyoung, Changmin dan Kyuhyun yang membeku ditempatnya. Hanya mata mereka yang mengikuti perginya Eun Ji ke lantai bawah.

Changmin melangkahkan kakinya mengikuti Eun Ji, sama sekali tidak menghiraukan Sooyoung dan Kyuhyun yang menatapnya heran.

“Apa Changmin ikut deperesi?” Ujar Kyuhyun mendekati Sooyoung.

“Ya! Jangan bicara seperti itu.” Sergah Sooyoung. “Sejak awal, Changmin mengagumi seluruh gambar Eun Ji.”

“Sooyoung-ah, apa kau tidak lelah berpura-pura menjadi Eun Ji?” Tanya Kyuhyun.

“Aku anggap ini sebagai pekerjaan. Aku dibayar untuk kuliah dengan nama Jung Eun Ji.”

“Sebenarnya, apa yang dipikirkan Jin Young sampai berani melakukan kebohongan besar seperti ini?” Tanya Kyuhyun, alisnya bertautan. “Dia seorang dosen, tidak sepantasnya dia melakukan ini.” Tambahnya.

“Jin Young tahu kalau tindakannya salah besar. Apa kau berpikir Jin Young seburuk itu?”

“Tentu saja. Tidak seharusnya ia melanggar etika sebagai dosen.”

“Jin Young, dia ayah yang baik.” Ujar Sooyoung menatap Kyuhyun. “Setidaknya, dia berusaha menjaga mimpi putrinya.”

“Maksudmu?”

“Jung Eun Ji, kau tahu sendiri dia memiliki kemampuan yang luar biasa.” Kata Sooyoung mengarahkan seluruh pandangannya ke gambar Eun Ji. “Hanya saja ia memiliki trauma terhadap dunia luar yang sudah merenggut nyawa ibunya. Perampokan yang mengakibatkan kematian ibunya. Eun Ji tidak bisa menerima itu, ia depresi setelah kehilangan ibunya yang mendadak meninggal.”

“Jin Young tidak mau, kemampuan putrinya tidak diakui dunia.” Ujar Sooyoung lagi. “Karena itu, Jin Young berusaha mengejar gelar sarjana untuk Eun Ji. Tapi, apa yang bisa dilakukan Eun Ji. Dia tidak mau menghadapi dunia yang begitu kejam ini. Sampai suatu saat ia bertemu gadis malang sepertiku yang sangat membutuhkan uang.”

“Jadi…” Kata Kyuhyun.

“Ya. Gambar-gambar diruangan ini, akan diakui dunia setelah aku menyelesaikan skripsi.”

“Tapi, apa kau tidak mengkhawatirkan skripsimu?”

“Tentu saja.” Ujar Sooyoung frustasi. “Bagaimana kalau tiba-tiba Cayden muncul dalam ujian skripsi? Cayden akan menghancurkan harapan Jin Young dan putrinya. Dunia ini memang kejam. Dia bisa mengancurkan tiga orang dalam sekali tepuk.”

“Dunia ini memang kejam. Tapi kau berbeda. Kau berani menghadapinya, tidak seperti Eun Ji yang selalu mengurung dirinya dalam piramid kaca ini.” Kata Kyuhyun.

“Kau salah, setidaknya Eun Ji memiliki Jin Young dibelakangnya. Itu jauh lebih baik.”

“Kau melupakan Sungjong, Sooyoung-ah.” Kata Kyuhyun.

“Apa kalian tidak pergi?” Kata Eun Ji tiba2 muncul. “Namja berkaki panjang itu menunggu dibawah.” Tambah Eun Ji yang langsung saja membaringkan dirinya di kasur pink di sudut ruangan.

“Aku akan pergi dengan Changmin ke Myeongdong. Sebaiknya kau ikut jika kau mengkhawatirkanku.” Kata Sooyoung berlalu pergi.

 

 “Changmin-ah, kau mau beli es krim?” Teriak Sooyoung ditengah keramaian Myeongdong.

“Boleh juga. Kau rasa melon, aku coklat. Bukan begitu?” Sooyoung tersenyum mengiyakan. Changmin menarik lengan Sooyoung. Mereka mendekati penjual es krim yang mereka lihat. Seorang ahjumma berambut keriting menyambut mereka dengan ramah.

“Sooyoung-ah,” Sapa Kyuhyun. Ia menarik Sooyoung beberapa langkah.

“Oh, Kyuhyun-ah, kau disini juga?” Tanya Sooyoung yang terkejut akan kehadiran Kyuhyun.

“Tentu saja. Banyak hal bisa terjadi dipusat keramaian seperti ini.” Kata Kyuhyun mengamati seluruh penjual yang suaranya saling berlomba menarik pelanggan untuk datang dan membeli beberapa benda yang mereka pajang.

“Dimana Changmin?” Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekitar Sooyoung.

“Sedang beli es krim.” Sooyoung menunjuk toko yang tepat berada didepan mereka. Kyuhyun melihat namja berkaki panjang itu sedang mengantri ditengah satu barisan panjang yang diisi beberapa anak kecil dan dua remaja yang bergandengan tangan erat.

Pyarrrr

Sooyoung menoleh. Guci besar itu tidak hanya pecah,tapi serpihan keramiknya mengenai salah satu kaki pembeli. Pembeli itu meringis kesakitan sembari memegangi kakinya yang berdarah.

“Ahjumma, gwaenchana?” Tanya pembeli lain yang memecahkan guci itu.

‘Andwae.’ Batin Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke Sooyoung yang menatap lekat-lekat kaki ahjumma yang berdarah itu.

“Ya!” Teriak ahjumma itu. Sooyoung tetap memandang kain yang berlumur darah.

“Sooyoung-ah,” Kyuhyun menangkup pipi kanan Sooyoung lalu mengarahkan wajah Sooyoung untuk menatapnya. Sooyoung menatap mata Kyuhyun.

“Seharusnya kau berhati-hati….”  Marah ahjumma itu lagi.

“Ayo kita pergi.” Ajak Kyuhyun menarik lengan kiri Sooyoung.

“Tapi,..” Sooyoung menahan kakinya. Pandangannya kembali ke insiden guci.

“Kau lihat, apa yang kau lakukan?!!” Teriak ahjumma yang kini kakinya dibebat sehelai kain bermotif polkadot oleh penjual guci.

“Tidak bisa, Sooyoung-ah.” Kata Kyuhyun pada Sooyoung.

Sooyoung tidak mendengar Kyuhyun rupanya. Mata Sooyoung menerawang memandang kaki ahjumma yang marah itu.

‘Tidak sekarang Sooyoung-ah,’ Batin Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Ia menatap wajah Sooyoung lekat-lekat. Berharap belum sepenuhnya Cayden menguasai otak Sooyoung.  Kyuhyun lalu menarik lengan Sooyoung menjauh. Sooyoung tak bergeming, ia malah menepisnya.

Kyuhyun frustasi. Myeongdong bukan tempat yang tepat, Sooyoung-ah.

“CHOI SOOYOUNG!!!” Teriak Kyuhyun mengeksplor kekuatan pita suaranya. Kyuhyun, tanpa persetujuan Sooyoung, menangkup kedua pipi yeoja itu tanpa basa-basi melekatkan bibirnya di bibir Sooyoung.

Mata Sooyoung terbelalak, jantungnya berdebar tepat dijantung Kyuhyun juga. Pikirannya kacau, tenggorokannya kering, lidahnya tercekat. Dadanya naik turun merasakan suhu tubuhnya yang mendadak naik jika saja ia menggunakan termometer untuk mengukurnya.

Setelah beberapa saat, Sooyoung dapat menguasai pikirannya lagi. Ia menyadari, tindakan Kyuhyun tidak seharusnya dilakukan disini, di Myeongdong. Puluhan pasang mata melihat mereka.

“Kyuhyun-ah..” Sooyoung mendorong Kyuhyun tepat di dadanya, untuk membuat jarak diantara mereka. Sooyoung dan Kyuhyun menyadari ada kegugupan yang menyelimuti mereka.

Kyuhyun menyelipkan kelima jarinya diantara jari-jari panjang Sooyoung. Sooyoung mengalihkan pandangannya kelima jarinya yang kini terlihat ada sepuluh jari disana.

“Kajja,” Kyuhyun menarik Sooyoung menjauhi pusat keramaian itu.

Kresssh

Sooyoung menginjak sesuatu yang basah. Saat melihat sepatu kets merahnya, ada dua krim berwarna hijau dan coklat yang terpisah dari kerupuk kerucutnya remuk diinjak kakinya.

 

Changmin bersandar di pintu mobil audi hitam sambil menyilangkan lengannya. Banyak cipratan krim melon bercampur coklat disepatunya. Ia memandang Kyuhyun dan Sooyoung yang saling mengaitkan jemari, berjalan lurus ke arahnya.

“Changmin-ssi.” Kata Kyuhyun begitu menyadari kehadiran namja sebayanya itu.

“Oh,” Sooyoung melepaskan tangan Kyuhyun cepat-cepat. “Changmin-ah.” Tambahnya.

Kyuhyun mendorong Sooyoung agar masuk ke mobilnya, duduk di jok sebelah kendali setir Audi R8nya. Setelah memastikan Sooyoung masuk, Kyuhyun menutup pintunya. Mata Sooyoung focus menatap Changmin diluar mobil Kyuhyun.

“Minggir.” Ujar Kyuhyun mendorong tubuh Changmin menjauhi pintu mobilnya. Kyuhyun membuka pintunya dan segera masuk. Sebelum Kyuhyun benar-benar menutup pintunya, Changmin menghampirinya lalu tiba-tiba saja menarik kerah baju Kyuhyun, hingga Kyuhyun keluar.

“Astaga!” Kata Sooyoung segera keluar menyusul Kyuhyun.

“Ini balasan untuk mulutmu yang tidak punya sopan santun.” Ujar Changmin melayangkan tinjunya ke rahang Kyuhyun. Kyuhyun terpental ke mobilnya, Changmin menarik kerah baju Kyuhyun lagi dan mendaratkan beberapa pukulan di wajah dan tulang rusuknya.

“Hentikan!!!” Teriak Sooyoung menahan lengan Changmin lalu membuangnya keras.

“Eun Ji-ah,” Ujar Changmin melepas cengkeramannya di kerah baju Kyuhyun. Membiarkan Kyuhyun merosot merasakan pukulan-pukulan Changmin yang membuat perutnya nyeri dan wajahnya lebam.

Bugg

Darah segar mengucur dari sudut bibir Changmin, setelah Sooyoung meninjunya.

“Eun Ji-ah,” Ujar Changmin mengusap darah disudut bibir kanannya. Dirinya tak percaya Sooyoung memukulnya demi Kyuhyun yang baru dikenalnya.

“Jangan lakukan itu lagi. Sakit kan??!!”

‘Cayden’ Batin Kyuhyun. Ia segera berdiri membelakangi Changmin, berhadapan dengan Sooyoung yang dalam sekejap berubah menjadi Cayden.

“Wae??” Tanya Changmin tak mengerti dengan sikap Kyuhyun.

“Kau membuat masalah.” Jawab Kyuhyun. “Kajja, ikut aku Cayden-ah.” Kata Kyuhyun.

“Ani.” Ujar Cayden. Matanya memburu Changmin dengan liarnya. “Kau!” Teriak Cayden menunjuk Changmin. “Kau berlindung dibalik orang yang kau pukuli? Memalukan.”

“Eun Ji-ah,” Kata Changmin lewat bahu Kyuhyun. “Aku hanya merasa tidak adil bagimu saat Kyuhyun menciummu…”

“Mwo? Apa yang kau katakan?” Teriak Cayden. “Jangan bicara omong kosong. Kemari kau.” Cayden menghampiri Changmin yang diam saja saat Cayden menghampirinya.

“Pabo! Kenapa kau tidak pergi?!” Teriak Kyuhyun pada Changmin. Changmin tidak mendengarkan, ia justru mendorong tubuh Kyuhyun minggir hingga tersungkur.

“Eun Ji-ah,” Kata Changmin lemah. Ia menatap mata Sooyoung. Tapi Sooyoung bukanlah Sooyoung lagi, ia adalah Cayden yang dalam dadanya hanya ada kebencian dan kemarahan. Cayden kembali melayangkan tinjunya dan menghantamkannya beberapa kali diwajah Changmin. Changmin hanya diam, menerima segala kesakitan yang diberikan Cayden.

“Eun Ji, dengarkan aku,..”

“Eun Ji-ah.. aku mohon..”

“Cayden!” Teriak Kyuhyun meraih pinggang Cayden dan memaksanya masuk ke dalam mobil. Cayden seperti orang gila, berteriak-teriak minta dilepaskan.

“Aku pergi.” Ujar Kyuhyun pada Changmin yang sepertinya terlalu shock melihat menerima apa yang telah terjadi. Changmin hanya menatap nanar kepergian mobil Kyuhyun.

***

“Bagaimana bisa?” Bisik Ji Hyun pada putranya.

“Panjang ceritanya.” Kata Kyuhyun melirik Cayden yang duduk di ruang kerja Ji Hyun.

“Akhir-akhir ini Cayden sudah jarang muncul, tapi bagaimana ia sekarang muncul?”

“Sudahlah eomma, kajja.” Kyuhyun menghampiri Cayden yang duduk sendirian.

“Apa yang kalian lakukan? Lama sekali.” Kata Sooyoung memutar-mutar foto Kyuhyun di meja kerja eommanya. “Telepon Sungjong, suruh dia kesini. Aku bosan sering melihat kalian.”

“Cayden…” Kata Ji Hyun yang duduk di kursinya.

“Telepon Sungjong!!” Sergah Cayden yang langsung dituruti Kyuhyun.

“Cayden-ah,” Kata Ji Hyun lagi. “Kau masih ingin bertemu eommamu?”

“Tentu saja! Apa kalian pikir aku percaya kalau eommaku mati??”

“Tapi itulah kebenarannya.” Jawab Ji Hyun. Cayden mendecak kesal memandang Ji Hyun. Wanita tua yang akhir-akhir ini meracuni pikirannya, mengatakan bahwa eommanya meninggal. Dia membenci mendengar kata meninggal. Tapi ia cukup menghargai kehadiran Kyuhyun, jadi Cayden sering menahan tangannya sendiri untuk tidak merobek mulut wanita itu.

“Eommamu tetap menyayangimu Cayden. Satu lagi, eommamu tidak menyukai..”

“Cayden yang jahat dan tidak punya etika.” Sergah Cayden. “Sudah berapa kali kau mengatakan hal itu hah??”

“Nuna!”

Sooyoung menoleh, ia mendapati namja berseragam SMA yang ia kenali sebagai Sungjong. Adik kesayangannya, dan hanya pada Sungjong Cayden menurut.

“Ya! Sungjong!” Teriak Cayden. “Katakan pada wanita ini, eomma belum meninggal.”

Sungjong menarik napas dalam lalu mendekati Cayden. Kyuhyun minggir dan tempat duduknya diambil alih Sungjong. Kyuhyun berdiri dekat Seohyun yang datang bersama Sungjong. Kenapa mereka selalu bersama. Hey, apa kedua bocah SMA itu berkencan?

“Nuna, eomma memang sudah meninggal. Kau harus sadar.”

“Astaga Sungjong-ah, apa pikiranmu juga diracuni wanita ini?” Sooyoung mengusap rambut adiknya yang kelewat cantik untuk ukuran ketampanan seorang namja.

“Nuna,” Sungjong menatap mata Sooyoung, menusuk tepat dimaniknya. “Mereka benar, eomma benar-benar meninggal nuna.”

Sooyoung terdiam. Ia tahu, saat ini Sungjong tidak mengatakan kebohongan sama sekali. Ji Hyun menyandarkan punggungnya dikursi. Kagum dengan pribadi Cayden yang mampu menaruh kepercayaan pada orang lain. Ia yakin, tidak akan butuh waktu lama lagi.

“Sungjong-ah,” Sooyoung mengusap kepala Sungjong. “Jangan berkata seperti itu. Jangan katakan kebohongan lagi pada nuna.”

“Ani. Itu kenyataannya. Eomma tidak ada. Dia tidak akan pernah datang menemuimu sampai kapanpun. Jangan menunggunya lagi nuna.” Kata Sungjong menahan air matanya.

“Tidak tidak.” Sooyoung menggelengkan kepalanya, melepas tatapannya pada Sungjong. “Kau berbohong. Sudahlah, jangan katakan itu lagi. Eomma pasti datang.”

“Nuna…” Ujar Sungjong.

“Cayden-ah…” Ji Hyun menggenggam tangan Cayden.

“Tidak. Jangan bicara lagi. Semuanya bohong.” Kata Cayden meyakinkan semua orang diruangan itu. Tapi semuanya menolak Cayden. Tidak ada yang memberinya harapan. Tidak satupun mendukungnya.

“Eomma akan datang, pasti datang.” Mata Cayden berkaca-kaca.

“Eomma tidak ada, nuna.”

“Tidak Sungjong, eomma sedang menungguku.” Satu tetes air matanya menetes.

“Eomma meninggal. Dia tidak disini, tidak didunia ini.”

Cayden menyeringai, tidak menerima pernyataan adiknya. “Tidak. Kau bohong.”

“Meninggal! Tidak bisakah kau memahami kata itu?!” Teriak Sungjong menitikkan air mata.

Seohyun mengeratkan cengkeramannya dilengan Kyuhyun.

“Andwae. Eomma tidak boleh…” Sooyoung mulai menangis. Tidak menahannya lagi.

“Eomma meninggal, tidak akan kembali. Terimalah itu nuna. Eomma tidak ada, sejak kita kecil. Eomma tidak akan pernah menemuimu. Berhenti berharap, nuna. Eomma benar-benar meninggal.”

“Hentikan!” Teriak Cayden menutup kedua telinganya.

“Aku katakan, eomma meninggal.” Sungjong memeluk eonninya. “Eomma tidak ada nuna. Jangan seperti ini…” Suara Sungjong terbata-bata, berlomba dengan isakannya.

“Eomma, dia tidak hidup bersama kita. Terima itu, kau sudah tahu selama ini kau menunggu tanpa hasil, sadarlah. Aku mohon.”

“Sungjong-ah, ber..hen..tiii….” Jawab Cayden sesenggukan. Ia mengeratkan pelukannya pada Sungjong. Menyalurkan kerinduan pada eommanya yang tidak tersampaikan.

“Jadi nuna, berhenti bersikap kasar. Jangan terpengaruh lagi saat ada orang lain marah. Aku mohon.” Kata Sungjong mengelus rambut nunanya.

Seohyun menutup suaranya, tidak ingin terdengar sesenggukan. Kyuhyun, entah sejak kapan menggandeng bahu Seohyun erat. Ketiga hyun itu diam, tidak ingin menghancurkan hati dua saudara yang memang sudah remuk itu.

“Sungjong, kenapa kau baru mengatakan ini pada nuna?” Ujar Cayden melepas pelukan.

“Aku takut nuna sedih, tapi sekarang nuna harus sadar. Otte?”

Cayden menatap arah lain. “Aku tetap merindukan eomma, tapi tidak ada yang bisa kulakukan.” Tambah Cayden.

“Ada. Ada yang harus kau lakukan. Berhenti menjadi wanita tidak beretika. Jangan pernah memikirkan eomma atau appa saat kau melihat orang lain marah atau jahat. Jangan ikut marah, kuasai pikiranmu sendiri, nuna.”

“Apa aku orang yang seperti itu Sungjong-ah?” Ujar Cayden.

“Omo! Sooyoung-ah, kau sudah sadar??” Ji Hyun terkejut dengan perubahan nada bicara Sooyoung. Kyuhyun dan Seohyun saling pandang, mereka tersenyum. Bagaimana bisa, tanpa metode yang biasa Ji Hyun gunakan….

 

To be continued . . .

5 thoughts on “Beautiful Stranger – Chapter 3

  1. Sungjong opaa adik yang baikkk^_^
    Cobak adekku kayak sungjong oppa uhh bahagia bangaett gue hahhhahaha#sorry curcol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s