Speak Now

17933ceae4a31eee0e4d6ec84ba80ca6 copy

            Mengenai deterioration, kemunduran dalam suatu hubungan.

            Kemunduran dalam suatu hubungan biasanya melewati lima tahapan.

            Pertama, intrapsychic processes. Pada tahapan ini adalah tahap di mana mulai ada rasa kecewa dalam suatu hubungan. Pelakunya akan cenderung berfokus pada masalah yang ada diantara mereka (pasanganya).

            Kedua, dyadic processes. Tahap ini pola hubungan, kebiasaan – kebiasaan, aturan – aturan, yang dijalankan selama hubungan mulai runtuh.

            Ketiga, social support. Tahap dimana pelaku membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitarnya untuk menghadapi masalahnya, yang paling dekat biasanya keluarga dan teman.

            Keempat, grave-dressing processes. Dimana pelaku mulai “menguburkan” hubungan mereka dan menerima bahwa hubungan telah berakhir.

            Terakhir, resurrection processes. Tahap dimana pelaku mulai pergi (move on) dan membiasakan diri hidup tanpa orang yang dicintai.

 

***

            Gereja ini mulai penuh, riuh dengan orang.

            Bangku – bangku jati hampir terisi penuh. Semua orang sudah mengambil posisi, kecuali aku. Berdiri kaku di ambang pintu gereja. Terlalu ragu untuk mengambil langkah. Barangkali, aku memang tidak punya keberanian. Untuk menghadiri pesta pernikahanmu, denganya.

            Tidak, Kim Taeyeon kau harus kuat! Kau harus berani! Ingatlah tujuanmu datang ke pesta ini. Bukan untuk menunjukan kalau hatimu sedih, tapi menunjukan bahwa kau baik – baik saja tanpanya.

            Aku menghirup nafas dan menghembuskanya perlahan, memantapkan diri. Benar, kau pasti bisa Taeyeon ucapku seorang diri. Kemudian, aku mulai membuka kakiku, menggerakan kaki kananku terlebih dahulu untuk melangkah maju. Aku harus segera menemukan tempat terbaik untuk menyaksikanmu di altar berdua denganya. Aku tidak mau kehilangan moment ini. Kuputuskan duduk pada bangku baris kedua dari altar. Supaya kau mengetahui kalau aku sedang menyaksikanmu.

Hari ini aku sudah mempersiapkan segalanya.

Aku menggunakan baju yang sama seperti hari dimana kita berada di restoran favoritmu dan kau menyatakan cinta padaku. Katamu pada saat itu ‘gaun yang indah’.

Dengan sengaja, aku menata rambutku seperti kesukaanmu. Yang selalu kau komentari ‘aku suka melihat kau menata rambutmu seperti itu, kau terlihat cantik’.

Aku pergi ke salon pagi buta. Lebih pagi dari calon pengantinmu. Aku mengenakan masker dengan campuran serum emas. Petugas salon mengatakan bahwa masker itu akan membuat wajahku bersinar dan mengeluarkan aura yang memukau.

Kurias diriku secantik mungkin, layaknya artis yang akan berjalan di Red Carpet pada perhelatan Oscar. Tak boleh ada noda hitam yang terlihat di wajahku, tapi riasanku harus terlihat alami. Tidak penuh dengan dempul bedak.

Aku mengoleskan lipstick pink berry. Lipstik yang sama, seperti yang kugunakan saat ciuman terakhir kita.

Aku sudah mempersiapkan segalanya. Supaya kau tersadar dari tempatmu berdiri di altar, kau menikahi gadis yang salah. Meninggalkan aku yang jauh lebih baik daripada dia.

“Taeyeon, kau datang?” aku merasakan seseorang datang dan mengambil tempat disebelahku. Aku menoleh, temanmu ternyata.

“Memangnya aku tidak boleh datang?” balasku menantang.

“Tidak, siapa yang bilang begitu. Aku hanya terkejut dan …” dia menilaiku, aku tahu. Aku bisa melihat matanya bergerak, menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Kau sangat cantik hari ini” pujinya. Lihat bahkan temanmu sendiri memujiku cantik.

“Terimakasih” aku menyunggingkan senyum termanisku.

Sekarang aku hanya perlu menunggu reaksimu. Apakah kau juga sependapat bahwa hari ini sangat cantik. Mungkin, kau menyesal menikah denganya? Menyesal meninggalkanku tanpa sebab.

Sebab …

Saat kau mengatakan ingin berpisah denganku. Setelah aku menunggumu lama sekali di Restoran Steak Australia kala itu, kau menghujaniku dengan puluhan bahkan ratusan sebab-alasan. Katamu, visi misi kita tidak sejalan, aku terlalu pasif dan kau tidak ingin berkencan bersama anak kecil.

Aku terpukul, sangat. Tapi aku coba untuk tidak terpuruk.

Aku menjalani hari baru, dengan seorang pria. Tapi itu saja tak cukup.

Aku masih mengingatmu, aku masih menyukaimu.

Maka aku meninggalkan pria baik itu. Kuputuskan menemuimu. Memperjelas hubungan kita. Aku tidak yakin, hanya karena visi misi yang tak sejalan kau mengakhiri hubungan yang sudah kita bina selama tiga tahun ini.

Dan kau memenuhi permintaanku.

            Kau memperjelas semua alasan mengapa kita harus berpisah. Katamu, kau kecewa denganku. Kau mulai merasah jenuh bersamaku. Perlahan semua kebiasaan, hal yang kita lakukan bersama tidak menarik dimatamu. Semua aturan main yang kita lakukan selama ini mulai runtuh. Kau butuh dukungan supaya hidupmu kembali berwarna. Dan, kau tidak menemukan itu dariku.

            Kemudian, terbesit sebuah pemikiran dipikiranmu, kalau kita sudah tidak sejalan. Kau mengakhirinya denganku. Hubungan kita yang sudah tidak baik lagi. Kau harus menemukan seseorang yang baru, yang melengkapi dirimu. Yang tidak membuatmu kecewa dan tidak membuatmu jenuh.

            Itu semua yang kau ungkapkan padaku.

            Tapi, yang lucu adalah semua ucapanmu dusta.

            Hari dimana aku datang ke kantormu untuk memperjelas hubungan kita. Saat itu kau sedang rapat dan sekertarismu menyuruhku menunggu di ruangan kerjamu. Dimeja kerjamu aku menemukan sebuah buku. Komunikasi Antar Personal. Salah satu halaman dari buku itu kau lipat, aku membaca isi halaman yang kau lipat itu. Isinya sama persis dengan semua yang kau ucapkan padaku.

            Kau tidak bersungguh – sungguh mengucapkan semua itu, aku tau. Kau hanya meniru tulisan dari buku yang kau baca. Kau hanya berdusta. Karena aku tau alasan sebenarnya kau memutuskanku.

Kau tidak berani, bukan seorang pemberani untuk memperjuangkan hubungan. Kau dijodohkan. Dengan dia yang katanya lebih sempurna dariku. Dan kau, tidak berani melawan orang tuamu untuk mengatakan tidak.

Kau hanya pendusta, pengecut dan pria brengsek.

           “Pengantin pria memasuki ruangan”

            Suara pengumuman dikumandangkan. Aku terenyak dari pemikiran – pemikiran yang seharusnya tidak lagi bergeriliya di otaku. Aku mengangkat kepalaku. mengindarkan pandangan mataku untuk menangkap sosokmu. Disitu kau rupanya. Di Altar mengenakan tuxedo hitam. Harus kuakui, kau juga sangat tampan hari ini.

            “Pengantin wanita memasuki ruangan”

            Aku segera memutar kepalaku. Menoleh kebelakang. Memusatkan perhatian pada sosok seorang wanita tinggi di ambang pintu utama gereja. Caranya berpakaian layaknya boneka di kue tart pernikahan, setidaknya bagiku seperti itu. Alunan musik khas pernikahan terdengar. Menggema diseluruh gereja. Bagiku musik ini tak ubahnya musik kematian.

            “Hari yang bahagia ini kita semua berkumpul untuk menyaksikan kedua insan manusia ini bersatu dihadapan Tuhan. Sebelum kita memulai upacara suci ini, jika ada yang keberatan dengan upacara ini dimohon untuk mengajukan diri agar kelak…”

            Aku berdiri, seketika.

           Hanya sedetik sebelum Pendeta mengakhiri ucapanya mengenai keberatan.

            Aku bisa merasakan, semua mata dalam gereja itu menatapku.

            Ada apa? Kenapa wanita itu berdiri? Siapa gadis itu? Apa yang ingin diucapkanya? Apa yang dia lakukan? Aku tahu semua bisik – bisik itu dibelakangku. Tapi aku tak peduli.

            I’m only looking at you.

            Aku juga bisa melihat kau balik menatapku. Matamu itu, cahayanya yang kusukai. Aku mendapat kesan yang entah darimana bisa kupikirkan hal ini, bahwa yang kau inginkan berada disisimu dialtar itu adalah aku.

            Sudah cukup Kim Taeyeon.

Kau sudah menunjukan sosok mu yang cantik dihadapanya. Seperti pemikiran gilamu, dia menyesal tidak memilihmu. Kau bisa melihatnya kan? Dari caranya menatapmu. Sekarang selesai sudah. Kau bisa pergi. Bukankah hanya ini yang kau inginkan?

            Membuatnya menyesal karena tidak memilihmu dan menunjukan kau baik – baik saja.

            Yeah, aku hanya ingin membuatnya menyesal.

            Tiga menit keheningan. Semua celetukan kecil yang diarahkan padaku. Tentang seorang gadis aneh yang tiba – tiba berdiri saat Pendeta mempertanyakan keberatan tapi gadis itu hanya diam saja. Semua itu telah berakhir.

            Aku bergerak. Berjalan keluar dari bangku baris nomor dua.

            Dia sudah menyesal dan aku sudah cukup mendapatkan perhatian luar biasa.

            Aku harus pergi, tujuanku bukan untuk membuat kacau upacara ini.

            Aku melangkah semakin cepat dalam tiap detik berikutnya. Aku ingin mengeluarkan diri dari gereja ini. Dari keadaan yang penuh tekanan.

            Tekanan dari seluruh tamu disini, dari pihak keluarganya, keluarga pengantinya, darinya dan dari dalam diriku sendiri.

            Aku harus berlari, keluar dari hidupnya dan tak menoleh kembali. Menghapus jejaknya bersih.

            “Taeyeon!!! …” entah mengapa aku mendengar suaranya-musik kesukaanku, memanggilku.

            Keheningan tadi berubah menjadi suasana ramai penuh dengan teriakan histeris.

            Aku menoleh, aku melihatnya. Dia mengejarku, meninggalkan altar dan gadis itu.

            Aku terkejut. Ada perasaan aneh yang menyergap. Kuhentikan laju kakiku. Mematung ditempat. Apa yang harus kulakukan?

            Lalu, Tuhan menjawab semuanya …

            Seseorang datang, lebih cepat darinya. Dia memegang tanganku, menangkapnya kemudian menariku pergi keluar dari gereja. Aku hanyut, terseret begitu saja. Pasrah membiarkan dia menariku pergi yang entah kemana.

            “Taeyeon!!!” suara itu meneriakan namaku lagi. Tapi dia yang meneriakan namaku sudah terlampau jauh. Berdiri di ambang pintu gereja, mengatur nafasnya yang terengah.

            Sementara aku berhasil keluar gereja. Melarikan diri jauh darinya, bersama pria yang menyeretku paksa atau aku lebih suka mengatakan ‘pria penolong’ ini.

            Kami berhenti-tidak, dia menghentikan langkah di bawah pohon maple tua di kebun belakang gereja. Nafasnya terengah, begitu juga denganku. Ditengah usahanya menormalkan detak jantung, pria itu menatapku. Dengan tersenyum dia berkata.

            “Aku berhasil merebutmu darinya” katanya.

            Cahaya matahari menembus rimbunan daun pohon maple tua ini. Beberapa burung yang membuat sarang di pohon ini berkicau. Aku baru menyadari, bahwa hari ini adalah hari yang indah.

            “Terimakasih” ucapku membalasnya.

            Dia tersenyum. Aku menyukai senyum itu. Sejak hari pertama aku bertemu dengan pria ini. Pelayan Restoran Steak Australia, dia orang yang sama. Yang selalu menyelamatkanku.

            “Maafkan aku menolakmu di konser saat itu” aku tak tahu mengapa mendadak mengatakan hal ini.

            Dia tersenyum lagi.

            “Kau tidak menolaku, kau belum menerimaku saja” jawabnya sumringah.

            Angin berhembus, terasa begitu sejuk. Aku tau sekarang.

            Aku tau kapan harus menerimamu.  

 

3 thoughts on “Speak Now

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s