DESTINY – TAENY FANFICTION [CHAPTER – 7]

tif1

PS : Seperti biasanya, aku selalu mau mengucapkan maaf. Aku selalu lama memposting lanjutan Destiny. Aku selalu berharap bisa menyelesaikan segera bila tidak ada kesibukan kerja. Semoga itu terlaksana dan juga terimakasi pada readers yang masih mau menunggu kelanjutan Destiny. Tolong tinggalkan banyak jejak kalian ^^

 

Tittle : Destiny – Chapter 7
Author : Julay
Genre : Fantasy, Romance, Comedy
Cast : Taeyeon, Tiffany, Seohyun, Jessica SNSD

***
Author POV

Tiffany bukan seorang pemberani, tapi menyatakanya sebagai penakut juga tidak tepat. Nyatanya sekarang Tiffany berani melangkah menuju sarang penjahat dengan menggandeng tangan Soo Ra-gadis kecil yang meminta bantuan menemukan ibunya yang diculik. Ia tidak tau keberanian itu muncul darimana. Tiffany ragu menyatakan ia percaya pada ucapan Taeyeon. Itu terdengar tidak masuk akal baginya.
“Eonnie, aku takut” Soo Ra berbisik lirih tapi Tiffany bisa mendengarnya dengan jelas.
“Tenanglah” balas Tiffany menenangkan.
“Kita akan baik – baik saja” ucapnya menyakinkan.
Soo Ra mengangguk. Ia berdoa supaya ucapan Tiffany benar. Ketika jarak mereka hanya terpaut satu meter dari pintu pondok, Tiffany menghentikan langkahnya.
“Kenapa kau berhenti?” Taeyeon yang berjalan dibelakang Tiffany terheran.
Tiffany tak membalas pertanyaan Taeyeon. Ia justru menghela nafas berat kemudian mengigit bibir bawahnya.
“Kau takut?” tanya Taeyeon lagi.
“Tidak, aku tidak takut. Sama sekali tidak …” Tiffany menegaskan.
Soo Ra yang tidak bisa melihat Taeyeon merasa janggal melihat Tiffany mendadak berbicara seperti itu.
“Kau tidak apa – apa Eonnie?” Soo Ra khawatir.
Tiffany menggeleng “Ayo masuk” ucapnya.

 

***
Kami memasuki sarang penjahat itu. Biar kuralat, pondok tempat Mama Soo Ra disekap. Tanganku bergetar ketika memegang gagang pintu, berusaha membukanya. Aku takut jika yang dikatakan Taeyeon salah. Aku tidak akan baik – baik saja seperti katanya.
Yah .. Bagaimana jika ada penjahat disana yang tiba – tiba menodongkan pistol di kepalaku begitu pintu terbuka atau pada pintu itu telah terpasang ranjau yang bisa membunuhku? Setidaknya hal itu yang aku khawatirkan.
Tapi ternyata kekhawatiranku tidak terbukti dan Taeyeon benar. Aku baik – baik saja dan tidak ada penjahat ataupun ranjau seperti pikiran gilaku.
Yang ada hanya Jung Hae Ra-Mama dari Soo Ra. Ia duduk di meja dekat jendela dan secangkir kopi terletak diatas meja yang ia tempati. Kuperjelas, Jung Hae Ra baik – baik saja.
“Eomma!!!” Soo Ra berteriak.
“Soo Raa yya~” balas Jung Hae Ra
Soo Ra berlari tepat kepelukan Mamanya. Ia terlihat bahagia, sementara ekspresi Mamanya sebaliknya. Ia tampak bingung. Mengapa Soo Ra bisa disini?
Ia bertanya padaku dan tepat ketika aku hendak menjelaskan semua. Seohyun muncul dengan Park Myung Soo-Ayah Soo Ra.
“Hae Ra yya~” panggil Myung Soo dengan nafas tersengal.
“Myung Soo …” balas Jung Hae Ra.
Tunggu. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa tidak ada penjahat? Kenapa tidak ada atmosfir mencekam seperti cerita penculikan pada umunya? Ada apa sebenarnya?
Untuk mengetahui jawaban semua pertanyaan ini. Aku bertanya pada Taeyeon. Tapi ia hanya tersenyum dan menjawab dengan santainya “Bukankah seperti ini lebih baik”
Baik untuknya, tapi tidak bagiku. Bagaimana jika Seohyun mewawancaraiku? Bertanya seperti apa yang kupertanyakan? Apa yang harus kujawab coba?
“Kau baik – baik saja kan Hae Ra yya, tidak ada yang melukaimu kan?” Myung Soo memeluk istrinya khawatir. Hae Ra hanya mengangguk pasrah.
“Dimana penjahatnya? Penjahat yang menculikmu?” Myung Soo melepaskan pelukanya.
“Tidak ada penjahat ..” jawab Hae Ra
“Apa? Kenapa tidak ada?” Myung Soo bingung.
“Sejak awal aku memang tidak diculik … Aku … Aku sengaja merancang semua ini supaya aku tau, apakah kau masih peduli padaku atau tidak” jelas Hae Ra.
Penjelasan Hae Ra disambut tamparan hangat dari Myung Soo.
“Bodoh !!” sentaknya. “Apa yang kau pikirkan sebenarnya? Kau tau aku cemas sekali. Aku takut terjadi sesuatu padamu” ucapnya.
“Mian, mianhe … jeongmal mianheyo” Jung Hae Ra mulai terisak, ia memegangi pipi bekas tamparan Myung Soo.
“Aku hanya ingin kau lebih perhatian padaku dan Soo Ra. Aku ingin kau tidak menyibukan diri dengan pekerjaan dan lebih memperhatikan kami … Itu saja …” isak tangis Hae Ra semakin pecah.
Myung Soo menatap Hae Ra. Aku tak memahami betul arti tatapanya. Hanya saja, setelah sekian detik ia menatap istrinya Myung Soo kemudian memeluknya. Ia mengucapkan maaf berkali kali. Mungkin ia sadar ia salah dan menyesal. Karena itu ia meminta maaf.
Setidaknya harus kuakui Taeyeon benar sekali lagi. Seperti ini lebih baik.

 

***
Author POV

Di bukit pondok tempat Ibu Soo Ra bersembunyi. Kira – kira 5 meter dibelakang pondok. Sebuah pohon maple berusia ratusan tahun berdiri dengan gagahnya. Rantingnya menjulang kesana kemari dipenuhi dedaunan. Sehingga ranting itu bisa dibaratkan payung, melindungi orang yang berteduh dibawah pohon tersebut.
Taeyeon sedang duduk dibawah pohon tersebut. Ia duduk tepat diatas akar – akar pohon yang mencuat keluar ke permukaan. Dari tempat ia duduk, Taeyeon bisa melihat pemandangan seluruh kota dengan cahaya lampu yang menghipnotisnya.
Sudah lama bagi Taeyeon melihat cahaya lampu yang bisa menghipnotis-membuatnya lupa akan segala hal sejenak. Taeyeon terlalu lama berada dikamar Tiffany. Menunggu seseorang yang sudah ia nantikan selama ratusan tahun.
Awalnya Taeyeon menyangka Tiffany adalah orangnya.
Selama ratusan tahun ia menunggu tak ada seorang pun yang bisa melihatnya. Walau tempat dimana ia menunggu telah berubah sekian kali dan orang – orang baru selalu datang dan pergi. Sampai pada hari dimana Tiffany datang dan mengatakan ia bisa melihat Taeyeon. Hati Taeyeon bergemuruh, seorang yang dinantikanya datang. Tapi, sepertinya pemikiran Taeyeon salah.
Tiffany bukan orang yang ia tunggu. Orang yang harus ia temui sebelum ia pergi menuju surga nirwana atau neraka. Tiffany jelas bisa melihat Taeyeon, karena ia seorang Hunter. Pemburu orang atau makhluk sepertinya.
Lalu, berapa lama lagi Taeyeon harus menunggu? Tidakah lima ratus tahun sudah lebih dari cukup waktu untuk menunggu.
“Boleh aku duduk disini?” suara perempuan yang muncul membuyarkan lamunan Taeyeon.
Taeyeon menggerakan kepalanya ke sisi kanan. Ia bisa melihat Tiffany berdiri disana, memasang senyum yang mungkin ditunjukan padanya.
“Boleh aku duduk disini juga?” Tiffany mengulang pertanyaanya, Taeyeon menjawab dengan sebuah anggukan.
Tiffany mengambil ancang – ancang kemudian duduk disebelah Taeyeon. Jarak yang memisahkan mereka hanya berkisar tiga jengkal tangan.
“Ada apa?” tanya Taeyeon.
“Tidak ada apa – apa. Aku hanya melihatmu duduk disini dan merasa tempat ini mengesankan jadi aku kemari” jelas Tiffany.
“Oh …” Taeyeon tak seberapa senang mendengar penjelasan Tiffany.
“Tapi …” Tiffany membuat jeda. “Sebenarnya aku kesini karena ada yang ingin kusampaikan padamu” lengkapinya.
Alis kiri Taeyeon terangkat sebelah mendengar perkataan Tiffany. Apa tidak salah yang ia dengar barusan?
“Gomawo … karena kau sudah menolongku. Kau mau datang dan menolongku memecahkan kasus yang satu ini. Gomawo, Kim Taeyeon” ucap Tiffany.
Taeyeon mengangguk, menerima ucapan terimakasih Tiffany. Kebisuaan memenuhi atmosfir diantara mereka selama sepersekian detik. Sebelum akhirnya Taeyeon mengakhiri dengan berkata “Kenapa kau ingin sekali menyelesaikan kasus ini? Sampai kau bersusah payah mencariku, memohon bantuanku yang seperti katamu bukan gayamu. Bukankah itu melukai harga dirimu?” tanyanya.
Tiffany termangu sesaat. Bola matanya berputar menandakan ia sedang memikirkan jawaban atas pertanyaan Taeyeon. Ketika jawaban yang ia cari sudah berhasil ditemukan. Tiffany mendengus, tersenyum kecil disudut bibir. “Itu karena … aku tidak ingin Soo Ra kehilangan Mamanya. Aku tidak ingin Soo Ra merasakan sedih seperti yang kurasakan. Karena tak mempunyai seorang Ibu”
Taeyeon menerima jawaban itu dengan baik. Ia percaya Tiffany berkata jujur. Taeyeon bisa menilai dari ekspresi wajah yang dikeluarkan Tiffany sekarang. “Ohh .. karena itu” lagi – lagi Taeyeon berkomentar singkat.
“Ada yang ingin aku tanyakan padamu Taeyeon” kata Tiffany. “Mengenai kasus ini sebenarnya. Bagaimana kau bisa tau kalau Mama Soo Ra tidak diculik. Tapi hanya berpura – pura?”
Taeyeon tersenyum. “Sejak awal aku merasa aneh setelah membaca surat ancaman yang ditinggalkan. Kenapa tidak ada alamat yang dicantumkan tapi sebuah foto saja. Selanjutnya keterangan Soo Ra sendiri. Ia berkata jika orang tuanya tak akur. Jadi aku berpikiran ini aneh, apa mungkin ini semua hanya kebohongan” jelas Taeyeon.
“Lalu?” Tiffany bersemangat mendengar kelanjutan penjelasan Taeyeon.
“Saat kita mencari foto di album foto pada kamar Ibu Soo Ra. Aku menemukan jadwal pemberangkatan kereta yang ditandai. Kereta itu menuju kesini. Jika diperhitungkan tanggal keberangkatan kereta, kepergian Soo Ra darma wisata dan kemungkinan Ayah Soo Ra menyusul dengan kereta terakhir. Semuanya tepat sebelum matahari tenggelam” Taeyeon membuat jeda. “Lagipula, jika memang diculik. Mengapa menandai jadwal keberangkatan kereta seperti sudah mempersiapkan sebelumnya” akhirinya.
“Aku masih tidak mengerti” ungkap Tiffany jujur.
“Sudalah, tidak usah dipikirkan lebih lanjut. Bukankah sekarang semuanya sudah baik – baik saja” kata Taeyeon. “Oya, dimana temanmu itu? Siapa namanya? Soo ..? Seo ..? Seohyun?” tanya Taeyeon.
“Why? Kenapa kau mencarinya?” Tiffany tak habis pikir Taeyeon mencari Seohyun.
“Tidak. Hanya saja aku tidak melihatnya dari tadi. Biasanya dia selalu menempel denganmu” terang Taeyeon.
“Kau yang selalu menempel denganku” balas Tiffany, membuat Taeyeon terlonjak spontan.
“Dia sedang bersama Soo Ra dan orang tuanya. Mereka sedang berbincang yang sama sekali tak menarik” cepat Tiffany menyambung kalimatnya menyadari Taeyeon menatapnya karena ucapan aneh yang ia katakan.
Taeyeon terkekeh melihat tingkah Tiffany. Iya, dia memang selalu menempel dengan Tiffany. Karena ia mengira Tiffany orangnya.
“Kau boleh meminta imbalan karena sudah menolongku” Tiffany menawarkan.
Taeyeon menggeleng, ia tak butuh imbalan apapun. “Tidak. Bukankah kau dulu berkata, aku memperalatmu sebagai boneka penerjemah untuk memecahkan kasus pencurian dan pembunuhan itu. Anggap saja bantuanku kali ini sebagai imbalan karena sudah menyusahkanmu” katanya tersenyum.
“Jadi setelah ini, apa rencanamu?” tanya Tiffany.
“Tidak tau ..” jawab Taeyeon. “Mungkin kembali ke taman”
“Jika kau berjanji tidak akan menggangguku. Kau boleh kembali ke kamar ku …”
Taeyeon tak percaya ucapan Tiffany. Apa dia baru saja mengizinkan Taeyeon kembali ke kamarnya? Mengapa Tiffany mengizinkan Taeyeon kembali? Bukankah Tiffany telah mengusirnya pergi dan tidak menyuruhnya kembali? Apa maksud perkataan Tiffany?
“Jangan berpikir yang tidak – tidak” kata Tiffany seakan mengerti apa yang sedang Taeyeon pikirkan. “Setelah kupikirkan, kau mungkin sudah berada di kamarku selama ratusan tahun. Jadi itu seperti rumahmu, bagian dari dirimu. Jadi .. tak baik merenggut apa milikmu bukan?” Tiffany berhenti sebentar membasahi tenggorokanya. “Dan … ini semua karena kau sudah menolongku. Itu saja” tegas Tiffany.
Taeyeon tersenyum. Jika pada semula ia ragu maka sekarang hatinya telah memastikan bahwa Tiffany memang orang yang ia tunggu selama ini.

 

To be continued~

17 thoughts on “DESTINY – TAENY FANFICTION [CHAPTER – 7]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s