Can You Hear Me – Chapter 5

Can You Hear Me Poster

Title : Can You Hear Me – Chapter 5
Author : JJYoung
Genre : Romance, Fantasy
Length : Chaptered
Cast : Im Yoona
Wu Yi Fan a.k.a Kris
Oh Sehun a.k.a Im Sehun
Lee Yeon Hee
Zhang O-Huang (OC)
Shin Cheonsa (OC)

***
Yoona tidak menggubris. Ia merapikan jacket dan topi Sehun yang tertinggal di sofa apartemennya semalam. Ia menemukan kunci mobilnya di saku jacket Sehun. Yoona tahu pasti, Sehun sengaja meninggalkan kunci mobilnya di apartemen Yoona. Itu alasan utama Sehun mengunjungi apatemennya kemarin malam. Ah, si bocah itu. Keras kepala sekali memberikan mobil pada Yoona.
Mwoya? Kata Yoona menemukan bola kertas yang lusuh di saku jacket Sehun.
SM?
Yoona menghela napas sambil tangannya meremas bola kertas yang makin lusuh setelah ia remas lagi. Setelah melihat dua huruf inisial agensi raksasa itu, moodnya berubah kacau. Apalagi kertas itu ada di saku jacket Sehun. Tidak perlu otak jenius untuk menjawab pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Sudah pasti Sehun ditemui oleh seorang pencari bakat untuk mengikuti audisi di SM.
Egois. Mungkin iya. Yoona berharap Sehun tidak pernah berpikir untuk datang ke tempat itu. Seharusnya begitu. Semestinya Sehun mengerti perasaan Yoona. Bagaimana sakit hatinya Yoona jika adiknya berada di tempat yang pernah menjadi mimpi bagi Yoona. Yoona yakin, jika Sehun memang benar-benar datang ke SM, tidak ada keraguan bagi SM untuk menerima Sehun yang bakatnya luar biasa dalam dance. Apalagi ditambah dengan tingkat ketampanan yang Sehun miliki. SM tidak akan pernah melewatkan wajah macam Sehun begitu saja. Itu pasti.
“Jadi Yoona-ssi, kau tidak ingin menjelaskan sesuatu?” Kata Kris sudah berdiri di belakang Yoona dengan telanjang dada.
Oh astaga! Yoona terkejut mendapati keberadaan Kris yang tiba-tiba.
“Katakan. Palli…” Kata Kris menatap Yoona tepat manik dimatanya.
Yoona mengambil langkah lalu duduk di sofa. Memasang ekspresi bengis seperti kisah ibu tiri Cinderella. Tak lupa ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu mulai menggumam dalam pikirannya.
Kau mabuk bodoh.
Kris mendelik. Dia terkejut. Sangat.
“Mabuk?” Kris tertawa renyah. “Aku?” Ujar Kris lagi. Tangannya menunjuk dadanya sendiri dengan ekspresi tidak percayanya. “Jinjja?? Apa aku berkata aneh?”
Tentu saja. Kau kan aneh. Mana mungkin perkataanmu tidak aneh?
“Ya!! Bukan itu maksudku!” Teriak Kris dengan mulut lebarnya yang menguar aroma alkohol. Bau mulutnya lebih buruk dari bunga bangkai. Bahkan dengan napasnya saja, Kris bisa membunuh kuman-kuman di udara yang kebetulan bernapas di sekitar mulut Kris.
Yoona yang juga bernapas menutup hidungnya cepat lalu beralih pergi. Atau ia akan ikut terbunuh dengan bau napas Kris. Apalagi Yoona sensitif dengan bau alkohol.
Kris mengangkat telapak tangannya lalu menghembuskan napas disana lewat mulut. Mencari alasan kenapa Yoona menghindar begitu mulutnya bersiap untuk bicara.
“Astaga..” Kris menjauhkan hidung dari telapak tangannya. Ia baru menyadari bahwa napasnya sebau itu. Ia tidak ingat, sudah berapa liter alkohol yang menyiram lambungnya. Yang jelas, ia tahu bahwa kemarin malam ia sangat frustasi.
Minum ini. Yoona menyodorkan segelas susu putih ke dada Kris. Kris menatap gelas ditangan Yoona lalu matanya menerawang menatap Yoona. Memori Kris berjalan mundur seputar Yeonhee yang beberapa waktu lalu masih menjadi kekasihnya.
“Minum ini.” Yeonhee menyodorkan segelas susu kearah Kris yang terbaring di kasur apartemennya. Kris menatap Yeonhee lalu mengambil gelas itu.
“Sedikit meredakan mabukmu.” Kata Yeonhee duduk di pinggir ranjang Kris.
Kris tersenyum sambil meminum susu itu hingga habis.
“Jangan bersedih. Kau masih ada aku. Lain kali, jangan berlari pada alkohol. Berlarilah padaku.” Kata Yeonhee sambil tersenyum. Ia kemudian mengulurkan ibu jarinya mengusap sisa susu di bibir Kris dengan lembut.
Kris menatap jari Yeonhee dibibirnya. Sentuhan itu begitu lembut menyapu bibirnya. Kris merasa beruntung bisa mendapatkan wanita yang perhatian seperti Yeonhee. Kris memandang Yeonhee sekilas lalu cepat menarik leher Yeonhee dan menempelkan bibirnya di bibir Yeonhee.
“Kris-ssi apa kau mendengarku?” Yoona mengibas-ngibaskan tangan didepan wajah Kris yang belum cukup ampuh untuk membuat Kris kembali ke atmosfer apartemen Yoona. Yoona menepuk pelan pipi kanan Kris. Menyadarkan Kris dari fantasi pribadinya yang membuat ia termenung seperti raga kehilangan jiwa.
Kris mengalihkan pandangannya saat tersadar. Ia fokus menatap tangan Yoona yang menepuk-nepuk pipinya lembut. Obsesinya tentang Yeonhee kembali muncul. Tangan Yoona dirasa Kris terlalu lembut seperti Yeonhee. Entah siapa yang menuntunnya, pandangan matanya menjalar melewati tangan Yoona lalu jatuh ke wajah Yoona. Wajah itu, cantik seperti Yeonhee. Yeonhee dan Yeonhee….
Obsesi abadinya…
Dengan cepat, tangan kanan Kris menarik pinggang Yoona ke arah tubuhnya. Sedang tangan kirinya melingkar di bagian belakang leher Yoona. Tanpa pikir panjang, ia menempelkan bibirnya ke bibir Yoona dalam hitungan detik.
Yoona mendelik saking kagetnya. Tubuhnya menegang tanpa alasan. Perlakuan Kris terlalu mendadak baginya. Tangannya melemah, tidak kuat menahan debaran jantung yang menyalurkan sengatan luar biasa hingga syaraf di ujung jari kaki dan tangannya.
Gelas susu yang masih ditangan Yoona merosot begitu saja tanpa adanya gaya gesek yang berarti. Menimbulkan suara gaduh yang memekakkan gendang telinga. Tapi itu tak berlaku bagi Kris dan Yoona. Bahkan denting pecahan kaca tak berhasil menyadarkan keduanya.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Empat detik
Seakan jiwanya kembali ditarik ke dalam raga, Yoona makin melebarkan matanya. Ia menyadari sesuatu sedang berdesakan dalam perutnya. Menimbulkan sensasi asing yang membuat perutnya terasa aneh. Yoona menarik diri, membuat jarak diantara dirinya dengan Kris berbatas kedua lengannya yang mendorong dada Kris.
Yoona menatap Kris tidak percaya. Kau….
Kris mengerjap. Kesadarannya berangsur kembali, mengisi otaknya yang penuh dengan Yonhee. Ia menyadari, bahwa gadis yang didepannya adalah Im Yoona bukan Lee Yeonhee obsesinya. Gadis bisu tetangga apartemennya. Bukan Yeonhee si model cantik.
Yoona menyentuh bibirnya pelan. Perlahan, telapak tangannya merambat menutup seluruh mulutnya. Ia menatap Kris tajam. Bola mata Yoona bergerak-gerak gelisah. Sensasi yang ia rasakan diperutnya semakin nyata. Bukan sensasi yang biasa disebutkan dalam cerita-cerita romansa yang mengumbar keromantisan soal ciuman. Tapi sensasi aneh lainnya yang tidak ingin dirasakannya. Dengan segera, Yoona berbalik lalu berlari kencang sambil merapatkan kedua bibirnya. Menyembunyikan wajahnya dari Kris.
“Astaga.. apa yang aku lakukan???!!” Kris memukul kepalanya sendiri setelah otaknya seratus persen meraih kembali kesadarannya. Ia menatap arah kepergian Yoona sambil merutuki kebodohannya yang terobsesi dengan Lee Yeonhee.
“Yoona-ssi, yang tadi aku… aku….” Kris bergerak mencari arah kepergian Yoona. Berusaha menangkap siluet Yoona yang sempat menghilang. Kris heran sebenarnya dengan Yoona. Bukannya marah, ia malah menghilang begitu saja. Mungkinkah itu tadi ciuman pertamanya? Apa ia merasa malu? Oh bencana bagi Kris kalau benar begitu faktanya. Kemungkinan terburuk yang terbayang dalam otak Kris hanyalah Yoona yang mendelik dengan matanya yang berapi-api, membawa sapu atau bahkan stick golf lalu memukul kepalanya sampai hancur.
“Yoona-ssi, kau baik-baik saja?” Tanya Kris saat mendapati Yoona di depan wastafel sambil menyurukkan kepalanya ke arah wastafel. Seolah ia akan mencium lubang air di dalam wastafel itu.
Hueeek. Yoona muntah-muntah.
“Yoona-ssi..” Kris memijat tengkuk Yoona, berusaha membantu Yoona mengeluarkan isi perutnya.
Yoona menegakkan kepalanya setelah ia selesai membersihkan mulutnya dari muntahan. Yoona mendesah perlahan. Perutnya benar-benar kacau rasanya. Aroma alkohol dan bau mulut Kris yang busuk itu menyiksa usus dan lambung Yoona. Yoona mengumpat dalam hati. Bukannya Kris yang hari ini masuk angin karena kemarin malam disumpahinya, malah dirinya sendiri yang muntah-muntah pagi ini.
“Gwaenchana??” Kris menepuk pundak Yoona.
Yoona menepis tangan Kris lalu menatap tajam pria itu. Ya!!!!
Yoona mengambil sapu di sisi kiri wastafel lalu mengarahkannya ke tubuh Kris yang tak berbusana. Kalau saja Yoona punya stick golf, ia akan memilih yang satu itu daripada sebuah sapu yang tidak akan memberi efek banyak pada proses penghancuran tubuh Kris. Yoona memukul Kris sekuat tenaga menggunakan sapu ditangannya. Menyalurkan semua emosi yang dipendamnya selama delapan jam terakhir. Kepalanya benar-benar mendidih pagi-pagi seperti ini.
Ya!! Kau pikir apa yang kau lakukan hah???!!!!
“Yoona-ssi… aaah …aduh!..” Kris berusaha melindungi tubuhnya.
Kau tahu betapa baunya mulutmu itu? Mencium baunya saja rasanya ingin muntah. Apalagi kau sampai menciumku?? Kau pikir aku suka bau alkohol dan keringatmu yang bercampur jadi satu itu. Perutku sampai mual.
“Yoona-ssi…sak..sakit, awww henti- aduh aaa ya!! Turunkan sapumu..” Kris berusaha menghindari hantaman sapu Yoona. Mundur selangkah demi selangkah adalah pilihan satu-satunya.
Kau pikir aku wanita murahan yang bisa sembarangan dicium pria hidung belang sepertimu? Ya!! Dasar pria tidak tau terima kasih! Mesum! Brengsek! Menyebalkan!!! Pergi kau dari apartemenku!! Pergi!!!
“Yoona-ssi, dengarkan aku…aduh aduh, hei awww.. ishh….aaah..”
Yoona mendorong tubuh Kris hingga pintu apartemennya. Tetap dengan gagang sapu yang menghantam tubuh Kris yang telanjang dada. Setan dalam tubuhnya benar-benar berontak sekarang. Tindakan Kris sudah tidak bisa ditolerir. Itu sudah diluar batas. Benar-benar tak termaafkan.
Yoona membanting pintunya keras setelah Kris keluar. Ia bersandar di pintunya. Mencoba menstabilkan napasnya yang berkejaran. Ia tahu ia tadi keterlaluan menghajar Kris. Tapi apalagi yang bisa ia lakukan? Amarahnya sudah memuncak menguasai seluruh pikirannya.
Eottohke. Ciuman pertamaku… Yoona merosot perlahan hingga terduduk di balik pintunya. Ia menjatuhkan kepalanya di pangkuannya. Menyurukkan kepala diantara lutut dan dadanya. Menyesali apa yang dilakukan Kris padanya.
Sial sial sial. Ia memukul kepalanya berkali-kali.

***
“Kenapa wajahmu seperti itu?”
“Hei, sejak kapan kau ada disana??” Tanya Sehun menoleh ke samping kanannya.
“Sejak kau mencoba membunuh kucing-kucing itu dengan tatapanmu.” Jawab Soohyang mengarahkan pandangan prihatinnya pada dua anak kucing yang mulai belajar berjalan didepan mereka. Soohyang menjatuhkan pantatnya dirumput basah halaman belakang SMA Victory. Duduk bersebelahan dengan Sehun merupakan kesenangan tersendiri baginya.
“Kau tidak ke kantin?” Tanya Sehun kembali menatap dua anak kucing yang beberapa menit lalu masih tiga puluh senti didepan kakinya.
“Aku sedang berhemat.” Jawab Soohyang mengambil satu anak kucing yang hanya sebesar telapak tangannya. Ia mengelus kepala anak kucing itu. Lucu.
“Apa putri tunggal Yonsei grup perlu berhemat?”
“Apa putra bungsu Alley Corp sedang mencoba memicu perdebatan??”
Sehun tertawa renyah mendengar pernyataan Soohyang. Lim Soohyang, gadis itu akan berada dimanapun Sehun berada. Tapi bukan Soohyang satu-satunya. Banyak siswi lain yang bertingkah sama kalau mau menghitung jumlah mereka satu persatu. Sehun cukup populer di SMA Victory karena ketampanan luar biasanya, ditambah dengan statusnya sebagai putra pewaris Alley Corp yang notabene perusahaan pengembang smartphone paling populer di Korea. Kedua alasan itu menjadikan Sehun mendapat julukan Gu Jun Pyo versi nyata di SMA Victory. Konyol memang, tapi Sehun sepertinya cocok untuk karakter si Flower Boy.
“Hei Lim Soohyang, kenapa kau selalu berkeliaran disekitarku?” Tanya Sehun.
Soohyang tidak menggubris. Ia sibuk mengelus kepala anak kucing yang hanya sebesar telapak tangannya. Sehun melengos mendapati pertanyaannya yang diabaikan oleh Soohyang. Sehun menatap Soohyang yang ada disamping kanannya dengan tatapan intens. Ia meneliti wajah Soohyang yang sebenarnya tidak terlalu cantik dibandingkan dengan gadis-gadis lain yang lebih populer di SMA Victory. Hanya saja ia lebih unggul dalam hal keuangan.
“Aku tahu wajahku tidak cantik. Tapi jangan memandangku seperti itu. Kau bisa jatuh cinta lama-lama.” Kata Soohyang tanpa memandang Sehun. Tangannya beralih mengambil mangkuk susu lalu berusaha meminumkan susu itu pada anak kucing.
“Cih, jatuh cinta kepadamu? Yang ada kau jatuh cinta padaku.”
“Wow, percaya diri sekali kau Im Sehun??”
“Hei, semua orang juga tahu kalau kau menyukaiku.” Jawab Sehun beranjak dari duduknya. Tetap memandang Soohyang untuk mengamati bagaimana reaksinya.
Soohyang tertawa renyah. Menyadari kalau ia mulai kalah dari seorang Sehun yang menjadi idaman seluruh gadis. Bukan hanya tampangnya yang boleh dibilang selevel dengan aktor Rain ataupun Hyun Bin, tapi kepopoleran Alley Corp juga meroketkan popularitasnya di SMA Victory. Apalagi yang membuat kesan ‘keren’ bagi seorang Sehun adalah bakatnya dalam bidang dance. Luar biasa gerakan tangan dan kakinya itu.
Tapi jangan ditanya urusan akademis. Sehun tidak akan masuk jajaran namja berotak cemerlang dengan kemampuan matematika atau apalah. Ia hanya seorang siswa biasa yang sama malasnya saat diberi tugas mengerjakan tujuh soal logaritma atau limit fungsi.
“Aku tidak menyukaimu Im Sehun.” Soohyang juga berdiri setelah meletakkan anak kucing kembali ketempatnya.
“Kalau begitu, jangan berkeliaran lagi disekitarku.” Kata Sehun mengayunkan kakinya pergi meninggalkan taman belakang SMA Victory.
Soohyang mendengus sebal menatap punggung Sehun yang perlahan menghilang dari pandangannya. Soohyang tahu betul arah yang dituju Sehun. Ruang seni. Ruangan itu ruang favorit Sehun untuk menghabiskan jam istirahat, daripada kantin yang mendadak ricuh jika ia muncul. Bukannya kenyang kalau Sehun pergi ke kantin, ia malah risih dengan gadis-gadis yang berebut semeja dengannya. Biasa, kalau orang bilang ‘resiko orang tampan’.
“Hei, Lim Soohyang…” Soohyang tersadar dari lamunannya tentang Sehun. Ia merasakan tangan seseorang yang menyentuh pundaknya.
“Ne?” Kening Soohyang berkerut. Tidak mengenali tiga yeoja yang kemungkinan besar adalah seniornya. Gadis yang ditengah sudah pasti cantik luar biasa dengan eye smile¬ andalannya. Sedangkan dua gadis di sisi kanan dan kirinya memiliki wajah sama pas-pasan dengan wajah Soohyang sendiri.
“Mmm, aku seniormu. Aku hanya ingin mengetahui sedikit tentang Sehun.” Kata si yeoja yang punya eye smile. Dari name tag-nya, Soohyang bisa mengeja nama gadis itu yang sepertinya keturunan campuran Korea-Amerika. Melanie Park.
“Kau terlalu blak-blakan Mel.” Teman di sebelahnya bersuara.
“Memangnya aku pemalu sepertimu?” Balas Mel sengit.
“Jadi, Mel sunbaenim. Ada urusan apa dengan Sehun?” Tanya Soohyang yang mulai bosan dengan lagak si yeoja populer SMA Victory itu.
“Sepertinya Sehun orang yang tertutup.” Kata Mel memulai. Dagunya mengarah pada arah perginya Sehun. “Jadi aku sulit untuk mendapatkan nomor ponselnya.”
Soohyang mulai mengerti arah pembicaraan Mel dan kedua temannya. Ketiga yeoja itu pasti tergabung dalam sebuah klub unofficial yang katanya penggemar Sehun. Mereka sering membahas tentang Sehun yang populer itu. Dan tentu saja, seorang Lim Soohyang juga populer dikalangan klub itu karena kehadirannya yang selalu didekat Sehun. Bukan populer dalam konteks yang sama dengan Melanie Park, tapi populer karena ia salah satu yeoja yang menjadi kandidat kuat saingan mereka.
“Aku rasa kau salah orang jika menyanyakan nomor ponsel Sehun padaku.”
“Hei, ayolah… bukan hanya kau yang berhak memiliki nomor ponsel Sehun.” Kata Mel.
“Maaf sunbaenim. Meskipun aku memilikinya aku tidak berhak memberikannya pada siapapun tanpa seizin Sehun. Kalau Sehun sendiri tidak mau memberikan nomor ponselnya, maka aku juga tidak punya hak untuk memberikannya pada siapapun.”
Mel dan kedua temannya tertawa rendah. “Jadi kau mau menguasai Sehun sendiri?”
“Menguasai?” Alis Soohyang bertautan.
“Kau berusaha meyingkarkan kami kan? Hei, kau pikir kau secantik itu hingga bisa memonopoli Sehun?”
Soohyang tersenyum. “Maaf sunbaenim, aku rasa aku tidak mengerti maksudmu. Monopoli atau apapun itu. Jadi…”
“Jangan mencoba untuk menghindar.” Potong Mel.
“Hei..” kata satu temannya yang bernama Do Hee. Do Hee maju mendekati Soohyang. Soohyang menatap Do Hee yang yang lebih pendek sepuluh senti dibawah Soohyang. Do Hee mengulurkan tangannya menyentuh baju Soohyang.
Soohyang menangkap lengan Do Hee sebelum jatuh di pundaknya. Ia tersenyum. “Maaf sunbaenim. Aku tidak suka ada orang lain menyentuh seragamku. Jadi lebih baik sunbae tidak menyentuhnya dan biarkan aku pergi.”
Terdengar dengusan dari Mel. “Hei kau! Kau pikir kau akan pergi dengan mudah?” kata Mel mendekati Soohyang dengan menyingkirkan Do Hee terlebih dahulu. Dengan cepat ia meraih kerah baju Soohyang lalu menepuk-nepuknya seolah ada debu bertebaran disana. Soohyang menatap tajam tangan Mel yang terus bergerak menyapu kerah bajunya.
“Kau tidak menyukainya?” Tanya Mel menatap mata Soohyang.
“Maaf.” Soohyang menepis lengan Mel keras. “Sebaiknya aku pergi.”
“Ya!!!” Mel mencengkeram lengan Soohyang kuat lalu menghempaskan tubuh Soohyang begitu saja hingga gadis berlabel Yonsei itu terjatuh terduduk di lantai. Soohyang menatap lantai geram sambil menghembuskan napas panjang.
“Kenapa? Kau marah?” Tanya Mel dengan gayanya yang seperti bos. Kedua temannya ikut memandang Soohyang dengan tatapan merendahkan. Mereka menyeringai sambil berkacak pinggang menatap Soohyang.
“Marah? Siapa yang marah?”
Mel menurunkan kedua lengannya lalu menoleh. Ada Sehun disana yang baru saja melepaskan headphone dari telinganya. Sehun menatap Mel dan kedua temannya dengan seksama, memperhatikan ekspresi mereka yang begitu terkejut. Pandangan Sehun beralih ke arah Soohyang yang terduduk di lantai dengan menyedihkan.
“Hei kau, kenapa kau duduk seperti itu? Apa kau mau mengemis?” Tanya Sehun memecah gerombolan Mel dan teman-temannya. Mel dan dua temannya meyeringai mendapati Sehun yang berada dipihaknya. Sehun mendekat lalu berdiri ditengah-tengah mereka sambil memegang erat ponsel Alley terbarunya. Matanya tertumbuk pada sosok Soohyang yang dari tadi tidak berniat untuk bangkit dari sikap memalukannya.
“Lalu apa yang kalian lakukan disini? Tidak berniat membantunya?” Tanya Sehun menunjuk Soohyang dengan ponsel yang digenggamnya.
Mel, Do Hee dan Hee Joo tersentak. Mereka berlomba mendekati Soohyang lalu membantunya berdiri sambil menepuk-nepuk seragam Soohyang agar bersih dari debu yang melekat pada rok dan jas seragamnya.
“Aku tidak suka disentuh.” Soohyang menepis tangan Mel yang menyapu kerah jasnya.
“Oh..” kata Mel menurunkan tangannya. Ia tersenyum hambar pada Sehun.
“Sepertinya kalian akrab sekali. Dan kau….” Sehun menunjuk Mel dengan dengan alis berkerut seolah telah melupakan nama Mel.
“Mel. Melanie Park.” Sahut Mel cepat sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinga.
“Ah, ne. Mel sunbaenim.” Kata Sehun dengan wajahnya yang seolah-olah senang telah mengingat nama Mel. Faktanya, tak seorangpun dari yeoja seperti Mel yang Sehun hapal namanya.
Sehun mendekati Mel, memisahkan Mel dan kedua temannya dari Soohyang. Ia mengambil tempat diantara mereka. “Aku rasa kau membutuhkan nomor ponselku.” Kata Sehun memberikan ponselnya pada Mel.
Mel menatap Sehun sesaat. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang Sehun menawarkan nomor ponselnya. Itu kabar mencengangkan bagi penghuni SMA Victory lain. Sehun menganggukkan kepala untuk meyakinkan. Dengan wajahnya yang sumringah, Mel mengambil ponsel Sehun lalu cepat mengetikkan nomor ponselnya sendiri.
“Ya!!!” Soohyang menarik lengan jas seragam Sehun pelan. Soohyang melayangkan protesnya. Apa-apaan Sehun itu, bukannya dia tidak suka terlalu banyak di kelilingi yeoja? Tapi kenapa dengan mudahnya dia memberikan nomor pada yeoja-yeoja genit seperti Mel. Soohyang tidak habis pikir, bagaimana bisa Sehun mempermalukan Soohyang sampai separah itu. Sedangkan Soohyang mencoba membantu melindungi privasinya.
“Hei, gadis Yonsei. Diamlah.” Kata Sehun.
“Aku harap kau mengirimi aku pesan.” Kata Mel mengembalikan ponsel Sehun.
“Oh pasti. Sebentar lagi. Dan kau,” kata Sehun mengalihkan pandangannya pada Soohyang yang memasang wajah cemberut pada Sehun. “Aku rasa kau hanya mau disentuh olehku.”
Sehun menyentuh bahu Soohyang. Soohyang diam saja dengan wajahnya yang sangat datar memandang tangan Sehun dipundaknya. Sehun tersenyum sebentar lalu melingkarkan tangannya di sisi lain bahu Soohyang. Mendekap Soohyang dibawah bahunya hingga Mel dan kedua temannya menganga menatap Sehun.
“Lim Soohyang, aku rasa kau harus menjelaskan padaku kenapa kau tidak mau memberikan nomor ponsel namja populer ini kepada Mel sunbaenim dan teman-temannya.”
“Tidak mau!” Soohyang menjatuhkan tangan Sehun keras lalu menatap Mel. “Aku harus..”
“Hei..” Sehun melingkarkan tangannya lagi dibahu Soohyang erat. Mencegah Soohyang melepas kembali lingkaran tangannya. “Kau wajib bertanggung jawab.”
Sehun menarik bahu Soohyang, mendorong bahu kanannya paksa, berjalan menuju kelas seni di ujung koridor. Sehun memberikan senyuman pada Mel lalu berjalan pergi dengan membawa Soohyang yang meronta dalam lingkaran lengannya.
“Aisssh, gadis murahan.” Umpat Mel, senyum ramahnya digantikan dengan seringaian saat dirasa Sehun dan Soohyang mulai menjauh.
Beep beep
“Hei, Sehun mengirimiku pesan.” Ujar Mel bersemangat menatap layar ponselnya. Do Hee dan Hee Joo dengan keantusiasannya yang luar biasa segera merapat pada Mel. Ingin tahu isi pesan Sehun yang sepertinya agak tertarik dengan seorang Melanie Park.
Annyeong, Mel sunbaenim.
Ini aku Sehun. Aku hanya ingin mengatakan, aku akan mengganti nomorku setelah ini. Senang bertemu denganmu.
“Apa?!” Kata Mel melayangkan pandangannya ke arah Soohyang dan Sehun.

***
Yuri menatap dokumen-dokumen ditangannya. Keraguan mulai menjalari otaknya. Ini bukan bidangnya. Yang ia tahu hanyalah menari dan nama-nama ballerina dunia yang menjadi rivalnya dalam kompetisi. Ia bahkan tidak tahu kalau Lim Yong San adalah CEO Yonsei grup kalau appanya tidak memberitahunya. Apalagi nama Wu Yi Fan yang akan ia yakinkan untuk bekerja sama dengan Alley. Kata appanya, kedua nama itu cukup terkenal dalam dunia perusahaan. Tapi tetap saja, dunia perusahaan bukanlah dunia Yuri.
Yuri mendesah. “Appa, kau yakin untuk bekerja sama dengan rival perusahaan kita?”
“Tentu saja.” Kata Seung Hwan tegas. “Kalau kita bisa mendapatkan lisensi program YTOS-4 milik mereka, produk baru kita bisa segera dilepas ke pasaran.”
Yuri membuang napas lalu mengambil tempat duduk di depan meja kerja appanya. Yuri meletakkan dokumen di pangkuannya lalu memainkan papan nama CEO di meja kerja appanya. “Aku rasa akan sulit. Mereka tidak akan mau bekerja sama dengan kita. Sama saja dengan mereka menyiapkan lubang kematian mereka sendiri. Appa, Alley ini rival terkuat Yonsei. Bagaimana mungkin aku meyakinkan mereka?”
“Itulah tugasmu.” Kata Seung Hwan bangkit dari kursi kehormatannya sebagai CEO Alley Corp. Seung Hwan mengancingkan jas abu-abunya lalu mendekati pintu dengan langkahnya yang panjang.
“Sudah waktunya.” Seung Hwan membuka pintu. “Semoga berhasil.”
“Appa…” Yuri merengek mendekati appanya.
“Tidak selamanya kau bisa menari Yuri-ah. Ingat, tulang-tulangmu itu juga butuh istirahat nantinya.” Kata Seung Hwan mengelus kepala Yuri. Pelan-pelan, Seung Hwan mendorong putri sulungnya keluar ruang kerjanya. Dengan dengusan kasar, Yuri memeluk paksa dokumen perusahaan Alley lalu keluar mengikuti langkah appanya.
“Ingat, kau juga seorang sarjana bisnis.” Kata Seung Hwan memimpin jalan menuju ruang yang akan digunakan dalam pertemuan Yuri dan Direktur Yonsei grup. Yuri menarik napas dalam sambil memantapkan langkahnya. Ini pengalaman pertamanya menjadi seorang pebisnis setelah lulus dari Seoul University jurusan bisnis.
“Bisnis dan balet. Aku tetap memilih balet.” Kata Yuri berdiri didepan pintu ruang pertemuan. Tangannya berkeringat dingin. Ia tahu, ini sebenarnya bukan tugas besar baginya. Toh, kalau ia tidak berhasil tidak akan terjadi apa-apa pada Alley si perusahaan raksasa itu. Kerjasama bisnis ini hanya rencana untung-untungan yang diprogramkan Seung Hwan sendiri. Kalau tidak terjadi kesepakatan, tidak menimbulkan kerugian juga pada Alley.
Yuri dan Seung Hwan sontak menoleh saat seorang wanita berpakaian rapi ala pegawai Alley membungkuk pada mereka. Di belakang wanita itu ada seorang pria berdasi merah hati sedang tersenyum ramah pada mereka berdua. Yuri yang menyadari siapa pria itu segera membungkuk diikuti senyumannya.
“Direktur Yonsei grup, Wu Yi Fan-ssi sudah datang.”
Yuri mengangguk lalu mengulurkan lengan kanannya untuk dijabat Kris. Kris mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan ramah Yuri. Tak lupa Seung Hwan juga ia jabat. Im Seung Hwan adalah senior dalam dunia bisnis, Kris tahu fakta itu. Karena itu, ia tak segan-segan menerima undangan Seung Hwan untuk membicarakan kerjasama. Padahal, ia tahu bahwa kemungkinan akan adanya kerjasama adalah nol besar.
“Senang bertemu denganmu Yuri-ssi.” Kata Kris sambil menggoyangkan jabatan tangannya dengan Yuri. Seolah goyangan tangan itu memberi sinyal-sinyal positif terciumnya bau persetujuan kerjasama. Yuri dengan semangatnya yang seolah terpompa, mengumbar senyum membalas Kris ramah.
“Bisa kita mulai?” Tanya Kris tanpa basi-basi. Ia mengambil alih dokumen yang dipegang asistennya dengan gaya big boss. Yuri mengangguk lalu memimpin jalan ke ruang pertemuan yang ada dibelakangnya. Kris mengikuti Yuri dengan antusiasnya terhadap Alley Corp yang begitu ia kagumi karena prestasi inovasi produknya.
Senyum Seung Hwan mendadak menjadi kaku saat ia memandang lurus arah lift yang baru terbuka. Putri keduanya muncul dari sana, berjalan lurus dengan senyumnya yang jelas-jelas ditujukan untuknya. Seung Hwan menarik dua sudut bibirnya lebih lebar untuk menyambut kedatangan Yoona pertama kalinya sejak ia kembali dari Amerika. Lima tahun berlalu, tapi ini pertama kalinya Yoona menginjakkan kaki di gedung Alley.
“Angin apa yang membawamu kesini?” Tanya Seung Hwan saat Yoona berhenti didepannya. Yoona mencibir pelan lalu mengerucutkan bibirnya pada Seung Hwan.
Aku ingin membicarakan sesuatu padamu. Kata Yoona dalam ASLnya.
“Apa penting sekali, sehingga kau datang kemari?”
Ini menyangkut perusahaan. Jadi rasanya lebih baik dibicarakan di perusahaan.
“Benarkah?” Kata Seung Hwan dengan wajahnya yang mengajak bercanda.
Aku serius appa. Balas Yoona dengan ASL yang cepat dan tegas.
“Aku juga serius Yoona.” Kata Seung Hwan mencubit hidung Yoona pelan. “Tapi kita tunggu dulu eonnimu menyelesaikan negoisasinya dengan direktur Yonsei.” Tambah Seung Hwan mengarahkan dagunya ke arah pintu abu-abu disampingnya.
Oh, eonni disini?
Seung Hwan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Pria paruh baya itu menunjuk kursi disamping pintu, mengisyaratkan Yoona untuk mengikutinya duduk. Seung Hwan bukan pria muda lagi yang tulangnya kuat untuk berdiri sepanjang pertemuan seperti dulu. Ia membutuhkan kursi untuk menyangga tulangnya agar tidak terasa remuk nantinya.
Yoona memandang appanya dari samping dengan seksama. Kerutan halus disekitar matanya mulai nampak. Yoona menyadari usia appanya memasuki setengah abad, empat tahun yang lalu. Dan selama seperempat abadnya, ia berkutat dengan perusahaan dan dokumen. Mengembangkan sebuah produk teknologi dari masa ke masa. Menjadikan Alley menjadi populer dikalangan penikmat produk teknologi.
“Apa kau baru menyadari kalau appamu ini tampan?” Tanya Seung Hwan mengelus dagunya percaya diri.
Aigoo. Masih tampan Sehun kemana-mana.
“Ah, Sehun. Aku dengar anak itu menginap di apartemenmu.” Kata Seung Hwan mengalihkan topik pembicaraan. Yoona mengangguk mengiyakan.
Aku juga mengajaknya kemari untuk makan siang dekat sini tadi.
“Lalu, kemana bocah nakal itu?”
Molla. Katanya ke toilet tadi.
Seung Hwan mengangkat bahu tidak peduli. Seolah dimana keberadaan Sehun tidak lagi penting baginya saat ini. Ia menatap Yoona santai lalu mulai mengungkit perihal apa yang ingin dibicarakan oleh Yoona hingga repot-repot datang ke gedung tersebut.
Yoona menelan liurnya sebelum berbicara. Ia tahu, yang dibicarakannya kali ini menyangkut image Alley Corporation ke depannya. Ia tidak menaruh harapan besar bahwa appanya akan menerima idenya itu. Ia tahu kemungkinannya hanya kurang dari satu persen. Tapi mencoba bukan hal buruk bagi Yoona. Diterima atau tidak, itu urusan nanti.
Appa, aku tadi bertemu dengan Shin Cheonsa.
Im Seung Hwan mengerutkan kening hingga nampak beberapa guratan horizontal didahinya. Sepertinya pria setengah abad itu tidak mengenali siapa Shin Cheonsa yang dimaksud Yoona.
Putri sekretarismu appa.
“Oh, iya-iya. Aku ingat. Gadis cekatan itu?? Ada apa dengan dia??”
Yoona menggigit bibir bawahnya sekali lagi. Mengurangi rasa was-wasnya jika permintaannya ditolak lagi oleh appanya. Ia bimbang lagi. Padahal ia sudah memantapkan hatinya hingga berani datang ke Alley Corp sejak kejadian beberapa tahun lalu.
Appa, aku tidak tahu ini akan membuatmu mempertimbangkannya atau tidak. Tapi kali ini aku benar-benar menawarkan sesuatu yang nyata padamu. Yoona mengeluarkan flashdisk milik Cheonsa lalu menunjukkan tepat didepan appanya.
Disini, Cheonsa sudah membuat sebuah program untuk teknologi smartphone. Kami berencana untuk menyelesaikannya bersama-sama. Aku sudah memeriksa sistem yang dikembangkannya. Aku rasa cukup bagus untuk bersaing dengan YTOS-4 milik Yonsei. Jadi, appa… aku berharap kau mempertimbangkan ide teknologiku kali ini. Sekalian membantu Cheonsa.
Seung Hwan menatap Yoona penuh arti. Ia tahu putrinya memiliki keinginan yang tinggi untuk mneyumbangkan ide teknologinya sejak dulu. Tapi, didalam ruangan, putrinya yang lain sedang berjuang mendapatkan YTOS-4 milik Yonsei. Ia tidak tahu harus berkata apa. Kalau saja Yoona datang lebih awal, Seung Hwan pasti akan mempertimbangkannya. Tapi untuk sekarang, mengambil keputusan itu sangatlah sulit.
Bukan soal Yuri atau Yoona yang dipilihnya. Tapi pertimbangan Seung Hwan lebih menitikberatkan pada nasib Alley nantinya. Sudah jelas, ia harus menata Alley menjadi perusahaan yang memiliki pondasi kuat. Ia tidak akan melepaskan perusahaan kepada ketiga anaknya dalam kondisi yang masih rapuh. Karena ia tahu benar, anak-anaknya tidak begitu peduli tentang perusahaan. Yang mereka tahu adalah seni yang mengalir dalam darah mereka. Yuri dan Sehun jelas penggemar seni tari, meski keduanya berbeda aliran. Yang satu lagi –tentu saja Yoona, meski ia kelihatan membenci dunia musik semenjak kejadian beberapa tahun lalu, Seung Hwan tahu benar bahwa Yoona masih mengagumi piano.
Jadi appa?
Seung Hwan tertarik kembali pada dunia nyatanya. Sudah cukup pertimbangan singkatnya. Ia tahu keputusan apa yang akan diambilnya. Saat Yoona menanyakan kejelasan keputusannya lagi Seung Hwan hanya tersenyum lalu berkata, “Tunggu Yuri keluar.”
Dan tepat saat itu pintu ruangan terbuka. Siluet Kris yang pertama kali terlihat. Diikuti dengan asisten dan Yuri yang menyusul dibelakangnya. Seung Hwan menghampiri mereka lalu tersenyum menanggapi Kris yang sangat professional menata ekspresi wajahnya sebagai seorang pebisnis. Sedang Yoona, ia tertegun menatap Kris.
Kau. Kata Yoona tanpa ASLnya.
Kris sama sekali tidak menggubris suara Yoona yang melintas cepat dalam otaknya. Ini kantor bukan apartemen. Sebagai professional, tentu saja ia harus memisahkan urusan pribadinya dengan urusan kantor. Jadilah Yoona terabaikan.
“Bagaimana, Wu sajangnim?” Tanya Seung Hwan tanpa basa-basi.
Kris tersenyum pada Seung Hwan. “Yuri-ssi bisa menjelaskannya pada Anda.”
“Oh baiklah. Sepertinya kau sedang sibuk.” Balas Seung Hwan dengan tawa khasnya.
Sibuk apanya? Cih!
Kris tersenyum paksa memandang Seung Hwan saat ia rasa ada suara Yoona begitu mengganggu pikirannya. Ia lebih memilih berjabat tangan dengan Yuri lalu segera pamit. Menyingkir dari Yoona dan polusi suara yang Yoona timbulkan. Seung Hwan dan Yuri hanya mengangguk pelan saat Kris mulai menjauhi mereka. Menatap bahu Kris yang naik turun saat berjalan menjadi kesenangan tersendiri bagi Seung Hwan. Membayangkan Sehun putra bungsunya memakai jas rapi seperti Kris nantinya.
“Jadi, apa kesepakatannya?” Tanya Seung Hwan mengalihkan pandangannya dari Kris ke Yuri.
“Tentu saja Yonsei akan mempertahankan YTOS-4 nya appa!!” Yuri cemberut.
Seung Hwan mengelus rambut putrinya, menyusuri helai demi helai rambut halus warisan istrinya. Ia tahu ini akan terjadi. Tidak apa-apa, ini hanya perundingan untung-untungan. Seung Hwan tidak terlalu berharap Yonsei akan melepas teknologi andalannya. Hanya saja, memberikan pengalaman pada Yuri sepertinya hal yang baik mengingat Yuri sudah hampir pensiun dari profesinya sebagai ballerina.
“Dia mengajukan syarat.”
Seung Hyun menoleh cepat, memberikan perhatian penuh pada Yuri. Kata-kata Yuri yang baru saja ia dengar seperti petir yang datang tanpa hujan. Kemungkinannya bahkan dibawah satu persen jika Yonsei akan melepas produknya pada Alley. Bukannya meragukan, tapi Seung Hyun sudah mahir dalam bisnis. Ia tahu apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang sebaiknya tidak dalam usaha berbisnis. Satu kesalahan kecil akan menimbulkan kesalahan-kesalahan lainnya. Dan sebaiknya, Yonsei tidak melepaskan YTOS-4 nya.
“Aku tidak salah dengar?” Tanya Seung Hyun memastikan. Barangkali usia telinganya mempengaruhi kinerja pendengarannya.
“Tidak.”
Tau-tau ada yang bersuara. Seung Hyun dan kedua putrinya menoleh, tiba-tiba sudah ada pria muda itu lagi.
“Yonsei akan memberikan lisensi YTOS-4 pada Alley. Asalkan putri keduamu mau bekerja untuk Yonsei.” Kris bersuara sambil mengarahkan matanya pada Yoona yang dari tadi diam saja seperti boneka Barbie pajangan Alley. Yoona yang akhirnya dilibatkan juga menunjuk dadanya sendiri sambil mengarahkan wajah penuh tanya pada Kris lalu Yuri kakaknya.
“Sepertinya aku membawa dokumen yang salah.” Sambung Kris menyodorkan map biru ke arah Yuri. Kris segera pergi setelah map biru yang ia rasa adalah dokumen Alley diterima oleh Yuri. Ketiga orang bermarga Im tersebut hanya diam melongo memandangi punggung Kris yang kian menjauh dan menghilang dibalik pintu lift. Sampai pintu lift tertutup kembali, barulah Seung Hyun dan Yuri saling pandang. Mengkomunikasikan apa yang seharusnya mereka putuskan. Dengan otak yang ragu, Yuri mengalihkan pandangannya pada Yoona yang hanya berdiri diam dengan matanya yang berkedip-kedip kebingungan.
Jangan katakan kalian akan melemparku ke Yonsei. Aku benar-benar tidak bisa berbisnis. Mungkin aku hanya akan menjadi office girl disana.

To be continue

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s