Can You Hear Me – Chapter 4

Can You Hear Me Poster

Title                       : Can You Hear Me – Chapter 4

Author                  : JJYoung

Genre                   : Romance, Fantasy

Length                  : Chaptered

Cast                       : Im Yoona

Wu Yi Fan a.k.a Kris

Oh Sehun a.k.a Im Sehun

Lee Yeon Hee

Zhang O-Huang (OC)

Shin Cheonsa (OC)

***

Pria itu menuruni tangga melewati beberapa pasangan yang asik berdansa di tengah ruangan. Jangan dikira pasangan itu normal-normal saja. Keduanya mabuk dan saling bercumbu. Yoona bergidik ngeri melihat pasangan itu.

“Kau tidak ikut??” kata si bartender menyadarkan Yoona yang masih menggenggam erat ponsel dengan tangannya yang bergetar.

Eoh?

Yoona bimbang sejenak. Ia masih memikirkan keselamatannya nanti saat keluar dari tempat terkutuk itu. Lagipula, Yoona sangat membenci alkohol, baunya saja sudah benci. Sehingga, bodoh sekali ia datang ke bar untuk membawa pulang seorang pria mabuk yang jelas-jelas akan berbau alkohol. Yoona merutuki kebodohannya. Tapi entah kenapa sisi kemanusiaannya mengatakan hal lain. Yoona tahu benar kalau Kris berasal dari Vancouver. Ia yakin, namja itu tidak memiliki banyak kerabat di Seoul yang akan bersedia untuk repot-repot menjemputnya.

“Ahgassi….” Si bartender menegur lagi.

Yoona tiba-tiba mengangguk. Sisi kemanusiaannya kini muncul menekan sisi pribadinya yang trauma akan kejadian enam tahun lalu. Yoona menurunkan kakinya perlahan lalu merapatkan jaketnya. Tak lupa ia menundukkan kepalanya saat memecah gerombolan orang berpakaian seksi ditengah ruangan. Yoona cantik, ia tahu fakta itu. Tapi ia menyesal dilahirkan cantik pada saat-saat seperti ini. Benar-benar memancing perhatian. Ada yang sengaja menarik tangannya. Ada yang sengaja menggodanya. Ada juga yang sengaja mengusap dagunya.

Dan Yoona sensitif akan hal itu. Ia menepisnya kasar.

“Maaf. Mohon jangan ganggu ahgassi ini.” Bartender tadi berbalik menghampiri Yoona dan menyelamatkannya dari gangguan-gangguan kecil yang mengancam Yoona. Bartender itu mengerti sepertinya, kalau bar bukanlah tempat yang cocok bagi gadis seperti Yoona.

Si bartender membuka sebuah pintu lalu menyuruh Yoona masuk. Ruangan itu gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang menerobos masuk dari jendela. Yoona menyipitkan matanya dan mendapati Kris sudah terkulai lemah tak sadarkan diri di sofa beludru bar itu.

Yoona menghampiri Kris dan mengangkat kepalanya pelan. Benar itu Kris. Aroma alkohol menyeruak dari mulut Kris yang menganga lebar. Dasinya sudah tidak benar. Kemejanya berlomba keluar dari ikatan sabuknya. Kemejanya juga basah dan Yoona yakin bahwa itu bekas alkohol yang tumpah.

“Dia mengigau aneh-aneh….”

“Oh, kau disini? Gadis bisu?” kata Kris tiba-tiba dengan matanya yang setengah tertutup.

Yoona mendengus sebal. Pria itu masih sempat mengatainya gadis bisu sekarang ini. Pada situsi mabuk parahnya yang merepotkan kehidupan Yoona yang damai dalam kebisuannya. Tidak tahukah dia bahwa hidupnya sekarang tergantung pada gadis yang tadi ia katai bisu?

“Kau bisa membawanya pulang segera kan?”

Yoona mengangguk lalu mengetik beberapa karakter dalam ponselnya.

Bisa bantu membawanya sampai taksi? Tolong.

Ia menyerahkan ponselnya pada si bartender. Si bartender sepertinya menyadari bahwa Yoona adalah tuna wicara. Ia menyerahkan kembali ponsel Yoona dan mengangguk perlahan. Ia mengangkat tubuh Kris dan menyampirkan lengan kanan Kris di bahunya.

“Bisa bantu dengan tangan kirinya?” Tanya si bartender hati-hati.

Apa?

Yoona tersentak. Yoona tidak berharap bahwa yang dimaksud si bartender adalah membantu menopang tubuh Kris juga seperti yang dilakukan namja pendek itu. Yoona sama sekali tidak ingin terlibat kontak fisik dengan Kris. Pria itu cukup menyebalkan baginya. Tidak sesentipun ia bersedia menjamah kulit pria China itu. Tidak tidak tidak.

Yoona mengerjapkan matanya beberapa kali menatap Kris dan bartender bergantian.

“Kau tahu kan, pria ini tinggi dan berat yang pasti. Dan kau lihat, aku pendek dan agak kesusahan membopongnya sendirian. Jadi, aku mohon…”

Yoona mengangguk sebelum bartender itu melanjutkan kalimatnya. Sudahlah, hanya malam ini saja. Lagipula si bartender pendek itu sepertinya akan tumbang jika menopang tubuh Kris lebih dari sedetik lagi. Yoona menatap Kris sebentar lalu segera melingkarkan tangan Kris dibelakang lehernya. Ia menopang berat badan Kris bersama si bartender. Kris terlalu berat untuk ditopang oleh seorang yeoja kurus seperti Yoona dan seorang bartender pendek berambut pirang seperti bartender yang satu itu.

Yoona membungkukkan badan pada si bartender setelah Kris berhasil dimasukkan di bangku belakang taksi yang sedari tadi menunggu Yoona. Si bartender mengangguk lalu kembali masuk ke dalam café gadungannya. Yoona membalikkan badan menatap Kris yang seperti orang linglung. Yoona menghela napas sambil masuk lalu duduk disamping tubuh Kris yang terkulai lemah dengan punggung menempel pada sandaran kursi. Sedang kepalanya mendongak.

Aisssshhh. Kenapa pria ini sangat merepotkan.

Yoona berkali-kali menyingkirkan kepala Kris yang tiba-tiba jatuh dibahunya. Yoona mendelik tajam. Jari telunjuknya terulur mendorong dahi Kris keras. Yoona tidak tahan dengan bau alkohol yang menyeruak dari mulut Kris. Sepertinya Kris ini sudah menghabiskan seluruh persedian alkohol Dyrliem Café.

“Kajima… jebal….”

Eoh? Yoona menengokkan kepalanya. Kris mengingau lagi.

“Yeonhee-ya…jebal….” Kata Kris lirih lagi.

Oh, gara-gara Yeonhee. Apa mereka bertengkar?

Kris menggapai sesuatu diudara kosong. Matanya sedikit membuka tapi pandangannya menerawang. Kris mengerjapkan matanya berkali-kali lalu mengalihkan tangannya pada sisi kiri dadanya. Yoona memperhatikan baik-baik. Tiba-tiba Kris meremas dada kirinya sendiri.

“Appo…”

Oh astaga. Yoona tertawa mengejek. Apa Kris baru saja patah hati?

Apakah benar ekspresi orang mabuk yang patah hati seperti itu? Kris menyebut nama Yeonhee, lalu dengan tiba-tiba mengatakan sakit. Apa pria itu benar-benar menggilai si super model itu? Lalu kenapa mereka tiba-tiba bertengkar? Seingat Yoona, Kris masih baik-baik saja  –dengan tingkah angkuhnya– di perpustakaan beberapa waktu lalu.

Tiba-tiba saja mobil taksi yang Yoona dan Kris tumpangi bergolak. Sepertinya ban mobil taksi yang mereka tumpangi melewati jalan berlubang. Kepala Yoona sampai membentur kaca jendela taksi. Sedangkan kepala Kris jatuh lagi dibahu Yoona.

Jinjja. Pria ini. Baumu sangat menyebalkan. Awas saja kau!! Kalau sudah sadar. Kau akan mendapat balasannya. Ingat Kris.

Yoona mengulurkan tangannya ke kepala Kris –untuk menyingkirkannya– sambil memalingkan kepalanya kearah jendela, menghindari bau alkohol yang menusuk hingga alveoli paru-parunya. Yoona mengutuk dalam hati menyumpahi agar Kris ini mati saja kalau sekali lagi merepotkannya dalam keadaan mabuk.

“Jebal….” Kata Kris lagi. Yoona menghentikan tangannya yang terulur lalu memperhatikan Kris disisi kiri bahunya.

“Eomma…. Appa…” tambah Kris.

Eoh? Kenapa tiba-tiba….

“Ahgassi, kita sudah sampai.” Sela si sopir taksi menyadarkan Yoona bahwa mereka sudah sampai di pelataran gedung apartemen mereka.

Yoona mengangguk lalu menyerahkan ponselnya –yang berisi sebuah teks pada si sopir taksi agar bersedia membantunya mengangkat tubuh Kris hingga depan pintu apartemen mereka. Tidak mungkin kan jika Yoona harus menyeret-nyeret tubuh Kris sepanjang jalan apartemen mereka? Bisa-bisa lengan Yoona patah atau bahunya akan kram sepanjang hari esoknya.

Yoona membungkuk berkali-kali pada si sopir taksi saat mereka sudah sampai di depan pintu apartemen Kris. Yoona melambaikan tangannya saat melihat supir taksi itu berada dalam lift. Beruntunglah Yoona hari ini bertemu dengan si sopir taksi baik dan juga si bartender ramah yang dengan senang hati mau menolongnya memindahkan tubuh Kris.

Yoona menghela napas menatap tombol password dan wajah Kris bergantian. Yoona memandang sebal kearah Kris yang terbaring tak sadarkan diri seperti orang bunuh diri disisi kiri pintu apartemennya. Setengah badannya terbujur dilantai, sedang dada dan kepalanya bersandar disisi kiri pintu apartemennya sendiri.

Berapa password apartemennya? Yoona menggaruk-garuk kepalanya.

Yoona berjongkok disisi kiri Kris lalu memukul lengannya keras hingga Kris tersadar dan membuka matanya lebar. Tiba-tiba Kris tertawa geli mendapati wajah Yoona didepannya. Yoona memukul lengan Kris lagi karena jengkel.

Tiba-tiba Kris menarik leher Yoona hingga Yoona terjungkal ke depan menimpa tubuh Kris. Yoona mendelik menatap Kris yang setengah sadar. Kris menyeringai pelan. Yoona berusaha memalingkan wajahnya karena mlut Kris tepat didepan hidungnya. Bau alkohol itu memenuhi seluruh rongga hidungnya, terasa mencekik lehernya.

Kris menarik leher Yoona lebih dekat. Dengan refleks, Yoona menahan tubuhnya dengan kedua lengannya bertumpu di dada Kris. Ia memilih memejamkan mata daripada melihat wajah buruk Kris yang awut-awutan seolah tidak mandi sejak jaman purba.

“Yeonhee-ya, kau tidak serius kan berkata putus?”

Yoona membuka matanya menatap mata Kris. Oh astaga! Pria ini diguna-guna atau apa sih? Kenapa ia begitu terobsesi dengan Lee Yeonhee sampai seperti itu? Sampai-sampai tidak mengenali wajah Yoona. Tidakkah ia bisa membandingkan wajah super cantik Yeonhee dengan wajah Yoona yang menurut Kris sendiri jelek?

Tanpa aba-aba, tangan Kris berpindah ke punggung Yoona dan menariknya hingga Yoona terjatuh diatas tubuh Kris. Pria itu memeluk erat Yoona seakan tidak mau melepaskannya lagi. Menganggap Yoona seperti Yeonhee si model cantik. Kris semakin erat  memeluk Yoona hingga ia hampir kehilangan napasnya. Yoona berusaha menarik diri dari tubuh Kris. Kepalanya amat pusing, penciumannya jengah dengan bau alkohol. Tapi sial, Kris malah menenggelamkan wajahnya dibahu Yoona. Menghembuskan napas hangat yang membuat Yoona agak merinding.

Pria gila! Yoona berusaha keras mendorong tubuh Kris hingga mereka terpisah. Yoona merapikan rambutnya lalu menangkup kedua pipi Kris kuat. Kalau bisa, berusaha meremukkan rahangnya dengan cengkeraman kuat tangan kanannya.

Berapa passwordmu? Tanya Yoona dalam pikirannya.

Tapi Kris tidak menjawab. Mungkinkah kekuatan super ajaibnya menghilang ketika ia tidak sadarkan diri? Oh, itu sebuah bencana buruk. Bisa-bisa Yoona meninggalkan Kris seperti korban pembunuhan didepan apartemennya sendiri kalau sampai itu terjadi.

Aaaah, eottohke?  Yoona menggigit bibir bawahnya.

Yoona ada ide. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya lalu dengan cepat membuka aplikasi browsernya. Ia mengetikkan nama Lee Yeonhee dimesin pencari dan menyentuh icon search setelahnya. Mungkin ide Yoona ada benarnya. Kalau Kris seperti ini karena Yeonhee, itu artinya dia sangat menggilai Yeonhee. Ada kemungkinan bahwa passwordnya adalah tanggal lahir model cantik itu.

Yoona berdiri dan memasukkan empat angka yang merupakan tanggal dan bulan Yeonhee lahir. Ia menutup matanya sambil berharap bahwa idenya itu merupakan ide paling ajaib untuk mengakhiri seluruh penderitaannya hari ini.

Ok.

Maaf, anda memasukkan kode yang salah.

Aisshhhhhhh!!!!!!!!!! Yoona menghentakkan kakinya berkali-kali. Bukan itu passwordnya. Apakah mungkin tanggal lahir Kris sendiri? Ide lain muncul dalam benaknya. Ia lalu berjongkok lagi dan merogoh seluruh saku Kris yang ada.

“Ya!!! Apa.. yang.. kau lakukan???!!” Teriak Kris berusaha menyingkirkan tangan Yoona dengan tangannya yang lemah.

Yoona menemukan dompet Kris lalu membukanya. Ia berharap ada SIM atau apapun yang menunjukkan kapan Kris lahir. Setelah Yoona mendapatkannya, ia segera memasukkan angka-angka tersebut dan……… sial semuanya salah.

Jigeum,… eottohke??? Yoona menggerutu dalam hatinya. Ia menatap tajam Kris yang mulai menggumamkan kata-kata aneh dalam bahasa China. Ia juga menyebutkan Yeon-hee, appa dan ummanya disela-sela gumamannya yang lebih mirip dengan suara sapi yang sedang mendengkur. Kris seperti orang gila yang kehilangan kesadarannya. Kadang memukul-mukul lantai kadang juga meraup sesuatu di udara. Pantas saja si bartender Dyrliem Café menyebut Kris pria gila saat di telepon tadi.

Tidak ada pilihan lain. Batin Yoona menggerutu.

Yoona mendekati apartemennya sendiri lalu memasukkan passwordnya untuk membuka pintu. Ia melebarkan celah pintunya lalu menghampiri Kris. Yoona mengambil napas panjang sekedar satu tarikan untuk meyakinkan dirinya bahwa keputusannya ini benar. Yap, memasukkan seorang pria mabuk ke apartemennya. Pilihan gila!

Yoona menyeret tubuh Kris dengan menarik kedua tangannya. Tubuh Kris menyapu lantai apartemen Yoona yang cukup dingin. Setelah ia yakin seluruh tubuh Kris masuk, ia menutup pintu di belakangnya. Yoona meletakkan tas dan melepaskan sepatunya. Ia kembali menatap tubuh Kris yang tak berdaya itu lalu berjongkok disebelah kirinya.

Yoona menepuk-nepuk pipi Kris keras berharap pria itu bangun dari ketidaksadaran dirinya. Tidak mungkin ia menaikkan Kris ke sofanya seorang diri. Yoona bukan keturunan atlet binaraga ataupun memiliki ayah seorang superman, ia tak sanggup lagi menari-narik tubuh Kris. Bukannya Kris yang kesakitan, malah tubuh Yoona sendiri yang mendadak pegal-pegal.

Kris membuka matanya lalu tersenyum pada Yoona.

“Neo….”

Bangun dan pindah ke sofa. Kata Yoona dalam ASLnya.

“Kenapa tanganmu menari-nari seperti itu… kau gila ya…hahahaha..” Tawa Kris.

Ya!!! Kata Yoona dalam hatinya. Ia mencengkeram rahang Kris dengan telapak tangannya lalu memfokuskan pandangan Kris pada matanya. Yoona menatap mata Kris cermat berusaha merebut konsentrasi pria itu.

Dengarkan baik-baik. Aku tidak kuat mengangkat tubuhmu. Jadi bangun dan pindah ke sofa sebelum tubuhmu masuk angin dan merepotkanku.

Yoona berharap Kris mampu membaca pikirannya kali ini. Ia sudah putus asa. Jika Kris tidak mau pindah dengan kakinya sendiri, ia benar-benar membiarkannya tidur dilantai sampai pagi. Yoona tidak keberatan sama sekali jika paginya pria itu muntah-muntah karena masuk angin. Itu balasan untuk merepotkannya malam ini.

Tidak ada respon sama sekali. Yoona mendesah lalu berdiri. Ia benar-benar tidak peduli kali ini. Yoona melangkahkan kakinya menuju meja lalu meneguk air putih diatas meja itu. Ia duduk menyandarkan punggungnya disofa lalu menatap Kris yang masih mengigau tidak jelas. Ia menutup matanya lalu menyandarkan kepalanya juga. Sambil telapak tangan menyelimuti keningnya. Ia lelah.

Bruukkkk

Baru lima detik nyawanya menghilang sejenak –ke alam mimpi–  Yoona membuka mata kembali. Ia merasakan kakinya berat. Sesuatu pasti menimpa kakinya. Yoona mengangkat kepalanya lalu memaksa punggungnya untuk tegak kembali –meski punggung itu sudah hampir remuk.

Kepala Kris ambruk dikakinya. Ia menyebut nama Yeonhee lagi sambil memeluk kaki Yoona. Oh! Astaga! Liurnya sampai membasahi kaki Yoona dan masuk disela-sela jarinya. Yoona memukul keningnya keras merasakan setan dalam tubuhnya membakar emosinya dan berteriak agar segera menendang Kris keluar dari apartemennya.

Sluurrp

Kris menghisap lagi liurnya. Yoona melempar pandangan jijiknya sambil merasakan lengket dikakinya. Kris menatap wajah Yoona lalu tersenyum seperti orang gila. Ia masih memeluk kaki Yoona lalu merambat naik. Menjadikan kaki Yoona seperti pilar panjat pinang. Matanya fokus menatap Yoona sambil berusaha menopang tubuhnya dengan berpegang pada kaki Yoona.

Yoona melempar pandangan anehnya. Kenapa dengan Kris kali ini. Jangan-jangan dia kerasukan setan lalu menganggap dirinya sebagai tiang penyangga untuk dia memanjat. Oh astaga. Kris sangat menyeramkan kalau sedang mabuk.

Mwoya. Yoona mengernyit kening saat Kris sudah mencapai lututnya.

Perlahan, Kris menggapai lutut Yoona lalu menopangkan kedua tangannya disofa tepat dikedua sisi tubuh Yoona. Yoona langsung mendelik karena kaget. Kris sudah menggapai kembali kesadarannya rupanya. Tapi, sedang apa dia? Dengan tampang bodohnya dan juga liurnya yang turun hingga dagu, ia mulai mendekati Yoona.

“Neo… nuguya???” Tanya Kris mendekati wajah Yoona.

Oh, tangan Yoona bergetar. Refleks ia bergerak mundur menjauhi wajah Kris yang semakin lama menjulur ke wajahnya pula. Satu langkah tangan Kris bergerak maju. Satu langkah pula Yoona bergerak mundur menyeret pantatnya ke belakang.

Kris-ssi… sedang apa kau???

“Kau bahkan cantik seperti Yeonhee.” Tambah Kris mengusap pipi kanan Yoona.

Yoona semakin mundur menghindari Kris. Apa-apaan ini? Kenapa Kris tiba-tiba menjadi mesum dan agresif seperti pria hidung belang. Yoona masih mundur dengan wajah dan tubuh Kris yang masih condong ke arahnya. Bahkan, kedua lutut Kris sudah disisi kanan-kiri lutut Yoona sendiri. Kris merangkak terus mendekati Yoona sambil tangannya bertumpu pada sofa. Yoona hanya berharap sofanya akan bertambah panjang seiring dengan tubuhnya yang mundur.

Sial. Pinggangnya sudah membentur lengan sofa. Jantung Yoona berdegup kencang karena jarak wajah Kris yang sedekat ini. Yoona ini seorang wanita normal, siapa yang tidak akan berdebar jika ada seorang pria dalam posisi sedekat itu. Sekali lagi, apalagi pria itu tampan.

Yoona ingin berteriak minta tolong.

Kenapa aku bisu? Yoona merutuki nasibnya.

“Kau bisu?” Kris menyahuti sambil menatap wajah Yoona dari jarak kurang dari sepuluh senti.

Kau menyahuti?

“Wah, ada gadis bisu secantik ini.” Kata Kris menahan punggung Yoona agar tidak terjungkal ke belakang karena hampir melewati batas lengan sofanya. Refleks, Yoona menarik kemeja Kris sebagai pegangan. Dalam ketakutannya, Yoona mencoba menarik napas kelegaan. Beruntung Kris sigap menangkap tubuh Yoona yang akan jatuh ke belakang. Kalau tidak, bisa gagar otak kepalanya.

Kris-ssi, jangan berbuat macam-macam. Ancam Yoona siku kananya semakin dalam menekan lengan sofa.

“Macam-macam? Maksudmu begini…” Kris memajukan wajahnya lagi sambil memandangi bibir Yoona. Yoona mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Matanya juga ia tutup rapat-rapat. Ia hampir pingsan sekarang. Mulut Kris –yang bau alkoholnya– sangat menyegat terlalu dekat dengan hidungnya. Ia tidak tahan dengan bau alkohol seperti ini. Ia mengatupkan matanya rapat bersiap untuk pingsan.

Bruuukkkk

Pingsan.

Kepala Kris tergeletak lunglai di bahu kiri Yoona. Yoona berusaha menyeimbangkan badannya yang hanya bertumpu pada sebelah sikunya. Yoona segera membuka mata untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia merasakan tubuh Kris sangat berat diatas tubuhnya. Kris pingsan diatas tubuhnya.

Ia membuka matanya perlahan dan….

“Yoona nuna!!!!”

Yoona mengalihkan pandangannya lewat bahu Kris tepat kearah pintu yang baru saja dibuka. Sehun dengan wajahnya yang merah padam berdiri membeku di depan pintu. Yoona menganga lebar mendapati adiknya berdiri disana seperti seorang ayah yang memergoki anaknya sedang berbuat mesum dengan pacarnya. Sehun marah! Yoona tahu pasti. Telinganya sampai memerah.

Yoona menggelengkan kepalanya cepat, berusaha menjelaskan bahwa yang Sehun lihat bukan seperti yang ada dipikirannya. Yoona mendorong tubuh Kris kuat hingga tubuh Kris jatuh di lantai. Yoona cepat-cepat berdiri lalu menghampiri Sehun.

“Ya!!! Nuna!! Apa kau memutuskan tinggal di apartemen sendiri untuk memasukkan seorang pria ke dalam rumahmu? Kau tahu apa yang kau lakukan???!!!” Teriak Sehun tidak bisa mengendalikan emosinya.

Sehun-ah, dengarkan nuna….

“Tunggu disini.” Potong Sehun. “Aku akan menyeret pria itu keluar. Urusan kita belum selesai nuna.” Kata Sehun menjatuhkan kresek hitam yang ditentengnya lalu bergegas menghampiri tubuh Kris yang tergeletak dibawah sofa. Sehun geram, tidak seperti nunanya yang dulu. Apa sebenarnya alasan nunanya membawa seorang pria ke dalam apartemennya lalu kepergok dalam posisi yang…  tahu sendirilah posisi apa itu.

“Ya!!! Neo!! Ireona!!! Jigeum!!!” teriak Sehun menendang-nendang pelan kaki Kris.

Tapi Kris tak bergeming.

“Ya!!!!” Teriak Sehun frustasi.

Yoona memukul punggung Sehun untuk mendapat perhatiannya.

“Apa sih nuna!” Sehun mengibas-ngibaskan bahunya sambil menatap kesal nunanya.

Yoona tidak tahu harus apa agar Sehun mendengarkannya dulu. Kalau saja ia bisa berbicara, ia akan langsung berteriak pada Sehun bahwa ia salah paham. Setelah itu, ia akan mendendang dua namja itu keluar apartemennya. Hari ini sudah cukup melelahkan baginya. Jangan ditambah lagi dengan keluhan Sehun yang super cerewet ini.

Yoona putus asa. Ia menarik lengan Sehun kasar lalu mendorongnya ke sofa hingga Sehun jatuh terduduk di sofa.

“Nuna apa yang…” Sehun berusaha berdiri tapi didorong lagi oleh Yoona.

Dengarkan nuna dulu. Yoona menggunakan ASLnya.

“Tapi…”

Dengarkan dulu!

Setelah dirasa Sehun cukup tenang ­–meski faktanya tidak– Yoona langsung berdiri tegak didepan Sehun lalu mengambil napas sebelum menjelaskan semuanya yang Yoona rasa sangat panjang untuk dijelaskan.

Dengar, aku tidak berbuat apapun seperti yang kau pikirkan. Dia bukan orang brengsek. Dia tidak berbuat apapun padaku. Dia hanya tetangga apartemenku. Aku hanya menolongnya yang sedang mabuk, tapi aku tidak tahu password apartemennya. Jadi, aku tidak bisa mengembalikannya ke apatemennya sendiri dan membawanya kesini.

Sehun berdiri kesal. “Dia mabuk? Tidak tahukah kau bahwa pria mabuk sangat berbahaya??!! Kenapa kau sembarangan memasukkan pria ke apartemenmu??”

Aissssh. Yoona memukul kepala Sehun keras.

“Ya!! Nuna!! Appo!!” Kata Sehun mengelus kepalanya.

Sehun-ah, jebal. Aku sudah lelah hari ini. Jangan membuatku mati bediri dengan omelanmu yang seperti nenek-nenek. Sekarang, bisakah kau membantuku memindahkannya ke kamar tamu?

Sehun menatap Kris sebentar dengan tatapan membunuhnya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Yoona yang tampangnya sudah acak-acakan. Sehun memaafkan nunanya kali ini. Ia mengangguk menyanggupi permintaan Yoona.

Sebenarnya Sehun percaya sepenuhnya pada Yoona. Hanya saja ia terlalu khawatir pada nunanya. Ia yakin, Yoona bukanlah gadis sembrono yang dengan gampangnya memasukkan pria kedalam rumahnya. Pasti Yoona sudah berusaha keras mengembalikan Kris ke apartemennya sendiri. Sehun tahu pasti. Kyuhyun saja yang jelas-jelas ia sukai tidak diizinkan masuk kamarnya. Sehun yakin pasti ada alasan lain kenapa nunanya membawa pria mabuk kerumahnya.

“Lain kali kau harus meneleponku, nuna. Apa fungsinya nomorku di speed dial ponselmu?” Kata Sehun saat keluar dan menutup pintu kamar tamu apartemen Yoona. Badan Sehun rasanya remuk. Tubuh Kris sangat berat dari yang ia perkirakan.

Eoh? Kau tahu? Kata Yoona penasaran sambil menghidupkan TV diruang tamunya. Sehun menghampiri Yoona lalu duduk disampingnya.

“Hanya menebak.” Kata Sehun mengangkat bahu. “Kau tidak mungkin meletakkan nomor appa di speed dialmu. Haha..”

Yoona mencibir.

Untuk apa kau kesini?

“Sebenarnya aku ingin minum soju denganmu.” Kata Sehun bersemangat.

Kau sudah dewasa rupanya.

“Tapi aku masih tetap remaja lima belas tahu jika didekatmu. Ssst! Ini rahasia.” Kata Sehun menempelkan jari telunjuknya di depan mulutnya sendiri.

Apa-apaan bocah ini.

“Nuna, ayo minum soju.” Kata Sehun mengambil soju dari dalam kresek hitamnya tadi.

Berikan aku satu gelas.

Sehun menuangkan soju pada gelas Yoona dan segelas lagi pada gelasnya sendiri. Sehun menatap Yoona lalu mengangkat gelasnya untuk mengajak nunanya bersulang.

“Ah…” Sehun mengatupkan bibirnya rapat. “Ternyata begini rasanya…”

Jangan biasakan minum. Kata Yoona dalam ASLnya setelah Sehun meneguk satu gelas lagi.

“Kau tidak ingin lagi?” Tanya Sehun.

Yoona menggeleng. Siapa yang mengurusmu kalau aku ikut mabuk?

Sehun tertawa renyah. “Aku merasa seperti anakmu.”

Yoona tersenyum hambar.

Bagaimana kabar appa dan eomma?

“Baik. Seperti biasanya, appa mendumel tidak jelas soal nilai tukar won yang melemah. Lain halnya dengan eomma, hidupnya lebih tenang setelah bebas dari bisingnya pertengkaran kita.” Kata Sehun melepas jaketnya lalu menyampirkan dilengan sofa.

Yoona terkikik geli mendengar jawaban Sehun. Ia tersenyum menatap adiknya itu. Yoona mengulurkan tangannya lalu mengacak pelan rambut Sehun.

Kau sudah punya pacar?

Sehun hampir memuncratkan soju dalam mulutnya. “Pertanyaan macam apa itu?”

Yoona mengangkat bahu. Kau harus mengenalkannya padaku.

“Tentu saja, aku kan sudah bilang. Dia akan lebih cantik darimu. Jadi, perlu kubuktikan.”

Yoona tertawa mengejek. Belum tentu aku merestuinya.

“Lalu kau sendiri? Apa dia pacarmu?” kata Sehun menunjuk arah kamar tamu.

Yoona menggelengkan kepalanya cepat.

“Kalau bukan, kenapa kau menolongnya? Ini pertama kalinya kau mengizinkan seorang pria menginap dirumahmu.”

Aku tidak tahu password apartemennya. Lagipula, dia bukan pria brengsek.

“Aku baru tahu pria pemabuk bukan kriteria pria brengsek.” Sindir Sehun.

Dia teman O-Huang.

“Apa menjadi teman O-Huang berarti jaminan ia pria baik-baik?”

Molla. Hanya saja aku merasa dia pria baik-baik.

“Nuna,” Sehun menegakkan tubuhnya. “Jangan katakan kau menaruh perhatian padanya.” Tanya Sehun menyelidik.

Yoona mendorong kepala Sehun. Hei bocah, sepertinya kau mabuk.

“Ayolah nuna. Tidak biasanya kau seperti ini. Sudah banyak pria yang mendekatimu. Tapi tak satupun berhasil masuk ke kamarmu. Lihat dia, dia bahkan tidur diapartemenmu.”

Sehun-ah, kau mulai menggila.

“Nuna, jujur saja…” Goda Sehun.

Kau kesini mau mengunjungiku atau menyerahkan lehermu untuk kupatahkan?

“Issshhh, terserah padamu. Suatu saat ketika kau menyadari perasaanmu, jangan datang dan mengeluh padaku. Mengerti??!!” Kata Sehun meletakkan botol sojunya lalu berjalan menuju kamar Yoona.

Apa-apaan bocah itu.

***

Kris mengerjapkan matanya beberapa kali. Warna atap di atasnya asing bagi matanya. Ia mencari sudut lain yang mungkin cocok dengan ingatannya. Disisi kanannya ada kaca rias besar berwarna peach. Kris tidak ingat pernah meletakkan kaca rias sebesar itu. Disisi kirinya ada gorden abu-abu panjang yang masih tertutup rapat. Seingat Kris dia tidak memasang gorden sepanjang itu di kamarnya. Ia menatap kasurnya. Seprai bunga daisy. Oh, feminim sekali warnanya. Jelas itu bukan seleranya.

“Dimana aku?” Kris menegakkan punggungnya. Rasa sakit menyergap kepalanya, seperti ia dipukul dengan stick golf. Kris memegang kepalanya pelan hingga selimutnya melorot sampai batas pinggangnya.

“Mwoya??!!” Katanya sambil memelototkan mata. Gawat, dia telanjang dada. Ia mengibaskan selimutnya cepat untuk memeriksa apakah celananya juga telah ia tanggalkan.

“Ah, syukurlah…” Desah Kris lega mendapati celananya masih terpasang. Ia bangun lalu berjalan mendekati pintu. Samar-samar ia mendengar suara seorang pria berbicara sendiri diluar sana. Kris memegang kenop pintu lalu membukanya pelan. Ia melihat seorang pria –tapi, tampangnya masih bocah– sedang duduk di meja makan dengan sumpit yang sedang mengaduk-aduk makanan di mangkuknya.

“O-Huang akan menikah….” Kata namja itu dengan mulut penuh.

O-Huang? Apa yang dia maksud O-Huang yang ia kenal? Si translator gadis bisu itu? Kris mengernyitkan dahi. Ia lalu mencari sosok lain yang sedang diajak bicara oleh namja berseragam SMA Victory itu. Oh ya, Kris tau SMA Victory. Tentu saja. Lim Soo Hyang juga memakai seragam yang sama seperti namja itu.

Kris mendapati sosok Yoona sedang berjalan mendekati namja itu dan perlahan meletakkan segelas susu stoberi disampingnya. Yoona menarik kursi didepan siswa SMA itu lalu duduk ikut makan dengan Yoona.

“Ya!!!! Ya! Ya!! Jangan ambil ikannya! Itu milikku!!!!” Kata namja itu dengan sumpit menghalangi sumpit Yoona. Yoona mendelik kesal lalu memukul kepala namja itu keras.

“Apa-apaan mereka.” Gumam Kris menatap dua manusia kekanak-kanakan di depannya. Ia mengerti sekarang, ini adalah kamar Yoona. Tetangga apartemennya yang kerjanya mengusik pikiran damainya. Setiap bertemu dengannya, pasti otak Yoona berceloteh macam-macam. Kadang meminta bantuan, kadang juga marah-marah tidak jelas. Dia juga dengan seenaknya menggumam di otaknya tanpa mau menggunakan bahasa isyarat. Yah, meski ia kenyataannya tidak menguasai bahasa isyarat manapun, Kris juga manusia biasa yang dianggap normal oleh orang lain. Tidak mungkin, didepan semua orang ia akan berbicara dengan gampangnya dengan orang bisu. Apa itu tidak terlihat aneh? Setidaknya, orang bisu juga punya tata kramanya. Tapi sulit membuat Yoona mengerti.

“Ya!!!” Teriak namja itu yang gelombang suaranya tepat terarah ketelinganya. “Pakai bajumu dan segera pergi.”

Kris menatap ke arah Yoona, menunggu reaksi gadis itu tentang perkataan bocah SMA yang berusaha mendepaknya keluar apartemen. Sial, Yoona hanya mengangkat bahu. Apa dia juga berniat mengusirnya tanpa menjelaskan apa-apa padanya tentang semalam?

Kris menutup pintu dibelakangnya lalu berjalan mendekati kedua manusia yang sepertinya keturunan asli Korea. Ia menatap tajam bocah SMA itu lalu menarik kursi disebelah Yoona. Sehun mendecak sebal menatap Kris. Bukannya pergi ia malah duduk bersama mereka. Apalagi bau tubuh Kris yang bercampur aduk, merusak selera makan mereka saja.

“Dimana bajuku?”

“Bukannya apartemenmu dekat? Untuk apa mencari baju?” Kata Sehun garang.

“Ya! Bocah SMA, sebenarnya kau ini siapa? Pacarnya Yoona?” Tanya Kris sinis menatap kearah Yoona yang meneguk susu stroberi. “Hebat sekali kau bisa menggaet pria muda.”

“Ya!! Bukannya berterima kasih kau malah bicara seperti itu??!!! Dasar tidak punya sopan santun!” Sehun bangkit dari duduknya lalu menghampiri Kris dengan kepalan tinju yang siap dilayangkannya.

“Hei, remaja labil. Turunkan tinjumu sekarang juga atau kau yang akan babak belur dan merengek pulang mengadu pada eommamu.” Kata Kris datar menanggapi Sehun yang mencengkeram bahu kanannya. Sehun semakin meninggikan kepalan tangannya.

Yoona berdiri dari kursinya lalu menghalangi Sehun cepat.

Sekolahmu jauh dari sini. Pergilah sekarang. Kata Yoona dalam ASLnya.

“Tapi nuna….”

Sekarang!

Sehun ingin melayangkan protesnya, tapi mata nunanya itu sudah berkilat-kilat dan akan segera memancarkan bola api kalau Sehun tidak segera menurutinya. Sehun menurunkan tangannya cepat lalu menatap tajam Kris. Memberikan pesan –melalui pandangannya agar tidak macam-macam dengan nunanya.

“Jadi, apa yang terjadi padaku semalam?” Tanya Kris setelah Yoona menutup pintu apartemennya saat Sehun –si bocah SMA– pergi sekolah.

Yoona memandang Kris sesaat tanpa ada sedikitpun tanda-tanda kalau Yoona akan menghampirinya lalu duduk tenang disampingnya. Menjawab semua pertanyaan Kris tentang tadi malam. Yoona berjalan mendekati sofa lalu meraih remote tv di atas sofa. Yoona mematikan siaran televisi yang sedang menyiarkan berita cuaca untuk hari ini.

“Kali ini kau boleh tidak ber-ASL. Jadi, bicaralah dengan pikiranmu.” Kata Kris yang merasakan sunyi senyapnya pikiran Yoona.

Yoona tidak menggubris. Ia merapikan jacket dan topi Sehun yang tertinggal di sofa apartemennya semalam. Ia menemukan kunci mobilnya di saku jacket Sehun. Yoona tahu pasti, Sehun sengaja meninggalkan kunci mobilnya di apartemen Yoona. Ah, si bocah itu. Keras kepala sekali memberikan mobil pada Yoona.

Mwoya? Kata Yoona menemukan bola kertas yang lusuh di saku jacket Sehun. SM?

To Be Continue…

2 thoughts on “Can You Hear Me – Chapter 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s