PERHAPS – YULSIC FANFICTION CHAPTER 5 – END

Image

PS : FF ini tamat juga akhirnya. Terharu TT.TT lama sekali aku baru menyelesaikan 5 chapter saja karena banyak sekali halangan. Dan masih ada readers setia yang mau baca. Semoga ending nya tidak mengecewakan dan aku bisa menyelesaikan FF lain yang belum terselesaikan (Catch me, Paparazi, Destiny). Enjoy this ^^

Tittle    : Perhaps – CHAPTER 5 (END)

Author : Julay

Genre  : Gender Bender, School Life, Romance

Cast     : Yuri, Jessica, Seohyun, Sooyoung, Sunny, Hyoyeon, Yoona SNSD

***

Sooyoung menatap makanannya tak berselera. Ganjil sekali karena biasanya dia bersemangat dengan urusan makanan. Hyoyeon yang berada disebelahnya juga turut melakukan hal serupa. Mereka tidak menggubris makanan sama sekali. Hanya merenung dan sesekali mendengus. Sunny dan Jessica menatap mereka dengan tatapan heran.

“Kalian kenapa?” tanya Sunny perhatian

“Kenapa Seo songsaenim harus berhenti mengajar dan memilih melanjutkan studi ke Austria” kata Hyoyeon

“Terus …” Sunny tak paham

“Guru baru itu sangat menyebalkan” jawab Sooyoung, Hyoyeon mengangguk menyetujui

Sunny mendengus tak percaya dengan apa yang dia dengar dari kedua orang dihadapanya ini

“Kau bilang dulu Seo songsaenim medusa. Dan sekarang kau merindukanya. Aigo, dasar plin plan” ledek Sunny

“Yaah itu dulu, tapi sekarang songsaenim yang menggantikan nya jauh lebih buruk” kata Hyoyeon

“Bayangkan saja tugas yang dia berikan pada kita. Banyak sekali dan memakan banyak waktu, sementara kita berdua harus berlatih untuk pertandingan. Dan dia tidak memberi dispensasi atas itu” terang Hyoyeon

“Setidaknya Seo songsaenim mempunyai wajah yang baik untuk dilihat walau sifatnya buruk. Sementara yang satu ini, wajah dan sifat tidak ada baiknya. Paket komplit” tambahi Sooyoung, Jessica tertawa kecil mendengarnya sementara Sunny menggeleng gelengkan kepala tidak percaya dengan ucapan mereka.

“Oya, dimana Yuri?” tanya Jessica

“Dia sedang berlatih” jawab Hyoyeon enteng

“Sebagai kapten TIM dan pemain andalan dia mempunyai beban berat sekali. Karena itu dia berlatih keras” lanjutnya

“Dan kalian tidak berlatih?” tanya Sunny

“Tanpa berlatih pun kami sudah ahli, jadi buat apa membuang tenaga” Sooyoung tersenyum bangga, Sunny mendengus geli

“Kalau kau berhasil mencentak point paling banyak di final nanti aku akan mentraktirmu makan selama sebulan penuh” tantang Sunny

“Jinja?” mata Sooyoung membulat

“Bagaimana denganku?” tanya Hyoyeon

“Kau juga” jawab Sunny

“Baiklah, kau lihat nanti ya” Sooyoung bersemangat

“Memangnya kapan pertandingan final nya?” tanya Jessica

“Sabtu minggu ini” jawab Sooyoung

“Sabtu?” ulang Jessica

“Ya, sabtu. Dua hari lagi” Hyoyeon yang menjawab kali ini

Jessica terdiam. Memang sudah hampir sebulan sejak hari di taman Yuri bercerita dia putus dengan Seo songsaenim. Dan sudah sebulan pula Seo songsaenim meninggalkan sekolah. Tapi ternyata waktunya semakin sempit. Tinggal dua hari lagi waktu Jessica, sama dengan hari dimana pertandingan final itu akan terjadi.

***

Krystal masuk ke dalam kamar Jessica tanpa mengetuk pintu sebelumnya karena memang pintunya terbuka. Dia duduk di ranjang Jessica dan memperhatikan Jessica tengah sibuk memasukan berbagai macam barang ke dalam dus.

“Kau sudah selesai dengan kamar mu?” tanya Jessica mengetahui kehadiran Krystal

“Sudah” Krystal mengangguk kecil

“Ahh, ini berat sekali” Jessica memindahkan sekotak dus kesamping lemarinya

“Perlu kubantu?” Krystal menawarkan diri

“Tidak, ini sudah selesai” tolak Jessica

Jessica mengelap keringat di dahinya. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh kamarnya. Sudah tidak ada barang yang tersisa. Semua sudah tertata rapi dalam dus. Hanya perabot saja yang takan muat dimasukan dalam dus. Jessica lalu menatap kalender yang terpasang di dindingnya yang sengaja ia tinggalkan untuk dirapikan belakangan.

“Tinggal dua hari lagi” katanya

“Kita sekeluarga akan pindah ke Amerika” sambung Krystal

“Tidak, pertandingan finalnya dua hari lagi” jelas Jessica

“Eonni, kau tidak juga menceritakan pada Yuri Oppa kalau kita akan pindah. Padahal kau berkata pada Kwon ajusshi dan ajumma kau sendiri yang akan mengatakanya” tanya Krystal

“Tidak, kurasa lebih baik dia tau setelah kita tidak disini” jawab Jessica

“Waeyo?” Krystal tak mengerti

“Karena akan menganggu pertandingan final nya” Jessica berkilah

“Kenapa tidak katakan dari awal?” Krystal terus bertanya

“Aku lupa” jawab Jessica

“Bagaimana bisa lupa untuk memberitahunya?” Krystal menatap kakak nya tak percaya

“Bisa saja. Sama seperti kau lupa membawa buku ke sekolah” elak Jessica

“Itu berbeda” Krystal mulai geram

“Kalau memang eonnie tidak sanggup mengatakanya biar aku yang katakan” Krsytal bersikukuh

“Jangan” tolak Jessica

“Wae? Kau takut melihatnya sedih lalu menangis?” Krystal menganalisa

“Justru karena aku takut melihat nya tidak menangis sementara aku akan menangisi ini terus menerus” jawab Jessica

“Kenapa dia tidak akan menangis. Eonni kau temanya sejak kecil” kata Krystal

“Yuri. Dia … dia tidak menangis ketika harus berpisah dengan orang yang dia cinta, lalu kenapa dia akan menangisi ku yang hanya teman nya” terang Jessica

“Tentu saja, kau sahabat nya bahkan sejak kecil” Krystal meyakinkan

“Persahabatan dan cinta itu sama saja. Kau, tidak bisa memilih diantara keduanya. Jika kau memperlakukan cinta mu seperti ini maka kau akan memperlakukan sahabatmu pula seperti itu. Tidak ada bedanya” Jessica menjelaskan pikiranya

“Jadi lebih baik kita tidak memberitaunya saja”

***

Sabtu pun tiba. Jessica duduk di salah satu bangku penonton untuk menyaksikan pertandingan final sekaligus melihat Yuri bermain basket terakhir kali. Sunny duduk tepat di sebelahnya memandang Jessica dengan tatapan syarat akan banyak pertanyaan.

“Ada apa?” Jessica mengerti makna tatapan Sunny

“Kau akan pergi? Setelah ini?” tanya Sunny, Jessica mengangguk kecil

“Mungkin sebelum pertandingan selesai aku akan pergi” jawabnya

Terlampau bingung untuk membalas perkataan Jessica, Sunny merespon ucapan Jessica tersebut dengan pelukan erat. Jessica tersenyum dan membalas balik pelukan Sunny.

“Aku akan merindukanmu” Sunny akhirnya bisa mengatakan sesuatu

“Kita masih bisa berkomunikasi” balas Jessica

“Tapi berbeda rasanya melalui dunia maya dan bertemu secara langsung” Sunny melepas pelukannya, Jessica menghela

“Yah, memang tak sama” akuinya

“Kau sudah memberi tau Yuri kan kalau kau akan pergi hari ini?” tanya Sunny, Jessica menggeleng

“Belum” jawabnya singkat

“Kurasa lebih baik dia tau setelah aku tidak disini” sambung Jessica

“Michoso?” umpat Sunny

“Kau tidak memikirkan perasaanya kalau dia mengetahui kau pergi setelah kau tidak disini? Yaak, kalian berteman sejak kecil dan hal seperti itu saja kau tidak berani memberi tau. Kalau kau tidak memberi tau ku saja aku akan marah. Padahal pertemanan kita tidak selama kau dan Yuri” Sunny menjejali Jessica dengan kalimat kalimat panjang

“Lalu apa yang harus kulakukan?” Jessica bingung

“Temui dia. Katakan padanya kau akan pergi” saran Sunny

“Lalu pertandinganya? Itu akan mengacaukan pikiranya”

“Akan lebih kacau jika dia melihatmu tiba tiba pergi saat pertandingan berlangsung dan itu adalah saat terakhir dia melihatmu di Korea” Sunny membeberkan pendapatnya

Jessica menggigit bibir bawahnya. Perasaan bimbang memenuhi pikiranya. Apa yang harus dilakukan nya sekarang? Tetap sesuai rencana atau mengikuti saran Sunny. Dia tidak tau.

***

Yuri berusaha menetralkan detak jantung nya dengan berjalan mondar mandir. Dia sangat gugup menghadapi pertandingan final nantinya. Ada beban di pundaknya untuk membawa TIM sekolahnya menjadi juara di pertandingan itu.

“Yul” seseorang memanggil, Yuri menoleh dan mendapati Jessica tersenyum kepadanya

“Yaak, Soo Yeon kenapa kau kesini?” tanya Yuri heran

“Tentu saja untuk menemuimu” jawab Jessica, Yuri membalas dengan senyuman simpul

Belum sempat Jessica dan Yuri berbincang lama, Sooyoung muncul dan mengatakan bahwa pertandingan akan segera dimulai. Yuri menepuk pundak Jessica seakan berpamitan bahwa ia harus pergi untuk bertanding. Jessica mengangguk kecil dengan memasang seutas senyum kecil di bibirnya. Seiring dengan punggung Yuri yang mulai menjauh dari pandanganya. Jessica menghirup nafas banyak banyak, berusaha untuk menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Dia kemudian berjalan mendekati sebuah tas ransel berwarna biru tua dan meletakan sepucuk surat di atasnya.

“Goodbye Yul” ucapnya lirih

***

Pertandingan final berjalan sangat sengit. Lawan yang harus dihadapi Yuri tidaklah semudah yang ia prekdisikan. Yuri harus mengeluarkan tenaga ekstra dalam pertandingan ini. Berbekal bakat dan kekompakan TIM yang ada Yuri dapat mencentak poin dalam pertandingan tersebut begitu juga Sooyoung serta Hyoyeon. Yuri bahkan berhasil mencentak banyak poin dalam pertandingan final ini. Dan akhirnya berhasil membawa TIM sekolahnya keluar menjadi juara. Semua penonton bersorak ketika Yuri selaku kapten TIM mengangkat piala yang ia terima tinggi. Mengekspresikan kesenanganya yang luar biasa. Euforia berlanjut hingga ke ruang ganti. Semua anggota TIM senang karena mereka berhasil merebut juara pertama dan juga mempertahankan gelar tersebut selama tiga tahun berturut turut. Sukacita meliputi ruangan tersebut. Tidak ada satupun diantara mereka yang tidak gembira termasuk Yuri. Tapi kegembiraan Yuri terhenti sesaat karena melihat sepucuk surat berada di atas ransel miliknya. Sebuah firasat yang tidak dapat diungkapkan Yuri muncul. Perasaanya menjadi aneh ketika melihat surat itu. Surat itu seperti pertanda, yang menurut firasat Yuri adalah yang buruk.

Yul, aku akan pergi ke Amerika. Yeah, kau benar Amerika. Keren bukan?

Appaku mendapat panggilan pekerjaan disana jadi kami sekeluarga pindah kesana.

Aku tidak membayangkan aku akhirnya tinggal disana. Heol, seharusnya aku membiarkan saja rambutku berwarna pirang. Bukankah dengan begitu aku akan terlihat sebagai penduduk lokal disana?

Dan selamat untuk pertandinganmu, aku tau kau pasti berhasil merebut juara pertama. Tidak perlu diragukan lagi, hehe~

Oya, saat kau melihat langit dan sebuah pesawat melintas di atasnya. Disitulah aku berada.

Maafkan aku tidak bisa memberitau mu kalau aku harus pergi bertepatan dengan pertandingan final mu. Kurasa, kau juga tidak bisa mengantarkanku ke bandara karena pertandingan ini dan daripada membuatmu merasa tak enak bukankah lebih baik tidak kukatakan saja. Bagaimana aku cerdas bukan? Kekekeke~

Sepertinya aku sudah kehabisan kata untuk kutulis. Aneyong Yul …

“Sooyeon …”

Yuri berlari keluar dengan panik membawa ransel biru tua nya setelah ia selesai membaca isi surat tersebut. Tidak dipedulikan terikan Hyoyeon memanggil namanya firasat yang dirasakanya benar. Jessica akan pergi, meninggalkan dia. Jauh diluar jangkauanya. Begitu tiba diluar ruangan Yuri menengadahkan kepala nya ke langit barangkali ada pesawat yang melintas atau bila tidak ada pesawat yang melintas masih ada waktu baginya untuk mengejar Jessica ke bandara. Yuri mengambil handphone berusaha menghubungi Jessica. Tak ada jawaban. Jessica mematikan teleponya. Yuri memaki kesal. Dia kemudian berlari kencang menuju halte bus terdekat. Pasti dia bisa menemui Jessica di bandara sebelum Jessica pergi. Dia harus menemui Jessica. Yuri harus mengatakan bodoh dan membentak Jessica kasar karena tidak memberi tau tentang kepergianya. Dia harus mengatai Jessica karena berbohong kepada dia yang adalah teman sejak kecil bahkan sejak mereka dilahirkan. Yuri harus menyundul kepala Jessica dulu sebelum ia pergi dan mengatakan apa yang dipikirkanya sampai dia tidak mengatakan pada Yuri. Apa otak pintarnya hanya berlaku pada saat pelajaran saja, kenapa dia harus menyembunyikan ini. Memikirkan itu Yuri semakin menambah kecepatan berlarinya. Sesekali dia memandang langit melihat bahwa belum ada pesawat yang melintas dan artinya Jessica masih belum pergi. Nafas Yuri tersengal, dia bahkan berlari lebih kencang daripada mengejar bola di lapangan tadi. Yuri harus dan harus bertemu Jessica. Jessica tidak boleh pergi sebelum, sebelum dan brugg …

Yuri terjatuh. Dia terlalu lelah. Tenaga nya sudah habis pada pertandingan tadi. Detak jantungnya tidak karuan dan nafasnya benar benar berantakan. Tidak, dia harus berdiri dan berlari lagi. Yuri harus secepatnya menuju halte menaiki bus atau taxi dan menuju bandara. Ketika Yuri berusaha bangkit dan berlari lagi tanpa sengaja dia memandang ke langit. Dan sebuah pesawat melintas tepat dihadapanya. Bola matanya membulat seketika, sebuah kalimat pada surat Jessica terlintas di kepalanya seperti alaram yang sudah di set. Yuri terjatuh lagi. Dia diam mematung. Hanya ada suara detak jantungnya yang semakin tidak beraturan.

“Aniya. Itu bukan pesawatnya. Dia masih ada di bandara” Yuri meyakinkan diri

“Kau harus bangun Yul” ucapnya pada diri sendiri

“Dae, ayo berdirilah” lanjutnya

Yuri berusaha bangkit berdiri, lututnya bergetar dan ia terjatuh lagi. Dada Yuri mencelos begitu dalam sebuah firasat lagi merasukinya. Sebuah pertanda membisikan di telinganya bahwa pesawat itu ada pesawat yang dinaiki Jessica. Tidak! Yuri berusaha mengelak. Jessica tidak akan pergi begitu saja tanpa menungguku. Dia akan menungguku datang. Dia tidak boleh pergi! Aku belum memarahi, memakinya, mengatainya. Bagaimana mungkin dia pergi. Begitu saja. Tanpa memberitauku? Tidak menungguku?  Dia tidak boleh pergi. Kau tidak boleh pergi Sooyeon. Kau tidak boleh meninggalkanku begitu saja. Yuri terus berkata kata dalam hatinya yang semakin lama terasa sesak. Seperti oksigen dalam darahnya telah hilang. Dan detik berikutnya tanpa ia sadar air mata nya telah berhasil keluar membasahi pelupuknya. Yuri menyeka air mata itu. Namun begitu menyadari kalau dirinya telah menangis. Sebuah ingatan muncul di kepala Yuri. Ingatan Yuri akan perkataan Jessica sebulan yang lalu di taman malam itu.

Jika kita mencintai seseorang dan orang itu akan berpisah dengan kita. Hati kita akan merasa sedih dan karena itu kita selayaknya akan menangis

Yuri tercekat, tak bisa bersuara dengan apa yang ia sadari sekarang. Dia menyukai Jessica. Yuri mengepal tanganya erat lalu memukulkan ke tanah seakan itu tak sakit sama sekali. Dia berteriak keras seperti meronta kesakitan. Mengelak dengan apa ia temukan tentang hatinya. Yuri terus berteriak seperti orang gila dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Dia menangis sejadi jadinya. Yuri kehilangan. Seseorang yang baru ia sadari kalau ia mencintainya.

***

Gadis itu tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya tertata rapi, make up yang digunakan nampak natural. Dia terlihat sempurna.

“Ahh, neomu yeoppotta” pujinya

Setelah berputar dua kali, ke kanan kemudian ke arah kiri. Gadis itu mengangguk yakin. Dengan bersenandung kecil dia berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangan tempat dia berada saat ini.

“Omo! Yaa Jung Sooyeon!!” teriak Appa nya melihat penampilanya yang baru

“Kau apakan lagi rambut mu, haa?” sentaknya meninggi

Gadis itu mendengus tak percaya. Sekali lagi Appa nya memperlakukan hal yang sama. Padahal ini bukan kali pertama dia berpenampilan seperti itu.

“Appa dengar, sudah setahun lebih kita tinggal disini. Apa salahnya jika aku membaur dan berusaha tampak seperti penduduk lokal” jelas gadis itu

“Membaur?” mata Appa nya membelalak

“Kau tidak membaur, kau berusaha melupakan jati dirimu sebagai orang Korea” sentak Appa nya

Gadis itu mendengus benar benar tak percaya dengan jalan pikiran Appa nya sungguh tak terselami.

“Astaga Appa!!!” runtuknya kesal

“Yaak!! Jung Sooyeon kau berani membentak Appa mu. Dasar kau …” Appa gadis itu berusaha melemparkan koran yang ada ditanganya

Tak ingin menjadi korban dari serbuan koran gadis itu berjingkat lari secepat mungkin dari dalam rumahnya. Dia membuka pintu depan sambil tetap berlari kecil dan sesekali menoleh ke belakang. Gadis itu tidak begitu memperhatikan pandangan ke depan dan brugg … Dia berhasil terjatuh dengan selamat.

“Auww” rintihnya

Dia menabrak seseorang. Orang itu kemudian mengulurkan tangan nya. Gadis itu menengadah ke atas mencoba mengenali siapa yang ditabraknya.

“Kwon Yuri …” ucapnya bergetar tak percaya

Pria itu tak membalas. Ia justru membantu gadis tersebut untuk bangkit.

“Kau masih tetap saja. Rambutmu” katanya memperhatikan si gadis dari ujung kaki hingga kepala

“Yul, bagaimana kau bisa kesi …” belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Sang pria tanpa tedeng aling aling memeluknya begitu saja. Sangat erat.

“Saranghae …” bisik pria itu membuat mata si gadis membulat sempurna

Pria tersebut semakin mempererat pelukanya seperti tak ingin terpisahkan lagi. Gadis yang terperanga sesaat tersebut kini tersenyum bahagia. Dia membisikan suatu kata sebagai balasan akan perkataan si pria.

“Nado …” katanya

“Cinta itu bukan seperti Cinderella yang mempunyai batas waktu tertentu. Dia bisa datang tiba tiba ataupun terlambat. Jadi baca pertanda nya dan ikuti firasat nya itu”

THE END

19 thoughts on “PERHAPS – YULSIC FANFICTION CHAPTER 5 – END

  1. eh ini udah end thor?? cepet banget T.T

    akhirnya yul sadar juga kalo dia sebenernya suka sama sica walaupun terlambat… emang kudu di tinggal sica dulu biar nyadar itu yul.. *jitakyulpabo

  2. “Cinta itu bukan seperti Cinderella
    yang mempunyai batas waktu
    tertentu. Dia bisa datang tiba tiba
    ataupun terlambat” <~gue suka banget katanya xD

    akhirnya nih ff kelar juga dr tahun 2013-2014 loh ckck gila setahun bro😦 #plak

    di tunggu next ff nya yah '0'

  3. aigo… bener kan mewe mewe yul jadinya hahahah… tapi masih penasaran bagaimana bisa yul bisa sampai ke america, dan menemukan sica
    hahha ditunggu sequelnya hahah

  4. Huaaaaaa…………. Suka suka suka,tapi masa gx ada adegan romantisnya sih??????
    Kasian mbak jessjung sekian lama menunggu cuman dapet pelukan dan kata “saranghae” doank??😄

  5. Wahh ada yang mewek gara gara ditinggal tuhhhh #ngelirik yuldad
    Untung author nya baik yuldad dipertemukan sama jessmom cobak enggakk mewek dah luu!!!!

    Well, HAPPY ENDING ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s