Beautiful Stranger – Last Chapter

Image

Tittle    : Beautiful Stranger – Cayden, another soul (END)

Author: JJyoung

Cast     : Sooyoung, Seohyun (SNSD), Kyuhyun (Super Junior), Shim Changmin (TVXQ), Lee Sungjong (Infinite), Jung Eun Ji (A Pink), Profesor Ji Hyun – Profesor Jin Young (OC)

Genre  : Action, Friendship, Romance

 

***

“Changmin-ah,” Sapa Sooyoung melambaikan tangannya.

Changmin menutup bukunya dan beranjak dari tempat duduknya yang rindang di tengah taman kampus Kyunghee. Sooyoung duduk disebelah Changmin, detik itu juga Changmin berdiri sambil membenarkan letak tas di bahunya. Changmin berjalan lurus mencari tempat duduk lain yang berseberangan dengan kursi panjang yang kini diduduki Sooyoung.

“Changmin-ah, sampai kapan kau mengabaikanku?” Tanya Sooyoung dalam hatinya. “Kuliah kita hanya tersisan 2 minggu lagi sampai ujian skripsi. Apa kau mau mengucapkan salam perpisahan seperti ini??” Kata Sooyoung menatap Changmin yang membalik lembar-lembar bukunya.

“Changmin-ah.” Kata Sooyoung menghampiri Changmin lagi, ia duduk disampingnya. Kali ini Changmin tidak pindah, hanya saja ia mengabaikan kehadiran Sooyoung.

“Mianhae,” Kata Sooyoung menatap Changmin dari samping. “Selama dua minggu ini kau mengabaikaku. Apa kau marah??”

Changmin membalikkan lembar buku yang daritadi dibacanya, yah, kalau boleh jujur Changmin tidak membaca bukunya lagi. Konsentrasinya terpecah karena Sooyoung.

‘Aku tidak marah, aku hanya kecewa.’ Batin Changmin.

“Kejadian itu, kau hanya tidak mengerti.” Tambah Sooyoung.

Changmin menutup bukunya lalu berdiri. Ia melangkahkan kakinya.

“Jeongmal mianhae.” Sooyoung menahan lengan Changmin. Changmin menghembuskan napasnya, lalu berusaha melepaskan cengkeraman Sooyoung.

“Mianhaeyo…” Sooyoung memposisikan tubuhnya tepat didepan Changmin. Menatap matanya dalam dan tulus. Sooyoung ingin Changmin tahu itu.

“Minggir.” Ujar Changmin balas menatap Sooyoung.

“Aku benar-benar minta maaf.” Kata Sooyoung lagi. “Kau hanya tidak mengerti.”

“Arra! Naega arra!!! Jinjja arra!!” teriak Changmin tepat di wajah Sooyoung.

Sooyoung tersentak. “Changmin-ah,”

“Kau pikir aku tidak tahu tentang DIDmu??” Tanya Changmin yang semakin membuat Sooyoung terkejut. “Memangnya siapa yang membawamu pulang saat kau berubah menjadi Cayden selama 4 tahun ini?? Itu aku Eun Ji-ah.” Sooyoung tersentak.

“Kau yang tidak mengerti, bukan aku.” Kata Changmin menatap Sooyoung sebentar lalu pergi.

Sooyoung menahan Changmin lagi. “Changmin-ah,”

“Aku tidak marah, aku hanya kecewa. Cayden justru membela Kyuhyun bukannya aku. Jangan khawatir, anggap saja luka ini kenangan kita sebelum perpisahan. Aku akan mengingatnya seumur hidupku.” Sooyoung meneliti setiap lebam yang membekas di wajah Changmin.

“Tidak, tidak bisa seperti ini.” Kata Sooyoung.

“Sudahlah, Kyuhyun menunggumu.” Ujar Changmin mengarahkan kepalanya ketempat Kyuhyun berdiri memperhatikan mereka berdua.

Changmin pergi, meninggalkan Sooyoung yang hanya menatap nanar kepergian Changmin.

“Kau sahabatku yang terbaik!” Teriak Sooyoung. Langkah Changmin terhenti.

Changmin memutar kepalanya sedikit hingga hidungnya sejajar dengan bahunya. “Tapi aku menyukaimu, sebagai yeoja. Bukan sahabat.” Dadanya sakit saat Changmin mengatakannya.

Sooyoung meneteskan air matanya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Changmin. Itu terlalu sulit bagi persahabatan mereka. Tidak mengatakan apapun, Sooyoung hanya memandangi punggung Changmin yang kian menjauh.

“Sooyoung-ah,” Kyuhyun menepuk bahu Sooyoung.

“Jangan bersedih,” Ujar Kyuhyun. Sooyoung berusaha mengahapus air matanya. “Kau harus mendengar kabar baik ini.”

“Mwo?” Tanya Sooyoung lemah, ia memilih duduk ditempat yang tadi diduduki Changmin.

“Kau tidak menyadari? Kau tidak berubah menjadi Cayden saat Changmin marah padamu.” Kata Kyuhyun tersenyum. Sooyoung terbelalak, tidak mempercayai apa yang baru saja ia alami. Benar. Changmin tadi marah. Sangat marah, tapi ia tetap sadar sebagai Sooyoung.

Dalam sisa-sisa air matanya, Sooyoung mencoba untuk tersenyum.

***

“Eonni, fighting!” Sungjong menyemangati kakaknya yang akan memasuki ruangan sidang skripsi. Kyuhyun juga disana. Mengawasi Sooyoung. Takut dengan kemungkinan terburuk.

Jung Jin Young juga ada disana, menggantungkan harapan terakhirnya pada Sooyoung. Ia memeluk Sooyoung sebentar, lalu mencium keningnya. “Kau putriku.” Ujarnya.

“Aku akan berusaha.” Kata Sooyoung pada ketiga namja itu, dia benar-benar tidak ingin membuat mereka kecewa. Ia juga ingin menentang kekejaman dunia yang dulu pernah ia katakan.

Lewat bahu Kyuhyun, Sooyoung memandang Changmin yang samar-samar memberikan senyumannya ditengah kerumunan mahasiswa lain. Sooyoung beranjak menghampiri Changmin, tidak ingin kehilangan sahabat terbaik yang pernah dia miliki.

“Masuklah, palli!” Ujar Changmin.

“Aku hanya ingin mengatakan, aku juga menyukaimu.” Bisik Sooyoung ditelinga Changmin. Sooyoung segera berlari setelah mengatakan hal itu, menyembunyikan semburat merah diwajahnya.

Sooyoung masuk ruangan. Bersiap menghadapi tantangan dunia didepan matanya. Ia tidak ingin mendapat gelar pecundang dari dunia yang terlalu kejam padanya sajak puluhan tahun lahu.

Sungjong, Kyuhyun, Jin Young dan Changmin mengharap yang terbaik. Tidak ingin Cayden muncul tiba-tiba dan menghancurkan segalanya. Kyuhyun, dengan matanya ia mengamati setiap gerak tubuh Sooyoung yang normal-normal saja. Ia juga yakin, Profesor Ji Hyun yang juga di dalam akan melakukan yang terbaik untuk pasien pertamanya.

“Sejauh ini baik-baik saja.” Ujar Sungjong mengntip dati celah jendela kaca yang tirainya tidak tertutup dengan sempurna.

“Kita berharap ini akan berlanjut sampai akhir.” Balas Kyuhyun.

15 menit berlalu, tidak ada kejanggalan. Kyuhyun dan Sungjong mulai bernapas lega.

Brakkk

Kyuhyun dan Sungjong saling pandang. Changmin tersentak. Profesor Jin Young terkejut. Ia segera membuka pintu dan mendapati seluruh dosen bergidik ketakutan melihat penghancuran yang dilakukan Sooyoung.

“Astaga! Itu Cayden.” Ujar Sungjong yang tidak dimengerti Jin Young siapa itu Cayden.

“Berhenti menekanku!!!” Teriak Cayden membanting kursi. Matanya melotot.

“Nuna!” Teriak Sungjong yang tidak didengar Cayden.

“Sooyoung-ah, sadarlah..” Ji Hyun mencoba menenangkan Cayden dengan memanggil nama aslinya. Dosen yang lain bingung, kenapa Eun Ji dipanggil Sooyoung dan kenapa gadis itu ngamuk-ngamuk. Kyuhyun, Changmin dan Sungjong memaksa masuk meski mereka tidak ada urusan. Jin Young juga mengikuti.

“Apa yang terjadi??” Ujar dosen lain kesal. “Siapa sebenarnya gadis ini??!”

Kyuhyun dna Changmin mencoba menangkap tubuh Cayden yang sangat kuat.

“Lepaskan namja bodoh!” Teriak Cayden menggemparkan seluruh kampus. Semua orang berkerumun, melihat insiden yang terjadi. Melihat Sooyoung yang ramah berubah menjadi bringas.

“Minggir kalian semua!!!!” Teriak Cayden.

“Kita tidak bisa meluluskan sarjana seperti dia.” Ujar seorang dosen lain ikut berteriak.

“Andwae!” Teriak Profesor Jin Young spontan. “Tidak bisa, Eun Ji harus lulus!”

“Siapa Eun Ji hah??!” Sergah Cayden. “Gadis depresi itu??!! Yang setiap hari mengurung diri dalam piramid bodohnya??!” Cayden menyeringai menatap Jin Young.

Jin Young tidak percaya Sooyoung yang ia kenal mengatakan hal mengerikan seperti itu. Tidak, jelas-jelas itu bukan Sooyoung. Penghinaan itu terlalu menyakitkan.

“Dia putriku!!” Sahut Jin Young. Seluruh orang di dalam sana terdiam, Ji Hyun juga, ia memegangi keningnya yang amat pening menghadapi apa yang terjadi. Semua akan berakhir. Dunia ini mengutuk mereka.

“Kau tidak bisa mengatakan hal buruk tentang Eun Ji. Dia putriku. Dia yang terbaik. Jangan pernah kau menghina Eun Ji-ku” Seluruh mata yang menyaksikan diam tak percaya. Melihat Profesor Jin Young membela putrinya –Eun Ji– didepan gadis yang jelas-jelas bernama Eun Ji, yeoja yang diakuinya sebagai putrinya selama empat tahun terakhir.

Apa yang terjadi? Seluruh orang saling berbisik.

“Oh, kau mengatakan gadis deperesi tak punya harapan itu sebagai putrimu yang terbaik? Omong kosong!” Ujar Cayden sama sekali tidak memikirkan perasaan pria tua yang menaruh harapan terakhirnya pada dirinya sendiri.

“Cukup! Kyuhyun, Changmin, bawa dia keluar!” Teriak Ji Hyun sebelum semuanya bertambah kacau.

“Tidak!” Cayden memberontak, ia berusaha memukuli Changmin dan Kyuhyun yang mencoba menyentuh tubuhnya. Seperti kerasukan, Cayden sangat liar. Tidak mempedulikan semua orang yang memperhatikannya. Changmin ditendang, Kyuhyun digigit lengannya. Mereka berdua kewalahan menghadapi Cayden yang sangat liar. Bahkan rambut Cayden sudah lusuh, persis seperti orang gila. Siapapun akan berpikir begitu.

“Nuna!” Teriak Sungjong. Ia mengeluarkan sapu tangan merah jambu yang setiap hari dibawanya. Ia mendekati Cayden yang bengong memandangi dirinya.

Bola mata Sungjong merah, tangis dan amarahnya bertumpuk, berkumpul dalam genangan air dipelupuk matanya. Prihatin dan kesal, sudah tidak ada batas yang jelas dalam perasaan Sungjong. Ia sudah cukup frustasi menghadapi semuanya. Kekhawatirannya muncul, menggerogoti setiap kebahagiaan yang satu per satu mulai bisa ia kumpulkan akhir-akhir ini.

“Jangan gunakan itu lagi!” Teriak Cayden menghentikan langkah Sungjong. Sungjong terkesiap. Cayden menatap mata adiknya, berharap mendapat belas kasih Sungjong.

“Nuna,” Ujar Sungjong. “Mianhae…” Lanjutnya. Sungjong mengarahkan sapu tangan itu.

Melihat itu, Kyuhyun dan Changmin bergerak cepat memegangi lengan dan tubuh Cayden kuat-kuat. Setelah tak sadarkan diri, Changmin segera membawa tubuh lemah Cayden pulang. Sedangkan Kyuhyun menangkat bahu Sungjong dan mengajaknya pergi. Ia tahu bagaimana persaan Sungjong. Kyuhyun juga merasakannya, tapi tidak seberat luka hati Sungjong.

“Semuanya berakhir.” Ujar Profesor Jin Young terduduk lemas.

***

Sooyoung membuka matanya. Wajah Sungjong yang pertama kali terbentuk diretina matanya. Wajah itu tidak tersenyum, tidak juga marah. Mata itu sayu, semakin sayu saat Sooyoung mencoba mencari apa yang membuatnya seperti itu.

“Apa aku menghancurkan semuanya?” Tanya Sooyoung yang terakhir kali ia mengingat bahwa ia mengatakan menyukai Changmin. Dia tidak ingat, ia sudah menjalani sidang skripsi atau belum.

Sungjong tersenyum, membantu eonni menegakkan punggungnya. “Eun Ji telah berakhir.”

Sooyoung tersenyum kecut, lalu tertunduk memandangi kuku jarinya yang hancur. “Pecundang. Dunia ini terlalu kejam. Tidak pernah memberikan kesempatan padaku.”

“Tetap berjalan Sooyoung-ah,” Ujar Kyuhyun. “Meski itu diatas kerikil tajam. Hidup ini tidak akan pernah berakhir. Kau hanya termasuk orang yang dipilih dunia ini, yang dianggap mampu melebihi siapapun dalam menghadapi masalah ini. Kau istimewa, bukan pecundang.”

“Sooyoung-ah,” Ujar Ji Hyun di belakang Kyuhyun. “Kau tidak seburuk itu. Kau gadis yang baik. Sungguh.” Ji Hyun mendekati Sooyoung. “DIDmu, sebenarnya tidak akan muncul, jika seandainya kau tidak menekan dirimu sendiri saat itu. Kau terlalu memaksa dirimu sendiri.”

“Itu harus.” Jawab Sooyoung. “Jin Young dan Eun Ji berlindung dibalik punggungku.”

Sungjong menggenggam tangan Sooyoung erat. Masih sempat eonninya memikirkan orang lain. “Eonni, kau yang terbaik.” Kata Sungjong.

“Eun Ji-ah,” Seseorang muncul di pintu. Wajahnya berseri bahagia.

Sooyoung juga tersenyum. “Aku Sooyoung, Changmin-ah…”

Semua orang memberi jalan untuk Changmin. Ia mengambil tempat disamping Sungjong.

“Chukkae, Sarjana muda.” Kata Sooyoung mengambil tangan Changmin, sahabat terbaiknya.

“Kau tetaplah bagian dari kami. Jangan pernah berpikir kau gagal.” Kata Changmin.

“Jeongmal gomawo.” Kata Sooyoung menatap semua orang diruangan itu. “Kalian berusaha menguatkanku. Tapi aku mempunyai jalan pikiran sendiri.”

“Aku tetap gagal.”

***

“Eun Ji-ah,” Jin Young mengusap puncak kepala putrinya.

“Appa, kau lihat, aku menyelesaikan desain apartemenku.” Kata Eun Ji menunjukkan gambar piramid terbaliknya yang bernilai seni tinggi. Semua ukurannya sudah ia mantapkan. Garis-garisnya bukan hanya sketsa. Panel surya ia tambahkan untuk pengumpul energi di permukaannya.

“Bagus.” Puji Jin Young, air matanya jatuh. “Tapi itu tidak berguna lagi, Eun Ji.”

“Wae?” Tanya Eun Ji. “Sooyoung bisa membawanya keluar, dan menunjukkan pada semua orang.” Katanya polos mengharapkan Sooyoung segera datang.

“Sooyoung tidak akan kembali. Gambar itu, simpanlah baik-baik.”

“Appa menangis?” Eun Ji memegang pipi appanya. Jin Young mengambil tangan Eun Ji dikedua pipinya lalu beralih memeluknya.

“Harapan kita berakhir. Puaslah dengan hidupmu disini.”

“Tidak appa, orang-orang harus tahu gambar ini.” Eun Ji menggelengkan kepalanya.

“Tidak bisa. Sooyoung tidak akan disini. Gambarmu juga tidak akan diakui siapapun. Karena kau bukan siapa-siapa mulai beberapa saat lalu. Semuanya hancur.”

“Appa juga berakhir. Tidak akan ada orang yang menghargai appa. Tidak akan ada lagi orang yang memanggilku professor. Semua orang diseluruh negeri ini, akan mengenalku. Mengenalku sebagai pembohong dan penjahat.”

“Appa…”

***

Berita itu muncul begitu saja. Tentang Profesor Jung Jin Young dan putri palsunya. Ada juga putri kandungnya yang depresi. Semua orang mengetahuinya. Semua orang mempermalukan Jin Young sejak dua minggu yang lalu. “Aku menghancurkan mereka.” Ujar Sooyoung.

“Cayden nuna,”

“Hei, jangan panggil aku seperti itu.” Sooyoung mengerucutkan bibirnya.

“Ya, eonni!” Teriak Sungjong dengan senyum khasnya. “Kau tahu berita pagi ini?”

“Tentu saja. Pasti Jin Young lagi.” Kata Sooyoung membalik-balik buku arsitektur miliknya. Yang sejak beberapa hari yang lalu, tidak akan berguna bagi sarjana gagal sepertinya.

“Annyeong,” Seseorang muncul begitu saja dipintu kamar Sooyoung.

“Ah, Changmin-ah.” Sooyoung berdiri dan menghambur memeluk Changmin. Ia merindukan namja itu, merindukan lengkingannya yang sering mengganggu telinganya. Ternyata lebih janggal hidup tanpa lengkingan namja ini.

“Kau bertanggungjawab memberitahunya berita pagi ini.” Kata Sungjong keluar kamar.

Sooyoung mengernyit. “Waeyo? Berita apa?”

“Molla?” Tanya Changmin. Sooyoung menggeleng.

“Jung Eun Ji,” Kata Changmin. “Desain piramid terbaliknya mengangumkan.”

“Maksudmu?”

“Desain itu akan direalisasikan di kota Meksiko dan diperkirakan menjadi pusat peradaban baru. Kau tahu karena apa?” Sooyoung menggeleng lagi.

“Karena kejadian dua minggu lalu. Profesor Jin Young dan putrinya menjadi bahan pembicaraan dan seluruh hasil karya Eun Ji terekspos. Dan desain piramid terbaliknya mencengangkan beberapa orang didunia. Hingga akhirnya beberapa orang Mexico memutuskan untuk benar-benar membangunnya. Itu karena kau Eun… ani Sooyoung-ah.”

Sooyoung tersenyum, ada kelegaan dalam hatinya. Ia tidak terlalu menyesal melakukan kesalahan beberapa waktu lalu. Ia juga senang sahabatnya kembali disisinya.

“Changmin-ah, aku menyukaimu..” Kata Sooyoung.

“Jangan terburu-buru.” Kata Changmin. “Kau memang menyukaiku, tapi itu sebelum Kyuhyun datang. Kau harus menyadari perasaanmu sendiri. Pikirkan baik-baik.”

Changmin mengeluarkan dua tiket dari sakunya. ‘Konser Beast’ Pikir Sooyoung.

“Pertandingan basket?” Tanya Sooyoung. “Kenapa tiba-tiba?”

“Namja cantik itu menjadi bagian tim nasional Korea.”

“Mwo???!” Sooyoung terbelalak. “Sungjong-ah? Jinjja??!!!!”

***

“Sungjong!!! Sungjong!!!” Teriak Seohyun di tribun terdepan.

“Ya!! Apa kalian berpacaran??!” Tanya Sooyoung disamping Seohyun.

“Belum. Tapi lihat setelah ini. Aku akan langsung menciumnya.” Jawab Seohyun berteriak karena banyak orang lain yang juga berteriak.

“Jinjja??!” Sooyoung menutup mulutnya. Ia menatap lurus kearah Sungjong. Namja itu sedang berbut bola dan berlari-lari disekitar ring. Masuk!!! Sungjong tersenyum.

Sungjong memandang Sooyoung dan memamerkan sepatu basket yang ia pakai. Sepatu itu hasil keringat Sooyoung. Sooyoung tersenyum, bangga pada dongsaengnya. Ia salah menilai Sungjong sebagai namja lemah yang lebih mirip yeoja.

“Wah, aku ketinggalan.” Kata Changmin yang baru datang.

“Omo!! Selalu mengagetkanku.” Kata Sooyoung memegang dadanya.

Sooyoung lebih terkejut saat ia mendapati yeoja lain duduk menyusul disamping Changmin. Ia agak malu-malu. Ah tidak, agak takut lebih tepat.

“Eun Ji-ah!!!” Teriak Sooyoung yang menyadari siapa yeoja itu.

“Jangan mengagetkannya!” Ujar Changmin memukul lengan Sooyoung. Sooyoung nyengir.

“Seohyun, kenapa kau tidak menungguku?” Kyuhyun duduk diantara Seohyun dan Sooyoung

“Kyuhyun-ah,” Ujar Sooyoung. “Oh,” Balas Kyuhyun.

“Ah, Sooyoung-ah. Bukankah kau lulusan arsitektur?” Tanya Kyuhyun.

“Oh, bukan… ak..”

“Appaku,” Sahut Kyuhyun. “Ingin kau membuat desain gedung kantor untuk anak perusahaannya di Choongnam. Eomma merekomendasikanmu. Satu lagi,” Sergah Kyuhyun sebelum Sooyoung sempat membuka mulutnya. “Aku akan membangun sebuah perusahaan percetakan buku. Sepertinya aku membutuhkan bantuanmu untuk untuk desain gedungnya.”

“Mwo…?” Kata Sooyoung perlahan tidak mempercayai apa yang didengarnya.

“Baiklah, aku anggap itu persetujuan.” Kyuhyun menyunggingkan senyumnya.

“Kyuhyun-ah, jeongmal gomawo.” Ujar Sooyoung. “Kau banyak membantuku.”

“Sebenarnya, aku ingin tahu bagaimana kau meyakinkan eommamu untuk mau membantu menyembuhkanku. Yang aku tahu, Profesor Ji Hyun adalah orang yang keras kepala.” Tambahnya.

Kyuhyun menatap mata Sooyoung, lalu mendekati telinganya. “Kau ingin tahu?” Bisik Kyu.

Sooyoung menganggukkan kepalanya. Kyuhyun mendekatkan wajahnya lagi, tanpa aba-aba Kyuhyun mencium pipi Sooyoung. Sooyoung terdiam, matanya terbelalak.

“Aku bilang, ‘eomma, tolong bantu yeoja yang putramu sukai ini.’ ”

Pikiran Sooyoung kacau lagi. Ia tidak tahu kenapa otaknya selalu berhenti bekerja saat bersama Kyuhyun. Sooyoung mengerjapkan matanya mencoba meraih kembali kesadarannya. Sooyoung tertunduk, wajahnya memerah. Tangannya gelisah dipangkuannya.

“Kyuhyun-ah,” Kata Sooyoung. “Sepertinya ada yang mencuri hati penderita DID ini.”

Kyuhyun tersenyum lebar memandang Sooyoung. Ia meraih jemari Sooyoung dan menggenggamnya erat. “You’re my beautiful stranger. Kau Sooyoung dan Caydenku.” Kata Kyu.

“Astaga!” Ujar Eun Ji mengangetkan Kyuhyun dan Sooyoung. “Bagaimana bisa tempat ini seperti ini??? Seharusnya tribun itu…” Eun Ji mengeluarkan selembar kertas kecil dan pensil lalu menggambar sebuah stadion bola basket.

“Aigoo, dia mulai lagi.” Ujar Sooyoung pada Changmin. Changmin hanya tersenyum.

“Masuk!!!!” Teriak Seohyun tepat saat Sungjong menembakkan bola di area three point.

“Sungjonoooog!!!!” Teriak Seohyun lagi.

Changmin, Eun Ji, Kyuhyun, dan Sooyoung menoleh ke lapangan. Sungjong tersenyum karena melakukan tembakan three point. Ia memandang kelima pendukung terbaiknya dan mengangkat tangannya melakukan gerakan hormat.

Changmin, Eun Ji, Kyuhyun, Sooyoung dan Seohyun terlihat seperti keluarga saat meneriakkan, “Sungjong!!! Fighting!!!!!”

 

THE END

 

PS : Wah akhirnya selesai juga readers. Tinggalkan banyak jejak mengenai Beautiful Stranger yaa😀

 

11 thoughts on “Beautiful Stranger – Last Chapter

  1. jadi endingnya sooyoung ama kyuhyun yah.. padahal pas cangmin bilang selama 4th ini dia yg slalu nemenin soo pas jd ceden aku ngarep endingnya ama dia😦

    syukur deh eunji juga depresinya sembuh.. dan happy ending ‘0’

  2. annyeong…

    akhirnya SooYoung sembuh juga😀 tapi bener itu jadi nya Sooyoung ma KyuHyun? aku kira bkl sama ChangMin,coz dia juga bilang suka ma ChangMin🙂
    tapi tak apalah yg penting mah Happy ending😉
    Eh iya thor,koq komen ku di part sebelumnya ga ada yah?

    • annyeong ^^
      syukur deh soo sembuh, aku juga pengen nya soo sama changmin
      tapi author nya buat sama kyu
      apa boleh dikata, hahahaa😀
      Terimakasih sudah mau membaca dan meninggalkan jejak ^^

  3. wah ending yang menakjubkan. gak kebayang endingnya bakal kayak gini. eonni keren banget ceritanya, alurnya, dll. daebak.
    eonni ditunggu karya selanjutnya.
    gomawo🙂

  4. Ahh untung soo sama kyu gak sama changmin hehehe wahh maknae mau maen cium sungjong oppa ajaaaaa eun ji udah waras(?) Ya???

    Well, HAPPY ENDING ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s