Can You Hear Me – Chapter 1

Image

PS: Annyeong, ini author bawa FF baru. Happy reading dan jangan lupa comment yaa….^_^

Title                 : Can You Hear Me – Chapter 1

Author             : JJYoung

Genre              : Romance, Fantasy

Length             : Chaptered

Cast                 : Im Yoona, Wu Yi Fan a.k.a Kris, Oh Sehun a.k.a Im Sehun, Lee Yeon Hee, Zhang O-Huang (OC), Shin Cheonsa (OC).

***

Yoona mengangkat telapak tangan kanan mendekati bibirnya lalu menggerakkannya turun secara perlahan. Beberapa detik kemudian ia mengulas senyum menyusul gerakannya tadi. Astaga! Ia hampir lupa dengan gerakan terakhirnya.

“Gamsahamnida…”

Tepuk tangan riuh rendah bergaung memenuhi seisi ruangan yang mirip tribun Olympic Stadium bersamaan dengan berakhirnya presentasi Im Yoona tentang bagaimana teknik hacking yang akhir-akhir ini sering digunakan untuk membobol data-data badan intelijen dibeberapa negara.

Im Yoona tersenyum simpul di akhir presentasinya. Sejujurnya, ia hampir lupa caranya tersenyum. Ia tidak pernah lagi melakukannya kecuali ia terlibat dalam suasana yang benar-benar memaksanya untuk tersenyum. Untuk yang tadi, ia juga hampir lupa untuk tersenyum kalau saja Zhang O-Huang tidak harus memahami maksudnya.

Senyum itu mutlak diperlukan.

***

“Yoona, kemana kau akan pergi?” Tanya O-Huang menepuk pundak kiri Yoona.

Yoona mengerutkan alis sambil memandang wanita keturunan China di depannya. O-Huang memang warga China, tapi jangan tanyakan soal kemampuan berbahasa Koreanya. Siapapun tidak akan tahu kalau dia orang China kalau tidak dia sendiri yang mengatakannya –dalam bahasa China pula.

Yoona menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan O-Huang. Ia menunjuk mobil  yang diparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri lalu memberikan kunci mobilnya kepada O-Huang. Yoona mengibas-ngibaskan tangannya diudara agar Zhang O-Huang mengerti.

O-Huang tersenyum kecut menanggapi Yoona. Ia sudah hafal gerak-gerik Yoona kalau ia sudah sampai memberikan kunci mobilnya segala. Tapi O-Huang sudah lama bersama Yoona. O-Huang tahu benar bahwa Yoona ingin mengikutinya saja kemanapun dirinya pergi. Hampir tiga tahun, jadi ia mengerti maksud Yoona sebenarnya.

“Bilang saja kau malas menyetir.” Kata O-Huang yang tidak dijawab Yoona.

Yoona mengangkat bahu lalu meringsek pergi sambil menabrak-nabrak bahu O-Huang yang memang disengaja oleh Yoona. Ia berjalan mendekati Chevrolet Volt putih miliknya yang ia parkir di tempat paling pojok parkiran Pohang University tadi pagi.

Yoona mendelik melihat mobilnya. Wah, ada saingan pikirnya. Yoona memastikan mobil Chevrolet Volt putih itu miliknya, oh bukan, milik appanya yang benar. Tapi, tepat disamping kanannya ada mobil Chevrolet Volt putih juga dengan nomor plat yang berbeda. Yoona mengerutkan kening.

“Yang mana mobilmu Yoona?” Tanya O-Huang yang ikut bingung mana mobil Yoona diantara dua mobil yang sama persis model dan merknya.

Suara pintu mobil terkunci terdengar sampai telinga Yoona dan O-Huang. Mereka menolehkan kepala ke arah pria jangkung yang sedetik kemudian berbalik setelah memastikan mobil Chevrolet Voltnya aman terpakir ditempatnya.

Begitu terperanjatnya O-Huang setelah melihat sosok pria yang baru saja berbalik.

“Ni ne?” Sapa O-Huang dalam bahasa ibunya. Pria itu juga ikut mengerutkan keningnya menatap wajah O-Huang yang sama terperanjatnya dengan dia. Beberapa saat kemudian, mereka saling  tersenyum membalas satu sama lain.

Yoona diam saja. Sepertinya mereka saling mengenal. Ia hanya berharap, dua orang itu tidak akan bertingkah berlebihan saat bernostalgia karena sepertinya sudah tidak bertemu selama jutaan tahun.

“Wu Yi Fan. Aku benar kan?” Kata O-Huang dalam bahasa yang sama sekali tidak dimengerti Yoona. Yoona sebenarnya sangat sebal saat mendengar O-Huang berbicara dalam bahasa mandarin. Tentu saja karena ia tidak mengerti. Seperti ia bersama alien saja.

“Zhang O-Huang, lama tidak melihatmu. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini. Kau kuliah?” Tanya pria yang tadi disebut O-Huang dengan Wu Yi Fan.

“Aku sedang bekerja.” Kata O-Huang mantap. Memang benar, ia sedang bekerja bukannya kuliah. Ia sudah menyelesaikan kuliahnya sejak lima tahun yang lalu. Bukan di Korea, tapi di tanah kelahirannya sendiri. Dan lima tahun kemudian tiba-tiba ia terdampar di Seoul dan menetap disini dengan pekerjaan yang sesuai dengan minatnya. Sebagai pengajar kelas bahasa mandarin di beberapa tempat kursus dan juga pekerjaan tambahan bersama Im Yoona, gadis seperti boneka barbie disampingnya.

“Oh,” jawab Yi Fan yang kemudian mengalihkan perhatiannya kepada gadis disamping O-Huang, yang berdiri diam seperti patung Hachiko di Jepang.

Oh astaga! O-Huang sempat melupakan Yoona karena terperangkap pembicaraan singkat dengan Yi Fan yang menurut O-Huang sosoknya sangat mengangumkan jika dibandingkan dengan dulu saat masih menjadi tetangganya. Yi Fan tumbuh dengan baik setelah ia pindah ke Kanada. Ia berubah menjadi sosok yang keren menurut O-Huang.

“Oh, aku hampir melupakanmu.” Kata O-Huang sambil merangkul pundak kiri Yoona. Yoona yang merasa diberi perhatian oleh dua makhluk China itu hanya tersenyum hambar.

“Perkenalkan,” O-Huang memulai dalam bahasa Korea agar bisa dipahami Yoona yang memang tidak berpengalaman dalam bahasa China, kalau Inggris mungkin iya. “Ini Wu Yi Fan dan Yi Fan, ini Im Yoona.” Tambahnya tetap dalam bahasa Korea.

Sepertinya Yi Fan mengerti bahasa Korea. Buktinya, ia mengangguk setelah O-Huang memperkenalkannya pada Yoona. Yi Fan tersenyum lalu mengangkat sebelah tangannya seperti mengajak ber-high five.

“Annyeong.” Sapa Yi Fan yang dibalas anggukan, minus senyuman dari Yoona.

O-Huang menyenggol bahu Yoona keras. Berusaha meminta Yoona untuk lebih beramah tamah dengan kawan lamanya. Yoona menghela napas.

Yoona memandang Yi Fan kembali lalu tersenyum. Ia mengangkat tangan kanannya setinggi bahu, lalu mengeluarkan empat jarinya dengan jempol ditekuk, disusul dengan mengacungkan jari kelingking, lalu tanpa jeda ia mengacungkan jempol bersama telunjuknya dua kali.

O-Huang tersenyum, mengerti maksud Yoona.

“Katanya dia…”

“Senang juga bertemu denganmu.” Sahut Yi Fan tiba-tiba memotong O-Huang. Yoona dan O-Huang sampai terbelalak saking kagetnya mendapat jawaban dari pria berambut kecoklatan tersebut.

“Kau mengerti apa yang dimaksud Yoona?” Tanya O-Huang menyelidik. Jarang sekali ada orang yang mengerti bahasa isyarat yang biasa digunakan tunarungu maupun tunawicara. Tapi yang satu ini, fakta yang mengejutkan bagi O-Huang. Apalagi, Sign Language yang digunakan Yoona adalah standard Amerika bukanlah Korea atau bahkan China.

“Aku pernah belajar ASL kalau kau tahu.” Kata Yi Fan. “American Sign Language, yah, meskipun aku hanya tahu ‘terima kasih’ dan ‘senang bertemu denganmu’ saja.”

O-Huang mengangguk-anggukkankan kepalanya mendengar penjelasan singkat Yi Fan. Terlepas dari benar atau tidaknya, O-Huang berasumsi bahwa kemampuan Yi Fan dalam penguasaan ASL pasti didapatkan pria itu selama tinggal di Kanada, Amerika Serikat. Oke, kalau dihitung-hitung mungkin hampir sebelas tahun Yi Fan ini menghilang dari Guangzhou untuk menetap di Vancouver, Kanada. Untuk alasan itulah tidak perlu heran jika pria itu menguasai American Sign Language, atau kalau diberikan kemungkinan lain, mungkin Yi Fan hidup di lingkungan tunarungu atau tunawicara. Mungkin!

“Kau kuliah disini?” Tanya O-Huang melanjutkan dalam bahasa Korea, setidaknya agar Yoona mengerti meski ia tidak akan pernah menyahuti karena keterbatasannya.

Yi Fan menganggukkan kepalanya. “Ne. Aku sedang menyelesaikan skripsiku di fakultas Science and Technology.”

“Wah, kau sama dengan Yoona. Ia juga kuliah di fakultas itu. Sepertinya kalian akan sering bertemu.” Kata O-Huang menatap Yoona dan Yi Fan bergantian.

“Oh, bagus kalau begitu.” Jawab Yi Fan santai. Ia melirik arlojinya lalu membenarkan tas dibahunya. “Aku ada kuliah. Aku akan menghubungimu O-Huang. Sampai jumpa.” Kata Kris lalu membungkukkan badannya sebelum ia pergi.

“Oh iya,” Kata Yi Fan berbalik saat Yoona dan O-Huang hampir mencapai mobil mereka. “Panggil aku Kris saja. Aku terbiasa dengan nama itu di Amerika.” Tambahnya.

O-Huang menganggukkan kepala menyanggupi saran Yi Fan untuk memanggilnya Kris.

***

“Kris, bagaimana menurutmu?” Tanya O-Huang menyela kegiatan makan Yoona.

Yoona menggerakkan tangannya menyapu udara bebas.

Dia tinggi dan…. Tampan

“Oh, menurutmu dia tampan? Seleramu bagus juga.” Jawab O-Huang memasukkan makanan ke mulutnya.

Sepertinya dia orang yang baik

“Mmmm..” O-Huang meletakkan sumpitnya lalu mengusap-usap dagunya. “Aku tidak tahu. Dia itu bandel ketika masih kecil. Ia sering menendang bola ke tembok rumahku. Akibatnya ia sering dijewer ibuku.” Kata O-Huang disusul tawanya yang tertahan agar makanan dimulutnya tidak muncrat mana-mana.

Dia teman sekelasmu? Tanya Yoona lagi-lagi dengan bahasa isyarat.

“Aniyo. Dia lebih muda lima tahun dariku. Sepertinya seusiamu atau mungkin setahun lebih tua darimu. Ah, aku tidak tahu. Yang jelas, ia hanya tetangga usilku.” Kata O-Huang memasukkan makanan terakhir kemulutnya. Piringnya bersih tidak bersisa.

Perut O-Huang dan Yoona memang kelaparan. Ini semua gara-gara Yoona yang bangun terlambat. Padahal ia tahu benar bahwa hari ini ia ada presentasi. Akibatnya, Yoona menjemput O-Huang dadakan dirumahnya. Setelah itu ia langsung mengajak O-Huang berangkat kekampus tanpa mengizinkan ia sarapan lebih dulu.

“Yoona, sepertinya kau harus mulai berbaur dan mencari teman.” Kata O-Huang yang tiba-tiba saja menghilangkan selera makan Yoona. Yoona meletakkan sumpitnya lalu meneguk air putih dari gelas disampingnya.

Itu sama artinya kau menyuruh seluruh orang untuk belajar bahasa isyarat.

Yoona dengan jengkel menggerak-gerakkan tangannya diikuti gerakan kepalanya juga. Yoona sudah bosan dengan topik ini. Keluarganya saja yang terpaksa belajar ASL sering mengeluh saat proses belajar. Apalagi teman-temannya kelak. Mungkin mereka akan langsung membunuh Yoona agar tidak repot-repot lagi belajar bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan gadis bisu macam Yoona.

“Yoona, sudah setahun kau kuliah dengan bergantung padaku. Kebetulan saja semuanya bisa kuatasi. Kalau suatu saat aku tidak bisa, apa yang akan kau lakukan?”

Kau berkata seakan kau akan kembali tinggal di China saja.

O-Huang menghela napas menanggapi penuturan Yoona. “Bukan begitu, maksudku kau hanya perlu satu teman saja untuk membantumu.”

Satu teman itu adalah kau.

O-Huang meneguk vanilla latte yang tadi dipesannya untuk meredakan rasa gusarnya menanggapi Yoona yang sejak dulu keras kepala menutup diri. Dia bahkan tidak mau menyapa teman-temannya, apalagi untuk mengakrabkan diri. Padahal banyak sekali orang yang berusaha mendekati dia. Bagaimana tidak, Yoona adalah gadis yang cantik dengan kulit seputih porselen, ditambah lagi dengan latar belakang keluarganya yang tidak main-main. Entah itu tulus ataupun sekedar basa-basi pasti banyak teman Yoona yang berusaha dekat dengannya.

“Kau bisa berteman dengan Kris.” Kata O-Huang santai.

Yoona terkejut dengan pernyataan konyol O-Huang. Oh, sangat terkejut lebih tepat rasanya. Apa yang dimaksud O-Huang adalah Kris yang bermobil sama tadi? Benar yang itu? Oh, Ya Tuhan, apa yang dipikirkan O-Huang? Kris. Hanya beberapa jam yang lalu ia bertemu. Yoona meminta penjelasan pada gadis China itu dalam hal apa O-Huang bisa memilihkan dirinya seorang teman seperti Kris.

“Setidaknya aku juga mengenal Kris. Aku bisa membantumu mengakrabkan diri dengannya. Apalagi sikapnya tadi, sepertinya ia tertarik padamu.”

Yoona mengangkat bahu.

Setidaknya ia hafal dengan tingkah orang-orang disekitarnya. Banyak pria seperti Kris yang menunjukkan tatapan tertariknya saat pertama kali bertemu Yoona. Ya, mungkin karena paras ayu-nya dan gayanya yang berkelas. Tapi, setelah mengetahui kalau Yoona adalah gadis bisu, perlahan tapi pasti mereka akan menjauhi Yoona. Saking banyaknya pria yang seperti itu, Yoona sampai lupa siapa saja nama pria yang sudah mencoba mendekatinya.

Yoona benar-benar bersyukur bertemu dengan Zhang O-Huang. Gadis China ini memiliki hati yang baik meskipun mereka hanyalah partner kerja. Zhang O-Huang dipilih appanya untuk membantu segala aktivitas Yoona sejak tiga tahun lalu sekembalinya Yoona dari Amerika. Alasannya, sangat sulit mencari orang Korea yang mengerti bahasa isyarat standard Amerika apalagi yang cocok dengan Yoona. Yoona tipe orang pemilih. Tak terhitung berapa orang yang dipekerjakan appanya untuk menjadi penerjemah ASL Yoona.

O-Huang, jangan membahas ini lagi. Kau tahu kan sekeras apapun aku mencoba berteman, mereka akhirnya pergi juga.

Tangan kiri Yoona mengenggam tangan O-Huang. Hanya kau yang tulus.

O-Huang lagi-lagi menghela napas lalu mencoba memberi penjelasan pada Yoona yang keras kepala dan hampir putus asa dengan hidupnya sendiri.

“Im Yoona, kau ini gadis yang baik. Kau pasti akan mendapatkan teman yang baik juga.” Zhang O-Huang menatap Yoona. Kali ini dengan tatapan ibanya. Sebelumnya, ia tidak pernah menatap Yoona dengan tatapan seperti ini. Gadis bernama Yoona ini begitu baik, tapi sayangnya nasib baik enggan memberikan sentuhannya pada Yoona.

Ponsel O-Huang bergetar dalam sakunya. Ia segera merogoh jaketnya lalu dengan cepat mengangkat telpon yang masuk.

“Oh, Kris. Cepat sekali kau menghubungiku.” Kata O-Huang dalam bahasa Korea.

“Besok? Oh, baiklah. Aku akan menemuimu besok. Kabari aku dimana tempatnya.” O-Huang menutup telepon dan cepat memasukkan ponselnya lagi kedalam saku jaketnya.

Yoona menggoyangkan lengan O-Huang.

Kau sudah berjanji membantuku pindah besok.

“Iya, aku ingat Yoona. Aku akan menemui Kris setelah aku selesai membantu merapikan apartemen barumu.”

Yoona tersenyum menanggapi O-Huang. Yoona menyadari sesuatu, mulai saat ini ia harus berbagi perhatian dengan Kris si tetangga lama O-Huang itu yang tiba-tiba muncul diantara dirinya dan O-Huang.

***

“Yoona, kau benar-benar pindah?” Tanya Yuri masuk ke kamar Yoona.

Yoona menatap eonninya sebentar lalu mengangguk.

“Kenapa kau tiba-tiba pindah? Apa kau tidak nyaman tinggal bersama keluargamu sendiri?” Tanya Yuri ikut menarik koper Yoona turun dari kasurnya.

Eonni, aku akan sering mampir kesini.

Yuri tersenyum memahami bahasa Yoona. Ia menatap adiknya tulus lalu memeluknya erat seperti ia akan kehilangan Yoona selamanya. Yuri tidak tahu apa yang membuat adiknya ini tiba-tiba memutuskan pindah ke apartment. Awalnya tidak ada yang menyetujui ide Yoona untuk tinggal sendiri. Tapi Yoona sangat memaksa. Hingga akhirnya appa dan eommanya mengizinkan Yoona tinggal sendiri di apartemen.

“Yuri-ya, apa kau bersama Yoona??!! Bawa dia turun. Kita sarapan.” Teriak eomma mereka dari ruang makan di lantai satu. Yuri melepaskan bahu Yoona lalu mengajaknya turun untuk sarapan bersama anggota keluarganya yang lain.

“Yoona nuna, kau jadi pindah hari ini?” Tanya Sehun sambil menyodorkan segelas jus jambu pada Yoona. Yoona menatap adiknya lalu mengambil jus jambu itu.

Yoona mengangguk sebagai jawaban. Lalu ia melanjutkan dengan melakukan gerakan-gerakan dalam bahasa isyarat.

Kau harus rajin belajar.

Sehun mendengus. “Kenapa selalu itu yang dikatakan orang dewasa.”

Ya! Jangan bekelahi lagi hanya untuk merebutkan perempuan.

“Nuna!!!” Teriak Sehun mengagetkan appanya yang sibuk membaca headline Koran pagi ini mengenai perkembangan teknologi smartphone baru-baru ini.

“Kau harus tahu nuna, mereka yang memperebutkan aku. Aku ini kan tampan. Di seluruh SMAku aku termasuk jajaran pria paling tampan.” Kata Sehun membela diri.

Lalu kenapa bisa muka tampanmu itu babak belur kemarin lusa?

“Itu urusan pria.” Jawab Sehun memasukkan makanan ke mulutnya.

Kau menyebalkan anak ingusan. Umpat Yoona pada akhirnya.

“Hei nuna, kalau aku dewasa nanti aku akan mencari istri yang lebih cantik darimu! Kau akan menyesal mengataiku anak ingusan sekarang!” Teriak Sehun menghebohkan ruang makan.

Memang ada yang lebih cantik dariku?

Sehun membuka mulutnya lagi.

“Sudah! Kalian ini selalu bertengkar!” Teriak eommanya.

Sehun akhirnya menutup mulut tidak jadi membalas perkataan Yoona. Cukup sekian rutinitas Sehun untuk mendebat nunanya, Yoona. Walau hanya sebentar, setidaknya hari ini ia tidak absen untuk adu mulut dengan Yoona, bukan Yuri. Sehun sepertinya sangat menyayangi Yoona dibanding Yuri. Mungkin karena Sehun terbiasa dengan Yoona bukannya Yuri.

Yoona yakin setelah ini ia akan merindukan saat-saat bertengkar dengan Sehun adik kesayangannya, makan masakan enak eommanya, mendengar celoteh appanya setiap pagi kalau dalam Koran beritanya tentang nilai tukar won terhadap dollar yang melemah, lalu kecantikan Yuri yang sangat memanjakan matanya.

Tapi diatas itu semua, ia lebih mementingkan perasaannya sendiri. Bukannya egois atau apa. Tapi bukankah semua orang mempunyai kepentingan dan prioritasnya sendiri?

“Yuri-ya, bagaimana kompetisi balletmu?” Tanya Yi Seung, eomma tiga bersaudara Im yang memiliki wajah cantik. Jadi, tidak perlu heran jika Yuri, Yoona dan Sehun memiliki wajah yang rupawan. Yah, meskipun tidak setampan dan secantik dewa-dewi di langit sana, tapi kalau dibandingkan, mungkin mereka hanya satu level dibawah kerupawanan wajah sang dewa-dewi.

“Minggu ini aku akan pergi ke Hongkong untuk mengikuti kompetisi internasional.”

Sehun menganga lebar. Bukan artinya dia mengantuk tapi lebih pada ekspresi kagum. “Nuna, kau hebat bisa sampai level internasional. Tidak seperti Yoona nuna yang hanya bisa mengataiku anak ingusan.” Ujar Sehun balas dendam membandingkan Yoona dan Yuri.

Ini salah satu alasannya.

Yoona seringkali merasakan perih saat anggota keluarganya merendahkan harga dirinya. Dia memang bisu. Yoona sadar dan tahu betul akan hal itu. Tapi bukan berarti setiap orang bisa mengatakan apapun sesuka hati mereka karena Yoona tidak bisa menjawab.

Yoona meremas sumpit ditangannya.

“Kau akan berkompetisi di Hongkong? Bukannya kemarin kau sudah berkompetisi di Perancis?” Tanya appanya yang ikut dalam pembicaraan mengenai Yuri sebagai ballerina.

“Kau lupa appa, kemarin aku sudah memenangkan tempat pertama.” Kata Yuri tersenyum. Senyum itu menambah kesan cantik di wajahnya yang lebih putih dari Yoona.

“Oh astaga, aku lupa. Kau terlalu banyak menang sepertinya. Aku bangga memiliki anak seorang ballerina berbakat sepertimu.” Kata Im Seung Hwan tersenyum pada Yuri.

“Eomma juga.”

“Aku juga.” Sehun ikut-ikut.

Yoona semakin kencang meremas sumpitnya.

“Aku harap kau mau mengambil sebuah proyek di perusahaan setelah kau kembali dari Hongkong.” Lanjut Seung Hwan meneguk segelas susu sampai habis.

“Aku rasa Yoona bisa mengambilnya.” Kata Yuri melirik Yoona.

“Jangan! Bisa kacau kalau dia yang pegang!” Sahut Sehun tegas.

Seung Hwan tersenyum. “Awalnya memang Yoona, tapi setelah aku pikir, kau lebih cocok. Partner kita ini orangnya luwes dan banyak bicara. Jadi kurasa cocok denganmu.”

Yoona menahan emosinya yang siap meledak kapan saja. Bahkan appanya sendiri meragukannya. Inilah alasan Yoona lebih memilih hidup sendiri. Tak ada satupun yang menghargainya. Mereka hanya menganggap Yoona sebagai gadis bisu yang tidak punya kemampuan apa-apa.

“Selamat pagi..”

Yoona menoleh, ia mengenali suara itu. Suara itu yang selalu membuat detak jantungnya harus bekerja lebih keras dari biasanya. Tapi suara itu juga yang bisa dengan sekejap mematahkan hatinya. Cho Kyuhyun.

“Oh annyeong…” sapa namja berperawakan tinggi itu.

Yuri berdiri lalu cepat menghampiri Kyuhyun dengan wajah yang berseri.

Cho Kyuhyun. Katakanlah pria satu ini bisa dengan mudah menarik setiap perhatian yeoja disekelilingnya. Dengan perhatian atau bahkan dengan tatapannya saja. Jangan ditanya apa yang menarik dari namja ini. Semuanya biasa saja. Atau kelebihan apa yang Kyuhyun miliki. Jawabannya tidak ada. Kyuhyun hanya seorang mahasiswa biasa dengan wajah tampan rata-rata, latar belakang keluarga yang sedang saja dan otaknya yang ─oh, yang satu ini tidak biasa. Dia memiliki tingkat IQ diatas normal tapi tidak juga setinggi Jimmy Neutron. Lalu, apa yang membuatnya begitu dikagumi?

Perhatiannya.

Yoona menaruh hatinya pada Kyuhyun berkat perhatian pria itu yang mampu mematahkan ego seorang Yoona yang berprinsip semua orang perhatian karena kasihan. Tapi Kyuhyun tidak begitu. Kyuhyun memiliki metodenya sendiri saat mendekati Yoona. Hingga akhirnya nasib sial kembali pada hobinya yang suka mengerjai Yoona. Kali ini Kyuhyun dipertemukan dengan Yuri, eonninya.

Kyuhyun sebenarnya mengenal Yoona lebih dulu. Tentu saja, dia ada di kampus dan jurusan yang sama dengan Yoona. Tapi dasarnya memang nasib Yoona saja yang selalu buruk. Pria itu tiba-tiba tertarik dengan kakakanya saat berkunjung ke rumah Yoona.

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Lebih buruknya lagi, Yuri membalas setiap perhatian Kyuhyun.

Awalnya, Yoona menaruh harapan lebih pada Kyuhyun. Yoona bahkan jatuh hati pada pria yang banyak memiliki penggemar dikampusnya itu. Yoona bahkan pernah berandai seandainya ia tidak pernah bisu, mungkin Kyuhyun sudah menjadi pacarnya sekarang ini. Tapi takdir tetaplah takdir. Yoona hanya sanggup membendung perasaannya pada Kyuhyun. Ia harus merelakan Kyuhyun untuk kakaknya. Walau faktanya ia masih sering merasa sakit saat Kyuhyun dan kakaknya tertawa bersama.

Itulah alasan kedua Yoona pindah.

“Selamat pagi…” Seseorang muncul dibelakang Kyuhyun.

Oh, Zhang O-Huang

Yoona cepat cepat menghampiri O-Huang sambil menyeret kopernya. Im Seung Hwan dan Yoon Yi Seung, appa dan eomma tak ketinggalan Sehun juga ikut menghampiri O-Huang dan Kyuhyun. Tamu rutin keluarga Im.

“Yoona, tidak bisakah kau pikirkan lagi keputusanmu?” Tanya eomma Yoona menatap putrinya itu. Yoona mengambil tangan eommanya lalu mengenggamnya erat.

Aku akan sering berkunjung eomma.

“Tidak bisakah aku ikut membantu Yoona nuna pindah?” kali ini Sehun angkat bicara. Katakan saja Sehun, kalau kau tidak rela nunamu pindah. Yoona melayangkan jitakannya tepat dikepala Sehun. Sehun meringis merasakan kepalan tangan Yoona.

Kau harus sekolah anak ingusan

“Selalu mengataiku anak ingusan! Aku besok akan mengunjungimu! Tetaplah dirumah!” Tegas Sehun membalas penjelasan Yoona.

“Kau yakin memutuskan tinggal sendiri?” Yoona menoleh cepat saat menyadari Kyuhyun mengajaknya bicara. Ah, ini dia perhatian sederhana Kyuhyun yang mampu meluluh lantakkan kekerasan hatinya. Bukannya bertanya akan pergi kemana, tapi Kyuhyun langsung pada intinya bertanya sanggupkah Yoona hidup sendiri. Perhatian yang tak biasa.

Yoona senang bukan main. Rasanya jantungnya ingin melompat keluar saking gugupnya. Yoona hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ah, bukan seperti ini seharusnya. Yoona sangat menyayangkan kesempatan langka ini. Sekalinya berbicara dengan Kyuhyun, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Sial nasibnya.

O-Huang memperhatikan perubahan ekspresi Yoona yang tajam. Ia tahu bagaimana perasaan Yoona pada Kyuhyun. Bagaimana ia mengubur dalam-dalam perasaan sukanya pada Kyuhyun. O-Huang sangat memahami bagaimana tersiksanya Yoona karena harus melepaskan Kyuhyun untuk kakaknya, Yuri.

“Kita harus pergi.” Ajak O-Huang untuk mencegah Yoona yang sebentar lagi pasti akan membuat genangan air di lantai rumahnya akibat menangisi nasib buruk karena kebisuannya.

“Nuna!!” teriak Sehun memeluk Yoona tiba-tiba. Yoona sampai terkejut dibuatnya. Ada apa dengan anak ingusan ini? Kenapa tiba-tiba bertingkah sentimentil seperti ini? Pasti jus jambu yang ia minum tadi mengandung zat aneh yang membuat Sehun agak sinting kali ini.

“Jangan berpikir aku gila.” Kata Sehun mendekap punggung Yoona. Yoona baru manyadari hari ini, kalau ternyata Sehun sudah lebih tinggi darinya. Sekitar tiga belas senti. Ia menyadari, adiknya yang satu ini sudah tumbuh dewasa. Ia hanya mengingat bahwa Sehun adalah adiknya yang setiap pagi selalu mendebat dirinya bahkan ketika ia masih sanggup bicara atau… bisu seperti sekarang.

“Kau jahat sekali. Setelah bertengkar lama kau pergi begitu saja. Tidak pernah minta maaf padaku.” Kata Sehun mencari-cari alasan agar tidak terlihat seperti remaja bodoh yang masih labil emosinya.

Yoona tersenyum lalu menjauhkan tubuh Sehun darinya. Ia kemudian memberikan senyumnya pada Sehun untuk pertama kali semenjak ia menjadi bisu. Yoona tidak tahu kalau adiknya itu sangat mengharapkan maaf darinya. Ketimbang maaf, lebih baik ia memberikan yang lebih baik. Senyumnya.

Yoona tidak tahu harus mengatakan apa. Sehun kali ini benar-benar diluar dugaannya. Apa memang Yoona harus minta maaf? Yoona berpikir sebentar sambil menatap Sehun. Ia lalu menggerak-gerakkan tangannya menyampaikan sesuatu.

Maaf. Karena aku menjadi bisu.

Pertengkaran kita tidak seru lagi.

Sehun hampir menangis!

Ia tidak menduga jika kakaknya akan mengatakan hal menyakitkan seperti itu. Ia tidak pernah mempermasalahkan kebisuan kakaknya. Sungguh. Sehun hanya mencoba bertingkah biasa seolah-seolah Yoona tidak bisu. Tapi sepertinya Yoona menganggapnya lain. Sepertinya nuna kesayangannya ini agak tersinggung dengan tingkahnya

“Akan kumaafkan jika kau batalkan pindah.” Kata Sehun akhirnya berusaha menahan Yoona. Selama masa negosiasi, Sehun memang tidak pernah membantu appa dan eommanya untuk menahan Yoona pindah ke apartemen. Karena ia akan takut menangis ditempat saat Yoona menolak permintaan Sehun. Sekarang, setelah semua koper sudah diturunkan apakah permintaan Sehun akan memberikan efek yang berbeda?

Tidak, Sehun-ah. Aku akan tetap pindah meski tidak kau maafkan.

Akhirnya permintaan Sehun ditolak juga. Sehun mendesah pasrah.

Kalau aku kau maafkan, kita tidak bisa bertengkar lagi.

“Yoona-ssi!!!!! Kau masih sempat berpikir seperti itu???!!!” Teriak Sehun.

Pletak!

Sebuah jitakan penuh energi mengahantam kepala Sehun. Siapa yang mengizinkanmu memanggilku seperti itu??!!! Mata Yoona sampai mau keluar saking geramnya.

“Sudah-sudah….. Disini masih banyak tamu. Kalian bersikaplah agak rasional sedikit.” Kata Im Seung Hwan menimbulkan tawa bagi Kyuhyun, O-Huang dan lainnya.

Astaga, aku lupa ada Kyuhyun. Batin Yoona menyesal. Sungguh memalukan bertingkah seperti anak kecil akibat ulah Sehun. Eh, Sehun! Awas kau kalau sampai ada kesempatan, Yoona pasti akan meremukkan rahangmu itu.

“Kajja, Yoona….” Ajak O-Huang menarik salah satu koper milik Yoona.

Yoona menghampiri eomma dan appanya lalu Yuri dan memeluknya satu persatu.

Yoona menyeret kopernya yang berat. Tapi hatinya jauh lebih berat jika dibanding dengan beban kopernya. Pikirannya berkecamuk seputar masa-masa pertumbuhannya bersama Sehun dan Yuri di masa lalu. Yoona tak pernah bepikir bahwa mereka terlalu berharga bagi hidupnya. Tapi benar orang bilang, kau akan merasa sesuatu sangat berharga jika kau kehilangannya. Tak terkecuali bagi Yoona kali ini. Baru hari ini ia menyadari bahwa keluarganya –apalagi Sehun– cukup berarti bagi hidupnya. Yah, meski yang dilakukan Sehun hanyalah mendebat dirinya setiap pagi.

Yoona mengukuhkan hatinya untuk pergi sebelum ia berubah pikiran. Ia menatap isi rumahnya sesaat untuk membawa memori itu ke dalam apartemen barunya. Sehun, appa dan eommanya tidak mengantarnya. Mereka sibuk menerima kehadiran Cho Kyuhyun sebagai tamu tetap keluarga mereka. Yoona memandang keluarganya sesaat sebelum O-Huang menepuk lengan Yoona dan mengajaknya pergi.

Yoona menutup pintu dibelakangnya lalu mantap melangkahkan kaki mengikuti O-Huang yang tahu benar letak apartemen White Palace.

“Aku bersama Kris.” Kata O-Huang santai sambil menggeret koper hitam Yoona.

Apa tadi kau bilang?

To be continue….

One thought on “Can You Hear Me – Chapter 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s