Can You Hear Me – Chapter 2

Can You Hear Me Poster

Title                       : Can You Hear Me – Chapter 2

Author                  : JJYoung

Genre                   : Romance, Fantasy

Length                  : Chaptered

Cast                       : * Im Yoona

*Wu Yi Fan a.k.a Kris

*Oh Sehun a.k.a Im Sehun

*Lee Yeon Hee

*Zhang O-Huang (OC)

*Shin Cheonsa (OC).

***

Apa tadi kau bilang?

“Aku bersama Kris.” Jawab O-Huang santai sambil menggeret koper hitam Yoona.

“Annyeong…” Sapa Kris dari dalam Chevrolet Volt putih mirip milik Yoona tepat didepan pagar rumahnya. Kris menurunkan kaca jendela mobilnya untuk menyapa O-Huang dan Yoona. Kris, pria ini. Sebenarnya apa yang dilakukannya didepan pagar rumah Yoona.

Jelaskan padaku.

“Kau akan mengerti nanti. Sekarang ataupun setelah menemanimu membereskan apartemen sama saja.”

Yoona makin tidak mengerti apa yang dimaksudkan Zhang O-Huang ini. Apanya yang sama saja? Dan apanya yang akan dimengerti Yoona?

“Daripada kau bengong seperti orang kerasukan, bantu aku menaikkan kopermu ke mobil Kris.” O-Huang menepuk bahu kiri Yoona keras agar gadis itu tidak terlalu sibuk memikirkan seluruh pernyataan yang tadi diucapkannya.

“Biar aku saja.” Kata Kris merebut koper ditangan O-Huang lalu menaikkan koper tersebut ke bagian belakang mobil Chevroletnya.

Apa lagi sekarang? Kita tidak pakai mobilmu O-Huang?

“Pakai mobilku saja. Kuberi tumpangan gratis kali ini.” Sahut Kris menyambar satu koper lagi ditangan Yoona.

Yoona dan O-Huang saling pandang. Mereka mengkomunikasikan sesuatu yang belum mereka pahami akibat sahutan Kris yang begitu tiba-tiba. Tidak hanya Yoona, bahkan O-Huang ikut penasaran dengan Kris.

“Eh Kris, ternyata kemampuan ASLmu cukup bagus. Bukankah kau bilang kemarin hanya bisa dua kalimat saja?” Tanya O-Huang mengungkapkan keterkejutannya karena Kris mengerti maksud Yoona tanpa ia terjemahkan ke bahasa manusia biasa.

Kris menggaruk kepalanya tidak jelas lalu mengangkat bahu.

“Katakan saja kau mahir.” Jawab O-Huang meninju pelan lengan kanan Kris.

“Oh, tunggu.” O-Huang merasakan ada yang bergetar dalam saku jaketnya. “Aku angkat telepon sebentar.” Lanjut O-Huang mengambil jarak yang agak jauh dari Yoona dan Kris.

Yoona memandang Kris tanpa sungkan-sungkan. Ia mencermati perubahan sikap pria China itu baik-baik. Kesimpulannya, pria itu plin-plan. Kemarin katanya bisa dua kalimat. Sekarang malah mahir. Kemarin katanya bertemu setelah selesai Yoona pindahan. Sekarang malah sebelum pindahan sudah ketemu O-Huang. Yoona mengubah persepsinya tentang Kris adalah orang yang baik. Poin penilaian Kris berkurang satu. Dia orang yang plin plan.

“Wae?” Tanya Kris yang merasa risih dengan tatapan Yoona.

“Permisi,” Sela suara seorang yeoja.

Kris dan Yoona yang tengah sibuk berpandangan langsung menoleh kompak. Seperti mereka penari cheerleader saja, dengan satu komando langsung kompak melakukan gerakan ini itu. Kali ini kasusnya sama. Setelah menoleh, mereka melakukan gerakan kepala yang sama dengan maksud bertanya ada apa?

“Maaf, aku sedang mencari rumah Sehun. Apa diantara kalian berdua ada yang tahu?”

Yoona menelusuri penampilan gadis SMA didepannya itu. Gadis itu memiliki garis wajah yang sempurna untuk ukuran gadis. Tubuhnya tinggi langsing. Bajunya masih seragam SMA. Dan sama dengan Sehun. Ditebaknya dengan mudah, kemungkinan terbesar adalah gadis ini mencari Sehun adiknya yang katanya dikejar-kejar banyak yeoja itu. Ah, tapi rasanya tidak mungkin anak ingusan itu populer disekolahnya.

Apa benar Sehun adiknya itu yang dicari?

“Sehun yang mana?” Kata Kris tiba-tiba.

Yoona sontak menoleh pada Kris. Mengedipkan matanya berkali-kali menatap wajah Kris. Apa sekarang pikiran mereka bisa terhubung seperti jaringan komputer? Kalau iya, bisa-bisa Kris dapat melihat seluruh memori otaknya sekarang. Kris yang merasa dipandangi lagi ikut menoleh ke arah Yoona.

“Ah, Sehun putra Im Seung Hwan. Pemilik Alley Corp.” Kata gadis itu lagi menyadarkan Kris dan Yoona bahwa ada seorang manusia lagi diantara mereka.

Tepat! Memang Sehun anak ingusan itu.

“Rumahnya yang ini. Tepat disampingmu. Ini kakaknya.” Kata Kris sambil menepuk bahu Yoona pelan.

Yoona kembali mengerutkan kening. Bagaimana pria itu tahu? Apa dia seorang penguntit? Apa dia selama ini menyamar menjadi tukang sampah yang selalu lewat depan rumahnya. Kalau iya, sayang sekali ia melewatkan ketampanan si tukang sampah setiap hari. Oh astaga! Kau berpikir apa Yoona?

“Oh, maaf. Aku tidak tahu.” Jawab gadis itu kikuk.

“Aku Lim Soo Hyang. Teman sekelas Sehun, eonni.” Katanya lagi sambil memperkenalkan diri. Yoona mengangguk lalu mengisyaratkan Soo Hyang untuk masuk dan segera menemui Sehun.

Yoona lagi-lagi memandang Kris tanpa permisi. Tatapannya menuntut meminta penjelasan. Apa benar selama ini dia tukang sampah? Oh bukan, apa Kris penguntit? Bukan juga, itu tidak sopan. Apa Kris mencari tahu tentang Yoona dan keluarganya? Siapa sebenarnya dia?

“Jangan berpikir macam-macam!” kata Kris menempelkan telunjuknya di kening Yoona lalu mendorongnya ke belakang.

Oh god! Kris merani mendorong kepalaku? Memangnya dia siapa? Umpat Yoona dalam hati.

Yoona terhenyak untuk sesaat. Kemudian mulutnya menganga tidak percaya. Kris, siapa sebenarnya pria itu? Hanya teman O-Huang? Atau memang penguntit tidak tahu diri?

Yoona menyusul Kris yang akan menutup pintu belakang mobilnya dan menepuk bahu Kris sekeras yang ia bisa, menggantikan ketiadaan suaranya yang bisa melengking kalau memang ia punya. Kris menoleh dan menutup pintu belakang mobilnya segera.

“Wae???!!” Tanya Kris sedikit menggerutu.

Yoona mulai mengangkat tangannya untuk ber-ASL. Tapi belum sampai ia mengungkapkan sesuatu, seseorang menyelanya.

“Apa yang kalian lakukan? Kajja, aku harus pergi setelah membantu Yoona.” O-Huang menyela perang antara Yoona dan Kris yang kelihatan seru jika saja mereka lanjutkan.

Yoona menghela napas tidak percaya. Kris dan O-Huang dengan langkah polos mereka meninggalkan Yoona yang berdiri dengan ekspresi mempermalukan diri. Ia sudah mengangkat tangannya untuk mengatakan sesuatu. Sial, hanya angin yang membalasnya. Menyapu sela-sela jarinya yang terangkat tak berguna. Kris malah berlalu dengan ekspresi yang mengejek.

“Ya! Im Yoona.” Kata O-Huang yang melongok lewat kaca jendela mobil Kris. “Apa yang kau lakukan dengan berdiri bodoh seperti itu. Kajja kita berangkat.”

Yoona meniup poninya kesal.

***

Yoona merengut sepanjang perjalanan. Ia menatap dua makhluk China didepannya. Yang satu sedang menyetir dan satunya lagi sedang tertawa renyah karena cerita Kris tentang pertemuan konyolnya dengan kekasihnya yang bernama –oh, siapa tadi namanya?

Lee Yoon Dae, Lee Yoo Hae, bukan-bukan Lee Wang…. aah siapapunlah itu yang jelas marganya Lee. Oh, Kris memiliki kekasih rupanya. Orang Korea! Menurut ceritanya tadi, katanya gadis itu cantik. Memiliki wajah yang mulus seperti Kim Tae Hee, dan cantik seperti Song He Kyo. Ya Tuhan, apa bisa dibayangkan secantik apa gadis itu?

Oh, Yoona juga tertawa seperti O-Huang. Bukan karena cerita singkat Kris yang bertemu di toilet namja karena Lee Yoon Dae –oh salah bukan itu, pokonya dia bermarga Lee­– salah masuk toilet dan membuka bajunya begitu saja untuk memeriksa luka dibahu kanannya. Bukan karena itu, Yoona tertawa karena tidak bisa membayangkan secantik apa Lee Yoon Dae atau Lee Yoo Hae… itu. Apa mungkin lebih cantik darinya?

“Kau kenapa Yoona-ssi?” Tanya Kris menyadarkan Yoona yang terkikik sendiri seperti orang depresi. O-Huang sampai menoleh.

Yoona menggaruk kepalanya menanggapi dua manusia China itu, lalu mengibas-ngibaskan kedua tangannya dia udara untuk memberitahu bahwa jangan pikirkan dia. Lanjutkan saja bercerita dan Yoona akan melanjutkan bayangan Lee Yoon Dae imajinernya. Terkadang, Yoona juga bersyukur karena ia bisu. Dia tidak harus mengatakan apa-apa.

“Kita sudah sampai.” Kata Kris tiba-tiba. Ia mematikan mesin mobilnya lalu melepaskan seatbealt dibahu kirinya. Zhang O-Huang dan Kris turun dari mobil dan bergegas menurunkan koper Yoona.

Yoona mengerjap beberapa kali lalu menyadari bahwa ia sudah berada diparkiran bangunan apartemen barunya. Yoona meregangkan badannya sambil menutup mulutnya yang masih menguap lebar. Baru kali ini tertidur di mobil. Apalagi bukan mobilnya. Entahlah, karena ia memang mengantuk atau memang ia merasa bosan sampai terkantuk-kantuk. Untuk kata bosan, kalau boleh jujur ia sangat bosan sekali karena Kris dan O-Huang mengabaikannya sepanjang perjalanan. Kadang mereka berbicara dalam bahasa China. Terkadang mereka juga membicarakan tetangga China mereka yang bernama Wang Liu Wei. Aduh, telinga Yoona tersumpal puluhan nama China.

Tok tok tok

Yoona menoleh kearah jendela mobil disampingnya yang diketuk.

“Kau tidak turun?” Tanya Kris dengan mulut yang terbuka lebar-lebar.

Yoona mengangguk lalu membuka pintu mobil.

Gamsahamnida

Yoona mengambil koper ditangan Kris lalu menyeretnya perlahan sambil menyejajari langkah O-Huang didepannya. Kris mengikuti Yoona dan O-Huang di belakang. Pria itu mulai akrab dengan O-Huang dan Yoona. Dan tidak lama lagi, ia akan akrab dengan Yoona. Kau tahu alasannya? Tunggu, kau akan tahu sebentar lagi.

“Apartemenmu dilantai berapa?” Tanya O-Huang sambil menekan tombol-tombol di lift yang mencapai angka tiga puluh. Ambil kesimpulan, gedung apartemen itu setinggi tiga puluh lantai.

Yoona mengacungkan tangannya. Tujuh.

O-Huang langsung menekan angka tujuh begitu Kris melangkah masuk lift dan berdiri disamping kiri Yoona. Mereka bertiga berdiri dalam diam dan mendongak seakan menunggu bom dijatuhkan dari udara. Mereka bertiga menatap angka yang detik demi detik begulir bertambah satu demi satu di atas pintu lift hingga akhirnya berbunyi ‘ting’.

Yoona melangkah terlebih dahulu memimpin jalan menuju rumah barunya. Dimana ia akan menghabiskan 24 jam setiap harinya di ruangan yang berukuran 12 x 13 meter itu. Hari ini, ia memutuskan hidup sendiri dalam kebisuannya. Hidupnya begitu sepi tanpa suaranya sendiri. Dan sekarang ditambah lagi sepi tanpa teriakan Sehun setiap hari.

Klik

Pintu apartemen terbuka. Yoona menyeret kopernya disusul O-Huang dan Kris. Kris? Astaga! Pria ini masih mengekor juga. Apakah dia tidak terlalu sibuk hidupnya. Apa waktunya begitu senggang hingga sempat-sempatnya mengantar Yoona pindahan.

“Aku free hari ini.” Kata Kris seakan menjawab rasa penasaran Yoona. Pria itu membuka kain putih yang menutupi sofa hijau lime milik Yoona diruang paling depan.

Yoona mendelik mendengar jawaban Kris. Apa pikiran mereka benar-benar terhubung? Yoona menggelengkan kepalanya cepat-cepat menepis pikiran bodohnya. Kalau pikiran mereka terhubung sama artinya jiwa mereka terhubung sama artinya juga errrr…. mereka… berjodoh?

Oh lupakan kemungkinan terakhir.

Yoona melenggang masuk kamarnya diikuti langkah O-Huang yang terseok-seok menuntun koper super besar milik Yoona. Yoona cepat-cepat membantu O-Huang menarik kopernya sendiri. Bisa gawat kalau O-Huang marah-marah karena ulah kopernya.

“Apa barang diseluruh kamarmu kau bawa semua?? Berat sekali.”

Yoona menganggukkan kepala.

“Astaga! Memangnya kau beniat tidak kembali?”

Yoona hanya nyengir lalu membuka kain putih yang menutup spring bednya yang belum dilapisi seprai bunga daisy merah favoritnya. Yoona sebenarnya tak suka bunga, hanya saja maknanya berarti untuknya. Jadilah dia suka gambarnya saja, ya, Daisy merah bukan putih atau oranye.

“Ya! Im Yoona!” O-Huang menyenggol lengan Yoona. Yoona mengerjap lalu mengakhiri segala imajinasinya tentang bunga Daisy merah diseprainya.

“Ayo keluar. Sepertinya Kris menunggu.” Kata O-Huang melirik pintu.

Yoona menganggukkan kepala lalu menyusul langkah O-Huang menuju pintu kamarnya. Yoona menyeret kakinya keluar lalu menarik pintu hingga daun pintunya berimpit dengan kusennya. Ia melirik Kris sebentar lalu cepat-cepat menundukkan kepala agar matanya tidak tertumbuk pada mata Kris pula. Mata Kris itu sangat tajam jika memandang sesuatu. Tipe mata yang disukai para wanita. Dengan tatapannya, wanita-wanita disekitarnya tidak akan lepas dari mata Kris. Itu pasti.

“Ah, gomawo Kris.” Kata O-Huang. O-Huang membantu Kris menyingkap kain-kain putih yang menutupi properti-properti di apartemen baru Yoona. Properti itu banyak yang baru. Tapi ada juga yang lama. Peninggalan si empunya yang dulu. Yoona memang membeli beserta isinya yang tersisa. Agar tidak repot-repot bersih-bersihnya.

Sampai mata Yoona terpaku total pada suatu barang yang diluar perkiraannya bertengger disana. Yoona terkejut saat Kris membuka barang itu. O-Huang sempat berdiri gelisah ditempatnya menanggapi ekspresi Yoona. Kenapa barang itu nyasar di apartemen Yoona?

“Bisa main piano?” Tanya Kris sambil melipat kain putih lebar yang menutupi piano itu.

Yoona mengalihkan pandangannya cepat-cepat seelum kegusarannya menuntut tangannya membanting-banting piano itu dengan palu besar milik tukang sampai hancur hingga bersisa serpihan-serpihannya.

O-Huang menghampiri Kris cepat lalu menyenggol lengannya agar berhenti membahas tentang piano.

“Wae?” Tanya Kris tak sabar.

O-Huang sampai menginjak kaki Kris karena suaranya yang keterlaluan keras hingga bisa didengar Yoona. Gadis itu langsung berubah mood setelah mendengar kata piano.

O-Huang berbisik dalam bahasa China agar Yoona tidak mengerti. “Dia itu dulu menyukai musik dan menyanyi. Ia hampir debut dibawah nama salah satu agensi besar. Tapi setelah ia bisu, dia mulai kehilangan minatnya pada musik. Dan satu lagi, dia langsung dikeluarkan dari agensinya.”

Kris manggut-manggut mendengar penjelasan O-Huang tentang Yoona yang ternyata aslinya pandai bernyanyi. Kalau saja tidak bisu, pastilah Yoona itu wajahnya sudah hilir mudik di tv. Bergabung dengan idol grup wanita dan menjual beribu-ribu kopi album. Tapi sayangnya nasib gadis itu sial. Sudah bisu, sekarang harus tinggal sendiri karena tekanan mental keluarganya.

Kalian bisa pergi. Aku akan merapikan barangku sendiri.

Yoona mengisyaratkan agar O-Huang dan Kris pergi. Ini bukan karena moodnya yang terlanjur buruk. Tapi karena pada dasarnya sudah selesai tugas kedua manusia China itu membantunya. Apartemennya sudah rapi dan layak untuk ditinggali. Barang-barang didalamnya juga sudah lengkap. Kecuali grand piano yang merusak penglihatan disudut ruang tamu.

“Oh, baiklah. Sekarang giliranku.” Kata Kris mendekati Yoona yang berdiri dekat pintu.

“Kajja…” Tambah Kris berlalu menuju pintu.

Apa tadi kau bilang?

Yoona meminta penjelasan Kris.

***

“Ini apartemenku. Aku membelinya setahun lalu. Baru bisa kutempati sekarang.” Jawab Kris tersenyum pada Yoona.

Yoona lagi-lagi memandang Kris tanpa sungkan-sungkan. Apa-apaan ini. Bagaimana bisa pintu apartemen Kris hanya tiga setengah langkah didepan pintunya? Pintu apartemen mereka saling berhadapan! Pintu yang sama! Dilantai yang sama! Di gedung yang sama!

Astaga! Apartemen Kris benar-benar didepan apartemennya. Jadi, ini yang dimaksud O-Huang? Sebelum atau sesudah sampai apartemen sama saja? Jadi Kris dan O-Huang janjian bertemu untuk berkunjung ke apartemen Kris? Dan hebatnya apartemen Kris sama letaknya dengan apartemen baru Yoona.

O-Huang berikan penjelasan! Yoona kembali menjelaskan dalam ASL.

O-Huang mengangkat bahu lalu mengikuti langkah Kris memasuki apartemennya. Dan, kejutan!!!!

“Selamat datang di apartemen baru!!!”

Kertas-kertas yang biasa digunakan kejutan ulang tahun menyambut langkah mereka bertiga. Yang punya apartemen juga tak kalah terkejutnya. Disambut oleh seorang gadis yang cantik luar biasa. Tingginya hampir mencapai telinga Kris sendiri. Badannya tinggi langsing. Rambutnya lurus tergerai dan agak bergelombang dibagian ujung-ujungnya. Wajahnya yang putih dengan bibir oranye hasil olesan lipgloss segar. Dan senyumnya mengembang mendorong kedua sisi pipinya yang agak chubby. Cantik.

“Ah, Lee Yeon Hee…. Sejak kapan kau disini?” Tanya Kris lalu menarik pinggang gadis itu lalu dipeluknya.

“Wah, seharusnya kau terkejut.” Balasnya pura-pura manyun sambil menangkup kedua sisi pipi Kris..

Oh, ternyata namanya Lee Yeon Hee. Bukan Lee Yoon Dae. Tapi benar kan marganya Lee? Setidaknya ada sisi kebenaran dalam tebakan Yoona. Lee Yeon Hee diluar bayangan Yoona. Lee yeon Hee imajiner Yoona hanya 5% cantiknya dari aslinya. Oh, dia sungguh cantik. Kalau dia jadi model pastilah jobnya tidak akan pernah habis. Dia biasa kaya raya dalam kurun waktu setahun dan tidak perlu kerja setahun berikutnya.

“Oh, ini Lee yeon Hee. Dia yeoja chinguku.”

“Dan Yeon Hee, ini Zhang O-Huang temanku dari China dan disampingnya Im Yoona teman…..kuliahku.” Kata Kris akhirnya setelah susah payah mencari istilah yang tepat untuk Yoona.

O-Huang menjabat lengan Yeon Hee diikuti Yoona.

“Oh annyeong…” katanya ramah.

“Oh, Kris aku membawa makanan. Kita makan bersama. Kita rayakan untuk apartemen barumu.” Kata Yeon Hee menyeret lengan Kris mendekati meja makan yang sudah penuh sesak dengan makanan yang masih menguap-uap.

“Eh, sepertinya aku harus pergi.” Kata O-Huang setelah merasakan saku jacketnya bergetar dari tadi. Ia ada janji sebelum mampir ke apartemen Yoona. Dan sepertinya orang yang sudah janjian dengan O-Huang sedang meraung-raung lewat ponselnya.

“Yoona, aku pergi.” Kata O-Huang berbalik sambil tergesa-gesa.

Yoona menahan lengan O-Huang lalu berbicara dengan bahasa isyarat.

Aku akan mengantarmu.

“Oh baiklah..” O-Huang tahu alasan sebenarnya. Yoona bukanlah teman akrab Kris bahkan Yeon Hee. Konyol rasanya jika ia masih disitu makan bersama sepasang kekasih yang kelihatannya sangat errr…. mesra.

“Kris, Yeonhee-ssi kita pergi. Silahkan nikmati waktu kalian.” Kata O-Huang lalu sedikit membungkuk diikuti Yoona.

“Kalian harus kesini lagi lain kali.” Kata Kris saat diambang pintu. O-Huang mengangguk sekilas lalu berangsur pergi diikuti langkah Yoona dibelakangnya.

***

Wah, ternyata ada juga orang secantik itu.

Ucap Yoona dalam hati sambil kakinya mengganti sepatu merah delimanya dengan sandal rumah dengan boneka beruang dipuncak sandalnya. Yoona bergegas menuju dapur dan mengambil segelas air putih dari dalam kulkas.

Yoona hampir menghabiskan air putihnya saat bel pintu apartemennya berbunyi. Yoona mengerutkan kening. Siapa yang bertamu keapartemen barunya? Mustahil ada yang tahu ini apartemennya kecuali keluarganya. Dan mustahil juga keluarganya akan berkunjung hari ini. Apa itu O-Huang? Apa ada sesuatu yang tertinggal?

Yoona mendekati pintu lalu membukanya tanpa perlu melihat dulu dilayar intercom apartemennnya. Pasti itu O-Huang. Gadis itu agak ceroboh akhir-akhir ini.

Kris

Kris menggaruk kepalanya. “Aku hanya ingin mengundangmu makan.”

Yoona mengerutkan kening.

Lima menit yang lalu, Yoona masih memandangi Kris diambang pintu apartemennya sambil melongo selebar tiga senti. Tapi Yoona baru saja sadar tiba-tiba ia sudah berada diapartemen Kris. Ia juga tidak sadar kapan ia menyetujui ajakan Kris yang mengundangnya makan. Hanya saja ia tidak tega menolak tawaran Kris. Sepertinya Kris tulus mengajaknya makan. Jadi tidak ada salahnya mencoba mengakrabkan diri dengan tetangga apartemennya. Sayang kan, melewatkan ajakan makan pria tampan?

Kemana Yeon Hee-ssi?  Yoona memulai dalam American Sign Language-nya.

Kris menarik satu kursi untuk Yoona. “Dia pulang.”

Wae? Tanya Yoona lagi sambil meengangguk berterima kasih karena Kris menarik kursi untuknya. Setelah Yoona duduk, Kris berputar dan duduk berhadapan dengan Yoona.

“Dia lupa kalau ada jadwal pemotretan.”

Jadi benar dia model, kata Yoona dalam hatinya.

“Jadi kau beranggapan dia model? Tebakanmu benar Yoona-ssi.” Kata Kris.

Yoona mendelik saking kagetnya.

Astaga! Pria ini!

Yoona menatap Kris dalam. Pandangannya begitu intens mencari jawaban. Kris juga tak kalah. Sepertinya ia melakukan kesalahan. Yoona bahkan belum melakukan satu gerakanpun untuk memberitahu Kris tentang apa yang akan dikatakannya. Bukan kali ini saja, tadi ketika didepan rumahnya, di dalam mobil, dan diapartemennya Kris seakan bisa menebak pikirannya. Dugaan Yoona makin menguat. Pikiran keduanya tidak terhubung, tapi memang Kris bisa membaca pikiran manusia.

Yoona mengatupkan bibirnya rapat-rapat lalu menyipitkan matanya menatap Kris.

Kau bisa membaca pikiranku? Kata Yoona dalam angannya. Berharap Kris meresponnya dengan cepat seperti biasanya.

Tapi Kris diam saja tetap memandang Yoona. “Kau ingin mengatakan sesuatu?”

Jawab aku Kris, kau tahu pikiranku. Kata Yoona mencoba sekali lagi.

Kris aku tahu kau paham maksudku. Palli, jawab aku!!! Yoona sampai mendelik saking geramnya tidak mendapat respon dari Kris. Kris hanya diam menunggu Yoona menggerak-gerakkan tangannya menggunakan ASL.

Kumohon.

Ayolah Kris.

“Yoona-ssi, kenapa kau diam saja?” Tanya Kris lagi.

Apa yang harus kukatakan Kris. Kau tahu maksudku kan? Yoona lagi-lagi bersikeras agar Kris merespon setiap kalimat dalam angan-angannya.

“Ah Yoona-ssi sepertin…”

Pacarmu jelek dan menyebalkan!

“Ya! Yoona-ssi! Lee Yeon Hee tidak jelek!” Teriak Kris.

Bingo! Kau ketahuan!

Dan kesimpulannya, Kris memang tidak memahami ASL. Sama sekali tidak. Karena ia jelas-jelas tidak membutuhkan Sign Language manapun untuk berkomunikasi dengan orang bisu, bahkan tuli sekalipun. Kris bisa membaca pikiran manusia!!! Itu fakta!!

“Mwo??!!” Ucap Kris tak percaya. Ia baru saja menyahuti Yoona. Ah gadis ini kenapa…

Im Yoona menyebalkan. Kris menghela napas kasar sambil memukul-mukul meja dengan kepalan tangannya. Tidak percaya bahwa ia terjebak kata-kata Yoona. Lalu dengan mudahnya kemampuan super ajaibnya itu terkuak oleh Yoona.

“Ya!! Im Yoona!!! Kau!!!” Geram Kris mencengkeram sendoknya.

Haha kau ketahuan. Wu Yi Fan.

Yoona tersenyum bangga. Akhirnya ada juga yang bisa mengerti pikirannya, tanpa susah-susah tangannya menari-nari di udara yang sangat melelahkan bahkan untuk menyebut satu nama saja. Pria ini meski menyebalkan tapi asyik juga diajak bicara. Oh, Yoona tidak bisa bicara.

Kris-ssi. Seharusnya kau bertemu denganku lebih awal.

“Apa?? Tidak. Aku akan sangat menyesal jika bertemu denganmu lebih awal.” Sahut Kris yang mulai frustasi.

“Oh hei, aku belum melupakan katamu yang menghina Lee Yeon Hee!! Ya! Im Yoona tarik kata-katamu kalau Lee Yeon Hee jelek. Dia seratus kali lebih cantik darimu!!!”

 Mwo? Wu Yi Fan-ssi, apa kau coba mengatakan kalau aku jelek??!!!

“Ya. Kau jelek dibandingkan dengan Yeon Hee.”

Yoona menarik napas gusar lalu menggigit bibir bawahnya. Ya!! Wu Yi Fan! Tarik kata-katamu dan minta maaf sekarang juga! Dan perhatikan baik-baik wajahku! Aku ini tidak jelek!!! Kau tahu???!!!!” Yoona menggebrak meja keras.

Kris menyeringai lalu bangkit dari duduknya. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona yang katanya cantik itu. Sedikit membungkukkan punggungnya untuk menyejajarkan matanya dengan wajah Yoona. Hingga jarak wajah keduanya semakin menyempit.

Yoona mendelik menanggapi tindakan Kris. Tapi anehnya, ia sama sekali tidak menjauhkan wajahnya saat Kris mulai meneliti satu persatu bagian wajah Yoona. Mulai dari kening, hidung, mata dan turun hingga bibir dan dagunya. Kris mengamati setiap bagian wajah Yoona dengan seksama dan hati-hati. Mencari kebenaran bahwa Yoona itu cantik.

Yoona menahan napas! Siapapun jelas merasakan gemuruh dalam dadanya. Gadis mana yang tidak gugup dipandang seperti itu oleh seorang pria? Dalam jarak kurang dari dua senti! Apalagi pria itu tampan seperti Kris.

Kris kembali menatap mata Yoona lalu menyeringai pelan. “Kau tidak cantik.”

Yoona mengerjapkan matanya berkali-kali menanggapi kata Kris yang begitu menjatuhkan harga dirinya sebagai wanita. Yoona menggigit bibir bawahnya lalu berdiri spontan. Ia menggebrak meja dengan tangannya hingga menimbulkan bunyi berisik akibat benturan piring dengan kayu meja.

“Omo!!!” Kris berjengit karena terkejut dengan Yoona yang gusar dan kedua pipinya yang merah. Matanya melebar sempurna dan bibirnya yang bergetar menahan amarah.

“Oh wow, ternyata gadis bisu bisa marah juga.” Kris menyilangkan kedua tangannya.

Yoona lagi-lagi melebarkan matanya. Apa yang tadi dikatakan Kris? Apa itu cukup manusiawi untuk dikatakan? Oh astaga, apa di China tidak diajarkan bagaimana cara bersopan santun? Kepada orang bisu sekalipun?

Yoona menggigit bibir bawahnya menahan emosi yang naik memenuhi seluruh rongga kepalanya. Pria itu begitu menjatuhkan harga dirinya. Sudah cukup dengan mengatakan kalau dirinya tidak cantik –yang padahal ia tahu bahwa Kris hanya membual. Tidak usah ditambah dengan mengatainya gadis bisu.

Tanpa melakukan gerakan apapun, Yoona mencoba menyampaikan amarahnya.

Ya! Makhluk China aneh! Aku memang bisu dan tidak bisa memaki. Tapi setidaknya kau punya sopan santun kepada gadis bisu sepertiku! Aku tidak punya suara, tapi aku masih punya hati dan perasaan. Satu lagi, aku menyesal telah menerima undangan makanmu. Aku pergi.

Tanpa menunggu lagi, Yoona mendorong kursinya kebelakang lalu pergi menuju pintu apartemen Kris, membiarkan teriakan demi teriakan Kris yang menyuruh Yoona kembali duduk.

“Hei, bagaimana makanan ini??”

Yoona membalikkan tubuhnya. Suruh saja pacarmu yang menyebalkan itu untuk menghabiskannya!

“Ya!!!!”

***

“Yoona-ssi,”

Yoona mendongakkan kepalanya. Dari memperhatikan buku tentang algoritma dibawah dagunya ke wajah asing yang menyapanya. Wajahnya putih dan tirus. Garis wajahnya yang tegas mengingatkannya pada Sehun adiknya. Tapi siapa dia?

Yoona mengerutkan kening sambil mengangkat kepalanya hingga badannya duduk tegap. Ia menutup buku algoritma milik perpustakaan kampusnya lalu memberi perhatian penuh pada wajah wanita asing didepannya.

“Sepertinya kau tidak mengenaliku.” Kata wanita itu mengamati ekspresi Yoona yang bingung mendapati wajahnya lalu menarik kursi diseberang meja baca Yoona.

“Aku Shin Cheon Sa, mahasiswi skripsi Pohang University. Kita tetangga dulu saat rumahmu di Gangnam. Sebelum kau pindah ke Amerika.”

Yoona mengerutkan keningnya lalu menguras seluruh memori otaknya untuk menemukan siapakah itu Shin Cheon Sa. Gadis itu cantik dan sepertinya dia dari keluarga yang berada. Gayanya berkelas, memang benar sepertinya dia dari Gangnam. Tapi apa benar dia tetangganya dulu. Kalau benar, pastilah ini ada hubungannya dengan perusahaan appanya.

Karena saat di Gangnam, Yoona tidaklah akrab dengan tetangganya. Jangankan tetangga, pembantunya sendiripun pastilah dia tidak hafal. Ia masih sibuk dengan trainingnya di Seoul saat itu. Kadang pulang, kadang juga tidak. Yang ia kenal hanyalah yang dikenal appanya karena mereka sering bertamu ke rumahnya.

“Shin Cheon Sa, sekretaris sementara appamu dulu saat di Gangnam.”

Shin Cheon Sa!

Mata Yoona mendelik saat menemukan nama Shin Cheonsa di memori otaknya. Shin Cheonsa dulu menggantikan ayahnya yang tidak bisa ikut keluarga Yoona pindah ke Gangnam. Cheonsa memang tinggal di Gangnam dengan ibu dan kedua adiknya setelah ayah ibunya bercerai. Gadis ini gadis yang baik, ramah dan perhatian. Pantas saja appa Yoona langsung menerima Cheonsa sebagai sekretaris sementara.

Tapi sayang, Yoona tidak bisa lagi berbicara dengan Shin Cheonsa.

“Aku mengerti bahasa isyarat kalau kau tahu.” Tambah Cheonsa setelah mendapati wajah sedih yang diekspresikan Yoona. Mata Yoona langsung membulat sempurna. Ia terlampau senang mendengar penjelasan Cheonsa.

Senang bertemu lagi denganmu. Kata Yoona dalam ASLnya.

Cheonsa menempelkan kedua alisnya saat Yoona mulai menggerakkan tangannya. Ia mencoba menangkap apa yang disampaikan Yoona.

“Kau bisa mengulagi lagi Yoona-ssi?”

Yoona bepikir sejenak. Ah, sepertinya yang dimaksud Cheonsa adalah bahasa isyarat standard korea bukan Amerika. Pantas saja wajah Cheonsa tampak berpikir keras seperti itu. Yoona kecewa sebenarnya. Ia senang tadinya saat Cheonsa mengatakan ia mengerti bahasa isyarat. Tapi dunia serasa dibalik begitu saja saat yang dimaksud Cheonsa bukanlah ASL.

Sulit sekali hidup di Korea menggunakan ASL. Dia bahkan tidak mengerti standar bahasa isyarat negaranya sendiri. Dengan sesama orang bisu di Korea pun, ia tidak bisa berkomunikasi dengan baik.

“Ah maaf sepertinya aku belum lancar. Aku akan menyampaikan maksudku saja.”

Yoona mengangguk sebagai jawaban. Ia menyingkirkan buku algoritma yang memusingkan kepalanya lalu menatap wajah Cheonsa serius. Sepertinya gadis itu akan membicarakan sesuatu yang serius. Bukan hanya perbincangan ringan sesama mahasiswa.

“Begini, aku sedang mengerjakan skripsiku. Aku membutuhkan bantuanmu Yoona-ssi. Aku tahu kau memiliki kemampuan yang baik mengenai teknologi komputer. Aku sedang mengerjakan sebuah proyek untuk membuat sebuah teknologi ponsel terbaru. Disini,” Cheonsa mengeluarkan sebuah flashdisk pearl red dengan gantungan pita putih susu.

“Disini berisi sebuah produk teknologi yang hampir setengahnya ku selesaikan. Aku bermaksud menyelesaikannya bersamamu Yoona-ssi.” Tambah Cheonsa.

Yoona menyipitkan matanya menatap flashdisk di hadapannya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Cheonsa yang memasang wajah berharapnya. Wajah berharap untuk Yoona menerima tawarannya. Sayang, Yoona terlalu berpengalaman sebagai gadis bisu. Ia tahu, Cheonsa ini mengajaknya bekerja sama karena dia adalah seorang Im Yoona. Putri dari Im Seung Hwan, pemilik Alley Corporotion. Perusahaan pengembang teknologi smartphone paling populer di Korea.

Yoona menghela napas. Ia tidak yakin sepenuhnya kalau Cheonsa ini tulus. Tidak seratus persen juga ia yakin kalau Cheonsa hanya memanfaatkannya. Fifty fifty. Tapi ini kesempatan baginya untuk membuktikan pada ayahnya bahwa Yoona bukanlah gadis bisu biasa yang hanya mengandalkan kekayaan orang tuanya. Yoona mampu untuk membuat suatu hal hebat seperti Yuri kakaknya. Yoona yakin ia bisa menyelesaikan sisa pekerjaan Cheonsa. Toh ia juga berkali-kali membuat teknologi-teknologi untuk smartphone. Hanya saja ia tidak yakin appanya akan percaya padanya.

“Bagaimana Yoona-ssi?”

Yoona tersentak. Ia bimbang sejenak. Dia tidak tahu harus menerima atau menolaknya. Kesempatan ini tidak datang dua kali. Tapi sisi lain dari kepribadiannya juga tidak mengizinkan untuk merendahkan harga dirinya. Andai saja ia bisa melihat perasaan Cheonsa.

“Shin Cheonsa! Aku  hampir mengelilingi seluruh kampus untuk menemukanmu!”

“Oh, Kris-ssi. Aku lupa harus menemuimu.” Kata Cheonsa menarik satu kursi lagi disampingnya untuk Kris.

“Mana file yang kuminta?”

“Aku sudah mengirimkannya di emailmu. Kau pasti tidak membaca pesanku tadi malam.” Jawab Cheonsa mengeluarkan ponsel miliknya. Alley. Merk itu jelas tercetak timbul di bagian belakang ponselnya. Apa ia benar-benar ingin bekerja sama dengan Alley Corp?

“Oh, kau…” Kata Kris sambil telunjuknya teracung ke wajah Yoona.

Yoona menatap jari Kris lalu melebarkan matanya. Apa-apaan pria ini berani menunjuk wajah Yoona. Yoona mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Kris. Kris yang mengerti arti tatapan Yoona langsung menurunkan jarinya begitu saja. Gawat rasanya jika ia membuat Yoona ini ngamuk dua kali padanya.

Oh tunggu. Kris.

Yoona menatap Kris dan Cheonsa bergantian. Kris pasti bisa membaca pikiran Cheonsa. Benar, ia bisa meminta tolong pada Kris untuk tahu apa yang sedang dipikirkan Cheonsa.

Ya!! Kris-ssi, kau tahu apa yang dipikirkan Cheonsa. Yoona menyipitkan matanya menatap Kris yang sibuk berbincang dengan Cheonsa tentang sebuah file yang tadi malam di kirim Cheonsa.

Kris-ssi. Yoona mengulangi.

Kris menghela napas sejenak ditengah-tengah diskusinya dengan Cheonsa.

“Waeyo?” Tanya Cheonsa memandang Kris yang tiba-tiba berhenti bicara.

“Aniya.” Jawab Kris dengan wajah sebalnya.

Kris memutar kepalanya memandang Yoona. Gadis itu agak sumringah wajahnya saat Kris memberinya perhatian. Benar-benar ajaib makhluk campuran China-Kanada ini. Kris  dengan mudah bisa mengubah mood Yoona yang terkenal dengan sikapnya yang jarang tersenyum. Yoona jarang tersenyum. Memangnya dia mau tersenyum pada siapa, bukannya Yoona tidak punya teman. Satu lagi, Yoona memang tipe orang yang tertutup.

Kris-ssi, kau bisa membantuku kan? Tolong lihat ke dalam pikiran Cheonsa. Dia tadi menawariku sebuah pro…

“Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu Yoona-ssi?” Kata Kris mengangkat alis.

Yoona menggigit bibir bawahnya. Amarahnya naik hingga ubun-ubun. Apa maksud Kris memotong pikirannya? Tidakkah dia tahu bahwa Yoona sedang mencoba berkomunikasi dengannya. Kris pasti tahu. Tentu saja, dia bisa membaca pikiran manusia!

“Oh, Kris. Sepertinya kau belum tahu. Yoona ini….”

“Aku tahu.” Potong Kris cepat. Cheonsa terhenyak.

“Yoona ini menggunakan bahasa isyarat standar Amerika bukan Korea. Jadi Cheonsa, seberapapun besarnya penguasaanmu pada bahasa isyarat, kau tidak akan memahami maksud gadis ini.”

Yoona menatap tajam Kris tajam. Kris balik menatap mata Yoona yang berkilat-kilat. Nada Kris terlalu menyindir bagi Yoona. Kris seakan memberitahu Cheonsa bahwa tidak ada seorangpun di Korea ini yang akan mau berbicara dengannya. Apa Kris masih mempermasalahkan yang kemarin? Hingga nadanya sinis seperti itu?

Drrrt drrrt

Getaran ponsel Cheonsa merambat hingga siku Kris dan Yoona yang bertumpu pada meja baca perpustakaan Pohang University. Cheonsa mengalihkan pandangannya –yang diikuti Yoona dan Kris pada ponsel Alley silver diatas meja. Cheonsa mengambil ponselnya sebelum ponsel itu berhenti bergetar.

“Yoboseo…” Kata Cheonsa dengan suara yang sangat rendah. Ini perpustakaan.

“Ne….”

Cheonsa menutup sambungan telepon dan memasukkan ponsel ke tasnya lalu menatap Kris dan Yoona bergantian. “Aku harus pergi. Yoona, aku harap kau mempertimbangkan tawaranku. Annyeong.”

Kris sudah menyilangkan tangannya sembari menatap Yoona saat Cheonsa sudah pergi. Pria berambut hitam kecoklatan itu hanya diam saja menanggapi ekspresi Yoona.

“Kau ingin mengatakan sesuatu?” Tanya Kris mengakhiri perang tatapan mata mereka.

Apa eommamu hanya mengajarkan empat kata itu? Kau selalu saja mengatakan itu. Kau perlu bicara kalimat lain.  Kata Yoona dalam pikirannya.

Kris mendengus. “Setidaknya aku masih bisa bicara.”

Yoona menatap Kris tidak percaya. Kata-kata Kris begitu menohok hatinya. Apa kau manusia? Tidakkah kau memiliki perasaan? Apa itu cukup manusiawi untuk dikatakan, di hadapan orang bisu sepertiku?

“Kau terlalu menjunjung tinggi kebisuanmu. Yoona-ssi.”

Mwo?  Tanya Yoona tak mengerti maksud Kris.

Kris menyeringai.

Kau menyeringai? Ya! Kau harus memiliki sopan santun terhadapku, Kris-ssi.

“Sopan santun kau bilang?” Kris menumpukan kedua lengannya diatas meja lalu mencondongkan badannya kearah Yoona.

“Kau yang harus punya sopan santun.” Ucap Kris datar.

Yoona mengernyit. Apa maksudmu Kris-ssi? Jangan memutar balikkan kata-kataku. Kita tidak sedang main tebak kata.

“Meski aku bisa membaca apa yang ada dalam lipatan terdalam otakmu sekalipun, kau harus tetap bersopan santun. Sekalipun bibir dan lidahmu itu hilang, kau masih memiliki tubuhmu untuk berbicara. Gerakkan tanganmu seperti aku menggerakkan mulut dan lidahku untuk berbicara. Kau gadis bisu, jadi gunakan juga sopan santun orang bisu. Jangan terlalu mengistimewakan kebisuanmu Yoona-ssi.” Kris berdiri dari duduknya lalu memasukkan dua tangannya disaku celana jeans abu-abunya.

“Sopan santun yang kau maksud. Aku menerimanya.” Kata Kris tersenyum. “Setelah kau bersopan santun dulu kepadaku.” Lanjutnya lalu membungkuk sebelum ia pergi.

Yoona menatap punggung Kris tidak percaya. Pria itu mulutnya sangat kasar. Wajah Yoona merah menahan amarah. Kenapa Kris selalu mengatainya orang bisu? Tidakkah dia tahu bahwa dirinya ini sudah mengetahui kalau dia itu bisu? Tidak perlu mengulanginya berkali-kali. Itu cukup menyakiti hatinya.

“Yonna-ya….” Sapa seseorang lagi sambil menepuk bahunya, menyadarkan pikirannya tentang Kris.

Oh Kyuhyun….

Tiba-tiba jantung Yoona berdegup kencang mendapati pria yang disukainya ada dibelakangnya.

To be continue….

Readers, jangan lupa commentnya ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s