Honeymoon Avenue

2_副本 copy

Sepertinya, hujan sudah berhenti. Ia pergi dengan menyisakan sedikit bagian dirinya pada jendela kaca mobil ini. Kupandangi titik – titik air hujan itu, menyesatkanku, menarik ku sesaat ke suatu dimensi lain. Sesaat, sampai dia melemparkan ku kembali ke dimensi dimana aku seharusnya berada.

 

Aku menghela nafas, berat dengan irama kesesekan memenuhi atmosfir. Tak tau kenapa, aku merasa jauh lebih senang menatapi titik – titik air hujan itu dan bahagia tersesat di dimensi lain. Aku tidak mau kembali, ke dimensi ini, dunia ku.

 

Tersadar bahwa sekarang aku terjebak kebisuan dengan nya dalam mobil ini membuatku frustasi. Lebih frustasi ketimbang memandang keluar jendela dan mengosongkan pikiran. Bukanya aku tak berusaha untuk tak frustasi. Aku sudah berusaha berlari, mencari cari kata yang tepat untuk memecahkan tembok kesunyian ini. Tapi belum kutemukan. Dimana dia bersembunyi, dia terlalu ahli. Aku tidak bisa menemukanya, aku tak tahu. Sungguh sulit mencari kata, karena itu yang bisa kulakukan adalah diam dan menggigit bibir bawah, memainkan jari jemariku sampai bosan. Sampai mobil ini berhenti melaju, entah dimana itu. Karena memang seharusnya mobil ini sudah berhenti melaju beberapa saat lalu. Jika bukan karena kebodohanku, mobil ini sudah terparkir manis di salah satu sudut parkiran di bandara. Dan seharusnya pula, aku sudah berada di atas terbang ke bagian barat bumi. Mendarat disalah satu tempat terindah di planet ini. Menikmati perjalanan ku dengan nya. Perjalanan bulan madu kami. Yang tinggal kenangan.

 

“Jadi, kita mau kemana?” Aku tersentak. Seperti berhasil mencapai permukaan dan menghirup udara memenuhi paru paru setelah menyelam begitu lama. Aku menggapai – gapai. Terkejut mendengar dia akhirnya bersuara.

 

“Menurutmu, sebaiknya kita kemana?” Dia menghela nafas. Aku tau aku bukan ahli meramal. Bukan seorang peramal handal dan bukan seorang ahli tafsir yang hebat. Tapi setidaknya aku bisa menebak, aku tau jika dia kecewa padaku. Dengan jawabanku atas pertanyaanya.

 

“Taeyeon, dengar …” Aku memperbesar pupil mataku. Memasang telingaku baik – baik. Jeda yang dibuatnya walau sebentar terasa begitu lama. Kurasa dia sedang berlari mencari kata seperti yang kulakukan tadi. Semoga dia cepat menemukanya. Karena aku sudah tak sabar mendengar lanjutan perkataanya.

 

“Kuakui aku marah padamu. Kenapa kau ceroboh sekali. Meninggalkan pasport mu di rumah, sementara kita akan terbang ke Eropa. Dan terlebih kau baru menyadari itu lima menit sebelum kita terbang. Lalu, pada akhirnya kita disini. Duduk di mobil ini melaju di jalanan hujan dan tak tau harus kemana. Kau tau kan, kita sudah mempersiapkan ini lama? Berapa uang yang harus kita korbankan karena tak jadi pergi. Jika bukan karena kau tidak lupa membawa pasport. Mungkin saja kita sudah melintas di atas Korea” Aku menundukan kepala. Aku kira apa yang ingin dia katakan. Ternyata itu. Tak usah di jelaskan lagi seperti itu, aku masih mengingatnya dengan baik.

 

“Maaf …” aku berterus terang padanya.

 

“Maaf” hanya itu kata yang ku temukan, yang bisa ku ucapkan. Aku mengharap dia mengerti, meski aku tak menjelaskan apapun tentang perasaanku sekarang. Karena aku tak pandai berucap. Aku hanya seorang ceroboh dan bodoh. Aku harap secara tiba – tiba dia mempunyai kemampuan membaca pikiran atau membaca perasaan. Bacalah perasaan ini. Perasaan hatiku yang seperti tergantung di suatu pohon tinggi karena kita saling berdiam diri satu sama lain tanpa kepastian kapan berakhir. Perasaan hatiku yang berubah menjadi tupai dan melompat dari pohon ke pohon akibat peristiwa peristiwa buruk yang bergantian memenuhi pikiranku. Perasaan hatiku bagai burung dalam sangkar sebesar dunia, begitu kecil, begitu terpojok, merasa bersalah sehingga maaf saja yang bisa kusampaikan. Aku menyesal, sungguh. Seandainya dia mengerti, bagaimana caranya kujelaskan? Aku sudah ingin menangis sejak tadi. Tapi kutahan, karena dirimu. Aku tak ingin membuatmu semakin marah, semakin membenciku. Maafkan aku. “Kalau kau berhenti bersikap seperti ini akan ku maafkan” aku merasakan dia menatapku sambil mengatakan hal itu.

 

“Bersikap seperti ini, bagaimana?” tanyaku, menyuruh memperjelas makna perkataanya.

 

“Jangan diam seperti ini terus. Kau tau, aku seperti mau mati memikirkan kenapa kau diam sejak tadi. Apa ini salahku? Karena aku memaki mu di bandara tadi? Apa dia marah padaku? Kau tau pikiran ini menghantui ku sejak tadi” dengan meluap luap dia menjelaskan makna yang kupertanyakan tadi.

 

“Aku kira kau yang marah padaku. Karena itu aku diam. Kukira kau marah, membenciku. Menyesali mengapa menikahi gadis sepertiku lalu meninggalkan ku. Aku menyesal, sungguh”

 

“Demi Tuhan Taeyeon, aku memang marah. Tapi aku tidak seperti itu, jadi berhenti lah mendiamkan ku seperti ini. Aku tak suka”

 

“Aku berusaha berkata tapi susah, karena kupikir kau …”

 

“Untuk apa perjalanan ke Eropa itu tanpa dirimu. Aku bisa saja meninggalkan mu sendirian, aku tak lupa membawa pasport seperti mu. Tapi kau tau aku tidak memilihnya. Aku memilih tak pergi” mendadak dia berhenti berucap. Aku punya keyakinan bahwa itu bukan kalimat terakhirnya. Ada kalimat lain yang ingin dia sampaikan padaku. Tapi dia menunggu waktu yang tepat. Aku tau, karena dia juga memberhentikan laju mobil ini. Menepikan mobil ini ke pinggir jalan. Mematikan mesin nya, berpaling, mengambil tanganku dan menggenggamnya.

 

“Perjalanan ku tak ada artinya tanpamu Taeyeon, sama sekali tak berarti” bisiknya padaku. Dia tersenyum dan aku membalasnya.

 

Beberapa saat yang lalu, tetes air hujan dan dimensi nya membuatku bahagia tapi saat ini berada disini denganya lebih indah dari sekedar bahagia. Aku ingin waktu berhenti sesaat, mengabadikan moment ini dalam satu rekaman kenangan.

 

“Saranghae …”

Perjalanan ini berakhir. Dengan sebuah kecupan manis.

 

One thought on “Honeymoon Avenue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s