Destiny – Taeny Fanfiction [ Chapter1]

PS : Anneyong ! Pertama tama mau ngucapin maaf sebesar besarnya karena page ini terlalu lama tidur karena kesibukan menyambut GG ke Indonesia dan untuk perhaps, paparazi, catch me harus ditunda publish part selanjutnya. Problem nya karena laptop yang sedang terkena penyakit berat. Sementara ada destiny series dan nggak bakal ditunda publish part berikutnya, tinggalkan banyak jejak taeny lovers ^^

Tittle : Destiny – part 1 Author : Julay

Genre : Gender Bender, Fantasy, Romance, Comedy

Cast : Taeyeon, Tiffany, Seohyun & SNSD other

***

Confesion of Shopaholic. Itu bukan penyakit atau semacam trauma. Itu judul film, film favorit ku. Walau aku tidak suka bagaimana film itu berakhir, tapi entah dengan alasan apa, aku menjatuhkan hatiku padanya. Mungkin karena ada satu adegan pada film itu yang mengingatkan pada diriku sendiri dan suatu kejadian dalam hidupku. Tapi kurasa itu bukan alasan utama nya.

“Bagaimana Seoul menurutmu?” “Ehh!?” aku menoleh ke kiri begitu mendengar suara yang sepertinya ingin mengajaku berbincang.

“Bagaimana kondisi Seoul sekarang menurutmu?” ulangnya perlahan.

Ya ampun, aku sampai lupa dimana aku berada sekarang. Aku sudah di Seoul. Ingat itu.

“Cukup berubah banyak” jawab ku tersenyum, lalu kembali membalik satu halaman majalah Vogue. Salah satu hal yang menyebabkan aku tidak memperhatikan jalan. Tidak melihat Seoul yang sudah lama kutinggalkan.

“Kau menyukai atmosfirnya?” lagi, sebuah pertanyaan menggangguku.

“Yeah, belum seberapa” aku menjawab asal pertanyaan Appa tanpa mengalihkan fokus ku dari majalah.

“Kita akan segera tiba di rumah” kata Appa memberi tau.

Aku tidak tau kenapa Appa mengucapkan nya tapi aku tidak terlalu tertarik mendengarnya. Ahh, aku memang tidak tertarik dari awal dengan pembicaraan ini.

“Kau pasti akan suka rumah nya” lanjut Appa.

Aku menoleh ke arahnya tersenyum, sedikit merespon supaya tidak mengecewakan hatinya. Dia membalas senyumku. Sudah lama aku tidak melihatnya. Yah, mungkin karena kami memang sudah lama tidak bertemu.

***

Author POV

Gadis itu memperhatikan Appa nya yang sedang mengemudi. Dari raut wajahnya dia nampak sedang berpikir, tapi tak lama dia mengubah ekspresinya dengan sebuah senyum simpul. Dia lalu mengembalikan perhatian nya ke majalah di pangkuan nya. Gadis yang bergaya vintage ini, yang saat ini mengenakan dress pink pastel dan jacket kulit coklat bernama Tiffany. Dia baru saja mendarat di Incheon sejam yang lalu. Dan saat ini sedang berada dalam mobil bersama Ayah nya menuju rumah mereka. Sejak berusia 12 tahun, satu tahun setelah Ibu nya meninggal. Karena depresi berat yang dialami nya, Tiffany pergi bersama Kakak laki laki nya yang bekerja di Los Angels dan menetap disana. Tapi kini setelah enam tahun berlalu. Kakak laki laki nya telah menikah dan mempunyai keluarga sendiri. Tidak ingin merepotkan keluarga kakak nya, Tiffany memutuskan pulang ke Korea dan tinggal menemani Ayah nya. Yang selama 6 tahun ini hidup sendirian.

“Apa kau senang kembali kesini?” Ayah Tiffany mengajak berbincang lagi.

“Kenapa aku harus tidak senang?” Tiffany membalikan pertanyaan.

“Appa hanya khawatir. Enam tahun yang lalu, kau seperti itu dan Appa rasa kau lebih baik disana” kata Ayah nya.

“Sudalah, itu enam tahun yang lalu” kata Tiffany.

“Tapi sebenarnya dari dulu sampai sekarang aku baik baik saja. Appa saja yang tidak mempercayaiku” lanjutnya.

“Appa khawatir melihat mu dan kata dokter …” kalimat itu terputus.

“Lebih baik kita tidak membicarakan ini Appa” Tiffany yang menyela kalimat itu.

“Dae, baiklah” Ayahnya mengangguk setuju

***

Aku tiba di depan sebuah rumah berlantai dua dengan pagar hitam dan model seperti rumah rumah Korea pada umumnya. Aku memperhatikan rumah itu dengan seksama, ada yang aneh.

“Ini, seperti bukan rumah kita yang dulu?” kenang ku.

Appa saat ini sedang sibuk mengeluarkan koper koperku dari dalam mobil.

“Kau tidak ingat rumah kita dulu? Ini memang bukan. Rumah kita dulu terlalu besar untuk ditinggali Appa sendiri, karena itu Appa menjualnya” jawab Appa dengan tetap berkutik dengan barang barangku.

“Sini kubantu” kataku berusaha mengambil koper pink ku dari tangan Appa.

“Tidak usah, kau masuk saja” tolak Appa.

Dengan mudah aku menyutujuinya, karena memang yah aku tidak terlalu ingin mengurusi koper koper ku. Yah, kau tau aku hanya berbasa basi saja.

***

Author POV

Tiffany melenggang memasuki rumah. Dia menghentikan langkahnya ketika menginjak ruang tamu.

“Dimana kamarku?” gumam nya sendiri sambil menebarkan pandang keseluruh penjuru rumah.

“Apa mungkin di lantai dua?” tanya nya berpikir.

Meyakinkan diri dengan perkiraan nya, Tiffany menaiki tangga menuju lantai dua. Ada sekitar dua kamar yang dimasuki dan dua kamar yang ternyata bukan kamarnya. Sampai akhirnya Tiffany tiba pada kamar paling pojok di lantai dua. Kamar yang menghadap barat dengan pemandangan halaman belakang. Dia membuka gagang pintu nya dengan ragu. Pintu itu berderit dan terbuka.

“Ahh, ini dia” kata Tiffany puas

***

Appa benar benar menyiapkan semua ini dengan baik. Wallpapaer nya, perabotan nya. Semua pink dengan aksen putih. Sepertinya Appa tau betul dengan selera ku. Dia bahkan menaruh kaca besar disini. Bagaimana Appa tau aku suka dengan kaca besar dalam kamar? Bahkan kelambu yang menutupi bed ku berseprai pink, terlihat benar benar seperti ku. Aku menyukai semua nya. Yeah, hampir semua nya. Kecuali hal yang ada di dekat jendela kamarku ini. Sosok dingin, dengan wajah pucat dan pandangan kosong.

“Hantu lagi” ucapku kesal.

***

Author POV

Dengan tergesa Tiffany menuruni tangga. Dia bergegas menemui Ayah nya yang baru saja berhasil memasukan koper koper Tiffany ke dalam rumah.

“Aah, kau sudah dari atas. Bagaimana kau suka kamar mu?” tanya Ayahnya bersemangat.

“Yeah, aku suka. Wallpaper nya, perabotnya aku menyukai nya. Tapi aku ku rasa aku gunakan kamar lain saja” jawab Tiffany mengejutkan Ayah nya.

“Wae? Kau bilang kau menyukainya. Tapi kenapa ingin pindah kamar?” Ayah Tiffany nampak bingung.

Tiffany menggigit bibir bawahnya, dia memutar bola matanya cepat nampak berpikir.

“Yeah ….” kata nya.

“Appa dengar, kamar itu berhantu. Aku melihat nya tadi” sambung Tiffany.

Ayahnya melebarkan pupil mata nya sesaat, lalu menghembuskan nafas dan berkata.

“Sudah Appa duga, kau tidak sebaik nya pulang ke Korea” katanya.

“Kau tidak mempercayai ucapakan ku? Lagi?” Tiffany kecewa.

“Tidak. Hanya saja Appa …”

“Lupakan, aku berbohong. Aku tidak melihatnya” putus Tiffany.

“Aku akan menempati kamar itu” lengkapinya kemudian beranjak pergi menaiki tangga lagi meninggalkan Ayah nya yang memandang Tiffany penuh ke khawatiran.

***

Aku menutup keras pintu kamar ku. Biar saja Appa mendengarnya, aku memang sengaja melakukan nya sebagai bentuk protes ku, supaya dia mendengarku dan mempercayai ku. Jebal, kumohon percaya padaku. Aku tidak berbohong. Gerutuku kesal. Tapi yah aku harus sadar diri. Aku tidak boleh memaksakan Appa mempercayai ucapanku. Karena secara ilmiah, tidak mungkin ada orang yang percaya bahwa aku, Tiffany bisa melihat hantu. Yah, hantu.

***

Author POV

Tujuh tahun yang lalu ketika Tiffany berusia sebelas tahun. Dalam perjalanan menuju rumah dari sebuah swalayan, Tiffany dan Ibu nya mengalami kecelakaan. Mobil yang mereka kendarai menabrak pembatas jalan dan terbalik. Ibu Tiffany meninggal di kecelakaan itu, sementara Tiffany dia selamat. Akibat dari kecelakaan itu Tiffany mendapatkan sebuah kemampuan unik. Dia bisa melihat makhluk lain selain manusia, dengan kata lain dia bisa melihat hantu. Saat upacara pemakaman Ibu nya, Tiffany menyadari hal itu. Dia mengatakan pada Ayah nya bahwa dia bertemu dengan Ibu nya. Pada awalnya Ayah Tiffany mengira putri nya sedang menginggau. Tapi Tiffany terus berkata bahwa Ibu nya masih ada di sekitar mereka, Tiffany bahkan mengatakan melihat ‘Prince’ anjing nya yang sudah meninggal 3 tahun lalu. Semua perkataan yang diucapkan Tiffany terdengar tidak masuk aka. Ayah Tiffany khawatir akan kondisi putri nya. Dia mengira semua yang terjadi pada Tiffany adalah efek dari kecelakaan yang dialaminya karena itu dia membawa Tiffany ke dokter. Tapi Dokter berkata bahwa tidak ada yang salah dengan fisik Tiffany. Dia dalam kondisi sehat. Seperti belum puas dengan jawaban dokter. Tiffany yang terus menerus mengatakan dan bertingkah aneh, membuat Ayah Tiffany akhirnya memutuskan membawa Tiffany ke psikiater. Psikiater mengatakan Tiffany sedang mengalami depresi karena kehilangan Ibunya, terlebih dia terlibat dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Ibu nya itu. Akan lebih baik bagi Tiffany untuk segera melupakan tentang Ibu nya dan kecelakaan tersebut. Tiffany harus tinggal di lingkup baru supaya dia dengan cepat melupakan kejadian itu dan keluar dari depresi nya. Atas alasan itulah Ayah Tiffany mengirim Tiffany ke Los Angels. Ke tempat dimana kakak Tiffany yang usia nya terpaut 13 tahun dari Tiffany dan bekerja sebagai pengacara internasional tinggal. Dan kini Tiffany sudah kembali ke Korea. Ke tanah kelahiran nya.

“Ini akan menyebalkan. Aku meninggalkan LA karena kukira disini aku akan tenang. Tapi ternyata sama saja” Tiffany berbicara pada dirinya.

“Tiff, seharusnya kau bisa berpikir. Mereka itu akan ada dimanapun di seluruh dunia, tak terkecuali Korea!” dia mengomel kesal.

“Aku harus bertemu dengan makhluk makhluk sepertimu!” Tiffany membentak kesal menatap sosok pria pendek berpakaian seperti pria dari jaman joseon. Dia beraroma dingin dengan wajah pucat dan berdiri di dekat jendela kamar.

“Anda bisa melihat saya?” pria yang dilihat Tiffany bertanya.

Berpura pura tak mendengar ucapan pria itu, Tiffany memutar badan dan melangkah menjauh.

“Apa anda bisa melihat saya?” pria yang berdiri di dekat jendela itu terus berkutat dengan pertanyaan nya sambil mentap Tiffany yang saat ini sedang berbaring di ranjangnya.

“Dia bisa melihat saya?” pria itu terus berujar.

Dilingkupi rasa penasaran, pria itu bergerak mendekat ke arah Tiffany. Pria itu duduk di tepi ranjang dimana Tiffany berbaring sekarang. Dengan perlahan dia menggerakan tanganya. Dia melambai lambaikan tangan nya persis di depan Tiffany yang sedang terpejam.

“Dia tidak bereaksi” kata pria itu.

Belum puas, kali ini pria itu mendekatkan wajahnya kepada Tiffany dan memperhatikan dengan seksama. Dia berbisik pelan pada Tiffany.

“Apa benar anda tidak bisa melihat saya?” tanya nya.

Kesal, Tiffany membuka matanya mendadak dan menatap pria itu dengan tatapan mau membunuh. Membuat pria itu berteriak sehingga terjatuh dari ranjang. Tiffany bangkit dari tidurnya, berjalan mendekati si pria yang tersungkur dilantai.

“Dasar kau ini!!!” teriak Tiffany menendang keras pria dihadapanya.

“Auww!!!!” pria itu menjerit kesakitan.

“Kenapa? Sakit bukan? Bagaimana merasakan nya lagi setelah ratusan tahun kau tidak bisa merasakan apapun? Haa?!” teriak Tiffany.

Masih mengerang kesakitan, pria itu berkata.

“Anda bisa melihat saya?” tanya nya.

“Dae, aku bisa melihat mu. Aku bahkan bisa memegang, memukul mu dan mengirimu ke api neraka kalau kau terus menerus menggangguku” jawab Tiffany panjang lebar.

“Apakah anda sungguh bisa melihat saya?” pria itu mengulangi pertanyaan yang sama.

“Yaak!! Kau tidak mendengar ucapan ku tadi?!” emosi Tiffany semakin tinggi.

Pria dihadapan Tiffany cepat cepat bangkit berdiri. Dengan raut muka senang dia berkata.

“Akhirnya ada seseorang yang bisa melihat saya” ucapnya membuat Tiffany mendengus tak percaya.

“Aku sangat senang anda bisa melihat saya” lanjutnya begitu bersemangat. “Aku tidak peduli” balas Tiffany

“Jadi berhentilah menggangguku dan muncul dihadapanku!!” tegas Tiffany.

“Noona. Anda begitu kasar sekali. Saya hanya merasa senang karena akhirnya ada seseorang yang bisa melihat saya” komentar pria itu.

“Noona?!? Yaak!!! Siapa Noona mu? Kau kira berapa usia mu, haa!? Kau bahkan sudah berusia ratusan atau bahkan ribuan tahun! Ohh, jinja!!” Tiffany melenguh.

“Dasar kau nafas bau mayat!!” bentak Tiffany keras dan kasar.

“Nafas bau mayat?” pria itu tertegun mendengarnya.

“Anda menyebut saya nafas bau mayat?” ulang pria itu.

“Wae? Apa masalah untukmu? Aah, aku lupa kau bahkan tidak bernafas lagi sekarang” ledek Tiffany terkekeh, pria itu menatap nya dengan tatapan tersinggung.

“Siapa anda, berani sekali mengatakan hal semacam itu!” runtuk si pria.

“Hunter” jawab Tiffany singkat.

“Hunter?” pria itu bertanya tanya.

“Kau tidak tau? Hunter?” tanya Tiffany balik dan tepat seperti dugaan Tiffany, pria itu tidak tau.

“Hunter seorang pemburu. Pemburu makhluk makhluk seperti mu. Seperti yang ku katakan tadi. Aku bisa melihat, mendengar, menyentuhmu seakan akan kau manusia. Dan aku bisa mengirimu pergi dari dunia ini menuju panasnya api neraka”

“Jadi kalau kau tak ingin merasakan rasanya terbakar api di neraka. Jangan sekalipun muncul di hadapanku dan pergi dari kamar ku!”

Tiffany menatap pria itu dengan tatapan menakutkan. Entah dengan alasan apa, sosok hantu pria itu akhirnya menghilang dan lenyap. Membuat Tiffany tersenyum senang.

“Yaah ternyata menangani hantu Korea jauh lebih mudah dibanding hantu hantu bule menyebalkan disana” dengusnya tersenyum penuh kemenangan.

***

Terkutuklah semua hantu di penjuru muka bumi! Baru saja kemarin kupikir akan jauh lebih mudah menangani hantu di Korea ternyata, euh!! Menyebalkan! Bahkan sekarang di sekolah baruku ini si nafas bau mayat, hantu josseon pendek itu mengikuti ku! Aku kira dia sungguh pergi dari kamarku, yeah kamarku. Tapi cuma kamarku, dia dimana mana berkeliaran di rumah. Dia bahkan mengikuti ku ke sekolah! Tunggu saja setelah pelajaran ini berakhir akan kukirim dia ke neraka. Biar dia tau rasanya tersiksa panas api neraka. Berani sekali dia menggangguku di sekolah. Ini sekolah baruku, jika dia terus mengikutiku. Aku tidak tau apa aku bisa menahan emosi ku lagi atau tidak, dan ini berbahaya kalau aku tidak bisa menahan emosiku. Yeah, aku akan dikenal sebagai anak baru yang aneh. Seperti yang terjadi di sekolah sekolahku sebelumnya. Tiffany wanita aneh pecinta hantu. Aku tidak mau lagi mendapat cap itu di Korea. Di kehidupan baruku. Tidak lagi.

***

Author POV

Tiffany berjalan lurus dengan langkah yang lebar dan cepat di koridor sekolahnya yang panjang. Dibelakangnya sesosok hantu pria berpakaian ala jaman joseon mengikuti.

“Noona tunggu” pria itu berteriak, meski bisa mendengar suara si pria Tiffany tidak mengindahkan nya sedikit pun.

“Dia berjalan cepat sekali” gerutu pria itu kesal.

Begitu cepatnya Tiffany berjalan, menyebabkan si pria kehilangan jejak. Pria itu hanya bisa melihat sekilas bahwa Tiffany berbelok ke arah kanan di ujung koridor. Maka tanpa membuang waktu si pria mengejar Tiffany. Dia berjalan ke ujung koridor, berbelok ke arah kanan dan ….

HUP….

BRUGG ….

Pria itu kini tersudut di tembok.

“Noona, apa yang anda lakukan?” pekik pria itu.

Tiffany, sedetik yang lalu telah menarik pria joseon ini. Menyudutkan dia ke tembok dan menahan nya dengan membekap dadanya menggunakan sikutnya.

“Kau!!” hardik Tiffany.

“Apa kau benar benar ingin merasakan api neraka?!? Haa?!!” lanjutnya.

“Noona, saya mohon lepaskan saya. Ini sangat tidak sepantasnya” balas pria itu mengingat posisi mereka saat ini yang begitu dekat.

“Noona? Jangan panggil aku seperti itu! Kau bahkan lebih tua ratusan tahun dariku!!” kata Tiffany.

“Dan kau! Kenapa kau mengikuti ku! Sudah kubilang lenyap dari hadapanku! Ahh jinja?! Apa kau mengerti bahasa? Apa kau butuh kekerasan untuk mengerti?!” lanjut Tiffany.

“Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu” kata si pria.

“Dae, kalau begitu katakan! Palli katakan!!” jerit Tiffany keras.

“Aku tidak ingin mengatakan apapun” kali ini muncul suara lain, bukan suara Tiffany atau pria yang dibekapnya saat ini.

Tiffany menoleh dan terkejut menemukan seorang gadis cantik berambut ikal panjang yang begitu anggun, menatapnya dengan tatapan aneh.

“Oh my good” ucap Tiffany lirih.

***

Aku benar benar merasa seperti pencuri yang tertangkap basah. Yeah, kau tau! Gadis itu melihatku, membekap pria ini di tembok. Oh tidak, kuralat. Dia hanya melihatku membekap tembok dan berbicara seorang diri karna dia tidak bisa melihat si nafas bau mayat ini. Dia pasti menganggapku aneh.

“Aku tidak ingin mengatakan apapun” ulangnya lagi.

Yeah, kau tidak akan mengatakan apapun.

“Hahahaaa…” kucoba tertawa.

“Ahh, ani kau tidak perlu mengatakan apa apa” kataku mencoba akrab.

“Yeah, kau tau. Yang kulakukan tadi. Aku… Aku sedang mencoba berakting” ucapku, dan aku yakin dia menganggapku semakin aneh.

“Berakting?” tanya nya.

“Yeah, akting. Berpura pura. Akting, kau tau kan?” aku berusaha bersikap sewajar mungkin, tapi entah bagaimana penilaian nya.

“Oh, kukira kau sedang apa” katanya lagi.

“Kau seperti sedang membekap seseorang. Tapi tidak ada siapa siapa disitu, hehe” lanjutnya terkekeh.

“Tidak, Noona. Saya disini. Noona ini sedang membekap saya. Tolong selamatkan saya, dia sungguh wanita kejam” secara tiba tiba si nafas bau mayat berkomentar membuatku tak tahan untuk tak membalasnya.

“Aku tidak akan membekapmu jika kau berhenti menggangguku!!” kataku dan Tiffany pabbo, gadis itu kembali berdengit melihatku. Aku yakin, aku pasti semakin aneh di matanya.

“Kau murid baru kan? Pelajaran akan dimulai lagi. Ayo kembali ke kelas” ajaknya.

Aku mengangguk menuruti. Dan walau dia mengajaku kembali, dia tidak benar benar mengajaku. Gadis itu meninggalkan ku dulu kembali ke kelas. Mungkin dia tidak mau berjalan bersama orang aneh sepertiku. Aku menyusul gadis itu, setelah menyempatkan diri menatap nafas bau mayat dengan tatapan peringatan bahwa waktu nya akan berakhir sebentar lagi. Game over.

***

Author POV

Suasana kacau dan bingung menyambut Tiffany, ketika ia tiba di kelas.

“Itu dia!” seru seorang gadis yg rambutnya dikuncir seperti ekor kuda.

“Seohyun lah pelakunya” lanjut gadis itu. Semua anak yang berada di ruangan itu memperhatikan Seohyun dan saling berbisik.

“Melakukan apa?” Seohyun, gadis yang dituduh yang baru saja tiba di kelas bersamaan dengan Tiffany bertanya kebingungan.

“Kau yang mencuri uang Sungbin bukan?” tuduh gadis berkucit ekor kuda bernama Heebon.

“Uang Sungbin dicuri?” Seohyun terkejut.

“Tidak usah berlagak kaget seperti itu, kau pasti pelakunya” Heebon bersikukuh.

“Tidak, bukan aku” aku Seohyun.

Sungbin korban pencurian memandang Seohyun mulai menilai dengan penilaian seadanya yang dia bisa. Begitu pula Tiffany. Dia memang tidak mengenal baik Seohyun. Tapi Seohyun, gadis yang tadi memergoki nya di koridor, terlihat tidak seperti seorang pencuri. Tiffany tak yakin Seohyun melakukan itu.

“Sudah, mungkin bukan Seohyun” Sungbin ambil suara.

“Bagaimana bisa bukan dia? Cuma dia yang ada di kelas saat jam olahraga” Heebon terus berargumen.

“Jeongmal, bukan aku yang mengambil!” Seohyun meyakinkan, ekspresinya pucat karena merasa terpojokan.

“Bukan dia yang mengambil” kini giliran si hantu pria joseon yang bicara tentu saja hanya Tiffany yang bisa mendengarnya.

Tiffany mendengus kesal dan kembali memasang tatapan sadis seakan mau menerkam.

“Kau masih disini!? Pergilah berlindung. Kau tau kan kalau aku akan mengirimu ke neraka setelah ini” katanya berbisik lirih ke hantu pria joseon, takutnya Tiffany disangka gila jika spontan berteriak dalam suasana genting seperti ini.

“Katakan pada mereka bukan gadis itu pelakunya” hantu pria joseon itu berkata lagi, kali ini sedikit memaksa.

“Waah…” Tiffany terheran.

“Kau memaksa ku sekarang? Kau benar benar tidak sabar pergi ke nereka?” lanjutnya.

“Katakan pada mereka bukan gadis itu pelakunya!” hantu joseon itu mengulangi lagi dengan tekanan disetiap kata yang mengesankan bahwa dia sedang membentak atau memaksa kasar. Tiffany menggigit bibir bawahnya kesal.

“Awas kau!” umpatnya dalam hati.

“Katakan!” bentak hantu pria joseon itu, kentara sekali dia emosi dan seketika itu pula Tiffany merasakan aura di ruangan itu berubah menjadi suram dan menakutkan. Tiffany bergidik, walaupun dia seorang Hunter tapi tiap kali para hantu menggunakan emosi dan menimbulkan aura kelam seperti ini rasanya sungguh menakutkan. Seakan tidak akan ada lagi kebahagiaan disekelilingmu.

“Bukan dia pelakunya” Tiffany akhirnya menuruti perkataan hantu pria joseon itu.

“Pelaku pencurian uang itu, bukan dia” ulang Tiffany

To be continued~

15 thoughts on “Destiny – Taeny Fanfiction [ Chapter1]

  1. hellooi…
    kuyakin itu cowok joseon itu taeyeon. ini hampir mirip dg seri barat ghost whisperer tp beda karakter dan tokoh tp cuma bs melihat dan mendengar hantu.
    kutunggu lanjutannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s