Can You Hear Me – Chapter 3

Image

Title                       : Can You Hear Me – Chapter 3

Author                  : JJYoung

Genre                   : Romance, Fantasy

Length                  : Chaptered

Cast                       : Im Yoona

 Wu Yi Fan a.k.a Kris

Oh Sehun a.k.a Im Sehun

Lee Yeon Hee

Zhang O-Huang (OC)

Shin Cheonsa (OC)

***

 “Sehun namanya.”

“Kau menyukainya?”

“Apa? Aku?”

“Iya, memangnya siapa lagi? Aku?”

“Tidak, tentu saja tidak. Dia cukup populer di sekolah. Banyak gadis lain yang mengejarnya. Dan aku cukup pintar untuk tidak mencari masalah dengan penggemarnya.  Wajahnya tampan dengan bentuk wajah yang mendekati sempurna. Dia tinggi dan…”

“Apa kau barusan memujinya?”

Soo Hyang terhenyak. Tidak menjawab.

“Kau menyukainya.”

“Oh ya ampun oppa,” Soo Hyang melempar salah satu bantal sofa ke wajah Kris. Ia kemudian berdiri mendekati jendela kantor Kris lalu membuka gordennya.

“Silau gadis tengik!” Kris melepas kacamata bacanya.

“Lalu kau sendiri? Bagaimana hubunganmu dengan Yeon Hee-ssi?”

Kris berhenti memainkan bulpen ditangannya mendengar nama Yeonhee disebut. Sepertinya sudah lama Kris tidak menghubungi Yeonhee kekasihnya. Dia model supersibuk dengan banyak jadwal yang menantinya. Meneleponnya saja susah karena seringkali managernya yang mengangkat ponsel Yeonhee.

Kris beranjak dari kursi kerjanya lalu meletakkan kembali bantal yang dilempar Soohyang tadi. “Kenapa kau menanyakannya?”

Well, of course cause I’m curious about the beautiful Lee Yeonhee.”

On other side, you have to admit that you jealous for her beauty. That’s the truth.” Jawab Kris.

Soohyang tertawa menanggapi perkataan Kris. “Oh ayolah oppa. Yeonhee-ssi bukan satu-satunya yang paling cantik di Korea. Masih ada Song Hye Kyo dan Kim Tae Hee kalau kau tahu. Lalu jawaban pertanyaanku tadi?”

Kris menunduk menatap sepatu ketsnya. “Dia sibuk akhir-akhir ini. Teleponnya sering ia titipkan pada managernya.”

“Kau harus curiga. Jangan-jangan dia selingkuh.” Tandas Soohyang mengambil tempat duduk disebelah Kris. Ia mengambil satu bantal untuk menutup kakinya yang terbuka karena rok pendek sekolahnya.

“Selingkuh dengan managernya maksudmu?”

Well, terserah padamu. Kau tahu maksudku.” Sambung Soohyang.

“Oh iya, kapan kau menyelesaikan skripsimu? Appa membutuhkan ijazahmu untuk melegalkan posisimu disini. Kau tahu, banyak yang menggosipkanmu karena keistimewaanmu.”

“Skripsi? Jangan tergesa-gesa. Aku berniat fokus setelah aku menyelesaikan proyek yang sedang kukerjakan ini.” Kata Kris membuka map berisi dokumen-dokumen perusahaan.

“Terserah padamu lah. Kau mau lulus seabad lagi aku juga tidak peduli. Oh iya, kau juga harus berhati-hati dengan Alley Corporation. Aku dengar dari Sehun, saham mereka mulai meningkat. Sepertinya penjualan produk mereka menyentuh angka fantastis.”

“Kenapa kau mengatakannya padaku? Kau ada dipihak Sehun atau aku?”

“Hmmm..” Soohyang mengelus dagunya. “Aku ada di pihak Yonsei Grup. Karena perusahaan ini nantinya akan menjadi milikku.”

“Kalau Sehun menjadi milikmu juga, Alley Corp juga milikmu.”

“Ya!!!!! Wu Yi Fan!! Berhenti menggodaku!” Teriak Soohyang sambil memukul lengan Kris bertubi-tubi dengan bantal yang dipangkunya. Kris hanya menutupi wajahnya dengan lengannya sendiri.

“Permisi, apa aku menganggu?”

“Oh, Yeonhee-ssi…” kata Soohyang menghentikan aksinya untuk membuat Kris babak belur. Kris tersentak saat mendengar Soohyang menyebut nama Yeonhee yang dirindukannya. Kris memutar kepalanya lalu mendapati Yeonhee dengan wajah cantik seperti biasanya sedang tersenyum kearah Soohyang dan dirinya.

“Oh, chagiya…” kata Kris merapikan kemejanya lalu berdiri.

“Oppa, sepertinya aku harus pergi. Ingat, urusan kita belum selesai.” Kata Soohyang beranjak dari sofa lalu membungkuk pada Yeonhee sebelum ia berjalan menuju pintu.

“Kau mengejutkanku.” Kata Kris menarik bahu Yeonhee setelah Soohyang keluar dari ruangannya. Ia menopangkan dagunya dibahu Yeonhee lalu mengeratkan lingkaran tangannya dipunggung Yeonhee. Ia rindu dengan pelukan hangat gadis itu. Gadis yang bersedia menjadi kekasihnya sejak tiga tahun lalu. Sejak ia pindah dari Vancouver ke Seoul.

“Siapa dia?” Tanya Yeonhee menjauhkan badannya dari Kris.

“Adik keponakanku. Putri Lim Young Woon sajangnim. Dia pewaris tunggal Yonsei grup. Aku mengenalinya baru kemarin. Terakhir aku bertemu dengannya saat pemakaman ayahku 13 tahun lalu. Dia sangat berubah kalau kau tahu.”

“Sayangnya aku tidak tahu.” Sahut Yeonhee menatap Kris manja.

“Kenapa kau tiba-tiba kemari? Tidak meneleponku dulu.”

“Ada yang ingin kubicarakan. Penting. Lebih penting dari berita teroris Korea Utara.”

“Ya! Yeonhee-ah, kau pikir ini jaman perang?”

“Aku berharap tidak timbul perang.” Sahut yeonhee sekenanya.

“Tentu saja tidak.”

“Bukan itu maksudku.” Kata Yeonhee mengambil jarak antara dirinya dengan Kris. Kris mengernyitkan dahinya menanggapi tindakan tiba-tiba Yeonhee yang terasa aneh tidak seperti biasanya. Kris tahu pasti terjadi sesuatu pada Yeonhee ini. Tidak biasanya ia berubah serius begitu. Apalagi wajahnya yang diselimuti mendung seperti itu.

“Waeyo?” Tanya Kris mengelus pipi Yeonhee dengan ibu jarinya.

“Aku…”

“Chakkaman.” Potong Kris merasakan ponsel dalam sakunya bergetar. Ia merogoh ponselnya dan mendapati sebuah sms masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Ia segera membuka pesannya lalu membacanya segera, mungkin itu rekan kerjanya yang mengkonfirmasi untuk menerima kerjasama dengan Yonsei grup. Itu kabar gembira. Kris sudah menunggu sejak seminggu lalu untuk mendengar jawaban Opyung Corp tentang proyek kerjasamanya dengan Yonsei grup.

Apa kau tahu dimana O-Huang? Aku tidak bisa menemukan gadis China itu dirumahnya. Apa dia sedang bersamamu?

“Kris,”

Kris tersentak saat Yeonhee menggoyang-goyangkan lengannya. Kris cepat-cepat mengalihkan pandangannya kearah Yeonhee. Kris lebih mementingkan urusannya dengan Yeonhee dibanding dengan Yoona yang hanya menanyakan keberadaan O-Huang yang jelas-jelas ia tidak tahu. Kris memasukkan ponselnya lalu tersenyum menanggapi Yeonhee.

“Kau mau mengatakan apa?”

“Kau sepertinya belum makan siang. Kita bicara diluar.”

***

Kyuhyun-ah, terimakasih kau mau mentraktirku. Kata Yoona dalam ASLnya. Beruntung Kyuhyun pernah mempelajari ASL selama ia menjadi sukarelawan di Inggris. Jadi Yoona tidak perlu kecewa dengan Kyuhyun karena tidak mengerti maksudnya.

“Kau harus membalasnya.” Kata Kyuhyun setelah meneguk air putih ditangannya.

Ne?

“Kajja.” Kata Kyuhyun menarik lengan Yoona untuk mengikutinya. Yoona menatap tangan Kyuhyun yang mencengkeram erat pergelangan tangan kanannya. Ia tidak memperhatikan kanan-kirinya. Ia hanya focus memperhatikan tangan Kyuhyun yang menyalurkan sengatan listrik yang membuat debaran jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari kerja normalnya.

“Kita mau kemana?” Kata Yoona disela debaran jantungnya yang tidak normal. Ia berusaha menormalkan suaranya agar tidak terdengar terlalu antusias.

“Kau akan tahu.” Jawab Kyuhyun singkat diimbuhi dengan senyuman mautnya.

Yoona mengangguk kecil sambil merasakan setiap detik momen skinshipnya dengan laki-laki yang amat dipujanya. Pria itu berhasil membangkitkan lagi perasaan sukanya yang mati-matian ia pendam dalam-dalam hingga lapisan terbawah hatinya.

Hanya dengan sentuhannya.

“Pilih sepatu yang kau sukai.” Kata Kyuhyun cepat saat mereka sudah sampai di salah satu toko sepatu pusat perbelanjaan paling populer di Seoul. Yoona memandang Kyuhyun penuh Tanya. Apa maksud Kyuhyun tadi?

“Sudah.. pilih saja.” Kyuhyun mendorong bahu Yoona menelusuri jajaran high heels cantik yang tersusun rapi di rak kaca toko itu.

Yoona memandang satu per satu sepatu tersebut dan matanya tertumbuk pada high heels di ujung jajaran sepatu tersebut. High heels berwarna hitam  setinggi mata kaki dengan tali pink yang terangkai sempurna dibagian depan menyerupai sepatu boots. Sepatu itu sangat cantik dengan tinggi heels dibawah tumit sepanjang tiga inchi dan heels bagian depan setinggi satu inchi.

“Cantik…” Yoona menyentuh bagian tali sepatu itu.

“Nice choice.” Sahut Kyuhyun menyambar sepatu yang dipilih Yoona. “Aku rasa ini cocok untuk kado ulang tahun Yuri.” Sambung Kyuhyun.

Yoona membeku ditempatnya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali menatap wajah Kyuhyun yang sumringah mengelus-elus sepatu pilihannya. Bagai ditimpa puluhan ton besi padat, hati Yoona remuk seketika. Ini bukan salah Kyuhyun. Sungguh, bukan salah pria itu. Ini hanya kesalahan Yoona. Murni kesalahan Yoona. Yoona tahu, Kyuhyun dan dirinya tidak pernah berada dalam hubungan sedekat itu hingga sempat untuk sekedar menanyai sepatu favoritnya. Tidak seperti itu. Yoona hanya terlalu berharap pada Kyuhyun.

Air mata Yoona sudah bertumpuk disudut matanya dan siap banjir menuruni pipinya. Ia terlalu kecewa dengan perasaannya sendiri. Pria yang ada dihadapannya ini menyukai kakaknya bukan dirinya. Yoona lupa akan fakta itu.

Kyuhyun menepuk bahu Yoona. “Yoona-ya, kau kenapa?” Tanya Kyuhyun yang mendapati Yoona tiba-tiba menatapnya dalam setelah ia selesai memanggil salah satu pegawai toko sepatu tersebut untuk membungkus sepatu untuk Yuri.

Yoona menggeleng cepat sambil memalingkan wajahnya ke arah sepatu-sepatu cantik diseluruh rak. Aniya. Hanya saja masih banyak sepatu lain yang bagus. Komentar Yoona berusaha menyembunyikan air mata yang mulai memburamkan penglihatannya.

“Ada yang lain lagi yang bagus?” Kyuhyun antusias menanggapi ASL Yoona tadi.

Yoona menghela napas lalu mengusap air matanya cepat dengan punggung tanganya. Ani. Sahut Yoona cepat-cepat menarik tangannya dari jajaran sepatu cantik di rak toko.

Yuri eonni akan menyukai sepatu yang tadi.

“Oh, aku berharap seperti itu.” Jawab Kyuhyun tersenyum lalu pergi menuju kasir untuk mengambil sepatu yang akan menjadi kado ulang tahun Yuri.

***

Gomawo Kyuhyun-ah…

“Aku yang seharusnya berterimakasih.” Ujar Kyuhyun setelah ia menghentikan laju mobilnya. “Ini apartemen barumu?” Tanya Kyuhyun yang agak bingung dilihat dari air mukanya yang menatap bangunan dua lantai disamping kanan mobilnya.

Yoona mengibas-ngibaskan tangannya diudara untuk mengatakan tidak. Mana mungkin ada gedung apartemen dengan hanya dua lantai?

Ini rumah O-Huang. Kata Yoona dalam ASL.

Aku membutuhkan O-Huang saat ini Kyu, aku ingin menangis karenamu. Tapi tidak didepanmu. O-Huang yang mengerti perasaanku. Kata Yoona dalam hati sambil menatap dalam mata Kyuhyun yang bergerak menyusuri bangunan rumah Zhang O-Huang.

“Yoona-ya, gwaenchana?” Kyuhyun menggoyang-goyangkan lengan Yoona yang masih saja menatap sayu Kyuhyun yang sepertinya sudah ingin pulang dan cepat-sepat menyiapkan kejutan untuk ulang tahun Yuri empat hari lagi.

Yoona tersenyum lalu mendorong pintu mobil kearah luar lalu ia membungkuk berterima kasih pada Kyuhyun. Setelah Yoona menutup pintunya, Kyuhyun menginjak pedal gasnya dan melaju kencang menuju jalanan ramai kota Seoul.

Yoona tidak mendapat jawaban sama sekali setelah ia selesai menekan bel rumah O-Huang hingga enam kali. Ia membuka tombol password rumah O-Huang lalu mengetikkan tanggal lahir Song Seung Hoon yang kata O-Huang ketampanannya luar biasa. Oh benar, O-Huang seorang fan girl ditengah umurnya yang sudah menginjak angka dua puluh enam.

Kemana O-Huang?

Yoona mengelilingi seluruh sudut rumah minimalis O-Huang dan tidak menemukan tampang China wanita itu. Kamarnya juga dikunci. O-Huang hanya mengunci kamarnya saat ia pergi keluar saja. Katanya, ia takut kalau laptopnya dicuri orang. Padahal laptop O-Huang biasa-biasa saja. Ia terlalu paranoid.

Tidak ada. O-Huang tidak dimanapun.

Yoona segera mengeluarkan ponselnya dan menekan angka satu. Speed dial number yang ia gunakan adalah tiga orang yang akan ia hubungi terlebih dahulu jika ia berada dalam situasi gawat. Pertama, Zhang O-Huang. Tentu saja, dia translator favoritnya. Kedua, Sehun. Entah kenapa ia memasukkan nomor Sehun dalam daftar orang-orang itu. Ketiga, 911. Kalau yang ketiga ini ada alasan khusus. Siapa tahu apartemen Yoona kebakaran. Yoona tidak bisa berteriak minta tolong! Jadi, ia akan menghubugi 911 agar ia tidak mati terpanggang hidup-hidup.

Nomor O-Huang tidak aktif. Yoona mendumel pada ponselnya sendiri lalu mencoba menghubungi O-Huang lagi. Berkali-kali ia hubungi tetap saja ia mendapat jawaban yang sama.

Yoona hampir putus asa saat ia menemukan ide pada siapa ia akan bertanya. Kris. Dia kan sepertinya dekat juga dengan Kris. Siapa tahu makhluk menyebalkan itu tahu dimana O-Huang sekarang.

Apa kau tahu dimana O-Huang? Aku tidak bisa menemukan gadis China itu dirumahnya. Apa dia sedang bersamamu?

Sent.

Yoona menunggu ponselnya bergetar lagi sambil berjalan keluar rumah O-Huang. Ia menutup pintu rumah O-Huang dan menengok kanan-kirinya. Halaman bunga rumah O-Huang hari ini kering. Tidak biasanya seperti itu. O-Huang selalu menyiram bunga-bunga Aster Chinanya pada pagi hari sebelum berangkat. Dan tanahnya akan tampak basah sampai sorenya. Tapi hari ini tanah Aster China itu sangat kering. Sepertinya belum disiram mulai kemarin. Pikiran Yoona mulai was-was. Ia menatap layar ponselnya lagi. Siapa tahu Kris menjawab smsnya. Beruntung tadi ia bertemu dengan Shin Cheonsa. Ia jadi tahu nomor ponsel Kris.

Dan bodohnya, ia tidak tahu kenapa mendadak ia menginginkan nomor Kris!

Yoona menghentikan sebuah taksi lalu masuk kedalamnya. Ia memutuskan untuk kembali kerumahnya dan menangis sendirian bersama bantal dan seprai bunga Daisy favoritnya. Tidak selamanya ia harus menggantungkan hidupnya pada Zhang O-Huang. Ada saat dalam hidupnya ia berada dalam fase kemandiriannya sebagai wanita dewasa. Ia harus bisa mengatasi masalahnya sendiri dimulai dari hal kecil yang mengoyak hatinya seperti ini.

Zhang O-Huang, sebaiknya ia memberikan waktu pada wanita China itu untuk menikmati hidupnya sendiri tanpa mempedulikan urusan memilukan yang sering Yoona keluhkan setiap hari padanya. Khusus untuk hari ini. Dan hari selanjutnya, akan Yoona pastikan O-Huang akan menyesal karena absen untuk menghiburnya hari ini.

Taksi yang ditumpangi Yoona melewati sebuah jalanan yang sangat ramai dan terkenal diantara kaum selebriti. Ya, tentu saja. Ia melewati gedung SM Entertainment. Gedung yang menjadi saksi bahwa ia hampir berhasil debut, menyamai kepopoleran Girls’ Generation yang saat ini namanya berada di puncak keemasan. Ada Lee Soo Man disana, pria yang disegani seluruh anak didiknya. Pria itu yang hampir membawa Yoona berada di puncak seperti anak didiknya yang lain.

Tapi dia juga yang meruntuhkan bangunan mimpi Yoona. Begitu ia bisu, Lee Soo Man membuat keputusan tepat untuk SM. Tapi sangat mengecewakan bagi Yoona. Yoona didepak. Ya, katakan saja seperti itu. Memang benar itu faktanya.

Yoona menurunkan kaca jendela mobilnya, merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya. Di sana, ada Kim Taeyeon. Eonninya yang memiliki suara emas. Ada juga Kwon Boa, solois cantik yang berbakat. Ada juga Lee Yeon Hee, super model yang cantik luar biasa. Oh hey, apa Lee Yeon Hee yang pacarnya Kris itu Lee Yeon Hee seniornya di SM?

Yoona memasukkan kembali kepalanya yang daritadi melewati batas kaca mobil taksinya. Ia mengerutkan kening memikirkan siapa itu Lee Yeon Hee. Ah, kenapa ia jadi tertarik pada pacar Kris?

Yoona menggeser screen ponselnya untuk mengecek apakah ada balasan dari Kris tentang dimana O-Huang. Tidak ada. Kris tidak mempedulikan pesannya sama sekali. Yoona mendesis kesal menatap layar ponselnya.

Kris-ssi. Apakah Lee Yeon Hee yeojachingumu itu artisnya SM?

Yoona kembali mengirim pesan pada Kris untuk menjawab rasa penasarannya pada Lee Yeon Hee. Bukannya Yoona tidak tahu wajah sunbaenya, tapi otaknya belum sepenuhnya ingat bagaimana persisnya wajah Lee Yeon Hee sunbaenya di SM. Yoona tidak bermaksud sombong. Sungguh. Tidak ada niatan seperti itu. Hanya saja…

Ponsel Yoona bergetar tiba-tiba. Yoona mengangkat ponselnya lalu melihat screen ponselnya cepat. Bukan pesan, tapi ada panggilan masuk. Yoona benci ini. Ia memaki si penelepon dalam hati. Bodoh atau apa si penelepon itu, Yoona kan tidak bisa bicara. Mana mungkin ia akan menjawab teleponnya.

Yoona hendak menolak panggilan masuk tersebut. Tapi niatan awalnya berubah saat ia tahu bahwa ID caller-nya adalah Kris!

Yoona cepat-cepat menerima panggilan itu dan menyelipkan beberapa rambutnya di belakang telinga lalu menempelkan ponsel pada telinga kanannya.

“Yeoboseyo…”

Yoona mengernyit. Apa Kris bodoh sampai mengatakan hal itu? Seharusnya ia langsung bicara saja. Dia kan tahu kalau aku bisu.

“Apa ada orang disana?”

Yoona menjauhkan ponsel dari telinganya lalu memeriksa ulang siapa yang meneleponnya.

Benar itu Kris.

“Kau mendengarkanku?” Tanya si penelepon lagi.

Yoona cepat-cepat menurunkan ponselnya lalu menjentikkan jempol dan jari tengahnya sampai berbunyi selama tiga kali. Ia harap Kris mangerti bahwa ia sedang mendengarkan.

“Baiklah. Aku tidak tahu kenapa kau diam saja. Tapi aku yakin kau mendengarkan.” Tambah si penelepon yang Yoona yakini kalau ternyata itu bukanlah Kris. Sepertinya suara yang Yoona yakini laki-laki itu tidak mengetahui bahwa yang ia telepon sekarang adalah gadis bisu.

“Aku melihat daftar log ponsel pria ini yang terakhir adalah nomormu. Jadi, aku rasa kau yang tepat untuk dihubungi saat ini. Pria yang punya ponsel ini mabuk berat. Dan kau tahu kan ini sudah larut malam. Aku harap kau segara menjemputnya dan membawanya pulang.”

Astaga! Atas dasar apa aku harus menjemput Kris yang sedang mabuk? Yoona menggerutu dalam hati.

Andwae.. andwae. Shireo! Yoona menolak dalam hati.

Tunggu, tapi bagaimana Yoona mengungkapkan maksudnya??? Aduh, sial!!

Tut tut tut

Sambungan ponsel berakhir. Yoona mengetuk-ngetuk ponselnya karena sambungannya berakhir begitu saja. Ia tidak ingin pergi kemanapun termasuk ke tempat Kris yang sedang mabuk atau akan gantung diri sekalipun. Ia hanya ingin pergi ke apartemennya lalu mengunci pintu dan jendela rapat-rapat. Untuk menangis tentu saja. Ia masih ingat bahwa tadinya ia bersedih. Tapi entah kenapa malah momen kesedihannya dicampuri urusan hilangnya O-Huang, siapakah Lee Yeon hee dan terakhir mabuknya Kris. Lalu dimana prioritas kesedihannya karena patah hati?

Shireo! Yoona menggelengkan kepalanya.

Yogeum street 13. Dyrliem Café. Palli.

Pesan dari nomor Kris menginterupsi momen patah hatinya. Yoona menghela napas. Jika tidak tetap tidak. Lagipula siapa Kris? Dia masih mengingat bahwa Kris tidak peduli dengan pesan-pesannya tadi. Lalu sekarang, Yoona juga tidak harus peduli dengan urusan Kris. Benar seperti itu. Mereka impas.

***

“Noona tidak ikut?”

“Kemana?”

“Ke Hongkong.”

“Minggu depan aku baru ke Hongkong. Untuk apa kau ke Hongkong?”

“Isssshhh!!!” Kata Sehun sebal. “Yuri nuna! Pindah saja kau ke Hongkong!”

“Hei bocah, kenapa kau jadi berteriak. Sebenarnya mau apa kau ke Hongkong?”

Sehun menghela napas sejenak. Mencoba menenangkan setan-setan dalam otaknya untuk tidak berisik menyuruhnya menendang nunanya yang satu ini. Kaki dan tubuh Yuri boleh saja pandai menari balet. Tapi otaknya sungguh di bawah rata-rata. Sehun belum terbiasa dengan otak nunanya yang masih pentium empat ini. Tentu saja karena Yuri sibuk pulang pergi luar-negeri untuk mengikuti beberapa kompetisi balet.

Sehun mendengus sebal lalu menjauhi Yuri. Ia mengambil sepatunya di rak lalu bergegas menuju pintu. “Aku berangkat.”

“Sebenarnya kau mau kemana? Kau belum punya paspor.” Kata Yuri menyusul Sehun.

“Aissshhh. Aku tidak kemana-mana nuna. Aku hanya akan mengunjungi Yoona nuna di apartemennya.”

“Oh, tapi ini sudah malam.” Yuri mengangkat lengannya yang terpasang jam Swiss. Pukul sepuluh lewat empat belas.

“Aku rasa Yoona nuna akan mengijinkanku menginap.” Kata Sehun masuk mobil Chevrolet Volt putih milik Yoona. Sehun menghidupkan mesin mobil lalu menginjak pedal gasnya perlahan.

“Hati-hati dijalan.” Ujar Yuri melambaikan tangannya sampai mobil Sehun mendekati pagar besi rumah mewah keluarga Im.

Saat mobil Sehun hanya terlihat bagian belakangnya saat ditikungan, Yuri tiba-tiba mengejarnya. “Hei…. Kau belum punya SIM!!!!!!” Teriak Yuri dari kejauhan.

Sehun terkikik geli menanggapi nunanya yang berlari-lari mengejar mobilnya. “Maaf nuna. Kau berhentilah berlari. Aku harus memberikan mobil ini pada nuna.” Kata Sehun sendiri sambil menatap kaca spion mobilnya yang menampakkan bayangan Yuri yang berjongkok di tengah jalan sambil terengah-engah.

Sehun menghidupkan radio yang ada dalam mobil Yoona. Ia menggeser-geser frekuensi radionya sampai ia menemukan lagu yang pas untuk didengarnya.

Dear Mom. So Nyeo Si Dae.

“Seharusnya Yoona nuna juga menyanyikan lagu ini.” Kata Sehun melajukan mobilnya yang beberapa detik lalu terhenti karena lampu merah. Sehun yakin jika saja nunanya batal menjadi bisu, pastilah Yoona akan menjadi salah satu member Girls’ Generation yang kepopulerannya mendunia itu. Berjajar dengan gadis-gadis cantik lainnya. Oh, tentu saja nunanya yang paling cantik. Tapi sayang, tragedi yang tak seharusnya terjadi itu malah menimpa nunanya. Enam tahun lalu.

“Andwae!!! Jangan sakiti Yoona nuna!!!” Teriak Sehun.

“Sehun-ah! Apa yang kau lakukan??!! Minggir!!” Teriak Yoona menarik kedua bahu Sehun agar tetap berlindung dibelakangnya.

“Hey, what are you saying girl??!!” kata seorang pria berwajah bule dengan kumis tipis dibawah hidungnya. Seorang pria lain malah tertawa renyah menanggapi bahasa yang tidak dipahami keduanya.

“You have to go! Now!” Ancam Yoona sambil melangkah mundur. Keringatnya bercucuran menuruni kedua sisi pelipisnya. Meski kata-katanya tegas, tapi tangannya bergetar mencengkeram erat bahu kanan Sehun dibelakangnya. Yoona takut.

“Oh come closer, let’s have fun tonight!!!” pria berkumis tipis menyentuh dagu Yoona. Yoona membuang wajahnya ke samping kiri lalu mendelik tajam.

“Bikyeo!!!!!!” teriak Yoona.

Seorang teman pria berkumis tipis itu maju mendekati Yoona dan menarik paksa tangan Yoona untuk mendekat. Genggaman tangan Yoona terlepas dari bahu Sehun. Sehun sampai berteriak memanggil nama Yoona. Kedua pria itu tidak menggubris keberadaan Sehun. Mereka malah mendekati Yoona dan berusaha menelanjangi Yoona.

“Maldo Andwae!!!” teriak Sehun frustasi. Ia menyesali kenapa ia masih berusia lima belas tahun dan tidak bisa menggunakan tinjunya dengan baik di saat seperti ini. Tanpa pikir panjang –tentu saja karena Sehun masih belum dewasa– ia mendekati kedua pria mesum itu lalu menendang bokongnya. Ia mengambil sebuah balok kayu empat meter dibawah pohon ek tua lalu memukuli keduanya sembarang arah.

“What are you doing boy??!!!” Teriak kedua pria mesum itu bersamaan. Sehun mundur beberapa langkah saking kagetnya. Tangannya bergetar hingga balok kayu itu terjatuh dibawah kakinya. Kedua pria tadi melangkah mendekati Sehun yang terus mundur dengan bibir yang ikut bergetar. Sehun bisa mendengar nunanya yang terisak dibelakang kedua pria itu.

“Sehun-ah!! Lari!!!! Palli!!” teriak Yoona.

“Nuna.. nuna….” Kata Sehun lirih masih mundur.

“Do you know how it’s pain when you hit us with this??” Katanya menyeringai.

Pria berkumis tipis itu mengayunkan kayu yang dipegangnya kearah Sehun. Sehun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tak sanggup melihat apa yang akan terjadi pada wajahnya itu.

“Sehun-ahhh!!!!!!!!!!!!!!!”

“Ah, sudahlah.” Kata Sehun mematikan radio lalu fokus kembali menatap jalanan didepannya. Memori itu berputar dalam otaknya. Memunculkan kembali perasaan sedihnya.

Sehun menghentikan mobil di basement apartemen nunanya lalu menenteng kresek hitam yang sudah ia penuhi dengan tiga botol soju didalamnya. Ia berencana untuk mabuk pertama kalinya dengan nunanya yang cerewet itu.

Sebelum Sehun benar-benar berpindah dari basement ke arah lift, seorang pria berbaju biru dengan setelan jas hitam menghampirinya. Ia tersenyum lalu membungkuk. Sehun membalasnya lalu mengernyitkan kening.

“Oh, aku Kim Seung Ryeong.” Kata pria itu mengulurkan tangan.

Sehun memindahkan kresek ke tangan kiri lalu menjabat uluran tangan pria itu. “Ne. Kau mengenalku?”

“Im Sehun. Pewaris Alley Corp.” katanya singkat sambil mengembangkan senyum. “Aku cukup banyak tahu tentangmu.” Tambahnya.

“Eoh?”

Pria bernama Kim Seung Ryeong itu mengeluarkan dompet dari saku celananya. Bukannya uang yang diambil, ia menyodorkan sebuah kartu nama kepada Sehun. Sehun mengambilnya lalu menelusuri tiap detil kata yang tercetak rapi diatas kertas itu.

“SM entertainment?” Tanya Sehun mengangkat kepalanya lagi.

“Ne. Aku tahu kau pandai menari. Datanglah dan ikuti audisi di SM tiga bulan lagi. Jangan menyiakan bakatmu.”

“Jika kukatakan tidak?”

Seung Ryeong mengangkat bahu lalu tersenyum kecil. “Siapa yang tahu. Audisinya masih tiga bulan lagi. Kau tidak tahu yang kau katakan bulan depan.” Kata pria itu percaya diri.

Sehun menatap punggung pria bernama Seung Ryeong itu –setelah ia pergi– lalu tersenyum hambar. Ia kembali memandang kartu nama Seung Ryeong diantara jarinya lalu menarik sebelah sudut bibirnya. Bagaimana bisa SM mengetahui tentang bakatnya? Kasusnya sama dengan nunanya, bagaimana bisa SM juga tahu ada gadis secantik nunanya terselip di jajaran kompleks rumah mewah White Palace.

“Apa kalian pikir aku akan datang dan membuat nunaku sedih?” Sehun meremas kartu nama Seung Ryeong sambil menatap lurus arah lift. Ia menyelipkan remasan kartu nama itu di saku jaketnya dan akan membakarnya segera setelah ia sampai diapartemen nunanya.

***

Disinilah Yoona sekarang. Menatap pintu Dyrliem Café dengan tatapan jengkelnya. Ia tidak tahu bagaimana ia sampai disini. Yang ia ingat hanya ia memberikan ponselnya kepada supir taksi. Ia juga tidak tahu, kenapa ia malah memberikan isi pesan dari nomor Kris.

Yoona sudah meyakinkan dirinya bahwa kakinya tidak boleh melebihi batas pintu rumah diatas jam delapan malam. Tapi apa ini? Ini bahkan jam Sembilan malam. Didepan sebuah café pula. Dan parahnya, untuk seorang pria mabuk! Dan lebih parah lagi, pria itu tidak ada hubungannya dengan seorang Im Yoona.

Yoona menghela napas dalam satu tarikan. Ia mantap melangkahkan kakinya membuka café berpintu kaca yang dihiasi nyala lampu warna-warni. Anehnya, café itu sepi. Hanya ada mesin kopi otomatis di atas sebuah meja kayu setinggi satu meter disisi kanan ruangan berukuran tujuh kali sembilan meter itu.

Mwoya?

Yoona menuruni tangga besi yang ada disudut ruangan café misterius tersebut. Begitu menuruninya, suara musik menyergap telinganya. Dentumannya begitu keras. Penerangan lampunya juga semakin minim. Dyrliem bukan nama café. Dyrliem adalah sebuah bar!

Kaki Yoona bergetar. Nyalinya menciut menjadi sebesar biji jagung –oh, itu masih terlalu besar­. Kejadian enam tahun lalu berputar dalam otaknya dan membungkam bibirnya seketika. Yoona berbalik. Ia memutuskan untuk menyelamatkan kondisi jiwanya –yang belum sepenuhnya sembuh dari trauma psikisnya– daripada membawa pria mabuk yang belum tentu akan mengucapkan terima kasih nantinya.

“Ahgassi…” Ujar seseorang sambil menarik lengan kanan Yoona tepat saat ia ingin berbalik. Yoona refleks menepis tangan lelaki itu hingga ponselnya jatuh di tangga terakhir. Yoona mendelik tajam. Ia ragu akan mengambilnya atau tidak.

“Maaf, aku tidak sengaja.” Kata pria tadi sambil menyodorkan ponsel Yoona yang berhasil ia ambil. Yoona menatap ponselnya ragu. Itu ponselnya tapi ia takut untuk mengambilnya.

“Aisssh, aku lupa harus meneleponnya.” Kata pria yang sepertinya adalah bartender. Ia mengusap layar ponselnya berkali-kali lalu menempelkan ditelinga. Ia menunggu jawaban dari seberang sana.

“Ahgassi, kau tidak mengambil ponselmu?” Kata pria itu mengamati ponsel Yoona yang masih ditangan kanannya. Sedang tangan kirinya memegangi ponsel ditelinga.

Tiba-tiba saja ponsel Yoona bergetar.

“Omo… “ Seru si bartender bersemangat. Yoona menatap layar ponselnya yang memunculkan nama Kris sebagai ID callernya. Yoona tersentak lalu mengambil ponselnya cepat-cepat dan berniat untuk pergi.

“Ahgassi, kenapa tidak kau katakan daritadi? Aku menunggumu. Cepat ikuti aku dan bawa pulang pria gila itu. Daritadi mengeluh yang tidak-tidak.” Katanya dengan wajah yang agak jengkel.

Pria itu menuruni tangga melewati beberapa pasangan yang asik berdansa di tengah ruangan. Jangan dikira pasangan itu normal-normal saja. Keduanya mabuk dan saling bercumbu. Yoona bergidik ngeri melihat pasangan itu.

“Kau tidak ikut??” kata si bartender menyadarkan Yoona yang masih menggenggam erat ponselnya dengan tangannya yang bergetar.

Eoh?

To Be Continue….

 

Ahhh,,, author harap ada yang ninggalin comment ya kali ini di chapter 3 ini…

Amin, semoga!!! Jangan lupa commentnya. Comment apapun diterima..

Hehe

One thought on “Can You Hear Me – Chapter 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s